12/09/2025
Hal sederhana yang bisa menjagamu tetap menjadi manusia adalah "percakapan". Ia bisa menghilangkan kebosananmu, menjaga kewarasanmu dan meluaskan pikiranmu. Ia adalah hal mudah yang perlahan menjadi susah. Ia adalah hal paling manusiawi yang tergerus digitalisasi.
Di hadapan gawai dan layar, percakapan layaknya pilihan terakhir di antara aplikasi manja yang menunggu dibuka. Kepada gawai dan layar, muka kita lebih sering dihadapkan alih-alih menghadap wajah lawan bicara. Di hadapan gawai dan layar, kita perlahan kehilangan kemauan dan kemampuan untuk merajut percakapan. Tapi di pesantren, semua ironi itu mati.
Di pesantren, rasa bosan tidak diganti layar tapi lembaran kitab dan buku ajar. Di pesantren, rasa bosan tidak diganti monolog tapi dialog. Di pesantren, rasa bosan tidak diganti notifikasi tapi percakapan dan diskusi.
Rasa bosan yang diisi dengan percakapan akan menumbuhkan imajinasi, dan imajinasi akan menuntun aksi. Rasa bosan yang diganti dengan percakapan akan menumbuhkan empati, dan empati akan membuahkan simpati. Rasa bosan yang dihiasi dengan percakapan adalah kurikulum yang melatih manusia pesantren untuk hadir, bukan sekedar ada. Melatih untuk ingin mendengar, bukan sekedar ingin didengar.
Di tengah biasnya batas antara dunia nyata dan maya, yang dirajut oleh sinyal dan kabel, kita kerap menemukan ironi: yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh. Suara notifikasi perlahan membungkam suara hati, memaksa tangan lebih sering mengetik aksara kata daripada mengetuk tabula rasa.
Ada satu hal sederhana yang tetap mampu menjaga kita agar tidak kehilangan kemanusiaan: "percakapan". Dan pesantren adalah wadah yang melestarikannya.
βοΈ Abdul Aziz Faradhi
(pengajar di P.I. Zaid bin Tsabit)