Postulat St. Kamilus

Postulat St. Kamilus Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Postulat St. Kamilus, Religious school, Jalan Trans Ende/Maumere, Nita, Kab. Sikka, Ntt.

_KAUL KEKAL: KOMITMEN SEUMUR HIDUP UNTUK MELAYANIKomunitas Seminari St. Kamilus, Nita, menjadi saksi sebuah peristiwa be...
10/02/2024

_KAUL KEKAL: KOMITMEN SEUMUR HIDUP UNTUK MELAYANI

Komunitas Seminari St. Kamilus, Nita, menjadi saksi sebuah peristiwa berahmat ketika salah satu anggotanya, yaitu Frater Gema G. Galung, MI (Fr. Oga), mengucapkan kaul kekalnya dalam sebuah misa yang diselenggarakan pada tanggal 9 Februari 2024. Fr. Oga, setelah sekian lama menjalani masa formasi yang panjang dan penuh perjuangan, pada akhirnya bisa menjawabi panggilan Tuhan dengan pasti melalui momen kaul kekal suci ini dalam hidupnya.

Kaul kekal, yang dalam bahasa Inggris juga dikenal sebagai "Perpetual/Final Profession”, dalam Ordo Kamilian secara khusus diartikan sebagai janji abadi (seumur hidup) untuk melayani Tuhan dan sesama dalam ketaatan, kemurnian, kemiskinan dan pelayanan terhadap orang sakit. Fr. Oga, yang setelah sekian lama membaktikan dirinya kepada Tuhan dan sesama sebagai seorang religius lewat pelayanan yang penuh dedikasi, kini secara resmi menetapkan dirinya dalam komitmen yang tak terputus untuk mengabdikan hidupnya dalam pelayanan suci sesuai dengan teladan sang Bapa Pendiri, St. Kamilus de Lellis.

Misa kaul kekal yang dimulai pukul 18.15 WITA tersebut dihadiri oleh banyak umat, mulai dari sesama rekan frater, umat setempat, serta keluarga Fr. Oga sendiri. Kapela yang dihiasi dengan cahaya lilin dan bunga-bunga segar menciptakan suasana sakral dan penuh kehangatan. Kehadiran dewan provinsial dan pimpinan delegasi setempat turut memperkuat makna pengikraran kaul kekal ini, serta menjadikannya sebuah acara yang meriah dan sarat makna.

Dalam homilinya saat misa, P, Marven, MI (Dewan Provinsial), menjelaskan bahwa dengan mengikrarkan kaul kekal, Fr. Oga berarti harus “siap untuk menjadi instrumen cinta kasih Allah bagi umat-Nya, terutama bagi orang yang sakit dan menderita”. Beliau juga menambahkan bahwa, “dalam momen berahmat ini, kita semua diajak untuk meneladani Yesus, yang datang untuk melayani orang-orang kecil”, ujar imam asal Filipina itu.

Pimpinan Kamilian Delegasi Indonesia, P. Alfons Oles, MI, yang memimpin misa tersebut, menyampaikan ucapan selamat dan doa restu untuk Fr. Oga. "Kami bersyukur dan bangga melihat Fr. Oga mengambil langkah ini. Semoga kaul kekalnya menjadi terang bagi banyak orang dan membawa berkat bagi keluarga dan komunitas kita," tutur P. Alfons.

Setelah misa, komunitas dan tamu yang turut serta dalam perayaan itu akhirnya mengikuti acara sederhana yang diisi dengan santap malam bersama yang penuh keakraban. Fr. Oga kemudian menerima ucapan selamat dari banyak pihak, dan kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang berseri-seri.

Momen kaul kekal ini tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi Fr. Oga tetapi juga bagi Seminari Tinggi St. Kamilus, Ordo Kamilian, dan seluruh umat Katolik di wilayah tersebut. Keputusan Fr. Oga untuk menetapkan dirinya untuk menjadi seorang Kamilian selamanya adalah inspirasi bagi generasi muda yang mungkin merasakan panggilan serupa.

Sebagai umat Katolik, mari kita bersama-sama mendoakan Fr. Oga agar kaul kekalnya menjadi berkat bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh gereja. Semoga perjalanan rohaninya selalu diberkati oleh Tuhan dan semoga perjalanan panggilannya senantiasa membawa berkat dan sukacita kepada banyak orang yang dilayaninya.

