MDTA MIFtahul HUDA

MDTA MIFtahul HUDA Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from MDTA MIFtahul HUDA, Education Website, Dk. B**g Ds. Rowosari Kec. Ulujami Kab. Pemalang, Pemalang.

"Membangun Generasi Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia"

Dengan pengajar yang kompeten dan suasana belajar yang hangat, kami siap membantu anak-anak Anda menimba ilmu agama dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Ada perbedaan halus antara kesendirian dan kesepian. Kesepian adalah kekosongan yang terasa menekan, seolah ada ruang da...
08/03/2026

Ada perbedaan halus antara kesendirian dan kesepian. Kesepian adalah kekosongan yang terasa menekan, seolah ada ruang dalam diri yang tidak terisi. Sedangkan kesendirian bisa menjadi ruang yang lapang, tempat seseorang berdamai dengan dirinya sendiri. Tidak semua orang mampu tinggal dalam sunyi tanpa merasa hampa. Hanya mereka yang menemukan sesuatu yang lebih dalam yang mampu menjadikan sepi sebagai teman, bukan ancaman.

Orang yang menyukai kesendirian tetapi tidak merasa kesepian biasanya telah menemukan sumber ketenangan yang tidak bergantung pada keramaian. Ia tidak lagi membutuhkan banyak suara untuk merasa hidup. Ia tidak lagi menggantungkan makna pada kehadiran orang lain semata. Ada percakapan batin yang terus berlangsung, ada rasa ditemani meski tak terlihat siapa pun di sisinya.

Dalam tradisi para sufi seperti Jalaluddin Rumi, kesendirian justru menjadi pintu menuju keintiman dengan Tuhan. Sunyi bukan tempat melarikan diri, melainkan tempat mendengar. Di sana ego perlahan melemah, dan hati menjadi lebih peka. Ketika seseorang menemukan Tuhan dalam kesunyian, ia tidak lagi merasa ditinggalkan oleh dunia, karena ia merasa ditemani oleh Yang Maha Hadir.

Barangkali itulah makna terdalam dari kalimat itu. Bukan tentang menjauhi manusia, melainkan tentang menemukan kehadiran yang tidak pernah pergi. Dan ketika hati sudah merasa cukup dengan kedekatan itu, kesendirian tidak lagi menakutkan. Ia berubah menjadi ruang sakral, tempat jiwa beristirahat tanpa rasa sepi.

26/02/2026

Ngajeni awake dewe wae gak iso kok njalok diajeni wong liyo 😁🙏

Ono cerito.
Ono wong majusi, nonis nduwe anak, lha anake iku pas bulan romadhon malah mangan ning pasar, akhire dipukul karo bapake seraya berkata "bocah kurang ajiar ora gelem ngajeni wong islam sing lagi poso".
Selang beberapa waktu wong majusi sing ngamuk anake perkoro mangan ning pasar wektu romadhon iki meninggal.
Setelah meninggalnya dia ono wong ngalim ngipi nek wong majusi maeng mlebu suwargo.
Krn penasaran akhire wong ngalim iki takon "loh smpyn iki majusi, nonis kog mlebu suwargo, ceritanya piye????
Akhirnya wong majusi nonis maeng cerita " Aku pas ape ninggal iku krungu suworo ngene_ heyyy malaikat wong iku ojo mbok jupuk nyawane disek sak durunge mlebu islam, mergo wong iku wes mulyakno bulan romadhon_.

akhire aku ninggal dalam keadaan islam kata orang majusi tadi.

Intine, hanya wong-wong sing mulya sing iso mulyakno barang mulyo

25/02/2026

KHASIAT MEMAKAI CINCIN AKIK

Dalam kitab Wasā’il (الوسائل) disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Ali, pakailah cincin di tangan kananmu, niscaya engkau termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).”
Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang dimaksud orang-orang yang didekatkan itu?”
Beliau menjawab, “Jibril dan Mikail.”
Ali bertanya lagi, “Dengan batu apa aku harus memakai cincin, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:
“Dengan akik merah, karena ia adalah gunung pertama yang mengakui keesaan Allah, mengakui kenabianku, mengakui wasiatmu wahai Ali, mengakui kepemimpinan anak keturunanmu, bagi para pecintamu adalah surga, dan bagi pengikut keturunanmu adalah Firdaus.”

Diriwayatkan dari Imam ar-Ridha :
- Akik menolak kefakiran, dan memakai akik menolak kemunafikan.
- Siapa yang mengundi (berundi/berkurban/berbagi) sementara di tangannya ada cincin akik, maka bagian yang keluar untuknya adalah yang terbaik dan paling sempurna.

