Raja inal ritonga

Raja inal ritonga Sampaikanlah walau satu ayat. Raja inal ritonga Alumni SD N NO 112158 SMP N 2 BILAH BARAT skrg sekolah di SMK S HARAPAN AL-WASHLIYAH SIGAMBAL

09/07/2014

"Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,

turunkan para Malaikatmu untuk membantu para Mujahidin di Gaza dan Seluruh Palestina,
sebagaimana telah kau turunkan ribuan Malaikat di Badar, di Khandaq dan di Tabuk.

Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
ringankanlah penderitaan saudara-saudarakami di Gaza,
kuatkanlah terus generasi baru dari antara anak-anak mereka,
menjadi generasi yang akan membawa kami pada kejayaan Islam lewat Jihad fii Sabiilillah.

Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
janganlah Kau biarkan kami termasuk orang-orang yang berpangku tangan melihat kezaliman atas saudara-saudarakami."

aamiin

18/12/2013

Ketiduran Dari Mengerjakan Shalat Subuh

Ketiduran dari mengerjakan shalat ini pernah dialami oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dikarenakan kelelahan yang sangat.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Sebagian orang yang ikut rombongan berkata, ‘Seandainya anda berhenti sebentar untuk beristirahat dengan kami, wahai Rasulullah!’ Beliau menjawab, ‘Aku khawatir kalian akan ketiduran dari mengerjakan shalat.’ Bilal berkata, ‘Aku yang akan membangunkan kalian.’ Maka para sahabat yang lain pun berbaring tidur sedangkan Bilal menyandarkan punggungnya ke tunggangannya. Namun ternyata ia dikuasai oleh kantuk hingga tertidur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun sementara matahari telah terbit. Beliau pun bersabda, ‘Wahai Bilal, apa yang tadi engkau katakan? Katanya engkau yang membangunkan kami?’ Bilal menjawab, ‘Aku sama sekali belum pernah tertidur seperti tidurku kali ini.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kalian kapan Dia inginkan dan Dia mengembalikannya pada kalian kapan Dia inginkan. Wahai Bilal! Bangkit lalu kumandangkan azan untuk memanggil manusia guna mengerjakan shalat.”

Beliau lalu berwudhu, tatkala matahari telah meninggi dan memutih, beliau bangkit untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 595)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tertidur dari mengerjakan shalat bukanlah sikap tafrith (menyia-nyiakan). Hanyalah merupakan tafrith bila seseorang tidak mengerjakan shalat hingga datang waktu shalat yang lain (dalam keadaan ia terjaga dan tidak lupa). Maka siapa yang tertidur (atau lupa) sehingga belum mengerjakan shalat, hendaklah ia mengerjakannya ketika terjaga/ketika sadar/ingat.” (HR. Muslim no. 1560)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang lupa dari mengerjakan shalat, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika ingat, karena Allah berfirman: ‘Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku’.”(HR. Muslim no. 1558).

Tapi disini....

Yang dimaksud lupa dalam hal sholat itu kejadiannya sangat jarang terjadi, misalnya dalam 1 tahun lupa 1X. Tapi kalau lupanya serimg itu mah bukan lupa lagi tapi tanda tanya pada diri sendiri, karena niatnya kurang kuat. Kan zaman sekarang sudah ada alarm, aktifin donk! Nabi aja tertidur cuma 1X itu seumur hidupnya.

18/12/2013

Perbedaan Antara Mani Dan Madzi

Salah satu penyebab yang mewajibkan mandi adalah وإنزال المني keluar air mani (sperma). Namun terkadang kita ragu dalam membedakan antara mani, madzi dan wadi.

Lalu bagaiman membedakan Ketiga cairan tersebut?
Ulama Syafi’iyah, memberikan ciri-ciri yang membedakan antara ketiga jenis diatas:

1. Air mani, adalah cairan putih yang kental dan keluarnya muncrat (jika banyak) di saat nafsu sudah mencapai puncak (klimak) dan ciri-cirinya antara lain:

a. Keluarnya muncrat (seperti ada tekanan dari dalam).
b. Terasa nikmat disaat keluar dan dibarengi lesu, meskipun keluarnya tidak muncrat atau keluar dengan warna agak kemerah-merahan, dan ini biasanya apabila sedikit.
c. Jika basah maka baunya seperti aroma adonan tepung, dan jika kering seperti bau putih telur ayam, meskipun disaat keluar tidak terasa nikmat.

2. Madzi, adalah cairan yang agak putih dan lebih cair dari mani dan biasanya keluar di saat bercumbu, atau setelah p***s loyo (tidak disaat tegang).

3. Wady, adalah cairan yang biasanya keluar di saat kelelahan (bekerja) atau cairan putih yang keluar setelah selesai buang air kecil.