Oleh: Post. Onessimus F. Ambun

_Sharing: Upaya Merawat Persaudaraan Pada 22 November, tepatnya pukul 20.30 malam WIT, kami para Toper Kamilian Delegasi...
03/01/2024

_Sharing: Upaya Merawat Persaudaraan

Pada 22 November, tepatnya pukul 20.30 malam WIT, kami para Toper Kamilian Delegasi Indonesia mengadakan zoom meeting bersama. Zoom meeting ini dibuat untuk tujuan sederhana yakni agar kesebelas (11) frater yang sedang menjalani masa Top di lima komunitas (Nita, Misir, Kupang, Ruteng dan Philippines) tetap menjalin komunikasi yang akrab satu sama lain. Kami percaya bahwa untuk mengalami hidup persaudaraan yang baik perlu membangun komunikasi yang baik p**a. Karena itu, dalam kegiatan zoom meeting, kami gunakan waktu untuk sharing pengalaman bersama.

Kegiatan sharing kami malam itu, dibuka dengan pembacaan konstitusi oleh saudara Sintus. Ia mengutip art. 18, yang berbunyi demikian: Komunitas (ordo) mengarahkan kita untuk menerima dan mendukung sesama sebagai satu saudara. Perbedaan yang kita miliki, hendaknya tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan persatuan. Keberagaman yang ada hendaknya digunakan saling berbagi, demi perkembangan dan kemajuan semua orang yang hidup di dalam ordo. Selanjutnya, dari artikel ini, kami dituntun oleh dua pertanyaan yakni: bagaimana keadaan Anda saat ini dan bagaimana situasi di tempat Top?

Fr. Ento Nalut, Toper di rumah Novisiat - Kupang, saat diberikan kesempatan sharing menceritakan, sampai sejauh ini dia merasa bahagia tinggal bersama para novis. Kebahagiaan yang ia miliki tercipta karena ada suasana persaudaraan hidup di komunitas. Selain itu, dia melihat secara positif tugas yang diberikan oleh pimpinan sebagai bekal untuk karya pelayanannya ke depan. “Di sini saya dilatih untuk bekerja. Mulai dari dapur sampai di kebun. Saya dan teman-teman novis dibagi tugas untuk masak dan kerja di kebun. Saya berusaha melawan rasa malas dengan berpikir positif bahwa apa yang saya lakukan hari ini, berguna untuk masa depan saya dan komunitas di kemudian hari”. Ungkap Toper asal Terang - Manggarai Barat.

Selanjutnya, kami mengarahkan telinga untuk mendengarkan sharing dari Toper Aspirat - Ruteng. Frater Save Semaung, calon imam asal paroki Rejeng, dengan senyumannya yang khas menceritakan, para aspiran tahun ini, sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Mereka berasal dari tiga negara yang berbeda yakni: Indonesia, Pakistan dan Timor Leste. Tentu, kenyataan ini patut dibanggakan, tetapi di balik itu, ada usaha pendampingan terhadap para calon imam yang berasal dari negara lain untuk belajar bahasa Indonesia dengan baik. “Sebagai pendamping saya berusaha agar para frater tersebut bisa mengusai bahasa Indonesia dengan baik sehingga bisa melanjutkan studi di IFTK Ledalero nantinya. Saya akan merasa beban, jika mereka gagal”. Hal yang sama pun diimpikan oleh Fr. Ogga Galung, di mana dia berusaha agar angkatan aspiran tahun ini bisa lulus ujian masuk IFTK. “Kami berdua akan memaksimalkan kemampuan untuk pendampingan terhadap calon-calon imam kita di tempat ini”. Tegas, frater Top yang punya motto hidup “Modal Nekat”.

Sharing kami pun terus berlanjut. Kedua frater yang menjalankan praktik pastoral di rumah filosofan menceritakan kisah mereka yang tidak kalah menarik dengan cerita frater-frater sebelumnya. Frater Tomi Tombo, pemuda asal Tentang-Ndoso, seperti biasa, saat dia mulai menceritakan kisah hidupnya selama masa TOP, dia selalu mengawali kalimat “saya bangga menjadi Kamilian”. Kebanggaan yang ia rasakan itu bukan tanpa dasar, melainkan ia mengalaminya dalam hidup berkomunitas. Di mana, ia diterima dan diperlakukan sebagai saudara di tengah para konfrater yang lain. Tomi melihat, pemberian tugas dari pimpinan, melatih dia untuk semakin dewasa dalam menghayati panggilan hidup menjadi calon imam Kamilian. “Saya hanya bisa membalas kebaikan mereka dengan menjalankan tugas sebaik mungkin”. Hal itu, dibuktikan oleh frater Tomi, saat menjalani studi di Unika Ruteng. Dia mendapatkan yudisium CUM LAUDE pada akhir masa studinya. Sebagai saudara sepanggilan, kami bangga atas kerja keras frater Tomi. Sehabis menceritakan kebahagiaannya menjadi Kamilian, Tomi memberikan selfphone kepada rekan Topnya, frater Fandi Son.

