23/06/2023
Abu Faiq Faisal El-Bilban
Berbagi lewat tulisan
23/06/2023
11/05/2023
𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗔𝘁𝗮𝘂 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗮𝗶𝗻 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮 𝗡𝘆𝗮𝗺𝗮𝗻
Semua kita dan yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, siapapun itu dan seperti apapun hebat, kaya, dan gantengnya..! Lalu, siapa yang akan merasakan kenyamanan dan ketenangan dengan kematianmu kelak, engkau yang merasakannya ataukah orang-orang baik bahkan makhluk bernyawa lain yang akan merasakannya?!
Engkau bisa memilihnya, karena engkau memang diberi pilihan, dan seluruh pilihanmu itu diketahui dan berada dibawah kehendak-Nya. Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya sedikitpun.
Orang baik lagi beriman, akan mendapatkan kemenangan, kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan dengan kematian dirinya, orang-orang baik serta makhluk disekitarnya akan merasakan kesedihan dan kerinduan mendalam karena kehilangan sosoknya di dunia.
Sebaliknya, orang yang buruk, dirinya akan merasakan penderitaan, kesedihan, dan kesengsaraan dengan kematiannya karena dia akan dihisab di alam kubur dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan buruknya dihadapan Allah dan Para Malaikatnya. Dan orang-orang serta makhluk lainnya akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan, merasa bersyukur dengan kematiannya.
Dunia ini bagi orang-orang sholih dan beriman adalah bagaikan penjara, karena senantiasa datang ujian dari Allah Ta'ala, nikmat adalah ujian yang dia tidak boleh sombong, ujub, bakhil, dan harus senantiasa berbuat kebaikan dan bersyukur dengan nikmat tersebut, dan itu berat, begitup**a musibah adalah ujian, musibah berupa kekurangan, bencana, sakit, gangguan dari orang lain dsb adalah ujian yang dia harus bersabar, ridho, tawakkal, tetap bersyukur, berbaik sangka, tidak iri-hasad, dan selalu berbuat baik sesuai dengan kemampuannya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah (W 59 H) radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir." (HR. Muslim 2956)
Dan tatkala kematian itu datang, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan masing-masingnya, orang mukmin dan orang kafir ataupun fajir,
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ الله وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
Dari Abu Qatadah bin Rib'i Al Anshari (W 54 H) radhiyallaahu 'anhu, ia menceritakan bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah dilewati jenazah, kemudian beliau bersabda, "Telah tiba gilirannya seorang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman." Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa maksud Anda ada orang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman?' Jawab Nabi, "Seorang hamba yang mukmin akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, manusia, negeri, pepohonan atau hewan menjadi nyaman karena kematiannya." (HR. Bukhari no. 6512 dan Muslim no. 950)
Kehidupan seperti apa yang kita inginkan, dan kematian seperti apa kelak yang akan kita alami..?! Sudah saatnya kita bertaubat dan menjadi lebih baik, siapapun dan seperti apapun kita saat ini, tentu kita ingin menjadi orang yang bahagia kelak di akhirat yang kekal, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Pengasih, dan senang dengan hamba-hamba-Nya yang bertaubat, beriman, dan beramal sholih. Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik untuk kita semua dan mewafatkan kita kelak dalam keadaan beriman dan husnul khotimah..
والله تعالى أعلم، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا.. اللهم آمين يا مجيب السائلين.
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahulláh
11/05/2023
𝗜𝘀𝘁𝗶𝗾𝗼𝗺𝗮𝗵 𝗛𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻
Seluruh yang ada pada diri seorang muslim yang taat, akan diserahkannya untuk Allah, Rabb-nya. Kapanpun dan dimanapun dia berada, tak peduli seperti apapun keadaannya, baginya, jangankan harta-benda yang dimilikinya, ibadahnya bahkan hidup dan matinya telah dia dermakan seluruhnya untuk Rabbnya yang telah menciptakannya dan mengujinya dengan kehidupan dunia.