Adapun orang yang bangun tidur dan menemukan cairan putih di pakaiannya dan kemungkinan besar adalah cairannya sendiri, sementara ia ragu apakah cairan tersebut mani atau mazdi, maka hukumnya wajib mandi.

Sebaliknya jika ia bermimpi bersenggama dan di saat bangun tidak menemukan apa-apa dari bekas air mani di sekitarnya, maka tidak diwajibkan mandi.

29/11/2013

:: KEUTAMAAN HARI JUM'AT ::

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jum'at, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu p**a Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintaannya.” (HR. Muslim).

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan dimudahkan untuk mengamalkannya. Aamiin.

28/11/2013

Tata Cara Mandi Wajib (Mandi Junub/Mandi Besar) Dalam Islam

(yang ngaku muslim jangan lupa jempolnya ya sob)

1. Mandi wajib dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat untuk menghilangkan hadast besar,(pembahasa mengenai niat, harap baca: Penjelasan Hadist "Sesungguhnya Amal Itu Tergantung Pada Niatnya..." Oleh Sheikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin)

2. Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian bercebok.

3. Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya.

4. Berwudhu seperti halnya orang yang berwudhu hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampa selesai mandi.

5. Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

Note: Menyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki. Bagi perempuan, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi jangan mengurai/membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yand diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah, “Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini perempuan yang sangat kuat jalinan rambut kepalanya, apakah aku boleh mengurainya ketika mandi junub (mandi besar)?” Maka Rasulullah menjawab, “Jangan, sebetulnya cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran,” (HR At-TIrmidzi).

6. Mengguyur tubuhnya yang sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas sampai ke bawah, kemudian bagian yang kiri seperti itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi (pusar, bawah ketiak, lutut, dan lainnya).

Tata cara ini berdasarkan penuturan Aisyah Radhiyallahu Anha:

“Apabila Rasulullah hendak mandi junub (mandi besar), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebelum memasukannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu seperti halnya berwudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau menuangkan air pada rambut kepalanya, kemudian mengguyurkan air pada kepalanya tiga kali guyuran, kemudian mengguyurkannya ke seluruh tubuhnya,” (HR At-Tirmidzi: 104, dan Abu Daud: 243).

03/11/2013

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, 1 Muharrom 1435. Semoga lebih baik, lebih berkah, lebih manfaat & lebih maslahah daripada tahun-tahun sebelumnya.
aamiin

19/10/2013

KYAI Belum Tentu ULAMA, Tapi Kalau ULAMA Sudah Tentu KYAI

Ada pernyataan menarik tentang pengertian "Kyai" dari KH. Musthofa Bisri Rembang (Gus Mus).

Pada saat itu Gus Mus berkhutbah dalam pengajian haul KH Ali Maksum di Krapyak, Gus Mus (KH Mustofa Bisri Rembang) yang didaulat sebagai pembicara membawa hadirin pada suasana nostalgia, yakni masa-masa di saat beliau nyantri dulu... mengenang kearifan para Kyai zaman dahulu... khususnya para Kyai di lingkungan pesantren Krapyak yang pernah 'ngemong' beliau. Seperti KH. Ali Maksum, KH. Dalhar Munawwir, dan KHR. Abdul Qodir Munawwir.

Beliau mengisahkan betapa manusiawinya para Kyai itu, dalam arti mampu memanusiakan manusia, sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing orang, tidak menelantarkan tetapi juga tidak mengekang. KH. Ali Maksum misalnya, sosok Kyai yang "mbapaki" dan tidak "ngiyaini", sehingga beliau di kalangan santri-santrinya lebih akrab disapa "Pak Ali", begitupun para kyai-kyai Krapyak generasi selanjutnya, juga disapa dengan sapaan "Pak" atau "Mbah".

Salah satu hal yang khas dari Mbah Ali, khutbah Jum'atnya pendek-pendek, namun selalu bertemakan hal-hal penting yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini bisa dilihat pada gaya khutbah Mbah Zainal (KH Zainal Abidin Munawwir, pengasuh Ponpes Al-Munawwir Krapyak sekarang) yang terkesan pendek namun berbobot, baik itu tentang fiqh, aqidah, maupun tasawwuf. Beliau memahami kondisi masyarakat yang bermacam-macam, sehingga tidak menyamaratakan, santri tidak sama dengan pegawai kantor, pedagang bakso, atau musafir yang kebetulan mampir di masjid untuk shalat Jum'at. Terkadang tema yang dibahas oleh Mbah Zainal adalah bab Thoharoh alias 'sesuci', tentang apa itu air musta'mal, juga air mutanajjis, tema dan gaya khutbah semacam ini di Jakarta, di Kairo, atau di Saudi Arabia...

