PAUD Aushaf

PAUD Aushaf

Share

Pendidikan Holistik berbasis Karakter & Agama Islam dengan 9 pilar pendidikan yang menjadi dasar kurikulum pendidikan berbasis karakter. Hormat dan Santun
5.

merupakan salah satu sekolah Semai Benih Bangsa (SBB) dibawah naungan dari Indonesia Heritage Foundation (IHF) CORE VALUE of EDUCATION

PAUD KArakter Aushaf adalah sebuah lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan holistic berbasis karakter dan pendidikan islami yang menfokuskan pada pembentukan karakter islami kepada para siswa yang dilakukan secara eksplisit dan berkesinambungan melalui pr

Photos 18/06/2017

Ketika Engkau sedang berbahagia, maka bagilah kebahagiaanmu dengan Saudaramu.. Belajar berbagi dengan saudara dari Panti Asuhan Muzdalifah Waru saat Pelepasan Purna Didik TK B PAUD Karakter Islami Aushaf Plus Th 2016-2017

Ajarkan mereka berbagi dan Sayang terhadap sesama ya Bunda..

Purna Didik TK B PAUD Karakter Islami Aushaf Plus 18/06/2017

Selamat ya anak-anak Hebat TK B PAUD Karakter Islami Aushaf Plus Th Ajaran 2016-2017, Selamat menjejakkan langkah baru di Sekolah Dasar Pilihan Terbaik Kalian ya...
Selamat Anak - Anakku.. sampai disini kami mengantarmu.. selamat menikmati jenjang pendidikan yang baru ya.. Tetap Semangat! Tetap Ceria! dan yg Pasti Tetaplah Berbakti untuk Kedua Orang Tuamu dan jadi Pribadi Mandiri dalam Kesederhanaan.. Allahummaghfirli waliy waliydaya warhamhumma kamama robbayani soghiro, aammiiinn

Photos from PAUD Aushaf's post 26/09/2016
Photos 22/09/2016

Selamat Belajar Manasik ya anak - anak hebat.. Al Akbar Surabaya
biar panas tetap Semangat ya..

Mobile uploads 08/02/2015

Selamat berlomba ya Anak - Anak Hebat Aushaf...
Selamat berlomba mengenal huruf dan bentuk, mengenal Sains, memacu kognitif dan semua yg kalian ikuti.. termasuk menari dan menyanyi..
Biarpun lomba yang terpenting kalian harus tetap Ceria, Berani dan Mandiri ya.. Anak - Anak Hebat!
Bismillah dan Berusaha.. semoga yg terbaik utk Kalian semua..
Semangat!!!

10/11/2014

Nice to share...

Prof Rhenald Kasali
Senin, 3 November 2014 ()

KOMPAS.com — Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini:
Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo.

Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai.
Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa, saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo.
Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun,
berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins,
dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan? Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain:
self discipline.

Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui, kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin
melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4
tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji d
i bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang
yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya.

Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini
berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa.fasilitas. Perusahaannya juga go public.

Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja
tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro
Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima
di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?
Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang
cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap
saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil p**a saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cm laude dari
MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar:
kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidakoutstanding," ujarnya. Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia
belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia
juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga

ke Cawang, ikut seni bela diri.

"Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi.

Dian lulus cm laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan p**a,
yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1
Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi
Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung,
banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia
terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar.

Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama
bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" keluar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara.

Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan
tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup,
yang nilainya lebih tinggi.

Dari ikan, jadilah bisnis carter
pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan
untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa
hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya
bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang
membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan
rahasia alam. Kita ju
ga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal.

Kemampuan bergerak,
berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek,
berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan
kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya
tangguh, mengatasi masalah, mampu mengambil
keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan
penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan
mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang
melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang
bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping.

Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak s**a atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan
menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa
yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan
membentuk mereka.

sepenggal kisah orang2 hebat..

Photos 30/10/2014

dari membaca buku inilah mimpi untuk mendirikan sekolah itu ada...

https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/737197183018052/?type=1&fref=nf

SEANDAINYA MENTERI PENDIDIKAN, DIRJEN PENDIDIKAN, DAN SELURUH PELAKSANA PENDIDIKAN BACA BUKU INI DAN MENERAPKAN SEKOLAH SEPERTI DI INDONESIA PASTI ANAK-ANAK INDONESIA TIDAK ADA YANG STRESS, MALAS BELAJAR DAN GAGAL DISEKOLAH.

Kami telah menerapkan metode ini di sekolah kami sejak 12 tahun yang lalu dan hasilnya sungguh menakjubkan.

Sebenarnya anak-anak yang bersekolah di sekolahnya Toto Chan adalah anak-anak yang lebih cenderung dominan otak kanannya : lihat ciri-ciri anak otak kanak klik: https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/685526118185159/

Hanya saja waktu itu belum ditemukan istilah anak-anak otak kanan, namun melalui insting seorang ayah dan pendidik sejati Sosaku Kobayashi berhasil mengembangkan anak-anak yang sebelumnya dinyatakan bermasalah menjadi anak-anak yang SEMUANYA sukses di sekolah dan di kehidupan nyata.