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِله رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).'” (QS. Al-An'am [6]: 162-163)
Dunia bagi seorang muslim adalah tempat ujian, ujian yang begitu berat dan seringkali membuatnya lalai tertipu, yang sejatinya baginya adalah ladang menanam pahala dengan banyak beramal kebajikan dan menjauhi seluruh dosa-maksiyat, untuk dia panen kelak di akhirat.
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ وَلَهۡوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغۡفِرَةٌ مِّنَ ٱللهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadiid [57]: 20)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri (W 74 H) radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرةٌ، وإنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرَ كَيفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاء؛ فإنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسرائيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ.
"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai khalifah didalamnya. Karena itu berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. Sesungguhnya cobaan yang dialami oleh kaum Bani Israil yang pertama adalah pada wanita. (HR. Muslim no. 2742)
Karenanya, engkau akan melihat mereka, orang-orang yang beriman, senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, bersegera dalam perkara akhirat dan takut akan perbuatan maksiyat, sebagai karunia yang besar dari Allah Ta'ala.
سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱلله يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱلله ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ
"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadiid [57]: 21)
Ibadah bukanlah sekedar di bulan Romadhon, melainkan bulan Romadhon sebagai madrasah pembiasaan dan pengingat yang akan menghampiri kita setiap tahun sekali agar semoga kita menjadi orang yang bertaqwa dan istiqomah di sepanjang tahun, sampai kapanpun dan dimanapun, untuk selama-lamanya.
Kapan kita berhenti beribadah dan berjuang di jalan Allah?!
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ
"Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu." (QS. Al-Hijr [15]: 99)
Ambillah amal-amal ibadah yang sunnah yang sudah biasa engkau kerjakan selama di bulan Romadhon kemarin, yang walau sedikit, namun engkau bisa kontinu, terus-menerus, istiqomah menjalankannya, seperti qiyamul lail, tilawah Al-Qur'an dengan tadabbur hingga khatam, menghadiri majelis-majelis ilmu, adkzar, sholat-sholat sunnah, dll.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ : سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى الله قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ.
Dari Aisyah (W 58 H) radhiyallaahu 'anha, Nabi ﷺ pernah ditanya, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah?" Dia menjawab, 'Yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit, lalu beliau bersabda, 'Beramallah sesuai dengan kemampuan kalian.' (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 782)
عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ قَالَ : قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطِيعُ.
Dari Alqamah An-Nakhoi (W 61 H) radhiyallaahu 'anhu dia berkata, Saya bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah radhiyallaahu 'anha, "Wahai Ummul mukminin, bagaimanah amalan Rasulullah ﷺ? Apakah beliau mengkhususkan suatu amalan pada hari tertentu?" Aisyah menjawab, "Tidak, amalan beliau adalah terus menerus. Dan siapa pun kalian, pasti akan mampu melakukan amalan yang Rasulullah ﷺ mampu melakukannya." (HR. Bukhari no. 6466 dan HR. Muslim 783)
Dalam riwayat lain, perawinya berkata:
َ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ.
Dan Aisyah, bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya. (HR. Muslim 783)
Semoga Allah memberikan kepada kita keberkahan bulan Romadhon dan Lailatul Qodr tahun ini, mengaruniakan taufiq, hidayah, dan kemudahan dalam beramal shalih di sepanjang hidup kita, istiqomah dalam beramal sholih dan meninggalkan seluruh larangan semampu kita.
والله تعالى أعلم.
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahulláh
11/05/2023
𝗥𝗮𝘀𝗮 𝗧𝗮𝗸𝘂𝘁 𝗟𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗗𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽
قَالَ إِسْمَاعِيلُ الطُّوسِيُّ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي ذَاتَ يَوْمٍ الْغَدَاةَ خَلْفَ الْإِمَامُ وَمَعَنَا عَلِيُّ بْنُ فُضَيْلٍ فَقَرَأَ الْإِمَامُ: {فِيهِنَّ قَاصِرَاتٌ الطَّرْفِ} [الرحمن: ٥٦] فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ , قُلْتُ: يَا عَلِيُّ أَمَا سَمِعْتَ مَا قَرَأَ الْإِمَامُ قَالَ: مَا هُوَ قُلْتُ: {فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ} [الرحمن: ٥٦] و {حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ} [الرحمن: ٧٢] قَالَ: شَغَلَنِي ما كَانَ قَبْلَهَا: {يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارِ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرانِ} [الرحمن: ٣٥]
Ismá'il Ath-Thúsi berkata: Suatu hari kami pernah shalat shubuh sebagai makmum di belakang imam, dan bersama kami ada 'Ali bin Fudhail (bin 'Iyadh), imam pun membaca :
{فِيهِنَّ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٞ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنّٞ}
"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya." (QS. Ar-Rahmán [55]: 56)
Ketika imam salam, aku berkata: "Wahai 'Ali, tidakkah engkau mendengar bacaan imam tadi?"
