Natan Naftali Tebai

Natan Naftali Tebai "perjuangan butuh pengorbanan dan air mata,"

27/02/2024

perepuan itu meninggalkan karena ia minum alkohol 75 % oh, sayang .smg negriini Tuhan Jamah

Nio Bogo nagaGerak
26/02/2024

Nio Bogo nagaGerak

Album Tari Voice 1 Tahun 2015Syair & Lagu : Ricky Ham Pagawak & Jhon Sefa

25/02/2024

Pastor Benny Magay, PR
" Tuhan Tutuplah pintu kematian, datangkan berkat kehidupan untuk kami (Mauwa) "

akhir pekan jalan2 melihat keindahan alam Mepago di daerah Yatamo.  lengkungan danau dalam Foto BUKAN  Danau Tigi atau P...
24/02/2024

akhir pekan jalan2 melihat keindahan alam Mepago di daerah Yatamo. lengkungan danau dalam Foto BUKAN Danau Tigi atau Paniai. itu foto Danau Tage biasa dikenal dengan sebuatan Tage Biru. wilayah danau Tage biasa dikenal dengan sebuatan Yatamo. Danau Tage memiliki kwalitas air danau yang amat jernis-membiru tentunya beda dari Danau Paniai, Danau Tigi dan Danau Makamo. suatu kelak danau tage akan menjadi pesona wisata Dunia .
penduudk yang menghuni sekitaraan danau selalu identik dengan marga-marga tertentu yang memiliki ciri khas dan cerita sejarah yang beranekaragam.

di kampung2 pedalaman papua tidak ada lagi orang tua usia 70an, orang usia muda banyak yang meninggal, aanak usia dini b...
23/02/2024

di kampung2 pedalaman papua tidak ada lagi orang tua usia 70an, orang usia muda banyak yang meninggal, aanak usia dini banyak yang konsumsi alkohol murni 70 % ... siapa yang dituakan, dimudakan, siapa lagi generasi masa depan ?,

Kisah Inspiratif Pertama –Gagal Berulang Kali- mencoba hingga dunia tahu ttg dirinya====================================...
23/02/2024

Kisah Inspiratif Pertama –
Gagal Berulang Kali- mencoba hingga dunia tahu ttg dirinya
==========================================

Kisah inspiratif pertama ini diangkat dari kisah kehidupan nyata seorang Michael Jordan yang memiliki pesan moral bagi kita untuk tidak mudah menyerah. Dimana sepanjang karirnya ia melakukan berbagai kesalahan dan juga kekalahan yang bukanlah suatu permasalahan. Namun, dengan kita takut untuk mencoba, itulah yang menjadi kegagalan yang sebenarnya.

Sejak masih kecil, Michael Jordan sudah memiliki ketertarikan dan menyukai berbagai hal yang ada di bidang olah raga dan salah satu abang olah raga yang paling ia s**ai adalah bola basket.

Permasalahan dimulai saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, dimana Jordan suatu waktu pernah mengikuti seleksi tim basket yang ada di sekolahnya, namun ia ditolak karena berbagai alasan. Alasan utama yang membuatnya ditolak adalah karena badannya yang jauh lebih pendek jika dibandingkan kualifikasi yang dibutuhkan dan juga situasi USA saat itu masih berbagai peluang dan aspek orang msh depan kan soal Rasisme. Jordan juga dinilai kurang mahir dalam bola basket dan ia akan ada ditengah saudara lain berbadan putih.

Walaupun sedih, Jordan tidak menjadikan kegagalan itu akhir dari segalanya dan tidak mudah menyerah. Ia malah menjadikan kegagalan tersebut sebagai pemacunya untuk lebih giat lagi berlatih bola basket setiap harinya di rumah.

Setiap harinya, selain melatih berbagai teknik permainan bola basket, untuk menguatkan tubuhnya ia juga melatih fisiknya sekeras dan sedisiplin secara fokus tiap hari, tekadkannya menjadi semangat Hingga dua tahun waktu berlalu, Jordan kembali mengikuti seleksi tim basket Sekolah Menengah Atas tempat ia bersekolah dan pada akhirnya diterima.

Dengan mendapatkan pencapaian tersebut, tidak membuatnya jadi besar kepala dan bermalas-malasan. Namun, pencapain tersebut membuatnya lebih semangat untuk berlatih dan seringkali Jordan p**ang terlambat untuk memaksimalkan latihan bola basketnya.

Hingga pada kompetisi pertama yang Jordan ikuti di bangku SMA tepatnya pada tahun 1981, ia berhasil membuktikan hasil kerja kerasnya selama ini. Dimana pada kompetisi pertamanya tersebut, Jordan berhasil mencetak angka dengan total 40 score. Dan seiring berjalannya waktu dan berbagai kompetisi dilewati, Jordan juga memiliki statistik yang mengesankan, dimana memiliki rata-rata mencetak angka dengan total 25 setiap permainannya, serta berhasil memenangkan kompetisi SMA di tahun itu p**a.

