Permata Sunnah

Permata Sunnah

Share

Memurnikan Agama Islam Sesuai Al Quran dan As Sunnah Berdasarkan Pemahaman salaf

12/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

📘 Bimbingan Islam

🖇️ DI ANTARA WASIAT RASULULLAH ﷺ [BAG. 2 - TERAKHIR]

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

▪︎ Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا

“Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, karena mereka menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid.” [HR. Bukhari, no. 1330 dan Muslim, no. 529]

Nabi yang sangat keras dalam melarang umatnya untuk menjadikan kubur Nabi sebagai tempat ibadah meskipun ibadah tersebut ikhlas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau menjadikan kubur Nabi sebagai tempat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sudah dilaknat, lalu bagaimana lagi jika ibadah tersebut ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah karena sangat mengkhawatirkan kuburnya akan dijadikan sebagai sesembahan selain Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (yang disembah). Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [HR. Ahmad no. 7358]

▪︎ Dari Al-Mughirah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 1229]

Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke neraka.” [HR. Al-Bukhâri, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dosa besar, bahkan bisa kafir. Tidak ragu lagi bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia melakukan kekufuran.

▪︎ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita.” [HR. Tirmidzi]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” [HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Hadis ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadis tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh Ulama lainnya. Yang diancam dalam hadis di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk dalam perbuatan menyentuh.

▪︎ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” [Mutafaqun Alaihi]

Yakni, barang siapa yang tidak menyukai jalanku dan melakukan ibadah yang lebih keras, maka dia bukan termasuk golonganku. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah itu Mahapengampun lagi Mahapenyayang." [QS. Ali ‘Imran: 31]

▪︎ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718]

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim no. 1718]

Hadis ini menjelaskan bahwa semua peribadatan yang dilakukan dengan cara yang dilarang atau tidak diperintahkan adalah rusak (batal , tidak diterima oleh Allah), maka ia menjadi amalan yang sia-sia.

▪︎ Dari Zaid bin Arqam, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” [HR. Muslim]

Ilmu yang tidak bermanfaat, maksudnya ialah ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di dunia dan akhirat. Akan tetapi justru ilmu tersebut menjadi bencana dan penyebab kesengsaraan dan kebinasaannya. Dengan sebab ilmu tersebut dia menjadi orang yang tersesat di dunia dari jalan Allah yang lurus, dan di akhirat menyebabkan dirinya disiksa oleh Allah di alam kubur maupun di dalam api neraka. Nau’udzubillah min dzalik.

Sebagai penutup, kita berdoa semoga Allah Azza wa Jalla menganugerahkan keikhlasan dan ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian. Dan tidak lupa kita berdoa pada Allah agar diberi Ilmu yang Bermanfaat.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni]

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي, وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ, وَ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, Dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: Buku “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dan Referensi lainnya.

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

11/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

🖇️ APA ITU THIYARAH?

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati).” [HR. Abu Daud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud]

Ath thiyarah disebut juga at tathayyur. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

التطـيُّر: هو التشاؤم من الشيء المرئي أو المسموع

“At tathayyur artinya merasa sial karena suatu pertanda yang dilihat atau didengar.” [Miftah Daris Sa’adah, 3/311]

Sebagian Ulama membedakan ath thiyarah dengan at tathayyur. Al Qarafi rahimahullah mengatakan:

فالتطير: هو الظن السيّئُ الكائن في القلب، والطِّـيَرة: هو الفعل المرتَّب على هذا الظن من فرار أو غيره

“At tathayyur artinya sangkaan dalam hati bahwa akan terjadi kesialan. Sedangkan at thiyarah adalah perbuatan yang dihasilkan dari tathayyur, yaitu berupa lari atau perbuatan lainnya.” [Al Furuq, 4/1367]

Contohnya, jika seseorang ketika hendak pergi keluar rumah, lalu tiba-tiba ia kejatuhan cicak. Kemudian timbul dalam hatinya perasaan bahwa ia akan sial karena pertanda berupa kejatuhan cicak tersebut. Inilah tathayyur. Jika ia mengurungkan niatnya untuk pergi, inilah thiyarah. Ini semua adalah kesyirikan, sebagaimana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam katakan dalam hadis di atas.

