26/05/2026
SEKOLAH ABATA LOMBOK Soroti Lonjakan Gangguan Fokus Anak, Desak Perubahan Cara Pandang Pendidikan terhadap ADHD
MATARAM — Dunia pendidikan Indonesia dinilai masih terlalu cepat memberi label “nakal”, “malas”, atau “tidak disiplin” kepada anak-anak yang sebenarnya mengalami hambatan fokus, regulasi emosi, dan pola belajar yang berbeda.
Di tengah meningkatnya kasus gangguan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, SEKOLAH ABATA LOMBOK menilai banyak sistem pendidikan masih terjebak pada pendekatan lama: memaksa semua anak belajar dengan ritme yang sama, duduk tenang dengan pola yang sama, serta dinilai dengan ukuran keberhasilan yang seragam.
Padahal, berbagai referensi internasional menunjukkan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) bukan sekadar persoalan perilaku, melainkan berkaitan dengan cara kerja otak dalam mengatur fokus, impuls, emosi, hingga kemampuan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Bagi SEKOLAH ABATA LOMBOK, persoalan terbesar hari ini bukan hanya meningkatnya anak dengan gangguan fokus, tetapi ketidaksiapan banyak lingkungan pendidikan memahami mereka secara benar.
Akibatnya, tidak sedikit anak kehilangan rasa percaya diri sejak usia dini karena terus dibandingkan, dimarahi, atau dianggap bermasalah hanya karena memiliki pola tumbuh kembang yang berbeda.
“Banyak anak sebenarnya cerdas, kreatif, aktif, dan memiliki energi besar. Namun ketika sistem pendidikan hanya menghargai anak yang tenang dan seragam, maka anak-anak dengan karakter berbeda justru dianggap gagal,” demikian pendekatan pendidikan yang berkembang di lingkungan SEKOLAH ABATA LOMBOK.
Sekolah yang dikenal mengusung filosofi “mendidik dengan hati” itu menilai pendidikan modern harus mulai bergeser dari budaya kontrol menuju budaya pemahaman tumbuh kembang.
Menurut ABATA, anak dengan kecenderungan ADHD membutuhkan lingkungan belajar yang lebih adaptif: struktur yang jelas, rutinitas yang konsisten, aktivitas fisik yang cukup, komunikasi yang tenang, serta pendekatan disiplin positif yang tidak merusak harga diri anak.
Tim psikolog SEKOLAH ABATA LOMBOK, Bunda Dita, menilai banyak orang tua sebenarnya terlambat memahami tanda-tanda gangguan fokus pada anak karena masih menganggap semua perilaku aktif sebagai kenakalan biasa.
“ADHD bukan sekadar anak yang tidak bisa diam. Banyak anak justru mengalami kelelahan mental karena terus diminta mengikuti pola belajar yang tidak sesuai dengan cara kerja otaknya. Ketika anak terus dimarahi karena sulit fokus, sulit duduk tenang, atau emosinya mudah meledak, yang rusak bukan hanya perilakunya, tetapi juga rasa percaya dirinya,” ujar Bunda Dita.
Menurutnya, kesalahan terbesar lingkungan dewasa adalah terlalu fokus menuntut anak berubah cepat, tetapi minim memahami kebutuhan regulasi emosi dan sistem pendampingan yang tepat.
“Anak dengan hambatan fokus bukan berarti tidak cerdas. Banyak dari mereka memiliki kreativitas, rasa ingin tahu, dan energi besar. Yang mereka butuhkan adalah pola pendampingan yang konsisten, lingkungan yang memahami, serta komunikasi yang tidak menghakimi,” tambahnya.
Sejumlah penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa aktivitas fisik terstruktur, dukungan emosional, dan pola pendampingan yang tepat memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan regulasi emosi dan fokus anak dengan ADHD.
Karena itu, SEKOLAH ABATA LOMBOK mulai memperkuat pendekatan psikologi pendidikan, observasi tumbuh kembang, komunikasi intensif dengan orang tua, serta model pembelajaran yang lebih fleksibel terhadap kebutuhan anak.
Langkah tersebut dinilai penting karena krisis pendidikan hari ini bukan hanya soal rendahnya nilai akademik, tetapi semakin banyaknya anak yang tumbuh tanpa kepercayaan diri, mudah cemas, kehilangan fokus, dan gagal mengenali potensi dirinya sendiri.
Bagi ABATA, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar angka dan ranking. Sekolah harus menjadi ruang aman yang membantu anak memahami dirinya, mengelola emosinya, membangun fokusnya, dan tumbuh menjadi manusia yang sehat secara mental maupun sosial.
Di tengah sistem pendidikan yang masih sibuk menyeragamkan anak, pendekatan seperti ini mulai dipandang sebagai arah baru pendidikan Indonesia yang lebih ilmiah, lebih manusiawi, dan lebih relevan menghadapi tantangan generasi masa depan.
Saharjo Lombok
Amalia Shufiana
Taman Kanak Kanak Abata
Smpit Abata Lombok
Sdit Abata Lombok
Paudit Abata
Kb Abata Dưa
Tpq Abata Lombok I
Abata
Kantin Abata
TK IT ABATA PRAYA
Abata III