Dari Abu Abdullah (Imam Ja‘far ash-Shadiq) :
Rasulullah ﷺ bersabda:
- “Pakailah akik, karena ia diberkahi. Siapa yang memakai akik, hampir pasti akan ditetapkan baginya akhir yang baik.”
- “Siapa yang memakai akik, hajat-hajatnya akan dikabulkan.”
- “Akik adalah pengaman dalam perjalanan.”
- “Siapa yang menjadikan batu cincin dari akik, ia tidak akan menjadi fakir, dan tidak diputuskan untuknya kecuali yang terbaik.”

Diriwayatkan bahwa seorang gubernur pernah memanggil seorang keturunan Abu Thalib karena suatu tuduhan. Ia melewati Imam Ja‘far ash-Shadiq . Imam berkata agar ia diberi cincin akik. Setelah ia memakai cincin akik, tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Diriwayatkan ada seorang lelaki mengadu kepada Nabi ﷺ bahwa ia dirampok di jalan. Nabi bersabda:
“Mengapa engkau tidak memakai cincin akik? Sesungguhnya ia menjaga dari segala keburukan.”
Beliau juga bersabda:
“Pakailah akik, karena selama ia dipakai, seseorang tidak akan ditimpa kesedihan.”

Dari Basyir ad-Dahhān, ia berkata:
Aku bertanya kepada Abu Ja‘far (Imam al-Baqir) : “Batu apa yang sebaiknya kupasang pada cincinnku?”
Beliau menjawab:
“Wahai Basyir, mengapa engkau tidak memilih akik merah, akik kuning, atau akik putih? Sesungguhnya ketiganya adalah tiga gunung di surga.”
Beliau melanjutkan:
“Siapa dari pengikut keluarga Muhammad yang memakai salah satunya, ia tidak akan melihat kecuali kebaikan, keindahan, kelapangan rezeki, keselamatan dari segala bala, menjadi pengaman dari penguasa zalim dan dari segala yang ditakuti.”

Dari Abu Abdullah :
“Tidaklah diangkat tangan kepada Allah yang lebih Dia cintai daripada tangan yang di dalamnya terdapat batu akik.”

Dari Sulaiman al-A‘mash:
Aku pernah bersama Ja‘far bin Muhammad di depan pintu Abu Ja‘far al-Manshur. Keluar seorang lelaki yang baru dicambuk. Imam berkata: “Lihatlah apa batu cincinnya.”
Aku berkata: “Wahai putra Rasulullah, batunya bukan akik.”
Beliau berkata:
“Seandainya itu akik, ia tidak akan dicambuk.”
“Ia adalah pengaman dari terpotongnya tangan.”
“Ia pengaman dari tertumpahnya darah.”
“Allah menyukai tangan yang berdoa kepada-Nya sementara padanya ada akik.”
“Sungguh mengherankan tangan yang memakai akik, bagaimana bisa kosong dari dinar dan dirham.”
“Ia pengaman dari segala bala.”
“Ia pengaman dari kefakiran.”
Beliau membolehkan meriwayatkan hal itu dari kakeknya, Husain bin Ali .

Dari Imam ash-Shadiq :
“Dua rakaat shalat dengan memakai akik setara dengan seribu rakaat tanpa memakainya.”

Dalam Fashl al-Khithab disebutkan bahwa Ali bin Muhammad (Imam al-Hadi) mengizinkan seorang pelayannya berziarah ke Thus, dan berkata:
“Bawalah cincin dengan batu akik kuning, yang di atasnya tertulis:
‘Ma sya Allah la quwwata illa billah astaghfirullah’
dan pada sisi lainnya:
‘Muhammad dan Ali’
karena ia pengaman dari pemotongan (hukuman), lebih sempurna untuk keselamatan, dan lebih menjaga agamamu.”

Dari Imam ar-Ridha :
“Siapa yang pagi hari memakai cincin akik di tangan kanan, sebelum dilihat orang lain ia membalikkan batu itu ke arah dalam telapak tangannya dan membaca surat Al-Qadr sampai selesai, lalu berkata:
‘Aku beriman kepada Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan aku beriman kepada rahasia keluarga Muhammad dan kepada yang tampak dari mereka,’
maka Allah akan menjaganya pada hari itu dari segala keburukan yang turun dari langit, yang naik ke sana, yang masuk ke bumi dan yang keluar darinya. Ia berada dalam perlindungan Allah dan Rasul-Nya sampai petang.”