Semua bentuk merasa sial yang muncul dalam sangkaan, sekedar melihat pertanda yang buruk juga, yang tidak ada hubungan sebab-akibat secara syar’i atau qadari (ilmiah), maka itu thiyarah. An Nawawi rahimahullah mengatakan:

والتطير: التشاؤم، وأصلُهُ الشيءُ المكروه من قول، أو فعل، أو مرئي

“At tathayyur artinya merasa sial, dan landasannya pada perkara-perkara yang buruk, baik berupa perkataan, perbuatan atau sesuatu yang dilihat.” [Syarah Shahih Muslim, 4/2261]

Contoh lainnya:
- Merasa akan ada yang mati karena ada burung gagak.
- Merasa akan ada yang mati karena mata berkedut.
- Merasa sedang digosipi oleh orang karena telinga berkedut.
- Merasa akan sial karena gelas pecah, dan lain-lain.

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: Fawaid Kangaswad

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

11/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

📘 Bimbingan Islam

🖇️ DI ANTARA WASIAT RASULULLAH ﷺ [BAG. 1]

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

▪︎ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal bagi kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya setelah berpegang teguh dengan kedua hal tersebut: (yaitu) Kitabullah dan sunnahku.” [HR. Al-Hakim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai sekalian manusia, sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian kalian tidak akan tersesat selamanya: (yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (I/93)]

Dalam hadis di atas, Nabi yang mulia memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah, yang merupakan jalan beragama yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya.

▪︎ Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،

“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian.” [HR. Ahmad]

Berpegang teguh kepada Sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah (ajaran) para khulafaur rasyidin dan para sahabat inilah solusi di saat umat menghadapi perselisihan, tidak ada jalan lain!

▪︎ Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Fatimah binti Muhamad, mintalah dariku harta semaumu, aku tidak dapat menolongmu sedikitpun di hadapan Allah.” [HR. Bukhari, no. 2602 dan Muslim, no. 206]

Nabi tidak bisa memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan tidak bisa mencegah kemudhorotan dari dirinya sendiri. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرّاً وَلا نَفْعاً إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (p**a) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” [QS. Yunus: 49]

▪︎ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah.” [HR. Al-Bukhari]

Makna hadis ini bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan masuk surga. Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

"Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau?" Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?" Beliau bersabda: "Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk Surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga)."

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat agar tidak berlebih-lebihan dalam memujinya. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji Isa putera Maryam. Aku hanyalah hambaNya, maka katakanlah, ‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan RasulNya)’.”

Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa 'alaihis sallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)Nya.” [Aqiidatut Tauhiid (hal 151)]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: Buku “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dan Referensi lainnya.

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

10/05/2026

🔗Gabung WaGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

🖇️ JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Dari sahabat Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu dosa-dosa besar?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dosa-dosa besar adalah mempersekutukan Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan putus harapan dari rahmat Allah Azza wa Jalla.” [HR. Al-Bazzar]

Putus asa dan putus harapan dari rahmat Allah Azza wa Jalla adalah sifat yang membinasakan. Sebab, putus asa dan putus harapan termasuk dosa-dosa besar.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang kafir.” [QS. Yusuf: 87]

وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

“Dan tidak berputus asa dari rahmat tuhannya kecuali orang yang tersesat.”
[QS. Al-Hijr: 56]

Sumber dari keputusasaan adalah kebodohan terhadap Allah Azza wa Jalla dan ketidak tahuan terhadap kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifatnya.

Orang yang putus asa dari rahmat Allah tidak mengetahui bahwa:
- Allah Maha Mengetahui, Maha Meliputi segala sesuatu, dan Maha Kuasa.