"Apa itu?" kata 'Ali.
Aku berkata:
{فِيهِنَّ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٞ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنّٞ}
"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya." (QS. Ar-Rahmán [55]: 56)
Dan ayat,
حُورٞ مَّقۡصُورَٰتٞ فِي ٱلۡخِيَامِ
"Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah." (QS. Ar-Rahmán [55]: 72)
Dia pun berkata: "Pikiranku tersibukkan dengan ayat sebelumnya,
يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٞ مِّن نَّارٖ وَنُحَاسٞ فَلَا تَنتَصِرَانِ
"Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas) sehingga kamu tidak dapat menyelamakan diri (darinya)." (QS. Ar-Rahmán [55]: 35)
(Hilyatul Auliyaa wa Thabaqaatul Ashfiyaa: 8/297)
Subhanallah, dialah 'Ali bin Fudhail bin 'Iyadh, seorang ulama rabbani, anaknya ulama besar. Disebutkan dalam kitab Siyar:
وَكَانَ عَلِيٌّ قَانِتاً للهِ، خَاشِعاً، وَجِلاً، رَبَّانِيّاً، كَبِيْرَ الشَّأْنِ.
من كبار الأولياء ومات قبل والده. قَالَ الخَطِيْبُ: مَاتَ قَبْلَ أَبِيْهِ بِمُدَّةٍ مِنْ آيَةٍ سَمِعَهَا تُقْرَأُ، فَغُشِيَ عَلَيْهِ، وَتُوُفِّيَ فِي الحَالِ.
"'Ali adalah seorang yang taat kepada Allah, takut, gemetar (takut kepada Allah), rabbani, tinggi kedudukannya. Diantara wali Allah yang agung, wafat sebelum ayahnya. Al-Khotíb berkata: Wafat beberapa waktu sebelum ayahnya karena mendengarkan ayat Al-Qur'an yang dibaca, hingga dia pingsan dan wafat." (Siyar A'lámun nubalá: 8/443)
Fudhail bin 'Iyadh wafat pada tahun 187 H, dan 'Ali wafat sebelum tahun tersebut. 'Ali bin Fudhail adalah termasuk diantara beberapa ulama yang meninggal karena bacaan Al-Qur'an yang didengarnya, saking besarnya rasa takutnya akan azab dan ancaman Allah yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang didengarnya. Dalam kitab Qatlaal Qur'an, 'orang-orang yang wafat karena mendengar bacaan Al-Qur'an' karya Abi Ishaq Ats-Tsa'labi (W 427 H), beliau disebutkan termasuk diantaranya (hal 58-60). Beberapa kali beliau pingsan dalam shalatnya ketika mendengar ayat-ayat ancaman dan azab, hingga suatu hari Beliau pingsan dan tidak tersadar lagi setelahnya.
Disebutkan dalam sebuah riwayat:
أَنْبَأَنِي المقداد القيسي، أخبرنا بن الدَّبِيقِيِّ، أَخْبَرَنَا أبي بَكْرٍ الأَنْصَارِيُّ، أَخْبَرَنَا أبي بَكْرٍ الخَطِيْبُ، أَخْبَرَنَا أبي الحُسَيْنِ بنُ بِشْرَانَ، أخبرنا علي ابن مُحَمَّدٍ المِصْرِيُّ، سَمِعْتُ أَبَا سَعِيْدٍ الخرَّازَ، سَمِعْتُ إِبْرَاهِيْمَ بنَ بَشَّارٍ يَقُوْلُ: الآيَةُ الَّتِي مَاتَ فِيْهَا عَلِيُّ بنُ الفُضَيْلِ فِي الأَنْعَامِ: {وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ} [الأَنْعَامُ: 27] . مَعَ هَذَا المَوْضِعِ مَاتَ، وَكُنْتُ فِيْمَنْ صَلَّى عَلَيْهِ -رَحِمَهُ اللهُ.