BAGI AYAH BUNDA YANG INGIN MENGETAHUI SEKOLAH APA YANG TERBAIK BUAT PUTERA PUTERI TERCINTA MAKA BACALAH BUKU "True Story" ini.

Ada seorang anak yang sebenarnya “sangat cerdas dan murah hati” hanya saja s**a bicara, dan lincah bergerak Toto Chan namanya, namun sekolah di Jepang kala itu lebih menyukai anak yang diam, duduk dan menuruti semua perintah gurunya.

Al hasil Toto Chan selalu dianggap bermasalah, sampai ia akhirnya menemukan sebuah sekolah yang bernama Tomugakuen yang di kepalai oleh Sosaku Kobayashi San (seorang seniman). Seorang yang sabar, lembut dan sangat memahami dan mengerti dunia anak.

Dan akhirnya Totochan bersekolah disana bersama anak2 lainnya yang senasib. dan Hasilnya anak2 lulusan sekolah ini SEMUANYA menjadi anak2 yang sukses di kehidupan "TIDAK SATUPUN ADA YANG BOLEH GAGAL", termasuk Toto Chan sendiri yang sekarang menjadi Duta Kemanusiaan PBB.

Kisahnya sangat menarik dan menawan, ringan enak di baca namun penuh akan makna yang menyadarkan para orang tua dan guru akan pentingnya sebuah sekolah yang memahami anak dan bukan anak yang harus memahami guru dan sekolahnya.

Segera pesan bukunya sekarang juga melalui Ayah Edy on line Shopping.

EDISI BAHASA INDONESIA (terjamahan kisah true story dari Jepang)

Caranya:
1. Klik https://www.facebook.com/NBTravelnTour
2. Klik: Like
3. Tulis buku yg dipesan di email dengan mengklik: gambar amplop atau in boxnya Nanti akan di infokan berapa biayanya.

BERHADIAH lansung 1 KEPING CD TALKSHOW PARENTING AYAH EDY seharga Rp 600.000, secara GRATIS !

Terimakasih.

Photos 28/10/2014

kalo hidup itu sebuah perlombaan, betapa kasihan dengan anak2 kita yang diharuskan bisa ini itu, selalu di depan, dll...

https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/735484579855979/?type=1&fref=nf

ANAK YANG DIANGGAP BIASA-BIASA SAJA VS ANAK HEBAT !!

Saya banyak sekali menemukan para orang tua yang melakukan segala hal demi membuat anaknya menjadi "tampak " HEBAT dan luar biasa ketimbang anak-anak lain seusianya. Meskipun seringkali saya menemukan anaknya sendiri tidak menginginkan itu melainkan lebih pada keinginan dan ambisi orang tuanya saja.

Dan yang menarik adalah ketika sy banyak membaca buku biografi orang-orang besar dan sukses, ternyata kebanyakan orang-orang besar ini justru pada masa kanak-kanaknya adalah anak yang biasa-biasa saja, tidak ngetop di sekolahnya dan bahkan mungkin tidak terlalu di ingat oleh teman-temannya.

Steven Spielberg misalnya, sang Sutradara Jenius Dunia yang telah menghasilkan banyak sekali film Box Office mulai dari ET, Jaws, Indiana Jones, Jurasic Park, Tintin hingga Transformer, orang yang sejenius dan sehebat itu ternyata dulunya adalah anak yang biasa-biasa saja, dan tidak menonjol di antara teman2 sekolahnya, hingga sahabat saya pernah cerita tentang sebuah buku yang berjudul "Whose Steven ?" Sebuah buku yang kira-kira jika diterjemahkan adalah " Steven yang mana sich?"

Mengapa judul bukunya begitu unik ? ya karena banyak sekali teman-temannya yang tidak ingat bahwa Steven Spielberg itu adalah teman satu sekolah mereka dulu.

"Whose Steven" sebuah buku yang katanya bercerita tentang kehidupan Steven yang masa kecil dan sekolahnya adalah sebagai anak yang biasa-biasa saja, tidak menonjol dan bahkan tidak di ingat lagi oleh kawan2 disekolahnya dulu, dan baru melejit menjadi tokoh terkenal dunia di bidang perfilman setelah ia mencetak rekor box office untuk film-film yang dibuatnya.

Jika kita rajin membaca biografi kita juga akan menemukan banyak tokoh yang mirip dengan Steven Spielberg yang masa kecilnya biasa-biasa saja tapi ketika menginjak dewasa melejit menjadi salah satu tokoh terkenal dunia di bidangnya masing-masing, contoh lain adalah Ronaldo sang Bintang Sepak Bola dari salah satu klub di Eropa yang semasa kecil sering di juluki sebagai "anak Cengeng" oleh teman-temannya, dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Jadi dalam batin saya jadi berpikir, kalau begitu sebenarnya untuk apa kita harus stress setiap hari untuk membuat anak kita menjadi tampak hebat dan luar biasa ? atau menonjol diantara teman-temannya ? Jika memang ternyata begitu banyak tokoh yang dulunya biasa-biasa saja dan bahkan tidak di kenal atau diingat bisa menjadi orang-orang besar.