Dalam kitab Wasā’il disebutkan bahwa pernah dikatakan kepada Imam Hasan al-Askari :
“Engkau tidak memilih sesuatu melebihi akik merah?”
Beliau menjawab:
“Ya, karena banyaknya keutamaan yang disebutkan tentangnya. Ayahku mengabarkan bahwa orang pertama yang memakai akik adalah Nabi Adam as. Ia melihat tertulis di Arsy:
‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Muhammad adalah pilihan-Ku dari makhluk-Ku. Aku menguatkannya dengan saudaranya Ali dan Aku menolongnya dengannya,’
hingga disebut lima nama pemilik Kisa’.”

Ketika Adam memakan buah dari pohon itu dan turun ke bumi, ia bertawassul kepada Allah dengan nama-nama tersebut, maka Allah menerima tobatnya.
Adam lalu membuat cincin dari perak, menjadikan batunya dari akik merah, mengukir lima nama itu padanya, dan memakainya di tangan kanan. Maka itu menjadi sunnah yang diamalkan orang-orang bertakwa dari keturunannya.
fb: Mohamad Mansur

Pernikahan Gusdur dan ibu Sinta Nuriyah Pernikahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Sinta Nuriyah pada 11 Juli 1968 di...
24/02/2026

Pernikahan Gusdur dan ibu Sinta Nuriyah

Pernikahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Sinta Nuriyah pada 11 Juli 1968 dikenal unik dan legendaris karena dilakukan secara jarak jauh (in absentia), di mana Gus Dur berada di Irak untuk studi sementara diwakili kakeknya, KH Bisri Syansuri, sebagai mempelai pria. Kisah ini penuh perjuangan, diawali lamaran melalui surat, dan menjadi simbol kepercayaan serta cinta romantis yang bertahan seumur hidup.

Berikut adalah poin-poin penting kisah pernikahan Gus Dur dan Sinta Nuriyah:

Pernikahan Jarak Jauh (1968): Karena adiknya akan menikah, Gus Dur tidak ingin dilangkahi dan meminta kakeknya, KH Bisri Syansuri, untuk melamar dan mewakilinya dalam akad nikah di Jombang.

Kehebohan Akad: Prosesi ijab kabul sempat membuat heboh karena wakil pengantin laki-laki adalah kakek Gus Dur sendiri, yang dikira tamu undangan menikah lagi dengan Sinta Nuriyah yang masih muda.

Perkenalan Melalui Surat: Awalnya, Sinta Nuriyah sempat trauma dengan nama "Abdurrahman" karena pernah dipinang guru bernama sama, namun akhirnya luluh melalui surat-surat romantis dan perhatian Gus Dur.

Pertemuan Setelah 3 Tahun: Meskipun resmi menikah secara agama pada 1968, mereka baru bertemu langsung dan mengadakan resepsi pernikahan pada tahun 1971 setelah Gus Dur kembali dari luar negeri.

Kehidupan Rumah Tangga: Pasangan ini menjalani pernikahan monogami yang bahagia dan dikaruniai empat orang putri: Alissa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Gus Dur dikenal sebagai sosok suami yang romantis, sering membawakan oleh-oleh dari luar negeri, dan sangat mendukung kegiatan Ibu Sinta, termasuk kegiatan sahur keliling.

Bukti Karomah KH. Siradj Payaman Dapat Mengalahkan Penjajah Hanya dengan Bambu RuncingSebelum terjadi penyerangan Umum p...
22/02/2026

Bukti Karomah KH. Siradj Payaman Dapat Mengalahkan Penjajah Hanya dengan Bambu Runcing

Sebelum terjadi penyerangan Umum pada 1 Maret 1949, KH. Muhammad Siradj atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Siradj Payaman memerintah santrinya KH. Subkhi untuk mencari bambu sebanyak-banyaknya dan diruncingkan untuk menjadi senjata melawan Belanda.

Setelah bambu tersebut sudah terkumpul dan diruncingkan, KH. Sirajd kemudian membacakan doa ke bambu tersebut. Setelah dibacakan doa, para santri kemudian pergi berjihad melawan penjajah pada 1 Maret. Dan akhirnya, walaupun para santri hanya berbekal bambu runcing mereka memenangkan pertempuran dengan mengalahkan para tentara Belanda yang bersenjata lengkap.

Sebagai pimpinan perang, santri beliau, KH. Subkhi, berkat karomah KH. Sirajd juga dapat mendirikan Pondok Pesantren. Pondok tersebut diberi nama Pondok Pesantren Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah yang masih berdiri kokoh dan eksis sampai sekarang. Selain itu, di Ambarawa berdiri kokoh sebuah monumen sebagai simbol agresi militer dengan nama Museum Palagan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Karomah KH. Sirajd yang lain adalah beliau dapat mencegah bencana letusan dan erupsi Gunung Merapi. Berkat karomahnya menghalau erupsi, beliau diberikan gelar kehormatan Romo Agung oleh Belanda.