- ⁠Tidak ada sesuatu pun yang tidak mampu Allah lakukan di langit dan di bumi.

- ⁠Allah Maha Penerima Taubat, Maha Pengasih, yang selalu membentangkan tangannya di malam hari untuk menunggu taubatnya orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangannya di siang hari untuk menunggu taubat orang yang berbuat dosa di malam hari.

- ⁠Allah Maha Pemurah dan Maha Dermawan, tangannya penuh dengan kebaikan yang tidak akan pernah habis, yang terus-menerus Allah karuniakan kepada hamba-hambanya siang dan malam.

- ⁠Allah Maha Pengampun, tidak ada dosa sebesar apapun yang tidak mungkin diampuni oleh Allah.

- ⁠Allah Maha Pemalu dan Maha Baik, Allah malu kepada hamba yang mengangkat kedua tangannya kemudian Ia kembalikan dalam keadaan tangan kosong.

Maka untuk apa putus asa dan putus harapan dari rahmat Allah, sedangkan Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"Sesungguhnya rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” [QS. Al-A’raf:156]

Barang siapa yang menyadari bahwa segala perkara berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah kendali Allah Jalla fi ‘Ula, dan bahwasanya semua akan berjalan sesuai dengan takdir dan keputusanNya, maka apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.

Apa yang menimpa seorang hamba tidak akan meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya. Apabila seseorang beriman dengan hal tersebut, hatinya akan tenang, tidak goncang, dan menjadi tentram.

Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seseorang merasa sedih, kecewa, atau galau, doa ini akan mengembalikan seseorang pada kondisi yang baik, yaitu doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِـيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِـيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي، وَنُوْرَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambamu, anak hambamu, anak hamba perempuanmu. Ubun-ubunku berada di tanganmu. Keputusanmu berlaku padaku, takdirmu adil padaku. Aku memohon kepadamu dengan semua nama yang Engkau namakan dirimu, atau yang Engkau turunkan dalam kitabmu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu mahlukmu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisimu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku.”

Tidaklah seseorang merasa sedih kemudian berdoa dengan do'a ini, kecuali Allah akan mengusir kesedihan dan kegalauannya, serta menggantikan dengan kebahagiaan. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: “Tidakah kami perlu mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Tentu, setiap orang yang mendengarnya seharusnya mempelajarinya, menghafalkannya, dan mengamalkannya.” [HR. Ahmad]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🖊️Oleh: Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahullah

💻 Sumber: https://www.radiorodja.com/54421-jangan-putus-asa-dari-rahmat-allah/

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

10/05/2026

🔗 *Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah:* https://kontakk.com/

_✉️ Tanya Jawab_

🖇️ MENGGANGTUNGKAN DOA-DOA PADA PINTU DAN SELAINNYA

Pertanyaan:
Kami melihat sebagian orang yang meletakkan lembaran-lembaran pada mobil-mobil mereka dan pada pintu-pintu mereka, seperti doa keluar rumah, doa duduk, yaitu doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam, lalu apakah itu dibenarkan?

Jawaban:
Saya tidak melihat bahwa hal itu dilarang, karena itu mengingatkan manusia. Banyak dari mereka yang tidak hafal doa-doa ini. Jika ditulis di depan mereka, maka mudah bagi mereka untuk membacanya.Tidak berdosa mengenai hal ini, misalnya seseorang menulis di majelisnya Doa Kaffaratul Majlis, untuk mengingatkan orang-orang yang duduk apabila berdiri supaya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan doa tersebut. Demikian p**a halnya dengan stiker kecil yang ditempelkan di depan pengendara di dalam mobil berupa doa naik kendaraan dan bepergian. Jadi, ini tidak mengapa.