Ibrohim bin Basyyar berkata: ayat yang membuat Ali bin Fudhail wafat ketika mendengarnya adalah ayat di QS Al-An'ám ayat 27,
وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
"Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, 'Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.'” (QS. Al-An'ám [5]: 27)
Beliau pun wafat ditempat, aku termasuk orang yang mensholatinya, semoga Allah merahmatinya. (Qatlaal Qur'an: 58)
والله تعالى أعلم..
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahulláh
11/05/2023
𝗣𝗶𝗹𝗶𝗵𝗹𝗮𝗵 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗶𝗸 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗵𝗹𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮
Kebanyakan ikhwan dan akhwat yang belum pada nikah memiliki banyak alasan atau kendala. Ada ikhwan yang bilang, uang panaik (uang untuk acara pesta pernikahan) mahal dan belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, ada yang bilang tidak PD dan belum berani ngelamar karena merasa belum mapan walau padahal sudah kepingin banget menikah, ada juga yang bilang, sudah coba maju namun selalu ditolak karena mungkin dirasa kurang kaya atau kurang tampan.
Padahal Nabi shallalláhu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan dan memerintahkan untuk menilai seorang ikhwan dari 2 indikator saja, yaitu baiknya agamanya (ilmu & amal shalihnya) dan akhlaknya.
عَنْ أَبِي حَاتِمٍ الْمُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ قَالُوا يَا رَسُول اللهِ، وَإِنْ كَانَ فِيهِ. قَالَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
Dari Abu Hatim Al-Muzani radliyalláhu 'anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika seseorang datang melamar (anak perempuan atau kerabat) kalian, sedang kalian ridha pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan." Para sahabat bertanya, "Meskipun dia memiliki kekurangan (tidak kaya)." Beliau bersabda, "Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian ridha pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia." Beliau mengatakannya tiga kali. (HR. Tirmidzi no. 1085)
Dalam riwayat lain,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ.
Dari Abu Hurairah radliyalláhu 'anhu ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai ahlak dan agamanya, maka nikahkanlah (dengan anakmu). Jika tidak kalian lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang banyak di muka bumi." (HR. Ibnu Majah no. 1967)
Dan Nabi shallalláhu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan untuk memudahkan khitbah (lamaran) dan meringankan biaya mahar,
َ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْنُ الْمَرْأَةِ تَيْسِيرُ خِطْبَتِهَا وَتَيْسِيرُ صَدَاقِهَا.
Dari Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Wanita yang berbarakah adalah yang memudahkan dalam khitbahnya dan meringankan maharnya." (HR. Ahmad no. 23466)
Adapun kondisi yang akhwat, yang beberapa kali gagal padahal dia dan keluarganya tidak menuntut harta yang banyak dari sang ikhwan, bilangnya sudah beberapa kali ada ikhwan yang coba mendekati, namun tiba-tiba si ikhwan hilang begitu saja bahkan padahal sudah nazhor, mungkin karena tau kalau sang akhwat tidak cantik seperti yang dibayangkan si ikhwan itu. Ada juga ikhwan yang maunya sama akhwat yang kaya saja. Bahkan yang parah, ada ikhwan biasa saja, namun katanya maunya yang putih, cantik, kaya, keturunan konglomerat.. Subhanallah..! Tidakkah Nabi shallalláhu 'alaihi wa sallam memberikan kriteria memilih akhwat, dan yang diajarkan oleh Beliau adalah pilihlah karena agamanya, 1 kriteria saja..! Agar sang ikhwan beruntung, untung di dunia dan di akhirat bi idznillah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
Dari Abu Hurairah radliallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)
Semoga Allah mudahkan, ikhwan-akhwat yang belum menikah agar dapat segera menyempurnakan agamanya dan istiqomah diatas ketaqwaan, allaahumma aamiin.