Terlebih beliau juga diberi karomah dengan kebal terhadap senjata. Keampuhan kebal yang dimiliki beliau terbukti saat terjadi agresi militer Belanda pertama. Saat itu Masjid Agung Payaman diserang Belanda pada tahun 1948 dengan membabi buta.

Belanda selalu mencari sosok KH. Sirajd yang dikenal sebagai pimpinan para santri pejuang.
Pencarian dilakukan mulai masjid sampai di beberapa kampung di Payaman, Magelang. Namun, hanya pohon-pohon sekitar yang terbakar karena penjajah tidak dapat membakar dan menembaki KH. Sirajd dan santri yang sedang berada di dalam Masjid Agung Payaman, Magelang.

Pada masa penjajahan juga, hanya KH. Sirajd yang diberikan kebebasan oleh Belanda untuk berdakwah ke berbagai daerah. Hal itu karena Belanda merasa segan dengan Karomah dan kesaktian yang dimiliki KH. Siraj.

Karomah Mbah Hamid Pasuruan, Masih Berdakwah meski Sudah Wafat.Salah satu kisah yang paling menggetarkan hati adalah bag...
19/02/2026

Karomah Mbah Hamid Pasuruan, Masih Berdakwah meski Sudah Wafat.

Salah satu kisah yang paling menggetarkan hati adalah bagaimana sosoknya masih berdakwah meskipun telah wafat.

Pada suatu waktu, sebuah desa di daerah Klaten, Jawa Tengah, kedatangan seorang ulama yang dikenal dengan nama Mbah Hamid. Ulama tersebut menemui seorang tokoh masyarakat dan menyampaikan niat untuk berdakwah di desa tersebut.

Tidak lama setelah kedatangannya, Mbah Hamid pun menggelar pengajian di sebuah masjid di desa tersebut. Awalnya hanya sedikit warga yang hadir, tetapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang berdatangan untuk mengaji.

Suasana di desa semakin religius. Warga yang sebelumnya jarang mengikuti majelis ilmu mulai berbondong-bondong datang. Pengajian yang digelar oleh Mbah Hamid membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat setempat.

Namun, di tengah keadaan yang mulai membaik, Mbah Hamid tiba-tiba pergi begitu saja. Tidak ada satu pun warga yang mengetahui ke mana perginya. Tidak ada pesan yang ditinggalkan, apalagi perpisahan.

Kejadian yang tidak biasa ini membuat banyak warga bertanya-tanya.

Hingga pada akhirnya ada perwakilan yang pergi ke Pasuruan, setibanya di pondok pesantren, warga Klaten tersebut bertemu dengan Kiai Idris, putra Mbah Hamid.

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia menyampaikan maksud kedatangannya untuk mencari ulama yang dulu berdakwah di desanya.

Dan ternyata bahwa ulama yang dimaksud itu sudah wafat.

Kisah Karomah Mbah Ma'shoem LasemAlkisah, suatu kali Kyai Kholil (Bangkalan, Madura) mengatakan kepada santrinya: “Tolon...
16/02/2026

Kisah Karomah Mbah Ma'shoem Lasem

Alkisah, suatu kali Kyai Kholil (Bangkalan, Madura) mengatakan kepada santrinya: “Tolong buatkan aku kurungan Ayam Jago, sebab besok akan ada Jagoan dari tanah Jawa yang datang ke sini.” Kemudian esoknya, datanglah seorang pemuda bernama Muhammadun (nama almarhum Mbah Ma’shoem di kala muda) dari tanah Jawa.

Pemuda itu pun diminta masuk ke dalam kurungan Ayam Jago tersebut. Dengan penuh pasrah dan ketundukan terhadap gurunya, pemuda itu pun masuk dan duduk berjongkok ke dalam kurungan Ayam Jago tadi. Kyai Kholil kemudian berkata kepada segenap santri beliau: “Inilah yang kumaksudkan sebagai Ayam Jago dari tanah Jawa, yang kelak akan menjadi Jagoan Tanah Jawa.”

Ini merupakan kisah nyata. Penulis kutip dari sinopsis buku Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem. Mbah Ma’shoem diperkirakan lahir pada tahun 1868. Beliau adalah anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya ia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil dia telah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawawi dia mendapat pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi.

Pada saat berada di Semarang, Mbah Ma’shoem tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, melainkan, antara tertidur dan terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, artinya, “tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”.

Begitu p**a ketika berada di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan: “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insyaAllah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Di kemudian hari, Mbah Ma’shoem menjadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karomah.