Karena kemampuannya tersebut, karir basket yang ia jalani terus menanjak. Hingga akhirnya ia bergabung pada tim Universitas Carolina Utara dan berhasil memenangkan berbagai kompetisi yang ada pada tahun 1983 hingga 1984. Pada tahun 1984, Jordan juga berhasil mendapatkan kontrak dan bergabung ke dalam tim basket bernama Chicago Bulls.

Hingga pada akhir karirnya Jordan di dunia basket profesional NBA tercetak sangatlah gemilang, dimana Jordan mengantar tim basketnya mendapatkan juara dengan total enam kali, menjadi MVP sepanjang musim selama lima kali, dan masuk ke dalam NBA All Stars dengan total empat belas kali.

Jordan kemudian pensiun pada tahun 2003 dan masuk ke dalam rekor sebagai pemain yang berhasil mencetak angka terbanyak urutan kedua di dalam satu musim. Hingga saat ini, Jordan sudah memiliki klub NBA nya sendiri, pebisnis, serta menjadi salah satu legenda basket yang menjadi inspirasi para calon atlet dan atlet sepanjang masa. Lihat Lebih Sedikit

ditengah gemuruh hujan yang lebat kami masih sempat berdialog bersama sampai sepakat untuk abadikan moment, makasih anak...
23/02/2024

ditengah gemuruh hujan yang lebat kami masih sempat berdialog bersama sampai sepakat untuk abadikan moment, makasih anak2ku boleh berfoto bersama 🫰

24/03/2023

Kotbah Pdt. Yoman ttg perjuangan Papua

PETRUS KAFIARPetrus Kafiar (nama lahir Noseni, sekitar 1864 atau 1873 – 2 Agustus 1926) merupakan guru penginjil beragam...
16/01/2023

PETRUS KAFIAR

Petrus Kafiar (nama lahir Noseni, sekitar 1864 atau 1873 – 2 Agustus 1926) merupakan guru penginjil beragama Kristen Protestan yang bekerja di daerah Teluk Cenderawasih, Papua pada pergantian abad ke-20. Mula-mulanya hidup dengan kepercayaan animisme, dia dibawa ke Pulau Mansinam (di Kabupaten Manokwari sekarang) untuk mengenyam pendidikan dalam sekolah Kristen dan dibaptis pada tahun 1887. Setelah melanjutkan pendidikannya di Seminari Depok pada 1892–1896, dia kembali ke Pulau Mansinam untuk membantu pekabaran Injil dari Zending di Papua Belanda kepada Suku Arfak yang tinggal di pesisir utara Pulau Papua.

Dia dianggap sebagai orang asli Papua pertama yang mendapatkan gelar sarjana sekaligus menjadi guru pertama.

Tidak diketahui secara pasti kapan Petrus Kafiar lahir, namun diperkirakan dia lahir sekitar tahun 1864 hingga 1873 dengan nama kecil Noseni. Dia merupakan anak ketiga dari seorang kepala suku (Bahasa Biak: mananwir) di Kampung Maudori, Pulau Supiori yang bernama Sengaji. Dia merupakan anggota dari sub-suku Urmbor, salah satu sub-suku dalam Suku Biak.

Selama hidup di Kampung Maudori, Noseni mengikuti kepercayaan animisme Suku Biak yang memercayai roh-roh para leluhur yang dapat berkomunikasi dengan yang masih hidup melalui sebuah patung mon atau melalui perantara orang hobatan (Bahasa Biak: snon bena mon, orang yang memiliki roh). Pada masa ini juga, masyarakat suku Biak masih terbiasa dengan perang antar suku atau antar kampung yang dilancarkan dengan pelayaran ke kampung tujuan, dan tidak jarang mereka menjarah harta serta orang untuk dijadikan budak atau dimakan (praktik kanibalisme).

Pada saat Noseni masih kecil, Sengaji ayahnya menderita sakit keras. Sakit ini disebabkan kegundahan hati sang kepala suku setelah mendengar kabar bahwa tujuh kapal perang dari kampungnya yang berisikan pejuang atau mambri terbaik kampung diterpa badai dan tenggelam. Ini menyebabkan tenaga pertahanan kampung yang berkurang drastis dan rawan diserang suku lain.

Para warga kampung bermusyawarah, dan terbukti bahwa sakit keras yang diderita Sengaji akan membawa kematiannya. Dilakukan segala cara untuk menyembuhkan Sengaji dan mengangkatnya dari ajal yang akan datang. Pengobatan ini tidak hanya menggunakan dedaunan dan akar tumbuhan, namun juga menggunakan pemanggilan roh menggunakan orang hobatan dan peletakan patung-patung mon yang sudah dimasuki roh. Namun, pengobatan tersebut tetap tidak berhasil dan akhirnya, ayah Noseni pun tetap meninggal.

