03/06/2024
Mbah Yai Mas'ud Kiai Al-Allamah al-Faqih yang mastur
Ditulis oleh: Gus Aba Aqil Aziz
Mbah Yai Mas'ud waru Sidorejo sedan merupakan ulama atau sosok kiai yang mastur kealimannya. Beliau lahir pada tahun 1900 an dari pasangan kiai Nur khatib bin Kiai Abdur Ro'uf (Raden Joyo Wicitro) dan bunyai Muslimah (Saudara kandung Mbah Yai Mufid orang tua KH Abdul Aziz) binti Kiai Husnan. Beliau mertua juga sepupu KH Abdul Aziz PP Bustanul Ulum. Secara garis nasab ayahnya merupakan keturunan dari kerajaan mataram islam sedangkan ibunya dzuriyah Bani Sambu. Beliau memiliki saudara mbak yang bernama Mbah nyai Umamah yang kemudian menjadi istri KH Zawawi Yusuf pendiri Madrasah Tuhaftus Sibyan waru. Istri mbah Yai Mas'ud bernama Mbah Mutammimah dzuriyah mbah saman sarang dari garis mbah sarah binti muhsin bin saman. Dari pernikahan dengan bunyai Tamimah , Kiai Mas'ud memiliki 4 anak yaitu mbah nyai Maemunah (istri KH Abdul Aziz), Ibnu Hajar meninggal saat kecil, Mbah Nyai Muslihah (istri Kiai Mayshud), dan mbah Nyai Masfiyah (istri Kiai Hadromi) . Mbah Yai Mas'ud secara sanad keilmuannya belajar dengan syaikh Dimyati tremas selain itu juga ke Mbah Kholil kasingan. Beliau hidup sederhana bahkan diceritakan oleh cucunya Kiai Ma'mun Aziziy, bahwa Kiai Mas'ud setiap pagi danger (mencangkul ladang pekarangan yang ada didepan rumahnya ) setelah itu jam 8 dimulai mulang ngaji sampe menjelang duhur. Rumahnya pun sangat sederhana akan tetapi penuh dengan berkah yang mana pada masa beliau rumah tersebut dibuat perkumpulan ulama sedan-sarang dalam musyawarah penentuan Hari Raya Id . Menurut penuturan cucunya Kiai Arifuddin, Setiap hari rabu pengajian kitab Ihya Ulumiddin dan syarah al-Hikam diantara yang mengaji dengan mbah mas'ud yaitu : Kh Muti' Pamotan PP Nurul Huda (menantu KH Abdul Hamid pendiri pp Al-Hidayah Sarang), Kiai Abbas mangseng, Kiai Gozali Karangasem yang terkenal ilmu falaknya, KH Munawwir (pendiri yayasan Riyadotut Thalabah), KH Suyuthi , KH Atoillah PP as-Sunniyyah waru, KH Khumaidi pp as-Shidiq Narukan, Kiai Syakur Pamotan, dan lain-lain. Mbah Yai mas'ud selain sosok kiai yang mulang ngaji beliau juga punya keistimewaan karomah , diriwayatkan dari cucunya bahwa suatu hari Kiai Mas'ud ditengah majlis tiba-tiba terdiam dan berucap " macane pasuruan wis g enek (macannya Pasuruan sudah ga ada )" yang dimaksud itu adalah wafatnya Kiai Hamid Pasuruan. Mbah Mas'ud wafat pada tahun 1987 kurang lebih umurnya 87 tahun . Beliau dimakamkan di makam islam Demang berdekatan dengan makam menantunya KH Abdul Aziz.