03/11/2025
🌏 INDONESIA EMAS 2045: ANTARA MIMPI DAN GENERASI YANG TERPERANGKAP
Indonesia bermimpi menjadi negara maju pada 2045. Tapi, di balik semangat itu, kita menghadapi paradoks: industri hiburan tumbuh pesat, sementara produktivitas generasi muda justru menurun.
Sektor hiburan kini menyumbang Rp1.300 triliun ke PDB, tumbuh 5,76% per tahun. Namun, di saat yang sama, lebih dari 59% pekerja Indonesia masih di sektor informal, dan upah minimum kita termasuk terendah di dunia. Banyak anak muda hidup dalam tekanan: gaji pas-pasan, tanggungan keluarga (generasi sandwich), dan stres finansial yang tak berujung.
📱 Lalu datang media sosial: TikTok, IG, YouTube. Tempat pelarian dari realitas ekonomi yang menyesakkan.
Kita mencari serotonin lewat “scrolling”, “joget”, dan konten cepat—bukan ilmu atau skill. Fenomena brain rot dan doomscrolling menurunkan fokus, menumpulkan daya pikir, dan melemahkan semangat belajar.
Kini, 90% pelajar gunakan internet untuk hiburan, bukan edukasi.
🎫 Bahkan untuk hiburan, banyak yang rela utang lewat paylater. Bayar cicilan hanya demi konser atau healing sesaat. Inilah streaming serotonin—menghibur, tapi menjerat.
Pertumbuhan industri hiburan sering dianggap simbol kemajuan, padahal bisa jadi cermin dari krisis produktivitas dan pelarian kolektif.
Kita merayakan “pertumbuhan”, tapi lupa bahwa ekonomi yang sehat bukan hanya soal konsumsi—melainkan daya cipta, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Jika kita ingin Indonesia benar-benar Emas 2045, bukan generasi FOMO dan cicilan yang kita butuhkan—melainkan generasi yang berpikir, berjuang, dan mencipta.