SDN Galiran

SDN Galiran

Share

ini adalah page khusus untuk share berita about SDN Galiran buat Alumni SDN Galiran Gabung Yuk di Page ini, itung2 reunian

30/09/2013

Hargai orang yang sayang sama kamu sekerang , sebelum nanti dya pergi , dan kamu baru ngerasain yang namanya benar-benar sayang , dan kehilangan .
Keep wolessss.,

06/05/2013

di dalam cinta
tak ad kata
bagaimana dan
Kenapa
karena cinta tak mempunyai alasan

mg

12/04/2013

DAFTAR LAGU HITS 2013....

Afgan: Kentut Terakhir
Anang: Separuh Kentut ku Pergi
Ashanti: Kentutan ku
Cheryl Cole: Fight for this Kentut
Cristina Perry: Thousand Kentut
Daniel Powter: Kentut Day
Demi Lovato: Give Your Kentut a Break
dewa19: tak akan ada kentut yang lain
D'masiv: kentut setengah mati
d'massive: pergilah kentut
Fergie: Big Girls Don't Kentut
Jennifer Lopez: Kentut Again
j-rock: Terkentut
Kesha: Your Kentut is My Drug
Krispatih: aku harus kentut
Lady Antebellum: Can't Take My Kentut Off You
Lady Gaga: Kentut Romance
Lady Gaga: Kentut This Way
Maroon 5: Kentut Like Jagger
Noah : Separuh Kentutku
One Direction: What Makes Kentut Beautiful
peterpan: kentut di surga
Pilot: Sepanjang Kentutku.
Pitbull ft Marc Anthony: Kentut Over Me
Psy: Kentut Gangnam Style
Ran = Selamat Kentut
Rihanna: We Found Kentut
Rumor: butiran kentut
Syahrini: Kau yang Kentuti Aku
Tamia: Officially Missing Kentut
Taylor Swift: Kentut Belong with Me
The Cash : Kentut setengah mati.
The Wanted: Glad You Kentut
Timbaland & Katy Perry: If We Ever Kentut Again
wkwkwk

12/04/2013

sore ini sanggat mendungg
hujanpun tak terhindarkan
gemericik dii atas genting bocor
semakin lama makin deras saaja
aku nikmati saja kejadian ini
tiba tiba sajja namamu ku inggat
seperti ad yg membisikku
aku merindukanmu
tapi apakah kamu merindukanku
semoga saja iyya
karna aku tak inngin kerinduanku ini
terbawa hujan di senja ini

,galau

11/04/2013

KISAH NYATA YANG MENGHARUKAN

Kutangisi Hari-Hariku Yang Sia-Sia

Wajah saudariku memucat, tubuhnya mengering. Meskipun begitu, ia tetap selalu membaca al-Qur’an. Jika engkau mencarinya, ia akan senantiasa rukuk, sujud, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Begitulah yang selalu ia lakukan, baik di pagi hari, sore, bahkan tengah malam tanpa jemu. Sementara itu, aku lebih s**a membaca majalah sastra dan buku cerita, atau menonton video. Kewajibanku terbengkalai, bahkan shalatku berantakan. Kendati video sudah kumatikan, tapi aku masih asyik menonton film selama tiga jam berturut-­turut­. Nah, kini adzan berkumandang di mushalla dekat rumahku. Aku kembali ke tempat tidur. Suara saudariku terdengar memanggilku dari mushalla.

“Ya, apa yang engkau inginkan, Naura?” kataku.

Dengan suara datar saudariku bilang, “Jangan dulu tidur sebelum shalat subuh.”

Oh, satu jam lagi baru shalat subuh, karena yang kudengar kali ini baru adzan pertama. Dengan suara yang lembut -begitulah kebiasaan saudariku, bahkan sebelum menderita penyakit ganas yang jatuh terbaring di ranjang- saudariku memanggilku, “Kemarilah, Hanna, duduklah di dekatku.”

Aku tidak kuasa menolak permintaannya. Engkau pun juga pasti begitu. Jika merasakan ketulusan dan kejernihannya, engkau akan tunduk memenuhi ke­inginannya.

“Ada apa, Naura?” kataku.

“Duduklah!”