Kami mengenal sosok Fr. Fandi sebagai orang yang punya wibawa. Tidak sedikit orang, merasa kikuk saat berhadapan muka dengan beliau. Dia sangat hemat bicara, saat berkenalan dengan orang baru. Tetapi, saat berhadapan dengan teman lama, dia dengan luwes menceritakan pengalaman eksotiknya. Seperti pada sharing malam itu, dia menceritakan “ternyata menjadi pendamping para frater filosofan itu tidak mudah. Kita selalu diarahkan untuk memberikan contoh hidup yang baik. Tepat waktu saat berdoa di kapela, mendampingi mereka saat belajar dan berusaha menjadi saudara bagi semua orang”. Menurutnya, menjadi pendamping para frater filosofan itu, tidak mudah. Kita harus menunjukkan keteladanan. Kalau tidak, para frater sulit membangun trust kepada kita.

Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 21.45 WITA. Empat frater yang lainnya sudah siap untuk sharing. Tetapi, yang pasti bahwa, pengalaman mereka berbeda dengan pengalaman frater-frater sebelumnya. Jika lima frater sebelumnya menceritakan kisah hidup di rumah-rumah formasi, maka keempat frater berikut ini akan menceritakan pengalaman mereka saat belajar bahasa asing di Philippines.

Secara garis besar, benang merah yang didapatkan dari sharing frater Marsel, Sintus, Fabi dan Agus memberikan catatan positif, di mana dari hari ke hari, mereka sudah mulai confident untuk berbicara dengan orang lain. Mereka percaya bahwa, tempat terbaik untuk belajar bahasa bukan saja di ruangan kelas, melainkan juga di alam bebas, ketika berhadapan langsung dengan person. Mereka merasa gembira, ketika lawan bicara mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan. Fr. Marsel juga menambahkan, “mungkin kalau saya tidak datang ke sini (Philippines) kemampuan bahasa Inggris saya tidak akan meningkat. Saya memiliki kepercayaan diri to speak English now. Apalagi, di rumah yang kami tinggal sekarang, Filipinos brothers are welcoming for us. They are really treat us as brother. Kami bahagia menjadi Kamilian, kata Fabi di akhir sharing.

Sdr. Agust GND, MI
(Sedang Menjalani Masa TOP I)

_KAMILIAN DAN PASTORAL RUMAHAkhir-akhir ini, topik tentang krisis panggilan hidup menjadi seorang imam dan religious Kat...
22/11/2023

_KAMILIAN DAN PASTORAL RUMAH

Akhir-akhir ini, topik tentang krisis panggilan hidup menjadi seorang imam dan religious Katolik sudah semakin banyak dibicarakan. Topik ini mulai dibicarakan karena ada fakta yang menunjukkan bahwa di negara-negara tertentu, khususnya bagian Eropa terjadi krisis panggilan hidup menjadi seorang imam maupun religious Katolik pada umumnya. Hal ini dialami ordo Kamilian-provinsi German, bahwa sepuluh tahun belakangan ini mereka tidak mendapatkan calon imam dari negara tersebut. Akibatnya, beberapa rumah formasi yang sebelumnya dipersiapkan untuk pembinaan para calon imam dialihfungsikan menjadi apotik dan pengembangan pastoral misi Kamilian lainnya. Pater Manny Tamayo, MI, perwakilan konfrater provinsi-Jerman dalam kegiatan Renewal Course International the Order Ministers of the Infirm, pada 2 Oktober 2023 menceritakan, bahwa ada beberapa alasan mengapa terjadi krisis panggilan menjadi imam di Jerman.

Pertama, jumlah penduduk yang semakin menurun. Di Jerman, menurut P. Manny, orang menikah bukan satu-satunya bertujuan untuk memiliki anak tetapi hanya untuk mencari pasangan hidup (teman ngobrol). “Pasangan keluarga muda yang memilih hidup bersama di Jerman lebih pada orientasi karier. Mereka memilih pasangan hidup tidak semata-mata bertujuan untuk memiliki anak, tetapi berkomitmen untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Ada anak atau tidak, itu bukan menjadi sebuah persoalan. Yang terpenting mereka bisa bahagia. Menurut sebagian orang di Jerman, kebahagiaan tidak saja diperoleh dari kehadiran seorang anak, tetapi juga dari karier dan pasangan hidup." Ungkap pater misionaris yang sudah 26 tahun tinggal di negara der Dichter und Denker (para penyair dan pemikir) ini. Imbas dari kondisi semacam ini membuat pemerintah Jerman mendorong keluarga-keluarga muda untuk memiliki anak. Pemerintah menjamin kesejahteraan hidup perempuan yang sedang mengandung. Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan tunjangan kesehatan kepada perempuan yang sedang hamil, baik yang bekerja di perusahan-perusahan tertentu maupun masyarakat biasa lainnya.