[Nur ‘ala ad-Darb, hal. 42, Syaikh Ibnu Utsaimin]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: https://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatfatwa&id=1161

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 *Permata Sunnah*
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

09/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

🖇️ PARENTING ISLAMI [BAG. 3] : MEMILIH JENIS PERMAINAN UNTUK ANAK

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

● Masa Kecil Adalah Masa Bermain

Masa kecil adalah suatu masa banyak bermain, baik bermain di dalam rumah atau di luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya lainnya. Demikian p**a masa kecil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bermain-main dengan teman-teman sebaya beliau ketika masih kecil.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Jibril shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau sedang bermain dengan anak-anak kecil. Jibril mengambil dan menidurkan beliau, lalu membelah dan mengeluarkan jantungnya. Jibril mengeluarkan segumpal darah darinya seraya berkata, ‘Ini adalah bagian setan darimu.’ Jibril kemudian mencuci dalam bejana emas dengan air zamzam. Setelah itu, Jibril menjahit dan mengembalikan ke tempat semula.

Anak-anak kecil tersebut mendatangi ibu susu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh.’ Orang-orang lalu menyambut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan roman muka yang berubah (karena ketakutan, pen.).” Anas berkata: “Aku telah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau.” [HR. Muslim no. 162]

Jika demikian keadaan beliau ketika masih kecil yang merupakan calon Nabi, maka anak-anak lainnya tentu wajar saja ketika mereka juga butuh bermain-main dengan teman-teman sebaya mereka. Oleh karena itu, menjadi kewajiban orang tua untuk memperhatikan dan memilih jenis permainan untuk anak-anak, agar tidak bertentangan dengan syariat atau membahayakan jiwa mereka.

Anak-anak perlu diarahkan agar bermain dengan jenis permainan yang mubah yang tidak dilarang oleh syariat. Selain itu, dianjurkan bagi mereka untuk bermain dengan jenis permainan yang bermanfaat (menguatkan) bagi badan, serta bisa membuka dan mematangkan akal (otak) mereka.

● Memanah dan Menunggang Kuda

Di antara jenis permainan yang dianjurkan adalah memanah, berenang dan menunggang kuda. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [QS. Al-Anfal [8]: 60]

Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar ketika menjelaskan ayat di atas (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”,

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

“Ingatlah bahwa kekuatan itu letaknya di melempar, ingatlah bahwa kekuatan itu letaknya di melempar, ingatlah bahwa kekuatan itu letaknya di melempar.” [HR. Muslim no. 1917]

“Melempar” di masa silam adalah melempar anak panah, tombak dan yang sejenis dengan itu.

Demikian p**a diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتُفْتَحُ عَلَيْكُمْ أَرَضُونَ، وَيَكْفِيكُمُ اللهُ، فَلَا يَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَلْهُوَ بِأَسْهُمِهِ

“Kalian akan menaklukkan sejumlah negeri dan Allah Ta’ala akan mencukupi kalian. Oleh karena itu, jangan sampai salah seorang di antara kalian tidak mampu bermain dengan anak panahnya.” [HR. Muslim no. 1918]

Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sejumlah orang dari Bani Aslam yang sedang berlatih memanah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ، فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا، وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلاَنٍ

“Memanahlah kalian, wahai anak keturunan Ismail. Sesungguhnya bapak kalian (yaitu Nabi Ismail) adalah jago memanah. Memanahlah kalian, dan aku bersama (mendukung) bani fulan.”

Mendengar hal itu, salah satu kelompok (yang tidak didukung Nabi) tidak mau memanah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لَكُمْ لاَ تَرْمُونَ؟

“Mengapa kalian tidak mau memanah?”

Mereka berkata, “Bagaimana kami mau memanah sedangkan Engkau mendukung mereka?”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ارْمُوا فَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ

“Memanahlah, aku mendukung kalian semuanya.” [HR. Bukhari no. 2899]

Dalam dua hadis di atas, terdapat motivasi untuk berlatih memanah.

[Bersambung]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🖊️ Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

💻 Sumber: https://muslimah.or.id/9934-parenting-islami-bag-35.html

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

09/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

✉️ Tanya Jawab

🖇️ BOLEHKAH KITA MEMAKAI JAM TANGAN?