Upacara pemakaman untuk ayah Noseni pun dilangsungkan. Menurut FJS Rumainum, pemakaman seorang kepala suku dalam tradisi sub-suku Urmbor terdiri dari beberapa tahapan, seperti;

Jenazah ayah Noseni diberikan beberapa perlakuan, yaitu ditekuk kedua lututnya dan ditutupnya kedua mata jenazah dengan pecahan piring (kedua hal tersebut ditujukan untuk menghindarkan orang yang hidup dari bahaya akan menyusul yang mati secara beriringan);

Jenazah dibaringkan di rumah supaya orang yang ingin melayat dari jauh dapat melihat orang yang telah meninggal itu,
Penguburan pertama jenazah sang kepala suku supaya jasadnya hancur hingga tersisa tulang belulang saja;

Penghancuran segala barang dan properti kepemilikan sang kepala suku termasuk rumah, piring, dan kebun beserta seluruh tanamannya. Hal ini dilakukan karena masyarakat sub-suku Urmbor percaya bahwa semua barang kepemilikan itu sudah tidak berguna lagi karena yang memiliknya (sang kepala suku) tidak akan pernah lagi memakainya.

Pesta perkabungan yang dilaksanakan selama berhari-hari. Dalam pesta perkabungan ini, para perempuan keluarga Sengaji akan dicukur rambutnya dan dipakaikan kain hitam dan putih milik sang kepala suku, dan akan dibakar juga setelah pesta selesai.
Penguburan jenazah sang kepala suku secara final setelah jasadnya hancur dan tersisa tulang belulang saja.

Satu kisah yang disoroti oleh FJS Rumainum dalam Guru Petrus Kafiar: Putra Tanah Papua Yang Pertama Menjadi Guru Penginjil adalah bahwa pada saat persemayaman jenazah ayahnya, Noseni mengambil sebuah patung mon yang mengelilingi jenazah beliau dan merusaknya dengan parang. Dituliskan bahwa setelah dia merusak patung itu, Noseni berkata:

Aku sudah tidak lagi memercayaimu mulai sekarang, karena kau juga tidak dapat melepaskan ayahku dari bahaya maut/kematian!

Tahapan terakhir dalam pemakamannya adalah pengebumian secara final di Pulau Bepondi yang terletak beberapa kilometer ke utara. Saat pengebumian ini, banyak warga termasuk pria usia tempur ikut berlayar ke Pulau Bepondi dan tinggal di sana selama beberapa hari untuk mengadakan doa kepada sang kepala suku yang meninggal. Waktu ini menjadikan penjagaan Kampung Maudori minim, sehingga rawan terhadap penyerangan dari suku luar.

Kematian sang kepala suku itu juga terdengar orang-orang di luar Kampung Maudori; salah satunya adalah orang-orang dari Kampung Korido. Mengetahui orang-orang Maudori bertolak ke Pulau Bepondi, orang-orang Korido melihat waktu ini sebagai waktu yang tepat untuk menyerang Kampung Maudori.

Penyerbuan Kampung Maudori pun dilaksanakan. Albert Rumbekwan mencatat ada 12 pejuang atau mambri yang dikirim untuk menyerbu Kampung Maudori yang tidak dilindungi itu. Tanpa perlawanan yang cukup, para warga Maudori dapat dikalahkan dan barang-barang di sana dijarah. Dalam penyerangan ini, Noseni yang ditinggal sendirian di kampung ditawan oleh para mambri dan dibawanya ke Korido. Para penyerang dari Korido kaget ketika mengetahui anak yang mereka tawan ini adalah seorang anak kepala suku; mereka takut orang-orang Maudori akan membalas dendam atas penculikan ini. Diceritakan dalam Guru Petrus Kafiar: Putra Tanah Papua Yang Pertama Menjadi Guru Penginjil bahwa terjadi perdebatan di antara orang-orang Korido untuk mengembalikan Noseni atau tetap membawanya, namun kematian seseorang di antara mereka yang ikut menyerang Kampung Maudori dianggap oleh orang-orang Korido sebagai penebusan atas Noseni yang mereka culik (nyawa dibayar dengan nyawa), sehingga mereka berketetapan untuk membawa Noseni dan menjadikannya budak kepada klan (Bahasa Biak: keret) Rumasep.

FJS Rumainum menuliskan fisik Noseni dalam usianya waktu itu menjadikannya budak yang handal, dan dia setia mengikuti para tuannya ke manapun mereka bekerja serta mematuhi segala perintah. Namun, kondisi perbudakan ini merupakan tahap kehidupan penuh penderitaan bagi Noseni.

Keluarga dari orang yang meninggal sebagai tebusan untuk Noseni tidak terima dengan kematian tersebut. Dimusyawarahkan di antara orang-orang Korido tentang hal ini, dan diputuskan bahwa Noseni harus dijual sebagai ganti tebusan. Dengan keputusan itu, dibawanyalah Noseni ke Teluk Doreh (sekarang Manokwari) untuk dijual dengan harga yang tinggi.

Setibanya di Manokwari, seorang tukang kayu dengan nama David Keizer asal Pulau Halmahera membeli Noseni dengan 50 keping logam (sumber lain menyebutkan 50 keping perak) Dengan transaksi itu, orang-orang Korido melepas Noseni ke tangan David Keizer.

David Keizer rupanya mengangkat Noseni sebagai anaknya. Dia dan istrinya Lidia rupanya sangat mensyukuri kedatangan Noseni karena telah lama mereka menginginkan seorang anak lelaki. Di rumah keluarga Keizer, Noseni tinggal bersama David dan Lidia beserta seorang putri mereka yang bernama Margareta.