“Ini aku sudah duduk, ada apa?” desakku.

Dengan suara yang merdu dan welas asih saudariku membacakan ayat Al-Qur’an,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu” (Ali ‘Imran: 185).

Sejenak ia terdiam. Setelah itu, ia bertanya kepadaku, “Bukankah engkau percaya pada kematian?”

“Ya, aku percaya,” jawabku.

“Bukankah engkau percaya kalau setiap amalmu kelak akan dihisab, baik yang kecil maupun yang besar?”

“Ya, tetapi Allah Maha Penyayang dan perjalanan masih panjang,” jawabku.

“Saudariku, apakah engkau tidak khawatir kematian datang secara tiba-tiba? Lihatlah Hindun lebih muda darimu, ia meninggal dunia karena kecelakaan. Lihatlah si ini dan ini. Kematian tidak mengenal usia.”

Dengan suara ketakutan, karena suasana gelap di mushalla, aku berkata, “Aku sudah takut pada kegelapan. Sekarang engkau menakut-nakutik­u dengan kematian. Kalau begitu, bagaimana aku bisa tidur? Kukira engkau ingin memberitahuku bisa ikut pergi bersama kami di liburan ini.”

Tiba-tiba suara saudariku kertak-kertuk di teng­gorokan. Hatiku begidik. Ia berkata, “Mungkin tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang berbeda. Bisa jadi begitu, Hanna. Usia itu di tangan Allah.”

Setelah berkata demikian, saudariku menangis. Aku mulai memikirkan penyakit ganas yang ia derita. Diam-diam dokter memberi tahu ayahku bahwa karena penyakit yang diderita, usia saudariku tidak lama lagi. Tetapi, siapa yang membocorkan hal itu pada saudariku? Ataukah dig sedang merasakan hal itu?

“Apa yang engkau pikirkan?” kata saudariku membuyarkan pikiranku. “Apakah engkau kira aku berkata begitu karena aku sakit? Tidak. Bisa jadi aku hidup lebih lama daripada orang yang sehat. Dan engkau sendiri sampai kapan akan hidup? Ketahuilah, Hanna, hidup itu hanya sementara. Kemudian apa? Tiap-tiap kita akan pergi meninggalkan dunia ini; ke surga atau neraka. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung” (Al Ilmran: 185).’”

“Engkau akan baik-baik saja,” kataku seraya berlari meninggalkannya­. Perkataan saudariku terngiang-ngian­g di telingaku.

“Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepadamu. Jangan lupa shalat yang delapan di pagi hari.”

Tidak lama setelah itu, aku mendengar pintu kamarku diketuk orang. Jelas ini bukan waktunya aku bangun tidur. Kudengar isak tangisan dan gemuruh suara banyak orang. Apa yang terjadi? Oh, ternyata keadaan Naura mem­buruk, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ternyata tahun ini tidak jadi berangkat jalan-jalan. Tahun ini aku ditakdirkan untuk tinggal di rumah. Jam satu siang, ayah datang dari rumah sakit.

“Engkau bisa menjenguknya sekarang, ayo cepat,” kata ayah kepadaku.

Menurut ibu, suara ayah mengisyaratkan kegun­dahan. Suaranya berubah. Mantel telah di tangan, lalu di mana supir? Kami pun segera meluncur ke rumah sakit. Jalan yang kami telusuri bersama supir untuk jalan-jalan biasanya tampak pendek. Tetapi, hari ini tampak panjang, bahkan sangat panjang. Di manakah gerangan keru­munan orang yang membuatku menoleh kanan-kiri? Di sampingku ibuku berdoa untuk saudariku.

“Dia anak yang saleh dan taat. Aku belum pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu,” kata ibuku lirih.

Memasuki pintu luar rumah sakit, kami menyaksikan pemandangan banyak pasien. Ada pasien yang mengerang- erang, ada korban kecelakaan, dan ada p**a yang matanya cekung. Engkau barangkali tidak bisa membedakan, apakah mereka penghuni dunia atau akhirat. Sebuah pemandangan aneh yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Segera kami menelusuri anak tangga. Ternyata, saudariku dirawat di ruang ICU.

