Apa Aja

Apa Aja

Share

Box Movie

28/05/2025

BAB 1 Malam Keluarga
Udara malam terasa lembut menyentuh kulit, seolah ikut menyambut kehangatan yang tercipta dari sebuah rumah di sudut kota. Lampu-lampu menyala temaram di teras, memantulkan bayang-bayang tenang dari dedaunan yang menari pelan tertiup angin.
Candra memarkir mobil perlahan di halaman rumah mertua. Di sampingnya, Desi tersenyum kecil sambil membenahi rambut Reza yang tertidur sebentar di pangkuannya, lalu terbangun saat mobil berhenti. Bocah lima tahun itu mengucek matanya malas.
"Yuk, turun, Nak," ucap Desi lembut, menggendong tas kecil dan menggandeng tangan Reza.
Candra keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk istrinya. Seperti biasa, senyumnya selalu mengembang setiap kali mereka datang ke rumah ini. Meski jarak rumah mereka tak terlalu jauh, kunjungan seperti ini terasa seperti pulang ke pelukan keluarga.
Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Dewi berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar, menggendong putrinya yang masih kecil, Titin. Mata perempuan itu berbinar cerah, meski ada lelah samar di baliknya.
"Eh, akhirnya datang juga," sapa Dewi, suaranya riang. "Masuk, Kak. Udah dari tadi ditungguin sama Mama."
Desi membalas pelukannya dengan hangat. "Macet tadi. Reza juga sempat rewel di jalan."
"Mama lagi di dapur, tadi nyuruh aku siapin piring. Katanya malam ini harus makan bareng rame-rame," ujar Dewi sambil melirik Candra sekilas.
Candra hanya tersenyum kecil. "Memang paling enak makan bareng keluarga."
Dari ruang tengah, Kenzi muncul sambil mengenakan kaus rumah. Pria itu melambaikan tangan singkat.
"Bang Candra, Kak Desi, selamat datang," sapanya ramah.
Candra menjabat tangannya. "Gimana kabarnya, Kenzi?"
"Alhamdulillah, lancar-lancar aja. Titin makin susah tidur kalau nggak denger suara Dewi," jawab Kenzi diselingi tawa ringan.
"Kayak Reza, mirip banget. Malam-malam s**a nyariin ibunya terus," sahut Desi sambil membelai kepala anaknya.
Semua tertawa ringan, lalu masuk ke ruang makan yang sudah tertata rapi. Aroma masakan rumahan menguar hangat, mengundang rasa lapar meski mereka belum duduk. Di meja, hidangan favorit keluarga berjejer: ayam goreng bumbu lengkuas, sayur asem, sambal terasi, dan tahu tempe goreng yang masih mengepul.
Malam itu, mereka duduk melingkar di meja makan yang penuh dengan hidangan rumahan. Aroma sambal terasi yang menggoda bercampur dengan gurihnya ayam goreng bumbu lengkuas. Suara sendok beradu dengan piring, diselingi tawa ringan dan percakapan yang mengalir hangat.
Reza duduk di sebelah ibunya, sesekali mencocol ayam goreng ke saus tomat yang disediakan khusus untuknya. Sementara Titin merengek kecil, tak mau disuapi kecuali oleh tangan ibunya sendiri.
"Masih susah makan sendiri ya, Titin?" tanya Desi, tersenyum melihat keponakannya yang cemberut.
Dewi tertawa pelan sambil menyuapi putrinya. "Iya, kayaknya kebanyakan gaya kayak ibunya waktu kecil."
"Ih, bener banget!" timpal Desi. "Dulu kamu juga manja banget. Harus disuapin Mama sampai kelas dua SD."
Dewi menyeringai, menoleh ke arah ibunya yang hanya geleng-geleng sambil tersenyum kecil.
"Kalau Reza, s**a makan sayur nggak, Kak?" tanya Kenzi, melirik anak laki-laki itu yang tengah menggigit tempe goreng.
Candra menjawab sambil menyeka mulut Reza, "S**a sih, tapi pilih-pilih. Sayur bening dia s**a, tapi kalau sudah asem-asem gini, biasanya minggir."
Obrolan berlanjut ringan. Sesekali mereka tertawa mengenang masa kecil Dewi dan Desi. Topik berganti-ganti, dari cerita pekerjaan Candra yang sibuk dengan proyek baru, sampai Kenzi yang sedang mengurus izin untuk pindah ke kantor cabang lain di luar kota.
Seusai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga. Sofa panjang di ruang tengah menjadi tempat berkumpul yang nyaman. Reza dan Titin sudah mulai bermain di atas karpet, menumpuk balok mainan sambil sesekali bertengkar kecil.
Dewi menyeduhkan teh hangat untuk semua. Tangannya cekatan menuang ke cangkir-cangkir yang sudah disiapkan, sementara Desi membantu memunguti sisa makanan ringan anak-anak di meja.
"Seneng ya bisa kumpul kayak gini. Rasanya udah lama banget," ucap Desi sambil menyandarkan punggung ke sofa.
"Maklum, kita semua sibuk," sahut Candra. "Aku aja kadang baru nyampe rumah jam sepuluh malam. Reza udah tidur, Desi juga udah lelah."
Dewi menimpali, "Aku juga ngerasa kayak gitu. Sehari-hari ngurus rumah, anak, belum lagi bantu Mama kalau ada pesanan kue. Kalau udah malem, rasanya cuma pengen rebahan."
"Makanya, momen kayak gini tuh harus sering-sering," kata Kenzi. "Biar nggak cuma ketemu pas lebaran doang."
Obrolan berlanjut, mengalir pelan seperti sungai yang tak tergesa. Tidak ada yang istimewa, hanya cerita-cerita sederhana yang menumpuk selama hari-hari berlalu dalam diam. Namun justru di situlah letak kehangatannya dalam kebersamaan yang tak dibuat-buat.