Dua pengalaman yang membuka matanya
FJS Rumainum menulis dalam buku Guru Petrus Kafiar: Putra Tanah Papua Yang Pertama Menjadi Guru Penginjil tentang dua pengalaman yang membuka mata hati Noseni terhadap iman Kristiani.
Pengalaman pertama terjadi saat pelayaran Noseni bersama orang-orang Korido mencari ikan. Dalam pelayaran tersebut, kapal orang-orang Korido diterjang badai yang luar biasa. Dalam kasus seperti ini, orang Biak di masa lampau memiliki kebiasaan untuk memanggil nama-nama leluhur mereka untuk pertolongan melewati badai ini. Tapi dalam momen diterjang badai itu, Noseni mendengar suara pemanggilan yang berbeda dari orang-orang Korido, yakni "Manseren Yesus e, wa betulung nu!", yang dalam Bahasa Biak berarti "Tuhan Yesus, (engkau) tolonglah kami!".

Pengalaman kedua terjadi setelah Noseni tinggal bersama keluarga Keizer. Margareta, saudara angkatnya, meninggal setelah beberapa lama menderita penyakit kronis. Baik orang tua angkatnya maupun Noseni sendiri sangat berduka atas kepergian Margareta. Namun, Noseni menyadari bahwa segala barang yang dimiliki Margareta tidak dihancurkan dan jenazahnya dikuburkan tidak lama setelah kematian, seperti saat ayah kandungnya Sengaji sang kepala suku meninggal.

Di kemudian hari Noseni menyadari pelajaran dari pengalaman tersebut. Tidak seperti masyarakat Biak, masyarakat beragama Kristen mempercayai bahwa nyawa seorang manusia berada di tangan Tuhan, dan bukan karena pengaruh roh-roh jahat. Bila Tuhan berkehendak, Tuhan akan memanggil mereka kembali ke sisi-Nya dengan s**a cita, sehingga tidak perlu juga ada pesta perkabungan yang berlarut-larut seperti yang dilaksanakan saat ayah kandungnya meninggal.

Di bawah naungan kedua orang tua angkatnya itu Noseni kemudian dibaptis pada 28 Oktober 1887 dengan nama baptis Petrus.
David Keizer menginginkan Noseni mengenyam pendidikan formal di sekolah Zending di Pulau Mansinam. Beliau kemudian memperkenalkan Noseni kepada Pendeta J. L. van Hasselt (seorang pendeta Belanda yang dulu mengajak Keizer bekerja di Pulau Mansinam, biasa dipanggil van Hasselt Senior untuk membedakannya dengan anaknya yang juga menjadi pendeta). FJS Rumainum menulis bahwa awalnya Noseni takut dengan sosok Pendeta van Hasselt yang berkulit putih dan asing itu hingga badannya bergemetar, namun Keizer dengan sabar menasihati Noseni bahwa Pendeta van Hasselt adalah orang baik, dan akhirnya Noseni mau bergabung untuk sekolah.

Di sekolah Zending di Pulau Mansinam, Petrus belajar membaca, menulis dan berhitung, dan mampu menguasai ketiga keahlian tersebut dengan sangat cepat. Para guru Zending menyadari hal ini, dan mereka akan meminta tolong kepada Petrus untuk membantu mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung kepada teman-temannya. Di luar sekolah pun Petrus dikatakan juga membantu mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung kepada orang dewasa yang membutuhkan. Hal ini dilakukan supaya Petrus dapat menanamkan budi pekerti dan kepemimpinan dalam dunia pendidikan. Melihat perkembangan yang pesat ini, kedua orang tua angkat Petrus, David dan Lidia Keiser sangat senang.

David Keizer sebenarnya menginginkan Petrus untuk membantunya bekerja sebagai tukang kayu untuk Zending. Ketika Zending memerlukan pekerja untuk membangun perkampungan guru penginjil di Amberbaken (sekarang di Kabupaten Tambrauw), David menyuruh Petrus untuk mengambil pekerjaan itu. Namun di luar dugaan David, Petrus tidak setuju. Petrus menyebut bahwa dia masih ingin belajar, dan jika dia ikut bekerja sebagai tukang kayu, maka kesempatan belajarnya akan berakhir. David memahami keinginan anak angkatnya itu, dan dengan musyawarah bersama para pendeta, Petrus kemudian dikirim untuk bersekolah di sebuah Sekolah Gubernemen Kelas II berbahasa Melayu di Ternate selama satu tahun.

Sep**angnya dari sekolah di Ternate, Petrus sudah fasih berbahasa Melayu dan telah belaja ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi. David Keizer masih menginginkan anak angkatnya itu bekerja sebagai tukang kayu di proyek kampung penginjil Amberbaken, yang pada saat itu masih berlangsung. Petrus sebenarnya menghormati keinginan ayah angkatnya, namun FJS Rumainum menuliskan bahwa Petrus berprinsip untuk tidak ingin mengambil pekerjaan yang ditentukan oleh orang tuanya (menyiratkan bahwa dia ingin mengambil pekerjaan atas keputusannya sendiri). Satu sumber menyebutkan bahwa Petrus berkeinginan untuk melanjutkan belajar lagi, antara ke Sulawesi atau ke Jawa.