Seorang perawat menenangkan ibuku. Ia bilang keadaan saudariku membaik setelah sempat pingsan. Di rumah sakit itu tidak diperkenankan masuk ke ruang perawatan pasien lebih dari satu orang, apalagi ini ruang ICU. Di tengah kerumunan para dokter, melalui jendela kecil kulihat mata saudariku, Naura, melihatku. Adapun ibuku berdiri di sisinya. Dua menit kemudian, ibuku keluar karena tidak sanggup membendung air matanya. Mereka mengizinkanku masuk, asal tidak terlalu banyak berbicara dengan pasien. Dua menit sudah cukup.

“Apa kabar, Naura?” sapaku.

“Sore kemarin aku baik-baik saja.”

“Apa yang terjadi padamu?

Setelah memagang tanganku, saudariku bilang, “Sekarang, alhamdulillah aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah,­ tapi mengapa tanganmu dingin?” kataku.

Aku duduk di pinggiran dipan sembari memegangi betis Naura.

“Apakah sebaiknya jauhkan yang kiri dari yang kanan, kasihan jika engkau sampai merasa terhimpit,” kataku.

“Tidak, aku hanya memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. ” (Al-Qiyamah: 29-30)

Hanna, doakanlah aku, karena mungkin sebentar lagi aku akan mengawali hari akhiratku. Perjalananku begitu jauh, tetapi bekal yang kubawa teramat sedikit.”

Mendengar perkataan saudariku, air mataku tumpah tak terasa. Aku menangis, tak peduli sedang berada di mana. Aku terus menangis. Ayah kelihatannya lebih mengkhawatirkan­ku daripada Naura. Memang, mereka tidak terbiasa melihatku menangis dan menyendiri di kamar seiring terbenamnya mentari di hari berkabut itu. Rumahku hening mencekam.

Anak perempuan bibiku masuk. Peristiwa begitu cepat terjadi. Orang-orang pun berdatangan. Suara menggaduh. Satu yang kutahu; Naura telah tiada. Naura meninggal dunia. Aku hampir tidak bisa membedakan siapa saja yang datang, juga tidak tahu apa yang mereka perbincangkan. Ya Allah, di manakah daku? Apa yang tengah terjadi? Aku tak berdaya, bahkan untuk menangis sekalipun. Beberapa saat kemudian, mereka memberitahuku bahwa ayah membawaku untuk mengucapkan perpisahan pada saudariku. Selain itu, mereka bilang aku menciumnya. Tidak ada yang kuingat selain satu hal, yaitu ketika aku melihatnya pucat pasi di ranjang kematian sempat membacakan ayat Al-Qur’an, ‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).’ Aku mulai menyadari sebuah hakikat;

‘Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihaIau.’ (AI-Qiyamah: 29-30)

Tanpa sadar, malam itu aku menengok mushalla saudariku. Saat itu aku teringat dengan siapa aku berbagi kasih sayang ibu. Aku terkenang pada orang yang turut menanggung kesedihanku. Aku teringat pada sosok yang turut menghalau dukaku. Selain itu, aku juga teringat pada orang yang memohonkan hidayah Tuhan, dan yang menumpahkan air mata sepanjang malam saat meng­ajakku bicara tentang kematian dan hari penghitungan amal..

Ini malam pertama ia berada dalam kuburnya. Ya Al­lah, kasihanilah ia, dan sinarilah kuburnya. Ini mushafnya, ini sajadahnya, ini … dan ini … Bahkan, ini gaun bermotif bunga yang pernah diceritakan kepadaku, ‘Gaun ini akan kusimpan buat hari pernikahanku.’ Jika teringat pada semua itu, aku tak kuasa membendung air mata pe­nyesalan pada hari-hariku yang sia-sia. Aku terus menangis dan berdoa semoga Allah mengasihiku, menerima taubatku, dan memaafkanku. Aku juga berdoa semoga Allah meneguhkannya di kuburnya seperti yang sering ia mohon pada-Nya.

Entah mengapa, aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, bagaimana jika yang meninggal dunia itu aku? Ke mana arah perjalananku? Karena rasa takut yang menyelimutiku, aku sengaja tidak mencari jawaban. Aku hanya menangis sedu sedan. Allahu Akbar!