Kedua, penurunan minat panggilan menjadi imam di Jerman disebabkan karena banyaknya kasus-kasus pelecehan yang diaktori oleh para imam. Banyak umat mulai acuh tak acuh terhadap hierarki Gereja Katolik. Umat mulai kehilangan kepercayaan terhadap para imam (Bdk. Franz M. Suseno, Zero Tolerance, Rohani: April 2019). Gereja-gereja tidak lagi dipadati oleh umat untuk menghadiri perayaan ekaristi. Yang sering hadir perayaan ekaristi ialah para orang tua, sedangkan para pemuda-pemudi amat jarang menghadiri perayaan ekaristi. Itulah sebabnya, pelayanan pastoral para imam di Jerman tidak saja menunggu umat datang ke gereja, tetapi sebagian para imam melakukan pastoral rumah.

Saya sendiri baru pertama kali mendengar istilah pastoral rumah. Karena itu dalam benak saya, supaya tidak menyia-yiakan kesempatan, saya langsung bertanya kepada pater provinsial-Jerman. “Pater, kira-kira bagaimana model pastoral rumah yang biasa dilakukan oleh para imam Kamilian di sana?" Sambil menikmati rokok Marlboro, pater Manny menjelaskan kepada saya dengan pelan-pelan. “Pastoral rumah yang saya maksudkan ialah suatu kegiatan, di mana para imam berani keluar dari rumah biaranya untuk menjumpai umat-umatnya. Pada awal-awal pastoral semacam ini, memang tidak mudah. Banyak umat tidak respek terhadap kehadiran kita. Tetapi, lama kelamaan ketika mereka sudah dan sering melihat, mereka pada akhirnya akan menerima kita. Dari sana, mereka mau berbagi cerita dengan kita. Karena jujur saja, di tengah kemajuan dunia sekarang ini, hanya sedikit orang yang mau mendengarkan cerita dari orang lain. Kesetiaan dalam mendengarkan adalah suatu kekuatan dari pastoral rumah."

Di tengah keseriusan mendengar cerita tentang pastoral rumah, saya justru dikejutkan pertanyaan dari P. Manny, “Agustinus, apakah kamu punya kemampuan mendengarkan orang lain?” Pater Manny melihat saya dengan penuh perhatian. Dia menunggu jawaban dari saya. Saya dengan polos menjawab beliau “Pater, kalau menarik saya akan dengar. Tetapi, selama ini berhadapan dengan orang-orang sakit dan orang-orang sederhana, saya berusaha untuk mendengarkan mereka." Pater Manny tidak menanggapi jawaban saya. Dia justru melanjutkan cerita tentang misi dan karya pastoralnya di Jerman. Dia katakan begini, “Tentu, kamu sudah mengetahui sedikit tentang kondisi hidup dan masyarakat di Jerman. Bahwa di negara tersebut, banyak melahirkan orang-orang hebat, baik pemikir maupun penyair (Karl Marx, Nietzsche, Habermas, dan lain sebagainya). Kalau melihat sejarah intelektual orang-orang di Jerman, saya pikir mereka tidak terlalu butuh kehadiran kita untuk peningkatan kualitas akademik mereka. Sebab, mereka sudah lebih maju dari kita, orang-orang Asia. Tetapi sebagai misionaris, masih ada hal-hal baik yang bisa kita kerjakan yakni, berusaha memulihkan kembali nama baik Gereja dengan bersikap baik, ramah dan memiliki kemampuan mendengarkan orang lain. Itu tugas kita sebagai misionaris di sana."

Narasi tentang situasi panggilan menjadi seorang imam dan kaum religius di Jerman oleh pater Manny, sebetulnya mengingatkan saya bahwa menjadi imam tidak semata-mata mengglorifikasikan kemampuan akademik, tetapi lebih daripada perlu diimbangi dengan kemampuan yang lain, seperti: memiliki rasa empati dan solidaritas terhadap orang lain. Sebab, di tengah peradaban zaman yang semakin maju, orang mungkin tidak akan mengalami kemiskinan harta, tetapi mengalami kemiskinan empati, kasih sayang, dan solidaritas kemanusiaan.