Perbedaan prinsip antara David dan Petrus menyebabkan perseteruan di dalam keluarga yang harus ditengahi oleh para pendeta Zending seperti Pendeta J. L. van Hasselt. Diputuskan setelah bermusyawarah bahwa Petrus tetap harus mematuhi ayahnya untuk bekerja di Amberbaken sebagai tukang kayu yang bekerja sebagai tukang kayu pada hari-hari kerja, sekaligus melaksanakan penginjilan melalui kebaktian dengan para tukang kayu dan petani di sana. Dengan keputusan itu, Petrus pun berangkat ke Amberbaken.

Saat Petrus bekerja sebagai tukang kayu di Amberbaken, sepucuk surat datang dari Pengurus Besar Utreche Zending Veereniging (UZV) dari Belanda kepada para pendeta Zending di Pulau Mansinam. Surat tersebut memuat informasi tentang penerimaan siswa di Seminari Depok untuk dipersiapkan menjadi guru penginjil dan terbuka untuk etnis manapun.

Pendeta J. L. van Hasselt merasa ada sebuah kesempatan baru untuk mengirim orang-orang Timur untuk belajar dan membantu pekabaran Injil di Papua; dengan orang-orang asli Timur yang mengabarkan Injil, maka pekabaran akan lebih lancar karena ada orang asli yang mengabarkan kepada sesama orang asli. Pada pembukaan kesempatan belajar sebelumnya, beliau sudah mengajak beberapa jemaatnya seperti David Keizer untuk belajar di sana, namun para jemaat yang diajaknya tidak ingin, bukan karena mereka tidak sanggup, namun mereka takut bahwa begitu mereka kembali dan mulai mengabarkan Injil ke orang-orang asli Papua, mereka akan dihina dengan kata-kata yang dituliskan oleh FJS Rumainum;

Kamu kan sama-sama 'orang hitam'-nya dengan kami, mana mungkin kamu bisa mengajari kami?! Lebih baik, kamu tutup mulut saja!

Hal itu berakar dari anggapan di antara orang-orang pada waktu itu, bahwa orang 'kulit putih' alias orang Belanda telah menerima pendidikan yang lebih maju, sehingga orang-orang akan merasa 'lebih sah' belajar dari orang Belanda dibandingkan dari orang dari ras atau etnis yang sama. Selain itu, orang asli Timur (terutama orang asli Papua sendiri) menganggap para guru penginjil ini tidaklah lebih baik dari mereka yang diberikan pekabaran Injil karena mereka dipersepsikan belum pernah belajar ke luar Tanah Papua.

Petrus dituliskan menyadari tentang kecaman tersebut, namun keinginannya untuk melanjutkan belajar tetap tinggi. Dengan bantuan keluarga Pendeta van Hasselt, dia dan seorang lainnya yang bernama Timotius Awendu dikirim di bawah naungan Zending di Pulau Mansinam untuk belajar Seminari Depok.

Petrus belajar sebagai siswa di Seminari Depok selama empat tahun; dicatat oleh FJS Rumainum bahwa beliau bersama Timotius Awendu berangkat ke Depok pada 3 April 1892 dan kembali ke Pulau Mansinam dengan ijazah seminari pada 10 November 1896.

Pengalaman belajar di Seminari Depok merupakan pengalaman yang tak dapat dilupakan Petrus. Petrus mendapatkan teman-teman dari etnis dan ras lain, dan mendengar kisah mereka di kampung mereka menguatkan tekad Petrus untuk mengajar di kampungnya, Tanah Papua.

Namun, dicatat juga bahwa Petrus harus menghadapi beberapa kelakuan rasis selama pembelajaran di sana karena fisik yang berbeda (sebagai bagian dari rumpun Melanesia dengan kulit yang lebih gelap dan rambut keriting). Satu catatan menyebutkan bahwa hinaan yang mereka terima disebabkan persepsi rasis orang pada masa itu yang masih menganggap orang pribumi tidak bisa sejajar dengan orang kulit putih, sekalipun mereka berpakaian dan menerima pendidikan seperti orang kulit putih. FJS Rumainum tidak menyebutkan pengalaman rasis tersebut dalam bukunya, namun beliau menulis bahwa dalam sebuah percakapan dengan Pendeta FJF van Hasselt (anak dari J. L. van Hasselt, dipanggil van Hasselt Junior), Petrus berkata; "tuan, jikalau saya mengingat akan pergaulan hidup dan masa kami di Seminari Depok, maka hati saya sedih dan air mata berlinang-linang."