Pagi yang Sunyi,,,

Fajar baru saja menyingsing. Langit masih diselimuti kelabu tipis, dan embun belum sempat mengering dari ujung-ujung daun di halaman belakang. Rumah itu masih terlelap dalam sunyi. Suara kokok ayam di kejauhan menjadi satu-satunya penanda bahwa pagi mulai beranjak.
Dewi membuka matanya perlahan. Kebiasaannya bangun lebih awal tak pernah berubah, bahkan saat rumah penuh tamu keluarga. Ia menguap kecil, lalu meraih handuk dari gantungan di samping ranjang. Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan Titin, ia keluar kamar dan menyusuri lorong menuju dapur—tempat kamar mandi keluarga berada.
Rumah orang tuanya memang sederhana. Tidak ada kamar mandi dalam di kamar-kamar tidur. Semua harus berbagi, bergantian, seperti masa kecil dulu.
Langkahnya pelan, namun tak ragu. Ia menutup pintu kamar mandi dari dalam, tapi tak disadari, daun pintu itu tidak tertutup rapat sempurna. Sebelah sisinya masih menyisakan celah kecil, seperti engselnya tak lagi presisi.
Air mengalir dari shower sederhana yang menempel di dinding. Dewi menyandarkan kepalanya ke keramik dingin, membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya. Rambutnya yang panjang menjuntai lebat, menempel di punggung yang terbuka. Ia hanya mengenakan celana dalam tipis berwarna pucat, tubuh bagian atasnya telanjang, dan air yang jatuh perlahan menelusuri lekuk tubuhnya.
Di saat bersamaan, Candra terbangun.
Ia memutuskan untuk keluar kamar lebih awal, ingin mencari udara segar dan mungkin sekadar mencuci muka sebelum memulai pagi. Namun langkahnya terhenti begitu melihat pintu kamar mandi di ujung lorong dapur tampak tidak tertutup rapat.
Awalnya ia hanya ingin memastikan siapa yang sedang di dalam. Tapi saat mendekat, matanya secara refleks terpaku pada celah sempit di sisi pintu.
Apa yang dilihatnya membuat langkahnya membeku.
Tubuh Dewi terlihat samar di balik kabut uap air, tapi cukup jelas untuk membuat dada Candra mendadak sesak. Matanya membulat, jantungnya berdetak keras. Ia tahu ia harus segera memalingkan wajah, mundur, dan berpura-pura tak pernah terjadi apa-apa.
Tapi sesaat itu, ia tak bergerak. Entah apa yang membuatnya tetap berdiri di sana rasa terkejut, penasaran, atau sesuatu yang lain, yang lebih gelap dari sekadar ketidaksengajaan.
Air terus mengalir di dalam kamar mandi. Dan Dewi, tanpa tahu bahwa dirinya sedang dilihat, tetap berada dalam dunia kecilnya yang hening. Ia mengguyur rambutnya, lalu menyeka wajah dengan kedua tangan.
Candra memejamkan mata sejenak. Lalu tanpa suara, ia mundur perlahan, berusaha menenangkan gejolak dalam dirinya yang tak seharusnya ada.
Namun satu hal pasti sejak pagi itu, sesuatu telah berubah.
Dewi tidak menyadari apa pun saat itu setidaknya untuk beberapa detik pertama. Tapi ketika tangannya menyentuh daun pintu yang sedikit terbuka, ada getar aneh yang melintas. Ia menghentikan gerakan mengguyur rambut, lalu menoleh perlahan ke arah celah.
Matanya membulat. Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat.
Dengan cepat ia meraih daun pintu dan mendorongnya hingga tertutup rapat. Lalu ia berdiri mematung, menempel pada dinding kamar mandi yang kini terasa lebih sempit dari biasanya. Matanya menatap kosong pada lantai yang basah, tubuhnya menggigil entah karena dingin atau rasa cemas yang merambat pelan.
Namun, ia tak tahu bahwa seseorang memang sempat melihatnyabahkan lebih dari sekilas.

