Informasi no 023
PENYERAPAN PESTISIDA DAN PUPUK DAUN OLEH DAUN TUMBUHAN
Tulisan tentang penyerapan (uptake, absorpsi) pestisida ini pernah saya upload tgl 13 Nov. 2018 di akun FB saya yg lama. Tulisan diupload kembali setelah dilengkapi referensi tentang pupuk daun.
1. Tulisan dari Proceeding of the California W**d Science Society (1999, penulisnya lupa) menyatakan: Meskipun herbisida yg mudah menguap dapat dengan mudah memasuki stomata, namun larutan herbisida dalam air tidak mungkin menembus stomata kecuali bila tegangan permukaannya dapat diturunkan secara significant. . . . . Sebelum diketemukannya surfaktan organosilikon, penetrasi herbisida lewat stomata dianggap sangat kecil peranannya. (Catatan dari saya: Hal ini berlaku untuk pestisida lainnya).
2. Fred Whitford (The impact of water quality on pesticide performance, 2009) menulis: stomata membuka dan menutup untuk pengeluaran gas dari daun. Tidak ada korelasi antara jumlah stomata dan jumlah pestisida yg diserap daun. Ini mengindikasikan bahwa stomata bukan merupakan rute penting bagi penyerapan pestisida.
3. Wang dan Lu (Foliar uptake of pesticides, 2006) menyatakan: Penyerapan pestisida oleh daun adalah prose's difusi melewati lapisan lilin dari kutikula daun dan membran plasma dari sel-sel epidermis.
4. R. C. Kirkwood (Recent development in our understanding of plant cuticle as barrier to the filiar uotake of pesticides, 1999) bilang: Pengangkutan pestisida melewati kutikula adalah proses difusi yang terdiri atas tiga langkah a. Penyerapan oleh kutikula, b. Difusi melewati kutikula, dan c. Pelepasan dari kutikula.
5. Dalam presentasinya, Dr. Derrick Oosterhuis ( Foliar Fertilizatiin: Principles and Practices, tanpa tahun) menyatakan bahwa agar bisa bekerja, pupuk daun (nutrisi) harus diabsorpsi oleh daun. Untuk masuk kedalam jaringan daun nitrisi harus menembus kutikula daun dan dinding sel epidermis. Baca juga Fernandes dkk (2013) Foliar Fertilization: Scientific Principles and Field Practices.
Kesimpulan: ABSORBSI PESTISIDA (DAN NUTRISI) LEWAT STOMATA, KALAU ADA, BUKAN MERUPAKAN RUTE PENTING BAGI PENYERAPAN PESTISIDA DAN NUTRISI.
Djojosumarto Pesticide Center
Praktisi Pestisida. Memberikan training perihal Pengantar Pestisida dan Teknik Aplikasi Pestisida.
Informasi no 022
MENGAPA SAYA MENGANJURKAN PENYEMPROTAN SORE HARI?
Saya menganjurkan penyemprotan SEBAIKNYA dilakukan pada sore hari (pukul 3/4 s/d pukul 6), dengan alasan berikut:
1. Sore hari cahaya matahari sudah mulai redup dan semakin meredup menjelang maghrib.
Bila intensitas cahaya matahari sangat tinggi/panas terik, pestisida akan mengalami dekomposisi yg disebut fotolisis atau fotodegradasi.
2. Sore hari suhu udara mulai turun.
Pada suhu tinggi (>30C) butiran semprot yg halus akan menguap. Pada suhu tinggi butiran semprot yg menempel di daun cepat mengering (pestisida sistemik tidak bisa diabsorbsi oleh daun). Suhu tinggi meningkatkan fotodegradasi.
3. Sore hari udara lebih lembab.
Bila kelembaban udara terlalu tendah (
Informasi no 021
KAPAN KITA SEBAIKNYA TIDAK MENYEMPROT?
KAPAN kita SEBAIKNYA TIDAK menyemprot dan apa alasannya.
1. Jangan menyemprot saat intensitas cahaya matahari sangat tinggi (panas terik).
- Cahaya matahari yg sangat intens akan menyebabkan pestisida mulai mengalami degradasi (dekomposisi) yg disebut fotodegradasi atau fotolisis (dekomposisi oleh sinar matahari).
- CATATAN: Selalu baca aturan pakai di label, karena beberapa produk justeru memerlukan cahaya matahari agar bisa bekerja. Contohnya diafentiuron dan paraquat.
2. Jangan menyemprot saat suhu udara sangat tinggi (diatas 30 C).
- Butiran semprot yg halus akan menguap (pestisida hilang, dosis berkurang).