والله تعالى أعلم..
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahulláh
11/05/2023
𝗠𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗹𝗮𝗵 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗮𝗿𝗮 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِيْ مُوْسَى التَّسْتُرِيُّ: قِيْلَ لِيْ حَيْثُمَا كُنْتَ فََكُنْ قُرْبَ فَقِيْهٍ، فَأَتَيْتُ بَيْرُوْتَ إِلَى الأَوْزَاعِيِّ، فَبَيْنَمَا أَنَا عِنْدَهُ إِذْ سَأَلَنِيْ عَنْ أَمْرِيْ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ لِيْ: أَلَكَ أَبٌ؟ قُلْتُ: نَعَمْ تَرَكْتُهُ بِالْعِرَاقِ مَجُوْسِيًّا، قَالَ: فَهَلْ لَكَ أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ، لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَهْدِيَهُ عَلَى يَدَيْكَ؟ قُلْتُ: تَرَى لِيْ ذَلِكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَأَتَيْتُ أَبِيْ فَوَجَدْتُهُ مَرِيْضًا، فَقَالَ لِيْ: يَا بُنَيَّ، أَيُّ شَيْءٍ أَنْتَ عَلَيْهِ؟ فَأَخْبَرْتُهُ أَنِّيْ أَسْلَمْتُ، فَقَالَ لِيْ: اِعْرِضْ عَلَيَّ دِيْنَكَ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ، قَالَ: فَإِنِّيْ أَشْهَدُ أَنِّيْ قَدْ أَسْلَمْتُ، فَمَاتَ فِيْ مَرَضِهِ ذٰلِكَ، فَدَفَنْتُهُ وَرَجَعْتُ إِلَى الأَوْزَاعِيِّ فَأَخْبَرْتُهُ.
Abdullah bin Abi Musa At-Tustari rahimahullah berkata: Aku pernah dinasehati, "Kemanapun kamu pergi, selalu mendekatlah kepada ahli ilmu." Aku pun mendatangi Beirut dan mendekati Al-Auzaa'i (W 157 H) rahimahullah, ketika aku berada di dekatnya, dia bertanya kepadaku tentang perkaraku, maka akupun mengabarinya. Dia berkata kepadaku: "Apakah kamu punya ayah?" Aku berkata: "iya, aku meninggalkannya di Iraq dalam keadaan beragama Majusi." Dia berkata: "Apakah kamu akan p**ang kepadanya? Semoga saja Allah memberinya hidayah melalui perantaramu." Aku berkata: "Apakah menurutmu itu yang terbaik untukku?" Dia berkata: "Ya." Maka akupun p**ang menemui ayahku dan aku dapati dia dalam keadaan sakit. Dia bertanya kepadaku: "Wahai anakku, apa agama yang kamu peluk saat ini?" Maka, akupun mengabarinya bahwa aku telah masuk Islam. Dia meminta kepadaku: "Jelaskan kepadaku tentang agamamu itu?" Akupun mengabarinya tentang Islam dan pemeluknya. Dia pun berkata: "Sungguh aku bersaksi bahwa aku telah memeluk Islam." Tidak lama, beliaupun meninggal karena penyakitnya tersebut. Akupun menguburnya dan kembali kepada Auzaa'i lalu mengabarinya.
📚 Táríkh Dimasyq karya Ibnu 'Asaakir (W 571 H) rahimahullah: 33/231
13/02/2023
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗸𝗮𝗹?!
Tidak ada anak yang nakal ketika lingkungan, orang tua, keluarga, para pendidik disekitarnya, bisa memahami karakter anak dengan benar dan sang anak mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang tepat.
Mengapa anak bisa menjadi anak yang nakal? Karena lingkungannya yang menjadikannya demikian. Sang anak mungkin melakukan kesalahan, dia juga mungkin melakukan sesuatu yang dianggap buruk oleh orang disekitarnya. Namun yang menjadikannya nakal sesungguhnya bukanlah tingkah lakunya tersebut, melainkan perlakuan orang-orang disekitarnya ketika dia melakukan hal yang salah tersebut.