Pertanyaan:
"Apa hukum mengenakan jam tangan, karena sebagian orang menyalahkannya dengan dalih bahwa hal itu menyerupai kaum wanita?"

Syaikh bin Baz menjawab:
Kami menganggap bahwa tidak ada salahnya mengenakan jam tangan, dan itu tidak mengandung penyerupaan dengan kaum wanita, karena jam tangan wanita memiliki bentuk khusus, dan jam tangan laki-laki juga berbeda. Kalau pun bentuknya sama, juga tidak menjadi masalah, seperti halnya cincin dari perak yang sama-sama boleh dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan. Tujuan mengenakan jam tangan bukanlah sebagai perhiasan atau untuk menghias diri, namun tujuannya adalah untuk mengetahui waktu. Hanya Allah yang dapat memberikan taufik.

[Fatawa Syaikh Bin Baz Jilid 1, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Pustaka at-Tibyan]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-memakai-jam-tangan/

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

08/05/2026

🔗 Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: https://kontakk.com/

🖇️ PARENTING ISLAMI [BAG. 34] : KASIH SAYANG NABI TERHADAP ANAK KECIL

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Kasih sayang dalam mendidik anak tentu sangat dibutuhkan. Terlebih lagi ketika anak tersebut masih dalam usia anak-anak. Contoh teladan kita, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkannya kepada kita semua. Beliau demikian kasih sayang terhadap anak-anak beliau, dan juga terhadap anak para shahabatnya radhiallahu ‘anhum.

Berikut ini kami cantumkan beberapa hadis yang menunjukkan betapa beliau sangat sayang terhadap anak-anak.

Pertama, hadis yang diriwayatkan dari shahabiyah Ummu Khalid bintu Khalid radhiallahu ‘anha: Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah baju gamis kecil berwarna hijau. Lalu beliau bertanya: “Menurut kalian siapa yang (cocok) memakainya?” Para sahabat terdiam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Datangkan kemari Ummu Khalid.” Lalu aku pun dibawa sambil digendong. Kemudian beliau mengambil gamis tersebut dengan tangannya dan memakaikannya. Beliau kemudian berkata: “Mudah-mudahan (bajunya, pen.) awet.” Pada baju tersebut ada hiasan garis berwarna hijau atau kuning. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata: “Wahai Ummu Khalid, ini bagus.” [HR. Bukhari no. 5823]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian perhatian kepada anak-anak, sampai beliau pun mengerti kepada siapa baju tersebut bagus dikenakan. Demikian p**a beliau sangat penyayang kepada anak-anak, karena pada hadis ini beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Ummu Khalid dengan bahasa daerah asalnya, yaitu bahasa Habasyah (Etiopia) dengan mengatakan (هَذَا سَنَاهْ). Ini juga menjadi perhatian bagi kita, bahwa di antara kiat mendekatkan diri kepada anak-anak adalah dengan menggunakan bahasa yang biasa mereka gunakan atau bahasa yang mereka pahami.

Kedua, hadis yang diriwayatkan dari sahabat Al-Hasan radhiallahu ‘anhu sebagaimana diceritakan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, dan ketika beliau sujud, Al-Hasan (cucu beliau yang merupakan anak dari Ali, pen.) melompat-lompat di atas punggung dan tengkuk beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dengan pelan agar tidak mengejutkannya. Beliau melakukan ini tidak hanya sekali.

Ketika shalat telah usai, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang Engkau lakukan kepada Al-Hasan yang sebelumnya belum pernah kami lihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesugguhnya dia adalah penyejuk hatiku di dunia. Sesungguhnya cucuku ini merupakan seorang pemimpin (negarawan, pen.). Aku berharap kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dua kubu kaum Muslimin melaluinya.” [HR. Ahmad no. 20535. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadis ini shahih]

Dalam riwayat Bukhari (no. 3749) dan Muslim (no. 2422) disebutkan bahwa beliau menggendong dan mendudukkan Al-Hasan di atas pundak beliau dan berdo’a, “Yaa Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengajaran bagaimana bersikap kasih sayang kepada anak-anak walaupun dalam keadaan shalat. Lihat betapa kasih sayangnya beliau kepada cucunya (Al-Hasan), sampai pun ketika shalat beliau tidak ingin mengejutkannya ketika hendak mengangkat kepala. Lebih lagi, kasih sayang tersebut beliau wujudkan dengan doa yang baik kepada Al-Hasan. Ini salah satu sikap yang luar biasa.

