22/11/2023
_KAMILIAN DAN PASTORAL RUMAH
Akhir-akhir ini, topik tentang krisis panggilan hidup menjadi seorang imam dan religious Katolik sudah semakin banyak dibicarakan. Topik ini mulai dibicarakan karena ada fakta yang menunjukkan bahwa di negara-negara tertentu, khususnya bagian Eropa terjadi krisis panggilan hidup menjadi seorang imam maupun religious Katolik pada umumnya. Hal ini dialami ordo Kamilian-provinsi German, bahwa sepuluh tahun belakangan ini mereka tidak mendapatkan calon imam dari negara tersebut. Akibatnya, beberapa rumah formasi yang sebelumnya dipersiapkan untuk pembinaan para calon imam dialihfungsikan menjadi apotik dan pengembangan pastoral misi Kamilian lainnya. Pater Manny Tamayo, MI, perwakilan konfrater provinsi-Jerman dalam kegiatan Renewal Course International the Order Ministers of the Infirm, pada 2 Oktober 2023 menceritakan, bahwa ada beberapa alasan mengapa terjadi krisis panggilan menjadi imam di Jerman.
Pertama, jumlah penduduk yang semakin menurun. Di Jerman, menurut P. Manny, orang menikah bukan satu-satunya bertujuan untuk memiliki anak tetapi hanya untuk mencari pasangan hidup (teman ngobrol). “Pasangan keluarga muda yang memilih hidup bersama di Jerman lebih pada orientasi karier. Mereka memilih pasangan hidup tidak semata-mata bertujuan untuk memiliki anak, tetapi berkomitmen untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Ada anak atau tidak, itu bukan menjadi sebuah persoalan. Yang terpenting mereka bisa bahagia. Menurut sebagian orang di Jerman, kebahagiaan tidak saja diperoleh dari kehadiran seorang anak, tetapi juga dari karier dan pasangan hidup." Ungkap pater misionaris yang sudah 26 tahun tinggal di negara der Dichter und Denker (para penyair dan pemikir) ini. Imbas dari kondisi semacam ini membuat pemerintah Jerman mendorong keluarga-keluarga muda untuk memiliki anak. Pemerintah menjamin kesejahteraan hidup perempuan yang sedang mengandung. Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan tunjangan kesehatan kepada perempuan yang sedang hamil, baik yang bekerja di perusahan-perusahan tertentu maupun masyarakat biasa lainnya.
Kedua, penurunan minat panggilan menjadi imam di Jerman disebabkan karena banyaknya kasus-kasus pelecehan yang diaktori oleh para imam. Banyak umat mulai acuh tak acuh terhadap hierarki Gereja Katolik. Umat mulai kehilangan kepercayaan terhadap para imam (Bdk. Franz M. Suseno, Zero Tolerance, Rohani: April 2019). Gereja-gereja tidak lagi dipadati oleh umat untuk menghadiri perayaan ekaristi. Yang sering hadir perayaan ekaristi ialah para orang tua, sedangkan para pemuda-pemudi amat jarang menghadiri perayaan ekaristi. Itulah sebabnya, pelayanan pastoral para imam di Jerman tidak saja menunggu umat datang ke gereja, tetapi sebagian para imam melakukan pastoral rumah.
Saya sendiri baru pertama kali mendengar istilah pastoral rumah. Karena itu dalam benak saya, supaya tidak menyia-yiakan kesempatan, saya langsung bertanya kepada pater provinsial-Jerman. “Pater, kira-kira bagaimana model pastoral rumah yang biasa dilakukan oleh para imam Kamilian di sana?" Sambil menikmati rokok Marlboro, pater Manny menjelaskan kepada saya dengan pelan-pelan. “Pastoral rumah yang saya maksudkan ialah suatu kegiatan, di mana para imam berani keluar dari rumah biaranya untuk menjumpai umat-umatnya. Pada awal-awal pastoral semacam ini, memang tidak mudah. Banyak umat tidak respek terhadap kehadiran kita. Tetapi, lama kelamaan ketika mereka sudah dan sering melihat, mereka pada akhirnya akan menerima kita. Dari sana, mereka mau berbagi cerita dengan kita. Karena jujur saja, di tengah kemajuan dunia sekarang ini, hanya sedikit orang yang mau mendengarkan cerita dari orang lain. Kesetiaan dalam mendengarkan adalah suatu kekuatan dari pastoral rumah."