Atau seperti kisah KH Abdul Jalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tulungagung. Beliau disowani seorang wanita yang ber-'profesi' sebagai penjaja seks yang minta doa penglaris. Kyai Jalil hanya manggut-manggut, menasehati dan mendoakan seperti apa yang diminta wanita itu, laris. Beberapa hari kemudian, beliau disowani oleh wanita yang sama, namun kali ini berbeda, wanita itu merengek-rengek minta bertaubat. Wanita itu berkisah, sangkin larisnya, sampai-sampai tidak kuat, merasa tersiksa,
dan muncul keinginan untuk bertaubat.. wuih.. Wallahu A'lam...

Dari contoh-contoh yang banyak dikisahkan itu, kita bisa melihat bagaimana para Kyai bergaul dengan masyarakat, merangkul, mendengarkan, memahami, dan memberi nasehat serta solusi bagi masalah mereka, dibalut dengan keikhlasan dan sikap 'ngemong', tidak menghakimi. Ibarat gula, mereka rela meleburkan diri di tengah masyarakat sebagai airnya, sehingga masyarakat pun turut menjadi manis.

Sehingga, seperti dikatakan Gus Mus, dari wajah beliau-beliau itu tersirat cahaya kedamaian yang menular ke hati kita yang memandangnya. Beliau mencontohkan, setiap orang yang sowan ke ndalem Kyai Qodir (KHR. Abdul Qodir Munawwir), meski membawa berbagai macam kegundahan di hati,
akan merasa plong, lega, ayem, ketika memandang wajah Sang Kyai yang disowani, seakan-akan semua masalahnya telah beres. Sangkin ayemnya...

Nah, di ujung kisahnya, Gus Mus menyatakan kerinduannya terhadap sosok-sosok Kyai masa lalu... serta menawarkan satu definisi kata "Kyai" dalam konteks keindonesiaan, beliau (kira-kira) berujar begini;

*"Saya punya definisi gelar 'Kyai' menurut versi saya sendiri, yakni ALLADZIINA YANDZURUUNAL UMMAH BI 'AYNIR ROHMAH; mereka yang memperhatikan Umat dgn pandangan Rahmat (Kasih Sayang). Kalau ada orang, pakaiannya ala Nabi, sorbannya lebar, jenggotnya panjang, tetapi nggak
menyayangi umat, biarpun saya ditawari duit sejuta, nggak bakal mau manggil dia 'Kyai'.. Tetapi kalau ada orang yang ilmunya nggak terlalu tinggi, tetapi mengayomi umat, dicintai umat, dia pantas disebut 'Kyai'..."*

Ungkapan Gus Mus ini sesuai dengan asal mula kata "Kyai" berupa kata "Ki" dan "Yai". Dalam kebudayaan kita, setiap hal yang memiliki kelebihan dalam sisi spiritual bisa digelari "Ki-Yai" atau "Kyai", tidak hanya sosok manusia, bahkan benda anorganik pun bisa, sebut saja Kyai Pleret si tombak, Kyai Cubruk si keris, atau Kyai Nogo Wilogo dan Kyai Guntur Madu si gong istimewa yang ditabuh saat Sekaten di Yogyakarta.

Kata "Kyai" itu sebenarnya, sebagaimana diungkapkan KH Abdullah Faqih Langitan, adalah sinonim dari kata "Sheikh" dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti kata "Sheikh" itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Bajuri adalah "man balagha rutbatal fadli", yaitu orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan, karena selain pandai (alim) dalam masalah agama (sekalipun tidak 'allamah atau sangat alim), mereka mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan
kepada murid-muridnya. Penyebutan "Kyai" itu berasal dari inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau media massa.

Sementara itu, makna kiai atau "Sheikh" dalam pengertian etimologi (lughotan) adalah "man balagha sinnal arbain", yaitu orang-orang yang sudah tua umurnya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan, misalnya dalam hal berbicara atau mengobati orang (nyuwuk), tapi tidak pandai dalam masalah agama.

Makanya, ada ungkapan begini:
“AL-'AALIMU SYAIKHUN WALAW KAANA SHOGHIIRON”
(Orang pandai itu "sheikh" walaupun masih kecil/muda)..
“ WAL JAAHILU SHOGHIIRUN WALAU KAANA SYAIKHON”
(dan orang bodoh itu kecil walaupun sudah tua)..

Jadi, gelar "Kyai" sebenarnya memang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kelebihan dalam hal spiritual, dan kemudian diakui masyarakat. Berbeda dengan "Ulama" yang merupakan bentuk jamak dari kata "Alim" (orang yang berilmu), atau istilah kita "Ilmuwan". Gelar "Ulama" ini adalah gelar religius, sedangkan "Kyai" tidak. Kata "Ulama" jelas-jelas disebukan dalam surat Fathir ayat 28, “Innamaa Yakhsyalloohu Min 'Ibaadihil 'Ulamaa”.

