21/03/2024
*Pada tanggal 11 Ramadan,*
tiga tahun sebelum Hijrah, Ummil Mukminin Sayyidah Khadijah meninggalkan dunia ini. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki, jenazah Sayyidah Khadijah tidak disolatkan oleh Nabi karena pada saat itu belum ada aturan tentang shalat Jenazah. Namun, Nabi Muhammad Al-Mustafa turun langsung ke pusara makam istri tercintanya untuk mengangkat jenazah yang mulia tersebut. Dengan tangan-Nya sendiri, beliau meratakan tanah dan pasir di atas jenazahnya. Dalam prosesi pemakamannya, beliau dengan keringat yang bercucuran memimpin dan melaksanakan segala tugasnya.
Menurut Sayyid Muhammad Al-Maliki, Sayyidah Khadijah memiliki dua julukan, yaitu Khadijah At Tahirah dan Al Kubra. Dia disebut At Tahirah (yang suci) karena Ummil Mukminin ini dijaga oleh Allah dari sifat buruk jahiliyah, dan kekuatannya tetap suci sampai bertemu dengan Rasul Muhammad. Dia disebut Al Kubra (yang agung) karena berkah yang melimpah ruah kepada wanita mulia ini. Bahkan, dia adalah wanita terbaik di dunia.
Diceritakan oleh Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, Sayyidah Khadijah memiliki keistimewaan yang luar biasa sebelum menikah dengan Nabi. Dia sudah terkenal sebagai seorang pebisnis yang ahli dan memiliki penghormatan di kalangan suku Quraisy. Wajahnya mempesona, dia dermawan, pandai bergaul, memiliki kepemimpinan yang kuat terhadap para laki-laki, serta memiliki firasat yang tajam. Keistimewaan ini semakin bersinar saat Sayyidah Khadijah memberanikan diri melamar Nabi melalui perantara Sayyidah Nafisah binti Umayyah setelah mengalami serangkaian kejadian luar biasa selama perjalanan dagang Nabi di wilayah Syam, yang sekarang merupakan negara Suriah.
Dalam kitab Al Busyro fi Manaqib As Sayyidah Khadijah Al Kubra dijelaskan bahwa istri pertama Nabi adalah Sayyidah Khadijah.