Karomah Mbah Ma’shoem

Suatu hari, datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum. Namun, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak.Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan.
“Apa perlu Mbah Ma’shoem dibangunkan?,” tanya Ahmad sekali lagi.

“Tidak usah,” ujar mereka serempak lalu pergi.
Rupanya saat itu Mbah Ma’shoem mendusin dan bertanya kepada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi. Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shoem lekas meminta kepada Ahmad agar mengejar tamu-tamunya. Tapi apa daya, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 meter dari rumah Mbah Ma’shoem.

Ketika Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shoem, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Mbah Ma’shum tertidur p**as lagi.
Sumber: Sayyid Chaidar, Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem, (Yogyakarta: Menara Kudus, 2013), Majalah Al-Kisah No. 26/ Tahun VII
Sumber : Laduni

KH Utsman Al Ishaqi, Punya Karomah Sejak Kecil, Pernah Jadzab 7 HariAl 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Muhammad Utsman Al ...
16/02/2026

KH Utsman Al Ishaqi, Punya Karomah Sejak Kecil, Pernah Jadzab 7 Hari

Al 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Muhammad Utsman Al Ishaqi dilahirkan di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H, setelah 16 bulan berada dalam rahim ibundanya.

Dikisahkan sejak kecil Kyai Utsman sudah memiliki banyak keistimewaan di antaranya beliau selalu tidak ada di rumah setelah maghrib dan baru p**ang setelah jam 11 malam dengan badan yang penuh lumpur. Ternyata setelah diselidiki, beliau berada di sungai didekap oleh seekor buaya putih.

Bersama kakek beliau, Kyai Abdullah, selain kakek beliau tidak ada yang berani mendampingi beliau tidur, karena dari mata Kyai Utsman memancarkan sinar terang seakan-akan mau menembus langit.

Ketika berumur 6 sampai 7 tahun, pada suatu malam nampak banyak bintang-bintang turun dari langit seraya memancarkan sinarnya ke dekapan beliau. Sejak Kyai Utsman berumur 4 tahun, setiap jam 3 malam beliau keluar rumah menuju Masjid Jami' Sunan Ampel Surabaya diantar kakak beliau Nyai Khodijah utk membaca tarhim.

Setiap beliau sampai di pintu gerbang masjid, beliau selalu disambut oleh banyak anak-anak kecil memakai kopiah putih, dan setelah beliau sampai di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah kemana dan baru muncul kembali sewaktu beliau p**ang dari masjid sekitar jam 7 pagi utk mengantarkan beliau ke pintu gerbang dan setelah itu kembali menghilang.

Ketika berumur 13 tahun, Kyai Utman mulai mengalami kasyaf degan mampu melihat Ka'bah di Makkah secara jelas dari tempatnya berdiri. Bahkan kemudian Kyai Utsman mampu melihat perwujudan manusia menurut amalannya, ada yg berwujud anjing, babi, kera dan sebagainya.

Kyai Utsman menghabiskan masa kecilnya untuk mengaji kepada banyak ulama di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Pesantren pertama yang disinggahinya adalah pesantren yg diasuh oleh Kyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama kemudian Kyai Utsman pindah ke pesantren yang diasuh oleh Kyai Munir Jambu Madura, selanjutnya beliau mondok di Pesantren Tebuireng asuhan Hadhrarussyekh KH.

Hasyim Asy'ari dan akhirnya Kyai Utsman memantapkan hatinya utk memperdalam ilmunya kpd KH. Romli Tamim Rejoso Peterongan.
Ketika Kyai Utsman menjadi santri di pesantren Rejoso, beliau sering dikunjungi oleh Nabi Khidir as, sehingga beliau melaporkan hal ini kepad Kyai Romli dan dijawab oleh Kyai Romli, "Mengapa tdk kau minta datang kemari Utsman."

Kyai Utsman pernah bermimpi berjumpa KH. Hasyim Asy'ari, dan Kyai Hasyim berpamitan kepada beliau dengan mengatakan, "Saya duluan ya Utsman." Dan keesokan harinya Kyai Utsman mendapat kabar kalau Kyai Hasyim meninggal dunia.

Pada suatu hari, Kyai Utsman dipanggil menghadap Kyai Romli pada jam 2 malam utk di bai'at menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Pada saat itu Kyai Utsman berkata, "Tidak kuat Kyai." Tetapi Kyai Romli tetap melaksanakan niatnya itu atas perintah Allah, kemudian beliau mengusapkan tangannya di atas kepala Kyai Utsman, seketika itu p**a Kyai Utsman jatuh pingsan dan langsung jadzab.