Karena itu, topik tentang “Spirituality and Consecrated Life: Prayer dan Discernment” oleh Pater Eric Escandor, SJ dalam kesempatan Renewal Course, pada (2/10/2023) sangat penting dihayati oleh kaum religious Kamilian. Pertama, menjadi imam bukan profesi untuk mengumpulkan harta. Pater Eric menyampaikan, “Dalam penghayatan kaul-kaul kebiaraan, kita tidak diijinkan untuk memiliki banyak barang. Sebab kita hidup sebagai misionaris, yang pada suatu saat akan diutus ke tempat yang lain. Milikilah barang sesuai dengan keperluan pastoral, bukan sesuai kemauan pribadi, supaya kita tidak merasa berat untuk melangkah ke tempat tugas yang baru. Kedua, dalam doa dan disermen kita setiap hari, hendaknya memiliki komitmen bahwa kita adalah seorang religius. “Banyak kasus, para imam maupun anggota religious kehilangan martabat imamat akibat tidak memiliki komitmen untuk menghayati hidup sebagai kaum selibater. Munculnya, keinginan-keinginan semacam ini karena tiga faktor: orang tersebut kurang menjalin relasi yang baik dengan Tuhan, sesama anggota komunitas maupun umat yang dilayaninya. Kalau kita memiliki hubungan baik dengan Tuhan, sesama anggota komunitas dan umat yang lain, maka setiap persolan bisa diatasi dengan baik."

Sdr. Agust Gnd, MI
(Sedang menjalani masa TOP I)

_SEMBILAN PEMUDA DITERIMA SEBAGAI POSTULAN DI SEMINARI TINGGI ST. KAMILUSSeminari Tinggi St. Kamilus, lembaga pendidikan...
02/10/2023

_SEMBILAN PEMUDA DITERIMA SEBAGAI POSTULAN DI SEMINARI TINGGI ST. KAMILUS

Seminari Tinggi St. Kamilus, lembaga pendidikan calon imam Katolik milik Ordo Kamilian yang bertempat di Nita, Kabupaten Sikka, baru-baru ini menggelar misa penerimaan postulan baru untuk tahun 2023. Berita gembira ini datang dengan diterimanya sembilan pemuda yang telah menyelesaikan masa aspiransi mereka di Ruteng selama setahun dan akan tetap meneruskan perjalanan spiritual mereka menuju kekudusan lewat teladan hidup St. Kamilus.

Penerimaan sebagai postulan di Seminari Tinggi St. Kamilus adalah tahap kedua dalam persiapan mereka untuk menjadi seorang Kamilian; entah sebagai bruder atau imam. Kata postulan berasal dari bahasa Latin, postulare, yang berarti “mempertimbangkan”. Seorang calon akan “mempertimbangkan” kehidupannya di seminari selama beberapa waktu sebagai persiapan untuk penerimaan resmi ke dalam Ordo. Biasanya masa postulansi dapat berlangsung selama setahun. Namun, dalam Ordo Kamilian Delegasi Indonesia, khusus untuk para calon imam, masa postulansi digabungkan sekaligus dengan studi Filsafat selama 4 tahun. Program postulansi dalam Ordo Kamilian ini pada hakikatnya bertujuan untuk memberikan orientasi yang intens terhadap kehidupan dan doa komunitas, peluang untuk pelayanan, serta studi terus-menerus. Ini adalah langkah yang harus dilalui dalam perjalanan panjang menuju pelayanan rohani yang telah mereka idamkan dan mereka persiapkan dengan sungguh-sungguh.

Rektor Seminari Tinggi St. Kamilus, RP. Bonefonsius B. Lolan, MI (P. Dio), dalam misa penerimaan postulan baru (Sabtu, 30/9/23) menyambut gembira sembilan pemuda yang akan bergabung komunitas Seminari San Camillo ini. Dalam pernyataannya, P. Dio mengatakan, "Kami sangat senang menerima sembilan pemuda yang telah bersedia melanjutkan tahap pembinaannya sebagai postulan di Seminari Tinggi St. Kamilus. Ini adalah langkah penting dalam hidup mereka yang menunjukkan komitmen mereka untuk melayani gereja dan umat Katolik. Kami berdoa agar mereka diberkati dalam perjalanan panggilan mereka ini dan semoga mereka akan menjadi imam-imam yang berdedikasi suatu saat nanti."

Para pemuda yang sekarang telah menjadi postulan lewat upacara penerimaan pada tanggal 30 September 2023 ini telah melewati serangkaian proses seleksi yang ketat, yang mencakup evaluasi kesehatan fisik, mental, dan spiritual, serta penilaian kognitif. Mereka akan mengikuti program pembentukan intensif di seminari selama beberapa tahun ke depan.