Apa rahasianya.....?

Rahasia ini selama lebih dari 7 tahun telah saya terapkan untuk membimbing anak-anak yang semula di anggap bermasalah tapi kemudian tumbuh menjadi calon-calon bintang dunia. Dan atas permintaan banyak pihak akhirnya rahasia itupun di buka dan di bukukan.

Semoga setelah membaca rahasia ini kita tidak lagi terlalu di pusingkan lagi oleh fenomena para orang tua yang s**a memamerkan kehebatan anaknya di depan kita atau terutama di depan keluarga besar kita saat kita sedang kumpul-kumpul bersama di hari-hari besar agama atau acara keluarga.

Karena mendidik anak itu BUKANLAH sebuah BALAPAN atau PERLOMBAAN adu cepat untuk bisa lebih dulu sampai di garis FINISH, melainkan sebuah perjalanan panjang bersama keluarga yang semestinya di isi oleh kenangan manis dan indah untuk di kenang kelak saat mereka dewasa dan menjadi orang tua seperti kita.

Pertanyaan penting buat kita, apakah kita saat ini punya kenangan manis dimasa kecil ?

Jika ternyata jawaban kita adalah TIDAK ADA atau TIDAK BANYAK, maka jangan kita ulangi kesalahan yang sama pada anak-anak kita. Karena kelak seberapa besar cinta anak-anak kita kepada kita bukan di tentukan seberapa KAYA nya dan seberapa BANYAKNYA HARTA mereka, melainkan seberapa banyaknya KENANGAN MANIS BERSAMA KITA yang tidak pernah bisa terlupakan disepanjang hidupnya.

Saya yakin diantara kita ada yang setuju dan tidak setuju dengan tulisan ini, hal itu tidak menjadi masalah, karena hidup ini adalah pilihan, setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing sesuai keyakinannya tentu saja berikut konsekuensinya masing-asing.

Ibarat jika kita memilih makan garam maka konsekuensinya asin dan makan gula manis. Asin dan Manis adalah konsekuensi dari sebuah pilihan.

Berbeda pilihan "hidup" tentu saja akan berbeda rasa "Asin" atau "Manis". Hanya itu saja dan tidak ada benar atau salah.

Mari kita renungkan bersama.

-ayah edy-
www.ayahkita.com

www.ayahedyguru.tk untuk unduh gratis parenting talkshow ayah edy
www.ayahedy.tk untuk unduh gratis kisah-kisah inspirasi ayah edy
SEMUANYA MASIH TETAP GRATIS

Photos 24/10/2014

apakah kita akan memperlakukan anak kita seperti binatang sirkus, yg dipertontonkan karena nilainya bagus atau lebih bagus dari temannya?

https://www.facebook.com/141694892568287/photos/a.144983902239386.35784.141694892568287/733752950029142/?type=1&fref=nf

SEBUAH SHARING DARI SEORANG GURU LES PRIVAT YANG MEMBUAT SAYA TERTEGUN DAN MERENUNG

Betapa hebatnya sang guru Privat ini dan betapa naifnya kita para orang tua yang masih s**a menekan anak dengan kekerasan dalam proses belajar mengajar dengan seribu satu macam alasan dan pembenaran.

Berikut isi sharingnya:

Ayah Edi saya pernah mengajar les privat, cara saya mengajar dikomplain krn terlalu lembek dan tidak galak.. orangtua2 anak didik saya pengennya saya galak, padahal saya mau menyelami karakter anak2 tsb dan menjadi kawan terlebih dahulu...

dari hasil tanya saya ke anak2 tsb saya dapatkan mereka tidak s**a dengan guru2 yang galak dan cuman bentak2 saja. tapi apa daya akhirnya saya diganti dengan guru di sekolah anak2 mereka yang galak (pilihan yang tidak objektif dan tidak fair krn guru privat yang berasal dari sekolah sendiri cenderung memberi perlakuan istimewa dan sering memberi kunci soal2 dan jawaban yang persis saat ujian.)

saya diganti krn saya tidak bisa galak padahal saya sudah bisa bikin anak2 mereka menyukai pelajaran matematika dan mereka menganggap saya sperti kawannya sendiri, belajar sambil bercerita apa saja.

saya bingung dengan orangtua tipe ini. mereka keliatannya cuman mengejar nilai bagus dengan cara menakut2i anak.

anak2 cuman dianggap seperti binatang sirkus yang bisa dipamerkan ke teman2 krena nilainya bagus dsbnya...

makanya saya mau anak2 saya homeschooling dan saya gali bakatnya sedari dini..

Pak Jo
Guru Privat

Want your school to be the top-listed School/college in Sidoarjo?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address

Sidoarjo

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00