Sekembalinya dari Depok, Zending di Pulau Mansinam memutuskan bahwa Petrus akan dirikim untuk mengabarkan Injil di Pegunungan Arfak. Rupanya, keputusan tersebut didengar oleh orang-orang Arfak yang bersahabat dengan Zending, dan mereka takut akan adanya pembunuhan dari musuh mereka "bila ada orang luar yang dikirim masuk ke Pegunungan Arfak." Orang-orang Arfak itu kemudian mengirimkan sebuah bambu sumpah kepada David Keizer ayah angkat Petrus yang berbunyi "bahwa dengan bambu ini sudah disumpah, sebaiknya jangan menempatkan Petrus di Arfak karena musuh di sini akan membunuhnya." David Keizer pun memberitahukan bambu sumpah itu ke Pendeta J. L. van Hasselt, dan berharap anak angkatnya dapat ditinjau kembali.

Setelah itu, diputuskan bahwa Petrus akan melaksanakan pekabaran di Pantai Amban (kira-kira satu jam perjalanan perahu dari pusat kota Pulau Mansinam, sekarang menjadi bagian Kabupaten Manokwari), tempat orang-orang Arfak biasa memancing ikan dan mengambil air laut. Orang-orang Zending kemudian bertemu dengan orang Arfak dan menginfomasikan perubahan rencana itu. Kedua belah pihak kemudian berunding. Dalam perundingan tersebut, diputuskan bahwa empat keluarga dari orang-orang Arfak (ada juga yang menyebutkan empat kepala suku dari Arfak) akan membangun rumah dan menetap di Pantai Amban bila seorang guru memang akan dikirim kepada mereka. FJS Rumainum menulis bahwa pihak Zending merasa pemindahan pemukiman tersebut tidak perlu, namun keputusan orang-orang Arfak sudah bulat dan kesepakatan tersebut harus dijalankan. Sebuah catatan lain menyebutkan bahwa pemindahan pemukiman orang-orang Arfak tersebut dilakukan supaya mereka bisa menjamin keselamatan sang guru, sekaligus untuk mendapatkan kemudahan dalam berdagang, mendapatkan layanan kesehatan, serta menggunakan transportasi laut ke daerah seperti Ternate.

Pada 11 Februari 1897, Petrus dan beberapa rombongan Zending dari Pulau Mansinam berlayar ke Pantai Amban untuk memulai pekabaran. Dicatat dalam Guru Petrus Kafiar: Putra Tanah Papua Yang Pertama Menjadi Guru Penginjil bahwa suatu malam di api unggun di tepi pantai bagaimana Petrus mulai bercerita kepada orang-orang Arfak;

Pendeta memulainya dengan menunjuk pada bulan purnama yang saat itu sedang naik serta bintang-bintang yang berserakan di langit; semua nya bersinar-sinar menurut aturannya seolah-olah tertata dengan baik. Pendeta berkata; "Siapakah yang menjadikan dan mengatur itu semuanya? Tidak lain daripada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa yang menjadikan alam semesta!" Guru Petrus menambahkan bahwa ia datang ke Amban bukan untuk membeli burung cenderawasih, atau akan berdagang/jual beli, melainkan untuk memberitahukan kepada orang-orang Arfak siapakah Allah yang menjadikan bulan dan bintang di cakrawala itu. Allah yang menjadikan bulan bintang itu; menjadikan manusia dan mengasihi segala bangsa, dan juga orang Arfak pun.

FJS Rumainum menuliskan bahwa orang-orang Arfak memiliki gaya hidup yang berpindah tempat. Perpindahan ini membuat orang Arfak memindahkan rumah mereka dari satu tempat ke tempat yang lain. Petrus yang mengabarkan Injil kepada orang Arfak tersebut harus mengikuti perpindahan mereka sebanyak dua kali. Meskipun demikian, tulis Rumainum; "...guru Petrus tidak bosan-bosannya untuk mengikuti keinginan mereka, karena dia tetap setia kepada panggilannya sebagai penginjil terhadap orang Arfak."

Sebuah wabah flu melanda Pantai Amban pada 1898. Flu tersebut sebenarnya mudah untuk dirawat, namun lokasi geografis Nugini Belanda yang jauh sekali dari pemukiman maju di Hindia Belanda pada saat itu seperti Ternate, Tidore, atau bahkan Jawa sekalipun mengakibatkan pasokan obat yang tidak memadai bagi masyarakat Papua.

Guru Petrus tidak dapat merawat para jemaat Arfak di kampungnya itu; beliau tidak memiliki keahlian sebagai dokter, dan staf Zending yang membantunya sangatlah sedikit. Banyak orang kemudian meninggal, dan orang-orang Arfak di Pantai Amban pun ketakutan, sehingga mereka kembali ke pegunungan, meninggalkan guru Petrus dan rombongan Zending.

Guru Petrus sebenarnya masih ingin pekabarannya kepada orang-orang Arfak dapat dilanjutkan dan berharap orang-orang Arfak akan kembali ke pesisir. Sesekali, akan ada sedikit orang Arfak yang kembali untuk mencari ikan. Guru Petrus kemudian sedikit-sedikit melanjutkan pekabarannya dengan orang-orang Arfak itu. Namun, mereka tidak mau menetap di Pantai Amban lagi karena menurut mereka, roh-roh alam yang mereka tinggalkan setelah masuk agama Kristen itu marah dan mengirimkan tulah.