Sembilan pemuda yang telah menjadi postulan ini datang dari berbagai latar belakang dan daerah yang berbeda, tetapi mereka memiliki satu tujuan yang sama: mendedikasikan diri mereka untuk pelayanan gereja dan umat Katolik. Mereka siap untuk belajar, tumbuh, dan berkomitmen sepenuh hati untuk panggilan mereka.

Dasilva Aman, salah satu pemuda yang diterima sebagai postulan baru, dalam suatu kesempatan mengatakan, "Saya merasa sangat bersyukur dan bersemangat untuk memulai perjalanan ini. Saya yakin bahwa ini adalah panggilan Tuhan dalam hidup saya, dan saya siap untuk belajar dan berkembang sebagai seorang imam yang baik."

Penerimaan sembilan pemuda ini adalah momen bersejarah bagi Seminari Tinggi St. Kamilus, Ordo Kamilian dan gereja lokal. Mereka adalah generasi yang akan membawa pesan kasih dan harapan kepada umat Katolik di masa mendatang. Mari kita berdoa agar mereka senantiasa diberkati dalam perjalanan mereka dan menjadi saksi Kristus yang setia dalam pelayanan mereka kepada gereja dan masyarakat.

Profil Para Postulan Baru:

1. Post. Adrianus E. Nusantara (Paroki St. Maria diangkat ke Surga, Rejeng – Keuskupan Ruteng)
2. Post. Albertus B. Kako (Paroki Sta. Maria Fatima, Cancar – Keuskupan Ruteng)
3. Post. Aprianus Jandu (Paroki St. Maria diangkat ke Surga, Rejeng – Keuskupan Ruteng)
4. Post. Dasilva Aman (Paroki Hati Kudus Yesus, Pota – Keuskupan Ruteng)
5. Post. Odalianus P. Habun (Paroki Sta. Familia, Wae Nakeng – Keuskupan Ruteng)
6. Post. Paskalis V. Nato (Paroki St. Maria diangkat ke Surga, Rejeng – Keuskupan Ruteng)
7. Post. Sebastianus Mandu (Paroki St. Pio, Langkemajok – Keuskupan Ruteng)
8. Post. Sebastianus Parman (Paroki St. Maria diangkat ke Surga, Rejeng – Keuskupan Ruteng)
9. Post. Yulius Mau (Paroki St. Mikael, Kada – Keuskupan Atambua)

Oleh: Post. Onessimus F. Ambun

_MENJADI SEORANG CAMILLIAN (MI)“Diupayakan semaksimal mungkin agar kegiatan kerasulan kita tidak terhalangi oleh kegiata...
02/10/2023

_MENJADI SEORANG CAMILLIAN (MI)

“Diupayakan semaksimal mungkin agar kegiatan kerasulan kita tidak terhalangi oleh kegiatan yang lain di komunitas.” Sebuah kalimat penegasan dari Pater Ivan Paul A. Villanueva, MI, provinsial-Philippines saat mengadakan pertemuan bersama di komunitas Skolastikat Nicola D’Onofrio, pada (9/08/2023).

Jujur, saya baru pertama kali mengikuti pertemuan dengan pater provinsial. Selama beliau mengadakan kunjungan persaudaraan ke Indonesia, yang ikut pertemuan dengannya hanya para dewan delegasi dan juga pater-pater Kamilian yang lain, sedangkan kami yang masih formandi mendengarkan informasi dari para formator rumah. Mungkin, alasan yang paling masuk akal kenapa di sini kami bisa mengadakan pertemuan dengan pater provinsial ialah karena soal jarak. Sebab, jarak rumah provinsial dengan tempat tinggal kami hanya lima (5) meter sehingga pertemuan dengan provinsial menjadi sesuatu yang mungkin terjadi.

Di komunitas skolastikat, kami (Indonesian) hidup bersama dengan para konfrater Filipino yang sedang menjalani studi teologi pendidikan calon imam. Mereka (frater teologan) hanya berjumlah 5 orang dan didampingi oleh seorang formator. Setiap hari, kami selalu bersama dengan mereka, baik dalam mengikuti kegiatan di komunitas maupun di luar komunitas.

Hari Senin-Jumat, kami melaksanakan kegiatan pendalaman bahasa Inggris. Kami belajar di rumah dengan mendatangkan dua guru pendamping dari universitas terdekat. Mereka mengajarkan kami dengan metode yang professional. Cara pengajaran mereka, membuat kami berani untuk bertanya dan berkomunikasi. Mereka mendorong kami untuk menciptakan iklim belajar yang tidak membosankan. Tidak kaku seperti metode pengajaran yang mengibaratkan peserta belajar sebagai kertas kosong.