- Larutan semprot di daun tanaman cepat mengering (pestisida sistemik/translaminar hanya dapat diserap oleh daun saat masih basah)
- Makin tinggi suhu udara, fotodegradasi makin cepat.
- Tidak nyaman utk bekerja.
3. Jangan menyemprot saat udara sangat kering (kurang dari 40%)
- Butiran semprot halus menguap
- Larutan semprot yg menempel di daun cepat kering
4. Jangan menyemprot saat angin kencang dan/atau saat tidak ada angin sama sekali
- Angin kencang --> liputan dan distribusi semprotan kurang baik.
- Angin kencang --> drift (butiran semprot diterbangkan angin keluar dari bidang sasaran)
- Tidak ada angin --> distribusi dan liputan dapat menjadi kurang baik (terlampir kecepatan angin yg paling baik utk menyemprot).
- Angin yg cocok akan membantu mendistribusikan butiran semprot ke daerah yg sulit dalam kanopi daun.
5. Jangan menyemprot saat hujan atau akan hujan.
- Butiran semprot tercuci, hilang dari bidang sasaran.
6. Jangan menyemprot saat banyak embun
- Embun menambah volume semprot, mengurangi konsentrasi takaran semprot.
Semoga bermanfaat. Para pakar dimohon koreksinya. Pertanyaan jangan keluar dari pokok
bahasan.
Informasi no 20
PARAMETER UNTUK PENYEMPROTAN YG "BAIK"
Bagaimana kita menilai, apakah penyemprotan yg kita lakukan sudah baik? Saya mengusulkan 6 parameter atau kriteria penyemprotan yg harus dipenuhi agar pengendalian opt berhasil.
(Dalam 2 buku saya terdahulu, saya usulkan 5 kriteria, tetapi dalam buku saya terbaru kriteria itu ditambah satu, KWALITAS AIR).
Pertama, KWALITAS AIR: gunakan air jernih, bebas dari lumpur. Lumpur bisa mengikat bahan aktif hingga mempengaruhi efikasi pestisida (Baca juga Catatan no 003).
Kedua, UKURAN BUTIRAN SEMPROT.
Saat menyemprot, larutan semprot harus dipecah (oleh nozzle, spuyer) menjadi butiran semprot (disebut DROPLET). Ukuran droplet disesuaikan dengan OPT sasarannya. Untuk menyemprot HAMA Dan PENYAKIT digunakan droplet HALUS sampai SEDANG. Sementara untuk GULMA digunakan droplet SEDANG hingga KASAR. Butiran semprot halus biasanya diperoleh dari nozzle kerucut, droplet sedang dari nozzle kipas, dan droplet kasar dari nozzle polijet.
Ketiga, DISTRIBUSI SEMPROTAN.
Butiran semprot harus didistribusikan ke bidang sasaran (umumnya daun) secara MERATA, baik di seluruh kebun (distribusi horizontal) maupun pada daun tanaman (distribusi vertikal). Jangan lupa helaian daun bagian bawah!!
Keempat, LIPUTAN
Droplet harus menutupi daun debgan jumlah yg cukup. Makin banyak droplet menutupi bidang sasaran (daun), makin besar kemungkinan opt terpapar pertisida. Liputan minimal utk pestisida sistemik adalah 20-30 droplet/cm2 bidang sasaran, dan 50-70 droplet/cm2 utk pestisida non-sistemik. Untuk penyemprotan konvensional di darat kita tidak usah merisaukan angka liputan minimal tsb. Petani kita biasa menyemprot hingga basah kuyup, sehingga liputannya sering berlebihan. Tetapi liputan minimal penting utk penyemprotan ULV yg volume semprotnya sangat rendah (misalnya penyemprotan dari udara).
Kelima VOLUME SEMPROT.
Volume semprot adalah jumlah larutan semprot yg digunakan untuk menyemprot satu satuan luas lahan. Biasa dinyatakan dalam
14/01/2023
Informasi no 019
PENANAMAN PADI SAWAH TANPA OLAH TANAH
Saya s**a foto terlampir. Saya juga pernah mencobanya pada tahun 1984-1985. Hasilnýa? Sedikit lebih rendah dari yg konvensional, tetapi hitung-hitungan biayanya sangat menjanjikan.
Cara tanam padi tanpa olah tanah hanya bisa dilakukan pada penanaman kedua, setelah padi pertsma dipanen.