Tanpa adanya jemaat yang tetap, Guru Petrus pun kembali ke Pulau Mansinam untuk sementara waktu.
Ia menjadi pionir karya misionaris di Biak. Ia dapat bertutur dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu, yang ia terapkan kepada orang-orang Biak, yang dipandang sebagai kelompook Kristenisasi paling berhasil di bawah naungan Belanda.

Petrus Kafiar menikah dengan seorang perempuan bernama Ida (yang telah lebih dahulu dibaptis pada 29 April 1884) pada 12 Agustus 1898. Keduanya dikaruniai dua putra dan empat putri, namun sayangnya kedua putra Petrus Kafiar meninggal lebih dulu. Dari para putrinya, dua di antaranya; Emilia Kafiar dan Elsa Kafiar mengikuti jejak ayahnya untuk bersekolah Kristen di Jawa, lalu bekerja sebagai juru rawat di sebuah rumah sakit di Manokwari, sedangkan putri ketiganya (namanya tidak disebutkan) menikah dengan seorang guru dan ikut bekerja dengannya di Sentani dan Pulau Numfor.

Petrus Kafiar meninggal pada 2 Agustus 1926. Guru Petrus Kafiar: Putra Tanah Papua Yang Pertama Menjadi Guru Penginjil menyebut bahwa dia meninggal di usia kurang lebih 62 tahun. Dia dipercaya dimakamkan di Fanindi (sekarang di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari), namun lokasi tepat makamnya hingga saat ini masih belum diketahui.

Petrus Kafiar dikenal sebagai salah seorang asli Papua pertama yang mendapatkan pendidikan tinggi keguruan serta menerima gelar sarjana pertama. Beliau juga dihormati sebagai guru pertama dari orang asli Papua yang berperan dalam memulai mengajarkan ilmu pengetahuan dan turut serta dalam membangun pusat keagamaan dan gereja di antara orang asli Papua.

Sebagai tanda rasa hormat, nama beliau dijadikan nama di beberapa tempat, antara lain;

•SD YPK Petrus Kafiar di Kabupaten Manokwari
•Akademi Pariwisata Petrus Kafiar di Kabupaten Biak Numfor
Pantai Petrus Kafiar di Kabupaten Manokwari

Sumber, WIkipedia

Ket Gambar:
• Petrus Kafiar
• Peta Kep**auan Biak (Schouten Eilanden). Pulau Supiori di bagian barat laut adalah tempat Petrus Kafiar lahir.

Garam Hitam Papua(Sudah tersedia di toko Rasa Nusa - link di bagian bawah. Monggo dipesan 😊🙌🏼)Garam hitam Papua ini meru...
16/01/2023

Garam Hitam Papua
(Sudah tersedia di toko Rasa Nusa - link di bagian bawah. Monggo dipesan 😊🙌🏼)

Garam hitam Papua ini merupakan produksi dari Chef Charles Toto, Papua Jungle Chef. Mengadaptasi cara mendapatkan garam masyarakat di pegunungan lembah Baliem dimana pelepah pisang yang direndam di sumur garam di pegunungan dibakar untuk mendapatkan arang yang dihaluskan kemudian disaring menjadi garam hitam.

Teknik ini kemudian diaplikasikan di area pesisir dengan menggunakan pelepah pohon nipah di Sorong Selatan. Pelepah pohon nipah yang tumbuh di perairan payau ini berfungsi sebagai penyaring air dari akar ke daun, sehingga pelepah mengandung banyak garam. Pelepah inilah yang kemudian dibakar lalu dijadikan garam.

Produksi garam hitam ini dilakukan secara tradisional dan jumlahnya masih terbatas.

Keuntungan dari hasil penjualan ini akan digunakan untuk berbagai kegiatan yang mendukung pemberdayaan masyarakat dalam bidang kuliner di bawah naungan Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia.



Link Market place https://tokopedia.link/ojDos8LN2ub

Ibuku selalu berpesan kepadaku :Nak, tertawalah riang di hadapan ayahmu manakala beliau p**ang ke rumah,Karena dunia lua...
16/01/2023

Ibuku selalu berpesan kepadaku :

Nak, tertawalah riang di hadapan ayahmu manakala beliau p**ang ke rumah,
Karena dunia luar itu begitu kejamnya sehingga dapat membahayakan ayahmu...

Tahukah kau nak, apa beda ibu dengan ayah?

Ibu membawamu (mengandungmu) di dalam rahim selama 9 bulan, namun ayahmu membawamu seumur hidupnya, tanpa kau sadari...

Ibu berupaya kuat agar kau tak merasa lapar, namun ayahmu lah yang mengajarimu agar kau tak kelaparan lagi, tanpa kau fahami...

Ibu menggendongmu (dengan memelukmu) di dada, namun ayahmu menggendongmu di punggungnya, tanpa kau perhatikan...

Cinta ibu ini sudah kau kenali mulai dari semenjak kau lahir, namun cinta ayahmu 'kan kau ketahui setelah kau menjadi seorang ayah... Karena itu bersabarlah dengan baik...

Ibu, memang tak ternilai harganya, sementara ayahmu, takkan bisa dikembalikan oleh waktu...

