25/08/2026
5 love language :
1. Words of affirmation (kata kata pujian)
Biasanya anak sangat membutuhkan ungkapan kasih sayang melalui kata-kata yang tulus dan membangun.
Yang bisa diberikan orang tua antara lain:
❤️ Pujian yang spesifik, bukan hanya “pintar”, tetapi
“Ayah/Ibu senang melihat kamu mau mencoba lagi.”
🌱 Apresiasi terhadap usaha, hargai proses, bukan hanya hasil.
🗣️ Kata-kata penyemangat saat anak mengalami kesulitan.
🤍 Ungkapan kasih sayang secara langsung “Ayah dan Ibu sayang kamu.”
🌟 Mengakui keberanian dan kebaikan anak “Kamu hebat sudah mau meminta maaf.”
😊 Memberikan afirmasi sebelum dan sesudah kegiatan “Ibu percaya kamu bisa mencoba.”
🤗 Menghindari label negatif seperti “nakal”, “malas”, atau “tidak bisa”,
karena kata-kata dari orang tua bisa sangat membekas bagi anak.
Kuncinya: bukan berarti anak harus selalu dipuji atau dibuat merasa selalu benar. Anak tetap perlu diarahkan, tetapi dengan kata-kata yang lembut, jelas, dan membangun rasa percaya dirinya.
2. Physical touch (sentuhan fisik)
Biasanya anak merasa lebih dicintai, aman, dan dekat melalui sentuhan yang hangat dan penuh kasih.
Yang bisa diberikan orang tua antara lain:
🤗 Pelukan hangat saat anak bangun, pulang sekolah, atau sebelum tidur.
🫶 Gandengan tangan ketika berjalan atau saat menemani anak.
💕 Usapan lembut di kepala, punggung, atau bahu.
👋 Tepukan lembut sebagai bentuk dukungan, misalnya setelah anak berusaha melakukan sesuatu.
🥰 Duduk berdekatan ketika membaca buku, bercerita, atau bermain.
🌷 Memeluk anak ketika sedang sedih atau kecewa, sambil memberikan waktu agar ia tenang.
❤️ Sentuhan saat memberikan apresiasi, misalnya memeluk sambil berkata, “Ayah/Ibu bangga kamu sudah berusaha.”
Yang perlu diingat, sentuhan tetap harus memperhatikan kenyamanan dan batasan tubuh anak.
Ajarkan juga bahwa anak boleh mengatakan “tidak mau dipeluk” dan orang lain harus menghormatinya.
Jadi, bagi anak dengan Physical Touch, terkadang pelukan sederhana dari ayah atau ibu bisa menjadi pesan: “Aku aman, aku dicintai, dan aku tidak sendirian.”
3. Receiving gifts (diberi hadiah)
Biasanya anak merasa diperhatikan ketika mendapatkan pemberian yang menjadi simbol bahwa orang tua mengingat dan memikirkannya.
Yang bisa diberikan orang tua :
🎁 Hadiah kecil yang bermakna, tidak harus mahal, misalnya stiker, buku kecil, pensil warna, atau benda sederhana yang dis**ai anak.
🖍️ Sesuatu yang sesuai dengan minat anak, menunjukkan bahwa ayah dan ibu memperhatikan apa yang ia s**ai.
💌 Hadiah buatan sendiri gambar, kartu ucapan, atau catatan kecil dari ayah dan ibu.
🌟 Hadiah sebagai kenang-kenangan, misalnya setelah anak melewati pengalaman penting atau mencapai sebuah pencapaian.
📝 Sertakan pesan kasih sayang “Ayah melihat kamu sudah berusaha keras. Ini untuk kamu.”
🎈 Kejutan sederhana; sesekali memberikan sesuatu yang kecil bisa membuat anak merasa diingat.
❤️ Berikan dengan perhatian, bukan sebagai imbalan, hadiah sebaiknya menjadi simbol kasih sayang, bukan selalu diberikan karena anak berhasil atau menuruti perintah.
Yang penting, Receiving Gifts bukan berarti anak harus sering dibelikan sesuatu.
Justru yang paling berarti adalah pesan di balik pemberian tersebut: “Ayah dan Ibu mengingatmu, memperhatikanmu, dan memilih sesuatu khusus untukmu.”
Dan tetap baik untuk mengajarkan anak bersyukur, menghargai pemberian, serta memahami bahwa kasih sayang tidak selalu diwujudkan dalam bentuk barang.
4. Quality time (waktu berkualitas)
Biasanya anak membutuhkan kehadiran orangtua yang benar-benar fokus dan terlibat bersamanya. ❤️
Yang bisa diberikan orang tua :
⏰ Waktu khusus bersama, meskipun hanya 10–15 menit setiap hari.
📵 Fokus tanpa distraksi, misalnya meletakkan HP ketika sedang bermain atau berbicara dengan anak.
🧸 Bermain bersama, mengikuti permainan yang sedang diminati anak.
📖 Membaca buku bersama sambil berdiskusi tentang ceritanya.
🗣️ Mengobrol dan mendengarkan cerita anak, termasuk cerita sederhana tentang kegiatan di sekolah.
🍳 Melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari, seperti memasak, berkebun, atau merapikan rumah bersama.
🚶 Melakukan kegiatan sederhana bersama, seperti jalan pagi, bermain di halaman, atau membuat kerajinan.
👂 Mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, agar anak merasa ceritanya penting bagi ayah dan ibu.
💕 Membuat rutinitas khusus, misalnya “waktu cerita sebelum tidur” atau “10 menit bermain bersama setelah pulang sekolah.”
Quality Time bukan tentang lamanya waktu, tetapi tentang kualitas kehadiran. Anak mungkin lebih mengingat “Ayah/Ibu mau bermain dan mendengarkan aku” daripada seberapa mahal kegiatan yang dilakukan bersama. 🌷
5. Acts of service (dibantu)
Biasanya anak merasa dicintai ketika orangtua menunjukkan perhatian melalui tindakan nyata yang membantu dan meringankan kebutuhannya. ❤️
Yang bisa diberikan orangtua:
🤝 Membantu ketika anak mengalami kesulitan, misalnya membantu memakai sepatu atau merapikan perlengkapan.
🎒 Membantu menyiapkan kebutuhan anak, seperti perlengkapan sekolah atau bekal.
🧩 Menemani dan membantu saat anak mengerjakan sesuatu, tanpa mengambil alih semuanya.
🍲 Menyiapkan makanan atau minuman sebagai bentuk perhatian.
🛏️ Membantu ketika anak sedang lelah atau kurang nyaman, misalnya menyiapkan tempat istirahat.
🧹 Membantu menyelesaikan pekerjaan bersama, seperti merapikan mainan sambil mengajarkan anak untuk mandiri.
💕 Menunjukkan perhatian melalui tindakan kecil, misalnya membawakan payung ketika hujan atau menyiapkan sesuatu yang dibutuhkan anak.
🌱 Membantu sekaligus mengajarkan kemandirian, jangan sampai semua kebutuhan anak selalu dikerjakan oleh orang tua.
Kuncinya: Acts of Service bukan berarti “semua pekerjaan anak dikerjakan orang tua.” Justru bantuan yang tepat adalah hadir ketika anak membutuhkan, kemudian perlahan membimbingnya agar mampu melakukan sendiri.
Contohnya: “Ibu bantu pegang tasnya ya, kamu coba pasang sepatunya sendiri.”
Dengan begitu, anak mendapatkan pesan: “Aku diperhatikan, dibantu, dan dipercaya untuk belajar mandiri.” 🌷