15/12/2021
Amalan
Ringan di Lisan, Berat di Timbangan
Sebuah dzikir yang mudah dirutinkan setiap saat, namun berat di timbangan amalan. Dzikir tersebut adalah bacaan โSubhanallah wa bi hamdih, subhanallahil โazhimโ.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu โalaihi wa sallam, beliau bersabda,
ููููู
ูุชูุงูู ุฎููููููุชูุงูู ุนูููู ุงููููุณูุงูู ุ ุซููููููุชูุงูู ููู ุงููู
ููุฒูุงูู ุ ุญูุจููุจูุชูุงูู ุฅูููู ุงูุฑููุญูู
ููู ุณูุจูุญูุงูู ุงูููููู ููุจูุญูู
ูุฏููู ุ ุณูุจูุญูุงูู ุงูููููู ุงููุนูุธููู
ู
โDua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu โSubhanallah wa bi hamdih, subhanallahil โazhimโ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)
Dalam Muqoddimah Al Fath (Fathul Bari), Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut:
Maksud โdua kalimatโ adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan.
Maksud โdua kalimat yang dicintaiโ adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).
Maksud โdua kalimat ringanโ adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan).
Maksud โdua kalimat yang berat di timbanganโ adalah menunjukkan besarnya pahala.
Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir doโa penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah,
ุฏูุนูููุงููู
ู ูููููุง ุณูุจูุญูุงูููู ุงููููููู
ูู ููุชูุญููููุชูููู
ู ูููููุง ุณูููุงู
ู ููุขูุฎูุฑู ุฏูุนูููุงููู
ู ุฃููู ุงููุญูู
ูุฏู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู
ูููู
โDoโa mereka di dalamnya adalah: โSubhanakallahummaโ, dan salam penghormatan mereka adalah: โSalamโ. Dan penutup doa mereka adalah: โAlhamdulilaahi Rabbil โaalaminโ.โ (QS. Yunus: 10)
Sumber: Muqqodimah Al Fath, Ibnu Hajar Al Asqolani, hal. 474.