Selama satu minggu Kyai Utsman mengalami jadzab, tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar dan air kecil serta tdk sholat. Wajah Kyai Utsman menjadi indah sekali bagaikan bulan purnama, tidak seorangpun berani menatap wajah indah Kyai Utsman yang penuh kharisma itu.

Setelah satu minggu mengalami jadzab, Kyai Utsman berkata kepada Kyai Hasyim Bawean, "Nanti malam akan banyak sekali tamu-tamu yang datang, tidak perlu suguhan makanan atau minuman." Maka pada jam 8 malam, Kyai Utsman sudah siap menerima tamu dikamarnya, tidak lama kemudian sambil menghadap pintu beliau mengucapkan, "Wa 'alaikumussalaam, wa 'alaikumussalaam..." selama kurang lebih 5 menit dan nampak Kyai Utsman seperti menjabat tangan banyak orang sambil tertunduk takdzim.

"Mulai hari ini, saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syekh Abdul Qodir Jailani dan Nabiyullah Khidir serta oleh para Masyayikh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Dan sejak sekarang saya diidzinkan untuk membai'at," kata Kyai Utsman sambil menyerahkan sepucuk kertas kpd Kyai Hasyim Bawean.

Dan ketika itulah Kyai Hasyim Bawean bergegas ke ndalem Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi. Dan Kyai Romli menemuinya di luar rumah seraya berkata, "Ada apa? Ada apa? Ada apa?" Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan beliau berkata, "Alhamdulillah, sekarang saya punya murid yang bisa menggantikan saya."

Kyai Utsman sangat dicintai oleh para habaib dan ulama besar dizamannya, di antaranya Hb. Abu Bakar b. Muhammad Assegaf, Hb. Abdul Qadir b. Ahmad Bilfaqih, Hb. Ali b. Abdurrahman Al Habsyi, Hb. Ali b. Husein Alatas dan Hb. Salim b. Ahmad b. Jindan.

Pada suatu hari Kyai Utsman bersilaturrahmi kepada Hb. Abu Bakar Assegaf dengan berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat, ditambah petir dan angin yg berhembus kencang. Ketika Kyai Utsman sampai sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyub, sementara penjaga pintu mengatakan kalau Hb. Abu Bakar Assegaf sudah menunggu kedatangan beliau dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran.

Sebelumnya Kyai Utsman sudah mempunyai hubungan khusus dgn Hb. Ali b. Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Dikisahkan, Kyai Utsman memdapatkan futuh melalui Hb. Ali Al Habsyi. Pada suatu ketika menjelang wafatnya Hb. Ali Al Habsyi berkata kepada Kyai Utsman, "Kunci Quthub saya serahkan kepadamu wahai Syekh Utsman."

Kyai Utsman juga dekat dengan Hb. Ali b. Husein Alatas Bungur. Hb. Ali Alatas pernah berkata, " Wahai Syekh Utsman, engkau dari keluarga Nabi. Kekholifahan Syekh Abdul Qadir Jailani ada ditanganmu." Dan pada kesempatan lain Hb. Ali Alatas mengatakan, "Sungguh Syekh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW."

Hb. Salim b. Ahmad b. Jindan pernah ditanya Hb. Ahmad b. Hamid Al Habsyi, "Apa yg menyebabkan para habaib begitu mencintai Kyai Utsman?" Hb. Salim pun menjawab, "Kyai Utsman termasuk keluarga Rasulullah saw, darahnya adalah darah saya ini dan darah habaib lainnya, maka ciumlah tangannya apabila kau bertemu dgnnya."

Hb. Abdul Qadir b. Ahmad Bilfaqih pernah bermimpi berjumpa dgn Rasulullah saw yang sedang menemui dua orang lelaki dan Rasulullah saw bersabda kepada Hb. Abdul Qadir Bilfaqih, "Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Di antaranya adalah dua orang ini yaitu Romli dan Utsman."

KH. Muhammad Utsman Al Ishaqi wafat pada hari Minggu tanggal 5 Rabi'ul Akhir 1404 H/ 8 Januari 1984 M di Rumah Sakit Islam Surabaya dan dimakamkan di Pondok Sepuh Jatipurwo Surabaya. Sementara estafet kemursyidan dilanjutkan oleh putranya Al 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi.
Sumber : Laduni

KH. Nahrowi Dalhar(12 Januari 1870 – 8 April 1959)Ulama, mursyid, sufi, dan pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucon...
15/02/2026

KH. Nahrowi Dalhar
(12 Januari 1870 – 8 April 1959)

Ulama, mursyid, sufi, dan pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Kelahiran dan Silsilah Keluarga.