Karakter anak dalam melakukan kesalahan itu unik dan berbeda-beda. Ya.. Ada yang dia akan langsung berubah ketika dimarahi, ada yang malah semakin menjadi-jadi ketika ditegur, ada yang butuh lebih dari sekali diingatkan baru berubah, ada yang didiamkan akan sadar dan berubah, ada yang harus dihukum, dll.
Sebab anak melakukan kesalahan juga berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar coba-coba, ada yang ikut-ikutan, ada yang cari perhatian, ada yang karena terpaksa, ada juga yang karena tak sengaja, dan lain sebagainya.
Ketika dia di cap atau dilabeli, baik dengan perkataan orang lain ataupun tindak-tanduk bahkan isyarat yang mengarah kepadanya, atau mungkin orang menjauhinya, tak mau berbicara dengannya hanya karena satu atau beberapa kesalahan yang dia buat dengan berbagai sebab yang pada umumnya sang anak belum menyadari kesalahannya.
Butuh lingkungan yang baik dan mengerti tentang karakter anak. Bukan yang mendiamkan atau tidak peduli dengan kesalahan mereka, bukan p**a lingkungan yang menjudge bahkan menjauhi anak-anak yang dianggap s**a membuat kesalahan, atau mungkin berlebihan dalam memberikan sanksi kepada sang anak tanpa memperhatikan dengan teliti karakter sang anak.
Kalau dokter saja memberikan mendiagnosa dan memberikan resep butuh screening tentang berbagai hal dari sang pasien, maka sekiranya, demikian p**alah sang guru, orang tua, ataupun pendidik dalam mendidik dan memperbaiki karakter atau kesalahan anak.
Dalam hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً.
ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ.
فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ.
فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ.
فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ.
Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah ﷺ telah bersabda,
"Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah tobatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab, 'Tidak. Tobatmu tidak akan diterima.' Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata, 'Saya telah membunuh seratus orang dan apakah tobat saya akan diterima?' Orang alim itu menjawab, 'Ya. Tidak ada penghalang antara tobatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.'
Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata, 'Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertobat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.' Malaikat Azab membantah, 'Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.'
Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata, 'Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.'
Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.' Qatadah berkata, 'Al Hasan berkata, 'Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup." (HR. Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766, dengan lafazh Muslim)
Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya berdasarkan ilmu Allah yang Maha Sempurna, ada yang membunuh 1 orang saja atau bahkan seekor binatang, bisa masuk ke dalam neraka dan diazab di dalamnya, namun ada yang membunuh 100 orang namun Allah memberikannya hidayah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya dengan segala kenikmatan di dalamnya. Lingkungan yang baik dan memahami karakter anak akan membuat perubahan besar kepada diri anak walau senakal apapun dia, dan tentunya semuanya berada dibawah kehendak Allah Subhánahu wa Ta'ála.
Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya untuk kita semua, sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
والله تعالى أعلم. اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك، اللهم يا مصرف القلوب صرف قلبي على طاعتك. ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. آمين يا مجيب السائلين.
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahullah
13/02/2023
𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗔𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗔𝗺𝗮𝗹
Hal yang dituntut dari ilmu yang telah dipelajari adalah untuk diamalkan. Ilmu yang tak diamalkan hanya akan menjadi kehinaan bagi pemiliknya. Sebagaimana semangat untuk belajar ilmu maka hendaknya diiringi semangat untuk mengamalkannya. Ikhlas dalam belajar maka pasti akan melahirkan semangat dalam mengamalkan, sebaliknya tanpa keikhlasan maka yang diharapkan hanyalah ketenaran, pengakuan, kemampuan mendebat, ataupun kepentingan dunia lainnya.
Al-Khatib Al-Baghdadi Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit (W 463 H) rahimahullah dalam kitabnya Iqtidha' Al-Ilmi Al-Amal (Tuntutan ilmu adalah amal) berkata (hal 15):
إِنِّيْ مُوْصِيْكَ - يَا طَالِبَ العِلْمِ - بِإِخْلاَصِ النِّيَّةِ فِيْ طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى العَمَلِ بِمُوْجِبِهِ؛ فَإِنَّ العِلْمَ شَجَرَةٌ، وَالعَمَلَ ثَمْرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلاً، فَلاَ تَأْنَسْ بِالْعَمَلِ مَا دُمْتَ مُسْتَوْحِشًا مِنَ العِلْمِ، وَلاَ تَأْنَسْ بِالعِلْمِ مَا كُنْتَ مُقَصِّرًا فِيْ العَمَلِ، وَلَكِنَّ الجَمْعَ بَيْنَهُمَا، وَإِنْ قَلَّ نَصِيْبُكَ مِنْهُمَا.
"Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu wahai penuntut ilmu, agar mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh dalam beramal yang menjadi konsekuensinya. sesungguhnya ilmu itu bagaikan pohon, maka amal adalah buahnya. Bukan seseorang itu termasuk orang yang berilmu, sampai dia mengamalkan ilmunya. Maka janganlah kamu bersemangat dalam beramal selagi engkau benci terhadap ilmu, dan janganlah engkau gemar dalam menuntut ilmu kalau engkau masih malas dalam beramal, melainkan gabungkanlah diantara keduanya, walau sedikit bagianmu dari keduanya."
وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَه لِفَسَادِ طَرِيْقَتِهِ، وَجِاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ، وَالقَلِيْلُ مِنْ هَذَا مَعَ القَلِيْلِ مِنْ هَذَا أَنْجَى فِيْ العَاقِبَةِ، إِذَا تَفََضَّلَ اللهُ بِالرَّحْمَةِ، وَتَمَّمَ عَلَى عَبْدِهِ النِّعْمَةَ.
"Tidak ada sesuatu yang lebih rendah daripada, seorang yang berilmu, ditinggalkan ilmunya oleh manusia karena buruknya caranya dalam menyampaikan (omong besar, tak mau beramal), dan orang yang bodoh, manusia mengambil kebodohannya karena mereka melihat dari rajinnya ibadahnya. sedikit dari masing-masing model orang tersebut yang selamat di penghujungnya, kecuali Allah memberikan rahmat-Nya sebagai keutamaan untuknya, dan menyempurnakan untuk hamba-Nya tersebut nikmat-Nya (dengan menjadikannya berilmu dan beramal)."
فَأَمَّا المُدَافَعَةُ وَالإِهْمَالُ، وَحُبُّ الهُوَيْنَا وَالاِسْتِرْسَالِ، وَإِيْثَارُ الخَفْضِ وَالدَّعَةِ، وَالمَيْلُ مَعَ الرَّاحَةِ وََالسَّعَةِ؛ فَإِنَّ خَوَاتِيْمَ هَذِهِ الخِصَالِ ذَمِيْمَةٌ، وَعُقْبَاهَا كَرِيْهَةٌ وَخِيْمَةٌ، وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ، كَمَا العَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ، فَإِذَا كَانَ العَمَلُ قَاصِرًا عَنِ العِلْمِ؛ كَانَ العِلْمُ كَلاَّ عَلَى العَالِمِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلاًّ، وَأَوْرَثَ ذُلاًّ، وَصَارَ فِيْ رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غُلاًّ. انتهى
"Adapun orang yang tetap berpaling dan lalai, s**a santai-santai dan hidup enak, lebih s**a dengan hal yang rendah dan bersenang-senang, memilih bermalas-malasan dan hidup serba enak, maka sesungguhnya akhir perkaranya pastilah kehinaan, balasan untuknya pastilah hal yang tidak menyenangkan dan keburukan. Ilmu itu dipelajari dimaksudkan untuk diamalkan, sebagaimana amal itu dilakukan untuk meraih kesuksesan atau keselamatan. Apabila amal kurang daripada ilmu, maka ilmu itu membawa kebodohan atau kesuraman bagi pemiliknya, dan kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang membawa kepada kebodohan, mewariskan kehinaan, dan menjadi belenggu bagi pemiliknya."
والله تعالى أعلم. اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا،
وإنا نعوذ بك من علم لا ينفع، ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع، ومن دعوة لا يستجاب لها. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. آمين يا مجيب السائلين.
✍️ Abu Faiq Faisal Dee El-Bilbani hafizhahullah
Click here to claim your Sponsored Listing.