19/03/2026
Kesalahan yang sangat sering terjadi pada mahasiswa ketika menyusun kajian teori atau tinjauan pustaka adalah mencampuradukkan berbagai definisi tanpa arah yang jelas.
Pola yang muncul biasanya seperti ini:
“Menurut Sarafino & Smith, stres adalah…; menurut John W. Santrock, stres adalah…; sedangkan menurut Robert A. Baron & Don Byrne, stres adalah…”.
Lalu semua definisi tersebut dikompilasi begitu saja dan “dipaksakan” menjadi satu kesimpulan umum tentang stres, yang kemudian dijadikan dasar definisi operasional di Bab 3.
Pendekatan seperti ini bermasalah secara metodologis. Mengapa? Karena setiap tokoh membawa kerangka teoritis, asumsi, dan konteks yang berbeda. Ketika semua definisi dicampur tanpa seleksi dan tanpa posisi yang jelas, yang terjadi bukan sintesis, melainkan tumpukan konsep yang tidak koheren.
Dampaknya akan terasa langsung pada tahap berikutnya:
Anda akan kesulitan menyusun alat ukur. Indikator yang digunakan menjadi tidak konsisten, karena tidak berangkat dari satu teori yang utuh, tidak mencerminkan dimensi yang jelas, tidak selaras dengan konteks penelitian yang Anda ambil, akibat akhirnya, instrumen menjadi lemah secara validitas konstruk untuk mengukur sesuatu, tetapi tidak jelas apa yang sebenarnya diukur.
Sehingga kajian teori bukan tentang siapa yang Anda kutip paling banyak, tetapi teori mana yang Anda pilih dan mengapa. Tanpa itu, penelitian Anda kehilangan fondasi analitis sejak awal.