Dalam pengelihatan saya, kedua guru kami ini sangat kreatif. Mereka selalu menyiapkan permainan di saat kami mulai merasa bosan dengan penyusunan grammar. Suasana kelas mencair kembali ketika diselingi permainan-permainan yang menghidupkan adrenalin berpikir. Waktu 3.30 menit dalam kelas, terkadang tidak terlalu terasa bagi kami. Kami mengakhiri kelas pendalaman pada pukul 12.30, mengingat tempat tinggal guru kami lumayan jauh. Ditambah lagi, ketakutan pada kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di negara yang sedang berkembang ini merupakan hal yang patut diperhitungkan.

Kegiatan Akhir Pekan

Setiap hari Sabtu siang, pertanyaan yang sering muncul di meja kami ialah, “jam berapa kamu berangkat ke tempat apostolik?" Jawaban kami selalu berbeda-beda. Ada yang menjawab setelah makan siang langsung jalan, tetapi ada juga jawaban setelah istirahat siang. Perbedaan jam keberangkatan ke tempat apostolik masing-masing kami tergantung jarak tempat apostolik dan kemudahan dalam mengakses kendaraan. Fr. Marsel dan Lymer biasanya setelah makan siang mereka langsung berangkat menuju Paroki Nuestra Senora de la Annunciata-Boso-boso.

Dalam pembagiaan tempat apostolik, kami ditemani oleh para konfrater Filipino. Masing-masing tempat apostolik terdiri dari dua orang. Satu konfrater Filipino dan satu konfrater Indonesia. Kami dibagi dalam empat tempat apostolik yakni di paroki, rumah jompo, rumah sakit dan rumah umat. Di tempat-tempat tersebut, kami belajar banyak hal, terutama cara pendekatan pelayanan terhadap kebutuhan masing-masing umat. Seperti, yang dialami Fr. Sintus di St. Camillus Medheaven-Marikina, dia harus memiliki kesabaran untuk mendengarkan cerita dari para orangtua atau para jombo yang dirawat di rumah sakit tersebut. “Umumnya, para orang tua atau para jompo di sana, sangat senang kalau ada orang yang mendengarkan mereka”, ungkap Fr. Sintus, saat mengadakan sharing bersama di Skolastikat D'Onofrio. Hal yang berbeda pun diceritakan Fr. Fabi Nanto, yang melihat dan merasakan secara langsung, perbedaan hidup masyarakat kelas bawah dan masyarakat kelas atas di kota besar. Masyarakat kelas bawah, yang hidup di tengah himpitan bangunan-bangunan megah, susah untuk bergerak bebas. “Ruas jalan menuju rumah mereka sangat sempit”, kata Fabi.

Dari pengalaman kedua teman di atas, kami sangat terbantu untuk mengenal lebih dalam kehidupan umat. Bahwa setiap tempat, memiliki situasi yang berbeda, baik dari segi kehidupan ekonomi, sosial-budaya dan cara pendekatan pelayanan pastoral. Karena itu, dalam sharing kami berempat, kami merefleksikan bahwa “Tugas kami menjadi seorang Kamilian ke depan ialah harus punya komitmen untuk mendekatkan diri dengan orang-orang kecil, khususnya orang-orang sakit dan orang yang menderita”.

Sdr. Agust GND, MI
(Sedang menjalani masa TOP I)

_BERJALAN SAMBIL BELAJARTahun 2015 yang lalu, Bapa Bernadus dan kakak sulung mengantar saya di rumah aspirat Kamilian-Ru...
01/09/2023

_BERJALAN SAMBIL BELAJAR

Tahun 2015 yang lalu, Bapa Bernadus dan kakak sulung mengantar saya di rumah aspirat Kamilian-Ruteng. Rumah Aspirat tersebut adalah rumah pembinaan awal para calon imam Kamilian Delegasi Indonesia. Pada waktu itu, saya belum memiliki komitmen yang matang untuk menjadi seorang seminaris. Banyak keraguan yang muncul dari dalam diri saya, misalnya: apakah saya bisa bertahan dan bisa lulus ujian masuk IFTK nanti? Pikiran-pikiran seperti ini seringkali mengganggu waktu tidur dan nafsu makan saya di seminari. Tetapi, untungnya, saya tidak mengalami sakit secara fisik. Saya tetap bisa menjalankan rutinitas harian di seminari. Saya belajar dari kelemahan-kelemahan seperti ini. Dari kelemahan yang ada, memotivasi saya untuk tidak merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Sebaliknya, saya meluangkan waktu untuk belajar, baik dari buku maupun pengalaman orang lain. Berkat ketekunan, saya dinyatakan lulus masuk masuk kampus di IFTK tahun 2016.