Di tengah keseriusan mendengar cerita tentang pastoral rumah, saya justru dikejutkan pertanyaan dari P. Manny, “Agustinus, apakah kamu punya kemampuan mendengarkan orang lain?” Pater Manny melihat saya dengan penuh perhatian. Dia menunggu jawaban dari saya. Saya dengan polos menjawab beliau “Pater, kalau menarik saya akan dengar. Tetapi, selama ini berhadapan dengan orang-orang sakit dan orang-orang sederhana, saya berusaha untuk mendengarkan mereka." Pater Manny tidak menanggapi jawaban saya. Dia justru melanjutkan cerita tentang misi dan karya pastoralnya di Jerman. Dia katakan begini, “Tentu, kamu sudah mengetahui sedikit tentang kondisi hidup dan masyarakat di Jerman. Bahwa di negara tersebut, banyak melahirkan orang-orang hebat, baik pemikir maupun penyair (Karl Marx, Nietzsche, Habermas, dan lain sebagainya). Kalau melihat sejarah intelektual orang-orang di Jerman, saya pikir mereka tidak terlalu butuh kehadiran kita untuk peningkatan kualitas akademik mereka. Sebab, mereka sudah lebih maju dari kita, orang-orang Asia. Tetapi sebagai misionaris, masih ada hal-hal baik yang bisa kita kerjakan yakni, berusaha memulihkan kembali nama baik Gereja dengan bersikap baik, ramah dan memiliki kemampuan mendengarkan orang lain. Itu tugas kita sebagai misionaris di sana."
Narasi tentang situasi panggilan menjadi seorang imam dan kaum religius di Jerman oleh pater Manny, sebetulnya mengingatkan saya bahwa menjadi imam tidak semata-mata mengglorifikasikan kemampuan akademik, tetapi lebih daripada perlu diimbangi dengan kemampuan yang lain, seperti: memiliki rasa empati dan solidaritas terhadap orang lain. Sebab, di tengah peradaban zaman yang semakin maju, orang mungkin tidak akan mengalami kemiskinan harta, tetapi mengalami kemiskinan empati, kasih sayang, dan solidaritas kemanusiaan.
Karena itu, topik tentang “Spirituality and Consecrated Life: Prayer dan Discernment” oleh Pater Eric Escandor, SJ dalam kesempatan Renewal Course, pada (2/10/2023) sangat penting dihayati oleh kaum religious Kamilian. Pertama, menjadi imam bukan profesi untuk mengumpulkan harta. Pater Eric menyampaikan, “Dalam penghayatan kaul-kaul kebiaraan, kita tidak diijinkan untuk memiliki banyak barang. Sebab kita hidup sebagai misionaris, yang pada suatu saat akan diutus ke tempat yang lain. Milikilah barang sesuai dengan keperluan pastoral, bukan sesuai kemauan pribadi, supaya kita tidak merasa berat untuk melangkah ke tempat tugas yang baru. Kedua, dalam doa dan disermen kita setiap hari, hendaknya memiliki komitmen bahwa kita adalah seorang religius. “Banyak kasus, para imam maupun anggota religious kehilangan martabat imamat akibat tidak memiliki komitmen untuk menghayati hidup sebagai kaum selibater. Munculnya, keinginan-keinginan semacam ini karena tiga faktor: orang tersebut kurang menjalin relasi yang baik dengan Tuhan, sesama anggota komunitas maupun umat yang dilayaninya. Kalau kita memiliki hubungan baik dengan Tuhan, sesama anggota komunitas dan umat yang lain, maka setiap persolan bisa diatasi dengan baik."
Sdr. Agust Gnd, MI
(Sedang menjalani masa TOP I)