19/03/2017
Pembangunan Ideal
Dalam kacamata AMI Karya, Pembangunan itu bukanlah dilihat dari keberhasilan dalam bukti fisik semata. Namun lebih daripada itu, pembangunan itu meliputi segala aspek. Sehingga untuk mengukur berhasil atau tidaknya suatu pembangunan dapat dilihat dari fungsi yang sebelumnya telah direncanakan.
Sebuah analogi akan disajikan, mudah-mudahan dapat membantu teman-teman dalam menyimpulkan tulisan ini.
Untuk menguraikan kemacetan disalahsatu ruas jalan dalam suatu perkotaan, maka disetujuilah suatu paket pembangunan pelebaran jalan. Waktu terus berputar, jalan yang di idamkanpun telah selesai dan telah dapat dipergunakan. Namun, suatu hasil yang mengecewakan, ternyata pelebaran ruas jalan tersebut tidak menjadi solusi dalam menguraikan kemacetan yang lambat laun semakin menghambat aktifitas.
Lantas bagaimana solusinya?
Ternyata setelah difikirkan dan dianalisis, maka AMI Karya menyimpulkan bahwa pembangunan fisik bukanlah hal yang utama dalam memecahkan masalah. Ruas jalan yang diperlebar memang dapat menampung lebih banyak jumlah kendaraan, namun tidak juga berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena pembangunan itu tidak bisa dilaksanakan oleh satu atau beberapa pihak saja, namun semua pihak harus terlibat dalam mencapai tujuan pembangunan tersebut.
Pelebaran ruas jalan hanya salah satu dari beberapa tahapan yang harus dilaksanakan. Selain itu perlu juga menambah rambu-rambu berlalulintas untuk mengatur agar tidak saling berbenturan dan berebut. Tidak cukup sampai disitu, hendaknya rambu-rambu tersebut juga harus disosialisasikan dan diberikan arahan kepada pengguna ruas jalan tersebut agar rambu-rambu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiasan ruas jalan semata. Contohnya, mulai menyadarkan tentang bagaimana cara menyebrangi jalan yang benar, yaitu pada bidang zebra cross yang telah disediakan, bisa juga ditambah lampu lalu lintas sebagai rambu untuk penyebrang jalan, dan jarak zebra cross yang disediakan juga hendaknya sesuai dengan logika dan masuk akal agar pengguna jalan tidak keberatan untuk tertib.
Pengaturan tempat parkir juga perlu ditegaskan, bila perlu jangan ada lagi yang menjadikan badan jalan sebagai lahan parkir, biarkan saja itu menjadi tugas pelaku usaha yang menyediakan lahan parkir untuk pelanggannya masing-masing, cukup disedikan gedung atau suatu pulau parkir terpusat untuk menghindari parkir liar yang jelas memberikan kontribusi besar terhadap kemacetan.
Perlu juga diperhatikan drainase dari jalan tersebut, mengingat iklim Indonesia yang tropis, sehingga saat musim hujan sekalipun tidak terdapat genangan air yang dapat mengganggu arus lalu lintas.
Agar fungsi yang telah direncanakan tercapai, dan tahapan sebelumnya telah berhasil dilaksanakan dengan baik, tetap dijalankan pengawasan dan pemeliharaan selama umur rencana, agar tidak muncul hambatan-hambatan kecil yang sering menjamur berusaha untuk mencari keuntungan meskipun mengganggu fungsi yang direncanakan.
Itulah sebuah analogi singkat tentang sebuah pembangunan, mudah-mudahan para pembaca dapat mengambil kesimpulan, bahwa pembangunan itu bukanlah pembangunan fisik semata.