Suara adzan subuh berkumandang, kali ini terasa sangat menyenangkan. Aku merasa damai dan tentram sembari mengulangi bacaan adzan. Kulipat bajuku, lalu berdiri melaksanakan shalat subuh. Aku shalat seperti or­ang yang akan segera mati, sebagaimana shalat yang dilakukan saudariku sebelumnya. Jika pagi aku tidak menunggu petang, dan jika petang aku tidak menunggu pagi. [Az-Zaman al-Qadim, hal.4]

09/04/2013

hari makin malam disini masih mendung sisa ujan
tadi
tapi entah apa itu
yang berbinar terang seperti bintang
dikejauhan

coba,, coba kulihat lebih seksama

astaga....

ternyata...

dia....

pujaan hatiku
pujangga jiwaku
yang kerap kali menuliskan bait cinta dihati
kala dia menelusup dalam mimpi

yaaaa...
tak ada syair yang lebih syahdu
selain saat kau ucap kata rindu

kau lukisan terindah dalam kanvas kehidupan
yang Tuhan goreskan untukku

hai kau pujaan hati
mendekatlah
agar aku bisa selalu bisikan ditelingamu
"i love you.. in my heart.. in my soul.. in my
life... more than forever"

09/04/2013

Sore ini hujan laggi
Membasai teras depan rumahku
Hmmm sejukkkk
Ku berjalan mendekati hujan itu
Kutadahkan tangganku sambil tersenyum
Dan berkata'''
Terimakasih TUHAN kau telah menurunkan hujan ini
sehingga aku tak perlu takut mereka melihat tetesan air mata di pipiku
Karna rinai hujan samarkan isak tanggisku
terimakasih TUHAN ^_^

.galau

08/04/2013

aarrgghhhh

sakit kepalaku memikirkanmu
tak pernah luput dari pikiranku sedetikpun

gelisah hatiku karena merindukanmu
tak pernah hilang dari lubuk hatiku
itu bayangmu

aaarrrgghhh

sungguh benar tersiksa aku mencintaimu

tapi

hidupku mati jika tanpamu
hatiku kosong tanpa hadirmu

cintaku...

izinkan aku hidup dalam telaga cinta ini

bagiku...
derita merindukanmu
adalah nikmat hidup sesungguhnya

rinduku...
kaulah hidupku...

# mr.galau

07/04/2013

apa aku salah mencintai dia
kmu yg kusayang
dan sahabtat2mu
ternyata menertawaiku
setelah kmu tau aku mencintaimu
apa aku salah
aku tak butuh perhatianmu
aku tak butuh kau membalas cintaku
tappi hargailah sedikit perasa'an ini
apa kmu tak punya hatii
sehingga kau tendang dan seret perasa'an ini
seperti sampah kotor diluar sana
puja'an hatikuu
kamu itu kejam
biarkanlah dalam diam ini kumencintaimu
dalam kehina'an senyumanmu
karna aku tau
aku hanya rumput liar
yang mengharapkan pot behias berlian
ittu tidak mungkin

.galau ap adanya

05/04/2013

Lampuku malam ini tak terang
Mana bintangku tak lagi bercahaya
Rembulanpun redup
Ada apa ini,,!!!!
Bukankah q yg patah hati
Tpi mengapa duniaku pun suram
Hemm karna kau mentariku
Telah pergi jauh tinggalkanku

*mr.galau

03/04/2013

Di tengah malam yang sunyi
Ku merenung dalam sepi
Memikirkan tentang semua yang pernah ada..,
Dan kini berlalu bagai hembusan angin...

Ku sadari tiada guna tuk menanti..
Ketika apa yg di harapkan tak lagi bisa tuk kembali..

Mencoba ikhlas dan melepas pergi...
Melawan hati memendam perih..

Ku putuskan tuk mengakhiri....
Kesiasiaan yang ku jalani...
Berharap ini yg terbaik...
Dan tak pernah lagi menghadirkan sedih...

Selamat jalan sebuah kenangan...
Semoga bahagia bersama mu slalu...
Biarkan senyummu tetap menghiasi...
Dalam tiap hari yang kau jalani..

*mr .galau

Want your school to be the top-listed School/college in Pati?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Dukuh Galiran Baleadi Sukolilo
Pati
59172