KH. Nahrowi Dalhar lahir pada 10 Syawal 1286 H bertepatan dengan 12 Januari 1870 Masehi di Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pada saat lahir beliau diberi nama Nahrowi oleh orang tuanya. Keluarganya berasal dari lingkungan pesantren yang taat, dan silsilahnya bahkan tersambung hingga kepada Susuhunan Amangkurat III dari Kasunanan Kartasura, karena kakeknya, K. H. Hasan Tuqo, adalah keturunan ningrat dan salah seorang panglima dalam Perang Diponegoro. Ayahnya bernama K. H. Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Pendidikan Awal dan Masa Muda.

Sejak kecil, Nahrowi Dalhar sudah dipersiapkan dalam lingkungan ilmu agama. Ia belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar pengetahuan Islam dari ayahnya sendiri. Pada usia 13 tahun, beliau mulai mondok di pesantren, belajar ilmu tauhid di bawah bimbingan Mbah Kiai Mad Ushul di Mbawang, Magelang selama kurang lebih dua tahun.

Kemudian pada usia 15 tahun, beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen, di bawah asuhan Syeikh As-Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani (lebih dikenal sebagai Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani), dan mengabdi di ndalem sang Syaikh selama delapan tahun.

Rihlah Ilmiyyah ke Tanah Suci.

Pada tahun 1314 H / 1896 M, atas permintaan gurunya, Kiai Nahrowi Dalhar berangkat ke Makkah Al-Mukarramah bersama putra sang Syaikh, Sayyid Abdurrahman al-Jilani al-Hasani, untuk menuntut ilmu. Di Tanah Suci, kedua murid tinggal di rubath (asrama santri) kawasan Misfalah dan belajar kepada Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani, yang saat itu merupakan M***i Mazhab Syafi’i. Di Mekah beliau menghabiskan waktu belajar selama hampir 25 tahun, mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, terutama dalam tarekat dan sufisme. Dari masa inilah beliau menerima gelar “Dalhar”, sebuah nama yang diberikan oleh gurunya Syeikh Babashol, sehingga beliau lebih dikenal sebagai Nahrowi Dalhar.

Selama di Tanah Suci, beliau juga memperoleh ijazah kemursyidan Thariqah Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah amalan Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin Al-Madani. Dua ijazah inilah yang kelak menjadi bagian praktik spiritual utama beliau yang sangat dipelajari para muridnya.

Pengasuhan Pesantren dan Karya.

Setelah kembali ke nusantara, KH. Nahrowi Dalhar dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol, serta sebagai guru ulama dan mursyid sufistik yang dihormati. Beliau banyak menulis karya-karya keagamaan, salah satunya kitab berbahasa Arab tentang manaqib tarekat, berjudul Tanwirul Ma’ani.

Dalam kapasitasnya sebagai mursyid Syadziliyah, beliau menurunkan ijazah kemursyidan kepada sejumlah murid terkemuka di nusantara, termasuk Kiai Iskandar (Salatiga), KH Dimyathi (Banten), dan KH Ahmad Abdul Haq. Beliau juga menjadi guru bagi banyak kiai pesantren besar di Indonesia pada masa awal abad ke-20.

Peran Sosial dan Spiritualitas.

KH. Dalhar dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang dihormati masyarakat karena ketakwaan, keteladanan, dan karomah spiritual. Kisah-kisah yang berkaitan dengan keistimewaan spiritual beliau, termasuk kebiasaan dzikir dan riyadhah, menjadi bagian dari tradisi tarekat di Watucongol hingga saat ini.

Akhir Hayat

Setelah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, KH. Nahrowi Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1378 H, atau bertepatan dengan 8 April 1959 Masehi. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Haul dan peringatan wafatnya rutin diperingati oleh para santri dan masyarakat umum setiap tahunnya.

Kyai Haji Agus Salim, seorang pahlawan nasional dan diplomat ulung Indonesia, yang sedang bermain kartu remi seorang dir...
13/02/2026

Kyai Haji Agus Salim, seorang pahlawan nasional dan diplomat ulung Indonesia, yang sedang bermain kartu remi seorang diri. Kebiasaan unik ini merupakan salah satu ciri khasnya yang dikenal luas.

K.H. Agus Salim (lahir dengan nama Masyhudul Haq) adalah mantan Menteri Luar Negeri Indonesia yang juga dikenal sebagai ulama, jurnalis, dan orator ulung.

Beliau dijuluki "The Grand Old Man" karena kecerdasan, integritas, dan kontribusinya yang besar terhadap bangsa Indonesia, termasuk penguasaannya terhadap setidaknya sembilan bahasa asing.

Foto ini diperkirakan diambil antara tahun 1947 dan 1953 oleh fotografer Charles Breijer, menangkap momen santai dari sosok yang biasanya dikenal serius dalam perjuangan diplomasi.