Dan di ayat itu tersurat secara gamblang bahwa kriteria Ulama yang dimaksud adalah berpengetahuan, kemudian pengetahuannya menjadi sebab dia mengenal serta bertaqwa kepada Allah. Jadi, ulama sudah tentu kyai, sedangkan kyai belum tentu ulama.

Sehingga, konsekuensinya, gelar "Kyai" tidaklah seperti pengertian masyarakat dewasa ini. Pada umumnya, masyarakat menilai bahwa "Kyai" adalah gelar bagi orang yang ahli agama Islam. Kesimp**an ini mungkin didapatkan dari keadaan selama ini bahwa yang namanya kyai ya mesti
berpengetahuan agama luas, akibat generalisasi obyek. Padahal pengertian Kyai lebih luas dari itu.

Kita melihat manusia mengunyah dengan rahang bawah, begitu p**a kambing, begitu p**a sapi, begitu p**a kucing, kemudian kita menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup mengunyah dengan rahang bawah. Lalu, ketika kita melihat buaya misalnya, maka kita sadar bahwa kesimp**an kita salah,
buktinya buaya mengunyah dengan rahang atas. Nah, kesimp**an macam ini, generalisasi, dalam bahasan ilmu Manthiq disebut metode Istiqro-i yang rentan salah.

Nah, ocehan saya ini hanya bermaksud mendukung dhawuh Gus Mus di atas, bahwasanya Tokoh Spiritual Panutan Masyarakat alias "Kyai" adalah mereka yang mengayomi masyarakatnya dengan penuh kasih sayang, pengertian, mengikat namun tidak mengekang. Di kala menegur pun, ibarat memukul, adalah bagaikan pukulan sebiting sapu lidi, menyengat tapi tidak menyakitkan..

Sosok-sosok pengayom ibarat pohon beringin seperti inilah yang masyarakat rindukan. Tidak hanya bergelut di ranah pembahasan kitab dan penetapan hukum-hukum formal agama. Tetapi juga turut membaur bersama masyarakat, memberikan solusi bagi permasalahan mereka. Serta mau dan mampu membimbing masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki, terutama potensi intelektual dalam bidang apapun, demi kemaslahatan hidup masyarakat itu sendiri. Sehingga, Rahmah (kasih sayang) yang dimaksudkan tidak hanya berrotasi di lingkup manusia sebagai naas, basyar, maupun insan, tetapi juga melingkupi orbit yang jauh lebih luas yakni Alam Semesta...

03/10/2013

PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA IBU AINUN

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya.

Dan kematian adalah sesuatu yang pasti.
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat.

Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang.

Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
Tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderungankuadalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan ...
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya ...

Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...

Selamat jalan sayang ...
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku ...

Selamat jalan ...
Calon bidadari surgaku ...

28/06/2013

Janganlah kamu wahai wanita islam , mahu berniqab itu nampak cantik.. dan Jangalah kamu wahai wanita islam , tidak memakai niqab itu tidak nampak cantik..

Kecantikkan mu itu terletak pada hatimu.. sejauh dan sekuat mana KEIMANAN & KETAQWAAN mu pada ALLAH , itulah kecantikkan yang sebenar2nya.. :) ♥ bila hati cantik , luaran pun nampak cantik .. :)

03/06/2013

Man ahabba syai'an katsura dzikruhu

Orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya.

02/06/2013

Judul :
seseorang yang menjadi rahasia Allah SWT #

Bukan ku damba segigih Siti Hajar, sesetia Khadijah, sesabar Aisyah, secantik dan secerdik Balqis, setulus kasih Zulaikha, sejujur Aisyah, seteguh hati Fatimah, sesufi Rabiatul Adawiyah mengabdikan diri dilorong sufi, bukan jua Ainul Mardhiah pembakar semangat mujahid, kerana aku tidak layak berharap sedemikian rupa, kerana aku hanya pengembara diakhir zaman, tapi cukuplah sekadar aku mencontohi bunga-bunga itu kembang mekar mewangi sehingga harumannya melewati pintu-pintu syurga, dan aku bukanlah yang baik tapi mencoba untuk lebih baik.
"Doaku"
Ya Rahman, rasa ini juga pemberian darimu. Cinta ini juga Rahmat Terbesar dari Mu, jaga dia agar tidak tercampuri nafsu syetan yang bejat.Biarkan dia mekar mewangi dengan Islami. Dan suatu saat nanti, ijinkan dia menjadi KEKASIH HALALKU sehidup semati.

aamiin..

Address

Rantauprapat

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Raja inal ritonga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Raja inal ritonga:

Shortcuts

Share