Mula2 sisa batang (tunggul) padi dari padi pertama disemprot dengan herbisida kontak untuk membunuh singgang dan mempercepat pembus**an. Bibit padi kemudian ditanam di antara barisan tunggul padi (lihat foto). Tentu lahan diari dulu sekedar agar basah, untuk memudahkan penanaman.
Sisa tunggul padi, setelah busuk, bisa diinjak sambil menggemburkan tanah, atau digosrok dengan alat penyiang rumput (lihat foto sudut kanan bawah).
Pemupukan dilakukan seperti biasa.
Keuntingan antara lain menghemat biaya dan tenaga pengolahan tanah.
Ada yg ingin mencoba?
Kepada pemilik asli foto ini (Herryan's) saya mohon maaf menggunakan fotonya.
14.01.2022
05/01/2023
Informasi no 018
RENUNGAN TENTANG PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
Selama ini, pendapat umum menyatakan bahwa saat menyemprotkan pestisida para penyemprot diharuskan menggunakan sarung tangan, masker, topi, kaca mata, respirator, dsb, pendeknya "baju bagaikan austronaut" akan terbang ke angkasa luar. Tentu maksudnya baik, karena makin rapat tubuh tertutup, makin baik bagi pengguna, karena resiko paparan akan lebih rendah.
Tetapi marilah kita analisa kasus ini dengan kepala dingin, mengacu pada slide-slide yg kami tampilkan.
Slide 1.
Setiap label pada kemasan pestisida selalu ditampilkan pita warna yg menandai tingkat bahaya dari produk tersebut bagi pengguna. Ada pita kuning (berbahaya), pita biru (cukup berbahaya), dan pita hijau (dalam penggunaan normal tidak terlalu berbahaya). Sebenarnya masih ada lagi yg berpita warna merah, menandakan produk tersebut sangat berbahaya. Tetapi yg berpita merah tidak boleh didaftarkan di Indonesia.
Dalam pita warna tsb juga ditampilkan piktogram, yg menandakan alat pelindung diri (APD) apa saja yg HARUS dipakai oleh pengguna saat bekerja dengan produk pestisida tersebut. Piktogram sebelah kiri adalah APD yg WAJIB digunakan saat mencampur (mixing), dan piktogram sebelah kanan menunjukkan APD yg HARUS dipakai saat menyemprot/mengaplikasikan pestisida tsb.
Mengapa antara mencampur dan menyemprot APD-nya berbeda? Pertama karena resikonya berbeda (mencampur lebih berresiko daripada menyemprot), dan kedua karena bagian tubuh yg terpapar juga berbeda.
Slide 2
Tergantung pada sifat bahan aktifnya, bisa saja APD yg digunakan berbeda, meskipun kelas bahaya (pita warnanya) sama.
Slide 3.
Mestinya, APD yg WAJIB digunakan cukup mengacu pada piktogram dari produk tsb. Dalam slide 3 ini misalnya, saat menyemprot penutup muka (masker dan kaca mata) TIDAK HARUS digunakan, karena dlm piktogram tidak dicantumkan. Dlm label ini yg HARUS digunakan saat menyemprot hanya celana panjang dan baju lengan panjang, sepatu boot, dan sarung tangan. Penutup muka dalam contoh ini hanya HARUS dipakai saat mencampur pestisida.
Masalah yg hendak saya kemukakan adalah mana yg harus kita ikuti? Piktogram pada kemasan/label; atau pendapat umum bahwa penyemprot harus selalu memakai "pakaian austronaut" yg panas dan tidak nyaman itu? Kalau memang harus memakai baju astronot, hendaknya produsen pestisida diwajibkan mencantumkannya pada piktogram dalam pita warna.
Pertama kali dipost 28.01.2018
Post ulang 05.01.2023
Video 08
Yang ingin tahu tentang pestisida sistemik akropetal
31/12/2022
Informasi khusus tahun baru
TAHUN
Bagi saya pribadi, "tahun" hanyalah sekedar satuan untuk menghitung waktu, seperti halnya detik, jam, hari, bulan, windu, dekade, dsb.
Satu tahun adalah waktu yg dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari. Satu kali putaran (revolusi) bumi mengelilingi matahari perlu waktu 365,25 hari (sebetulnya tidak tepat segitu). Itulah satu tahun matahari (syamsiah) yang kini diterima sebagai tahun international.
Sementara satu hari satu malam, adalah waktu yg dibutuhkan oleh satu kali bumi berputar pada porosnya (rotasi), yg durasinya adalah 23 jam 56 menit (maaf kalau salah ingat) lebih beberapa detik. Rotasi bumi pada porosnya menyebabkan terjadinya siang dan malam. Jadi, dalam setahun bumi berputar pada porosnya 365,25 kali.