Meskipun menjabat posisi penting, Agus Salim dikenal hidup sederhana dan berpindah-pindah rumah kontrakan, menganut prinsip "memimpin adalah menderita" (leiden is lijden).

Nasib seorang lelaki yang terbaring tak bernyawa. Tubuhnya kaku, tergeletak di pembuangan sampah. Tak ada kain kafan yan...
11/02/2026

Nasib seorang lelaki yang terbaring tak bernyawa. Tubuhnya kaku, tergeletak di pembuangan sampah. Tak ada kain kafan yang membungkusnya, tak ada air yang menyucikannya, tak ada tangan yang rela mengurusnya. la mati dalam hinaan manusia, dalam caci maki tetangga yang sudah lama muak dengan perilakunya.

Seumur hidup, lelaki itu memang dikenal fasik. Maksiat jadi kebiasaannya, dosa jadi sahabatnya. Wajahnya dipalingkan orang, namanya disebut dengan jijik. Dan ketika ajal datang, tidak ada yang peduli. Penduduk kampung menyeret tubuhnya ke tempat sampah, seakan-akan kematiannya bukan kematian seorang manusia.

Namun, pada saat itulah turun wahyu Allah kepada Nabi Musa 'alaihissalam: "Wahai Musa, salah seorang kekasih-Ku telah meninggal dunia. la terbaring di pembuangan sampah. Tak seorang pun memandikan, mengafani, atau menguburkannya.

Maka pergilah engkau, muliakanlah ia, mandikan, kafani, salati, dan kuburkanlah dengan penuh kehormatan." Nabi Musa tersentak. Kekasih Allah? Bukankah orang itu fasik? Bukankah hidupnya penuh noda? Beliau pun melangkah ke kampung itu.

Saat tiba, benar saja, penduduk menolak keras. "Wahai Musa, orang itu ahli maksiat, pemabuk, fasik, kotor! la tidak pantas dimuliakan!" Hati Nabi Musa terbelah dua. la mengangkat wajahnya ke langit, bermunajat lirih sambil menahan tangis. "Ya Rabb, Engkau perintahkan aku untuk menguburkannya, sementara semua orang menyaksikan keburukannya.

Engkau lebih tahu, Engkau lebih adil daripada manusia. Mengapa Engkau menyebutnya kekasih-Mu?" Lalu Allah menurunkan jawaban-Nya, lembut namun mengguncang. "Benar, wahai Musa. la hidup dalam dosa. Namun menjelang ajalnya, ia kembali kepada-Ku dengan tangisan taubat.

Doa-doanya memecah langit, hingga Aku malu untuk menolaknya. la menutup hidupnya dengan hati yang luluh." Maka terbukalah rahasia itu.

Di malam-malam terakhir, ketika sakit menggerogoti tubuhnya, lelaki itu sujud sendirian dalam kamar sempitnya. Air mata bercucuran, membasahi tanah. Bibirnya bergetar, penuh luka dan penyesalan.

Doa pertama, ia mengakui kelemahan dirinya: "Ya Allah... aku tahu Engkau melihat semua maksiatku. Demi Engkau, aku sendiri membencinya, tapi aku terperdaya hawa nafsu, aku terseret teman yang buruk, aku ditipu iblis. Ya Allah, ampuni aku..."

Doa kedua, ia menyesali tempatnya: "Ya Allah... aku memang tinggal di tengah orang fasik. Tapi Engkau tahu hatiku... hatiku tenang bila dekat orang sholeh, aku kagum pada mereka, aku ingin duduk bersama mereka. Demi Engkau, aku lebih s**a bersama mereka daripada bersama para pendosa..." Doa terakhir, doa yang mengguncang Arsy: "Ya Allah... jika Engkau ampuni aku, para wali-Mu dan nabi-Mu akan bahagia, sementara setan-setan akan hancur oleh kesedihan.

Dan aku tahu, Engkau lebih senang melihat kekasih-Mu bahagia daripada melihat musuh-Mu tertawa. Maka ampunilah aku... ampunilah aku, Ya Rabb..." Tangisnya tak terdengar manusia, tapi naik menembus langit.

Malaikat menjadi saksi, bumi pun menjadi saksi, bahwa seorang hamba yang kotor kini memohon dengan hati yang hancur. Dan Allah, Yang Maha Lembut, menghapuskan dosanya. Menutup aibnya. Menganugerahinya husnul khatimah.

Sumber: Kitab Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri

inspired by : Rozy Story

Address

Dk. B**g Ds. Rowosari Kec. Ulujami Kab. Pemalang
Pemalang
52371

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MDTA MIFtahul HUDA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share