By. Anak Kampung

15/01/2023

*LUKAS ENEMBE, DUKA ORANG PAPUA*

Saat melihat Gubernur Papua, Lukas Enembe yg sdg sakit, berada di kursi roda, tangan diborgol, hati ini tersayat, marah & jèngkel..Lebih2 saat foto dgn rompi kuning yg ia gunakan, dgn posisi membelakangi kerumunan org, yg menghakiminya bak pahlawan sdg "menjustifikasi" beliau sbg tersangka, hati ini seolah2 tersayat2..

Yg paling tdk bisa saya terima, ada komentar Rasis, yg menyebut tokoh kharismatik ini dgn sebutan buruk..Tuhan, kenapa engkau meletakan bangsa Papua dlm NKRI, jika seorang pemimpin & warga kami, selalu di stigma & diperlakukan sgt buruk skali..

Rasanya naluri anak daerah, yg terbiasa angkat parang & tombak ketika marah, ingin menuju gedung merah putih mau ngamuk tp itu sdh tdk mungkin..Saya ditakdirkan Tuhan menjadi pribadi terpelajar, menggunakan logika & s**a hal2 yg rasional dlm mencari solusi..

Seandainya, saya bisa bertemu seorang youtuber yg menghina & menyebarkan konten sampah ttg Gubernur Lukas Enembe, saya akan ajak duel; brengsek, sombrono & tdk beretika org tsb..

*Kenangan Yang Membuat Tegar*

Keberadaan Gubernur Lukas Enembe yg buruk saat ini, bagaikan potret masa silamnya terhadap Onno anaknya yg meninggal dgn sgt pedih..Onno meninggal dlm gendongan ibunya, dgn posisi tertidur..Yulce Wenda, istri LE, sgt tegar menggendong Onno sambil berjalan kaki menuju terminal taman Mesran, Jayapura..

Setiap org yg ia lalui bertanya, ada apa dgn anakmu, Yulce menjawabnya bahwa Onno sdg tertidur sambil menyeka air matanya..Org hebat adalah mereka yg pandai menyembunyikan kesulitannya..Betapa hebatnya Yulce, sang istri yg tdk ingin menceritakan penderitaannya pd org lain..Ia simpan derita wafatnya Onno anaknya bersama Lukas Enembe dgn rapat2..

Meninggalnya Onno anak pertama Lukas Enembe sdh terasa saat lampu petromak yg ada di gubuknya tiba2 meledak ,nyaris membakar seluruh tubuh Lukas yg saat itu sdg dinas di nimborang, Merauke..Gubernur Lukas, yg kemana2 s**a menggunakan sandal jepit itu, terpuruk dgn kabar meninggalnya anak pertamanya Onno..Situasi itu membuat Lukas ingin bunuh diri..

Onno adalah simbol ketegaran sepasang suami istri hebat ini, yg berkenalan & menikah dlm kondisi ekonomi yg sgt miskin..Teringat, dlm ulang tahun Onno, Yulce mengahadiahkan boneka pada anaknya, yg ia pungut dari tempat sampah..

Masa2 sulit itu tertukar dgn kesuksesan, tp kemudian redup kembali saat Gubernur LE, sakit hingga berada di tahanan KPK utk hal yg sgt sepele skali..

*Kebangkitan Kedua*

Kesulitan semasa kecil, sekolah, kuliah, menikah hingga ditangkap KPK dgn SOP (Standar Operasional Pelaksana) yg buruk, tentu sgt menyayat hati rakyat Papua..Sebagai org yg pernah dekat dgn beliau, penangkapan beliau & tindakan buruk KPK & rasisme yg menyerang pribadinya sbg tokoh Papua, sgt melukai hati rakyat Papua.

Org Papu begitu tersayat2, marah & muak dgn prilaku negara yg semena2..Saat sakit, bukannya ia diproses dgn cara2 bermartabat, beliau malah dipertontonkan ke publik dgn cara2 yg melecehkan.

Tahukah Anda? Gubernur Lukas Enembe telah banyak berkontribusi utk NKRI, kendati kepemimpinannya selalu di stigma & dicurigai dgn label2 yg buruk..Saya yakin, pembunuhan karakter tentang Gubernur Lukas Enembe, bukan saja menyayat hati dirinya, keluarganya tp juga sgt menyayat hati org Papua secara keseluruhan.

Jika dulu Gubernur LE di masa mudanya, ia terpuruk, maka ia juga bisa bangkit..Tahukah? Kebangkitan itu akan lahir dari org2 yg telah ia didik, bentuk & ciptakan melalui sikap & pengaruh serta kepemimpinan dirinya.

Dalam diri Gubernur LE ada budi pekerti, kegigihan & melawan kesewenang2an Jakarta. Sbg pribadi, apa yg diperlihatkan Jakarta selama ini terhadap Papua & tokoh2 Papua termasuk pd Gubernur LE adalah pemantik yg pas, semua elemen di Papua berpikir 1000 kali utk setia pada Jkt, yg penuh tipu-tipu *abuleke.****

*Lamadi de Lamato*
Presiden Warga Imigran Pendatang Se-Tanah Papua.

Address

Dogiyai
Papua

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Natan Naftali Tebai posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category