Mungkin jika kita yang menghadapi kondisi demikian, dalam keadaan kita adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat, bisa jadi kita justru bersikap kasar atau bahkan memarahi sang anak. Padahal anak tersebut belum mengerti betul apa yang membuat kita marah. Namun satu hal yang harus diperhatikan ketika membawa anak ke masjid adalah jangan sampai niat kita untuk mengajari anak ke masjid justru mengganggu orang atau pun suasana ibadah di masjid.

Ketiga, hadis yang diriwayatkan dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَدْخُلُ الصَّلاَةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

“Sesungguhnya aku sedang shalat dan sangat ingin memperpanjang shalat. Lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil. Maka aku pun meringankannya (memendekkannya), karena ibunya akan kesusahan, gelisah karena tangisannya.” [HR. Bukhari no. 709 dan Muslim no. 3430]

Lihatlah betapa besar kasih sayang dan perhatian beliau kepada anak kecil ini. Sehingga beliau mengurungkan niat untuk memanjangkan shalat disebabkan tangisan anak kecil ini..

Keempat, hadis tentang kisah taubat seorang wanita yang sangat luar biasa.

Ma’iz bin Malik datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah sucikanlah aku …” Lalu datang wanita dari suku Ghamid dari kabilah Al-Azdi dan berkata, “Wahai Rasulullah sucikanlah aku.” Lalu beliau menjawab, “Celakalah kamu, kembalilah, mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada Nya.” Lalu wanita itu berkata, “Apakah Engkau akan menolakku sebagaimana Engkau menolak Ma’iz bin Malik?” Beliau menjawab, “Kalau demikian ada apa?” Lalu perempuan tersebut mengatakan, “Sesungguhnya aku hamil dari hasil zina.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah Engkau … ?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِمَّا لاَ فَاذْهَبِى حَتَّى تَلِدِى

“(Jika kamu tetap ingin demikian), kembalilah setelah Engkau melahirkan bayi yang ada di perutmu.”

Ketika dia telah melahirkan bayi tersebut, maka dia pun datang kembali dan menggendong bayinya. Dia berkata, “Ini bayinya telah aku lahirkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اذْهَبِى فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ

“Pergilah, susuilah dia hingga Engkau menyapihnya.”

Ketika dia sudah menyapih dan membawa bayi tersebut dengan memegang sepotong roti, dia pun berkata, “Ini, wahai Nabi Allah.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar digali lubang hingga setinggi dada dan memerintahkan orang untuk merajamnya.” [HR. Muslim no. 1695]

Lihatlah betapa kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita ini dan juga anak yang dikandungnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda hukuman rajam selama hampir 3 tahun kepada wanita ini dengan sebab kasih sayangnya kepada bayi kecil tersebut. Sehingga wanita tersebut bisa terlebih dahulu menyempurnakan periode penyusuan anaknya tersebut.

Demikianlah beberapa contoh kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak kecil. Janganlah kita menjadi orang tua yang kaku, keras, atau bahkan kasar kepada anak kecil karena setiap anak akan menginginkan kasih sayang dari orang tuanya. Wallahu a’lam.

[Bersambung]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🖊️ Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

💻 Sumber: https://muslimah.or.id/9921-parenting-islami-bag-34.html

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah
🛰 telegram.me/PermataSunnah
📷 instagram.com/permata.sunnah
📱 https://threads.net/.sunnah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Want your school to be the top-listed School/college in Makassar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address

Makassar