Di kampus ini, saya menjadi mahasiswa jurusan filsafat. Banyak pengetahuan yang saya dapat. Salah-satunya tentang, bagaimana menghargai perbedaan pendapat. Pendapat dan teori-teori tertentu, tidak selamanya diterima sebagai kebenaran absolut. Pasti selalu ada tesis, sintesis dan antitesis. Alasan ini juga yang menyebabkan, setiap mazhab selalu melahirkan para filsuf-filsuf yang baru. Para filsuf modern, membaca, mengevaluasi dan memberikan catatan kritis terhadap para pemikir sebelumnya. Kekuatan mereka ialah menggunakan pisau analisis kritis-filosofis. Sikap kritis yang saya pelajari di ruangan kuliah IFTK Ledalero membentuk cara berpikir saya untuk tidak dangkal, sempit dan terburu-buru menilai seseorang. Saya mengakui bahwa dalam setiap lika-liku hidup, saya menemukan dua hal yang berlawanan yakni yang baik dan yang buruk. Baik menurut saya, tetapi belum tentu baik di mata orang lain. Maka untuk menjembatani persoalan ini, saya perlu melihat kembali ke dalam diri bahwa saya hidup dalam sebuah komunitas. Di dalam sebuah komunitas tentu memiliki banyak kepala. Setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. Karena itu, saya perlu menerima dan memahami orang lain.

Tetapi terkadang dalam praktiknya, saya sulit menerima orang lain. Contoh praktisnya ialah ketika menjalani masa formasi di Maumere, saya seringkali tidak peduli dengan konfrater dari negara lain. Khususnya dalam berkomunikasi. Berhadapan dengan para konfrater dari negara lain, saya justru menyematkan diri sebagai kaum mayoritas. Di meja makan dan tempat-tempat yang lain, saya menggunakan bahasa Indonesia, bahkan lebih sering juga menggunakan bahasa daerah. Saya jarang memikirkan perasaan mereka. Saya tidak pernah merefleksikan, bagaimana rasanya menjadi orang asing.

Menjadi Orang Asing di Tempat Misi

Setelah delapan tahun menjadi anggota Kamilian, saya dan ketiga teman pun pelan-pelan menjadi orang-orang asing di tempat misi. Menjadi orang asing awal-awalnya memang sulit. Apalagi berhadapan dengan kekurangan kosakata yang saya miliki. Saat saya membutuhkan sesuatu dan mau meminta bantuan kepada tuan rumah (native) pasti selalu memikirkan berulang-ulang. “Bagaimana memformulasikan kalimat pertama, agar lawan bicara bisa mengetahui maksud saya”. Yang pasti bahwa, saya pertama-pertama mencari bantuan kamus. Benar, logis, dan terstruktur itu urusan kemudian. Tetapi yang lebih penting ialah, lawan bicara saya bisa mengetahui apa yang saya maksudkan.

Saya sendiri percaya bahwa, “kefasihan berbicara” itu bisa dimiliki oleh setiap orang, apabila dari dalam diri memiliki kemauan dan keberanian untuk berbicara dengan orang lain. Berani berkomunikasi dengan orang lain adalah langkah yang baik untuk mempraktikkan dan meningkatkan kemampuan berbahasa. Melalui komunikasi dengan orang, saya bisa mengetahui sejauh mana kemampuan berbahasa saya saat ini. Saya menerima dengan lapang dada apabila ada konfrater saya yang memberikan masukan dan kritik terhadap cara penggunaan kata, kalimat dan bahasa yang saya gunakan. Saya percaya bahwa, masukan dan kritik dari teman-teman bukan untuk menjatuhkan saya, melainkan mendorong saya untuk menguasai bahasa dengan baik.

Saya teringat akan pesan pater Alfons, MI, magister novis saya dulu pada tahun 2021, “jika kalian tidak tahu apa-apa di tempat yang baru, jangan pernah malu untuk belajar dari hal-hal yang kecil. Jangan takut dikritik. Dengan dikritik, kalian akan mengetahui kelemahan. Pada akhirnya, kalian bertumbuh menjadi pribadi yang bisa mengatakan benar, jika itu memang-memang benar serta berani berkata salah, jika itu memang salah.” Nasihat bijak dari pater superior delegasi ini memotivasi saya untuk terus belajar bahasa di tempat misi. Walaupun terkadang para native di tempat misi menggunakan bahasa ibu. Tetapi tidak membuat saya, merasa putus-asa untuk belajar. Tugas saya sebagai “orang asing” di tanah misi ialah mendengarkan mereka.

Sdr. Agust GND, MI
(Sedang menjalani masa TOP I)

Address

Jalan Trans Ende/Maumere, Nita, Kab. Sikka
Ntt

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Postulat St. Kamilus posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share