Untuk membedakan rotasi bumi (hari) yg satu dengan rotasi (hari) lainnya, maka hari-hari tersebut diberi nama, Minggu (Ahad = 1), Senin (isnayn = 2), Selasa (tsalatsa = 3), Rabu (arbaa = 4), Kamis (khamsa = 5), Jumat (jamaah = hari utk berkumpul), dan Sabtu (sabbat?). Setiap 7 hari disebut satu minggu atau satu pekan (week). Dalam sistim internasional, pergantian hari dimulai pada pukul 00.00 tengah malam
Jumlah hari yg 365,25 hari itu lalu didistribusikan kedalam 12 bulan. Ada 7 bulan (month) berumur 31 hari, 4 bulan berumur 30 hari, dan 1 bulan (February) berumur 28 hari. Karena 1 tahun umurnya 365,25 hari, maka kelebihan yg 0,25 hari itu dikumpulkan mejadi 1 hari setiap 4 tahun sekali, dan ditambahkan ke bulan February (Itu sebabnya setiap tahun kabisat, yang angka tahunnya bisa dibagi 4, umur bulan February menjadi 29 hari).
Untuk membedakan bulan yg satu dengan bulan lainnya, bulan-bulan itu diberi nama. Januari, Februari, Maret ...... sampai Desember. Kalau kita tidak s**a dengan nama-nama bulan yg "berbau" Romawi itu, kita bisa menyebutnya dengan bilangan. Bulan 1, bulan 2, ..... hingga bulan 12.
Tahun matahari atau tahun international memiliki kelebihan bahwa datangnya musim (musim semi, panas, gugur, dingin di negara2 yg mempunyai 4 musim) dalam setahun selalu dimulai pada tanggal yg sama. Untuk Indonesia yg hanya mengenal musim hujan dan musim kemarau, secara umum dikatakan bahwa Oktober hingga April adalah musim hujan dan April hingga Oktober adalah musim kemarau. Dengan mengetahui datangnya musim kita bisa memperhitungkan kapan mulai bertanam padi, dsb. Disamping itu, karena Indonesia dilintasi garis Khatulistiwa, ada 2 tanggal yg perlu kita ingat, yakni bahwa setiap tgl 21 Maret dan 22 September (maaf kalau salah ingat) matahari berada tepat di garis Khatulistiwa (disebut ekuinoks). Pada kedua tanggal tsb panjang siang dan malam hari di seluruh dunia, persis (!) sama.
Memasuki tahun baru, sekali lagi bagi saya pribadi, hanya berarti bahwa kita meninggalkan 365,25 hari yang sudah lewat, menuju ke 365,25 hari yg akan datang. Karena kita memerlukan titik nol (titik awal) untuk menghitung, maka diterapkan tgl 1 Januari sebagai awal hitungan tahun (tentang mengapa 1 Januari, ceritanya panjang). Tidak Ada upacara atau ritual apa pun untuk menyambut 1Januari. Sebagian orang mungkin menggunakannya sebagai momentum untuk introspeksi. Atau, berdoa untuk kebaikan 365,25 hari mendatang.
Untuk membedakan tahun yg satu dengan tahun yg lain, maka tahun-tahun itu diberi nomor urut. Nomor urut untuk 365,25 hari yg akan datang adalah 2023.
Oh ya, kalender berbasis tahun matahari yg digunakan secara internasional sekarang ini adalah Kalender Gregorian yang disahkan oleh Paus Gregorius XIII pada 24 Februari 1582. Kalender Gregorian diusulkan oleh astronom (juga dokter) Italia, Dr Aloysius Lilius, untuk mengoreksi kalender yg digunakan pada saat itu, yakni Kalender Julian yg kurang akurat sehingga jatuhnya awal musim semi (seharusnya tgl 21 Maret) mengalami pergeseran. Untuk "membetulkan" kekeliruan itu, Paus Gregorius "membuang" 10 hari di bulan Oktober 1582, yakni Kamis 4 Oktober 1582 langsung diikuti oleh hari Jumat tgl 15 Oktober 1582 (tgl 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, dan 14 Oktober 1582 TIDAK ADA).
SELAMAT TAHUN BARU, 1 Januari 2023
Semoga 365,25 hari mendatang segalanya lebih baik dari 365,25 hari yg sudah lalu.
Click here to claim your Sponsored Listing.