Candra duduk di ujung sofa ruang keluarga dengan segelas teh hangat di tangannya yang sudah mulai mendingin. Pikirannya melayang jauh. Pandangannya kosong, tidak fokus. Bahkan suara Reza yang sedang bermain bersama Titin tak sanggup menariknya kembali ke kenyataan.
Bayangan itu kembali uap tipis yang membalut tubuh muda Dewi, kulitnya yang basah oleh air, lekuk punggungnya yang mungil namun menggoda. Semua itu hadir di benaknya seperti potongan gambar yang diputar berulang-ulang. Bukan niatnya untuk mengintip, ia tahu itu. Tapi rasa bersalah tak serta-merta menghapus jejak yang ditinggalkan oleh peristiwa pagi tadi.
Desi duduk di sebelahnya, menyuapi Reza sambil sesekali tertawa kecil bersama ibunya. Dewi sendiri kini tengah menyisir rambutnya yang masih setengah basah, duduk di lantai tak jauh dari anak-anak. Ia mengenakan kaus longgar dan celana santai, tapi justru kesederhanaan itu yang kini membuat Candra makin sulit untuk memalingkan pikiran.
Ia mencuri pandang, sekali lagi.
Wajah Dewi tampak damai. Tidak ada kesan bahwa ia tahu apa yang terjadi. Tapi justru itulah yang membuat Candra makin tersiksa karena hanya dirinya yang tahu betapa kotor pikirannya saat ini. Hatinya penuh bisik yang tak seharusnya didengar, dan matanya memuat bayang yang tak seharusnya dilihat.
Dulu, Desi adalah satu-satunya perempuan yang mampu membuatnya lupa dunia. Wajahnya manis, sikapnya lembut. Tapi waktu menggerus banyak hal. Desi kini lebih sering lelah, sibuk mengurus Reza, jarang memperhatikan penampilannya seperti dulu. Sementara Dewi meski telah menjadi istri dan ibu masih terlihat segar, tubuhnya terawat, dan entah bagaimana, tampak lebih... menggoda.
Dan itu membuat semuanya menjadi lebih salah.
Saat makan siang, ia duduk bersebelahan dengan Desi. Dewi duduk di seberang, menyendokkan nasi ke piring sambil membantu Titin yang merengek minta ayam goreng. Candra menunduk, berusaha menahan gelisah yang menghimpit dada.
“Kamu nggak tambah, Bang?” tanya Desi, sambil menyodorkan sendok.
Candra terkejut sedikit. “Eh… enggak, udah cukup.”
Padahal ia belum menyentuh nasi di piringnya sejak tadi. Sendoknya hanya mengaduk-aduk lauk tanpa arah, sementara pandangannya lagi-lagi jatuh pada sosok Dewi yang sedang terkekeh melihat tingkah Titin.
Namun semua orang di ruangan itu seolah tak menyadari perubahan pada diri Candra. Tak ada yang curiga. Tak ada yang merasa aneh. Hanya dirinya sendiri yang sedang berperang dengan pikiran yang perlahan mulai kehilangan kendali.
Dan sejak hari itu... dunia Candra tidak lagi sama.

22/03/2017

Nice day...

Good night.

Want your school to be the top-listed School/college in Sambas?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Sambas