18/08/2026
Kadang hidup terasa tidak pasti…
Tapi para sufi berkata,
di situlah Allah sedang mengajarkan tawakkal yang sebenarnya.
Murid :
Guru… ada sesuatu yang membuat hatiku gelisah.
Guru :
Apa yang menggelisahkanmu, anakku?
Murid :
Sejak aku mulai serius berzikir… hidupku terasa berubah.
Pekerjaanku tidak lagi pasti.
Rezekiku datang kadang ada… kadang tidak.
Kadang aku merasa seperti sedang diuji tanpa henti.
Mengapa justru setelah aku mendekat kepada Allah… hidupku terasa lebih berat?
Guru :
Karena engkau sedang dipanggil masuk ke dalam rahasia perjalanan ruhani.
Murid :
Rahasia perjalanan ruhani?
Guru :
Ya.
Tidak semua orang yang berzikir masuk ke dalamnya.
Tetapi sebagian salik… dipilih untuk melewati satu fase yang halus dan dalam.
Murid :
Fase apa itu, Guru?
Guru :
Latihan tawakkal.
Murid :
Latihan tawakkal?
Guru :
Allah sedang mendidik hatimu.
Dia sedang memutus satu demi satu tali yang selama ini membuatmu bersandar kepada dunia.
Murid :
Tapi Guru… bukankah bekerja dan mencari rezeki juga perintah Allah?
Guru :
Benar.
Bekerja adalah syariat.
Tetapi bersandar kepada pekerjaan… itu penyakit hati yang halus.
Murid :
Aku belum memahami maksudmu, Guru.
Guru :
Dengarkan baik-baik.
Jika rezekimu selalu pasti…
gajimu selalu datang tepat waktu…
hidupmu selalu stabil…
perlahan hatimu akan berkata dalam diam:
“Ini karena pekerjaanku.”
“Ini karena usahaku.”
“Ini karena jalanku.”
Murid :
terdiam
Guru :
Padahal hakikatnya…
bukan pekerjaan yang memberi rezeki.
Bukan usaha yang memberi kehidupan.
Murid :
Lalu siapa, Guru?
Guru :
Allah.
Murid :
berbisik pelan
Allah…
Guru :
Karena itu…
ketika seorang hamba mulai berjalan mendekati-Nya dengan zikir yang sungguh-sungguh…
kadang Allah mengguncang sandaran dunia itu.
Murid :
Dengan membuat hidup tidak pasti?
Guru :
Ya.
Pekerjaan terasa goyah.
Rezeki datang dari arah yang tak terduga.
Kadang sempit… kadang lapang.
Murid :
Agar apa, Guru?
Guru :
Agar hatimu berhenti bersandar pada sebab.
Agar di tengah kegelisahan itu…
engkau akhirnya berkata dengan seluruh hatimu:
“Ya Allah… hanya Engkau sandaranku.”
Murid :
Jadi… semua ini bukan hukuman?
Guru :
Bukan.
Murid :
Lalu apa?
Guru :
Undangan.
Murid :
Undangan?
Guru :
Undangan untuk mengenal satu rahasia besar.
Murid :
Rahasia apa itu, Guru?
Guru :
Bahwa rezeki tidak datang dari dunia…
tetapi dari tangan Allah yang tersembunyi di balik dunia.
Murid :
Air mataku tiba-tiba ingin jatuh, Guru…
Guru :
Itu karena hatimu mulai memahami.
Murid :
Jadi ketika hidup terasa tidak pasti…
Guru :
Itu tanda Allah sedang berkata kepadamu dalam bahasa yang sangat halus:
“Wahai hamba-Ku…
jangan bersandar kepada dunia.
Bersandarlah langsung kepada-Ku.”
Murid :
air mata menetes
Guru… apakah ini jalan para salik?
Guru :
Ya.
Dan tidak semua orang sanggup berjalan sejauh ini.
Murid :
Lalu bagaimana aku harus melewati fase ini?
Guru :
Tetap bekerja.
Tetap berusaha.
Tetapi jangan sandarkan hatimu pada pekerjaanmu.
Murid :
Lalu kepada siapa?
Guru :
Sandarkan seluruh hatimu… hanya kepada Allah.
Murid :
Dan jika suatu hari rezeki terasa sempit lagi?
Guru :
Tersenyumlah.
Murid :
Mengapa, Guru?
Guru :
Karena mungkin saat itu…
Allah sedang menarik hatimu lebih dekat kepada-Nya.