Ustadz Abdul Qodir, Lc.

Ustadz Abdul Qodir, Lc. Penulis buku "Beda Salafi dengan Hizbi".

🔰 Bahaya Lisan bagi Seorang Hamba Terkadang ada orang yang lebih mudah memperbanyak ibadah; ia dapat berdiri lama dalam ...
20/08/2026

🔰 Bahaya Lisan bagi Seorang Hamba

Terkadang ada orang yang lebih mudah memperbanyak ibadah; ia dapat berdiri lama dalam salat, menahan lapar dengan puasa, dan memperbanyak amal-amal kebaikan. Namun, ada satu perkara yang sering luput dari perhatian: menjaga lisan dan kehormatan manusia.

Sebab, lisan yang tidak dijaga dapat menghancurkan dalam sekejap apa yang telah dibangun oleh seseorang melalui ibadahnya selama bertahun-tahun. Ibarat nila setitik, merusak susu sebelanga.

Ibadah yang banyak semestinya melahirkan hati yang bersih dan lisan yang terjaga, bukan justru menjadi sebab seseorang meremehkan dan menyakiti orang lain.

Lisan itu ibarat pedang yang tidak terlihat; ia tidak memiliki sarung yang menahannya, kecuali ketakwaan pemiliknya.

Pedang yang berada di tangan orang yang bijak akan dijaga dan tidak dihunus, kecuali pada tempatnya, sedangkan di tangan orang yang ceroboh ia dapat melukai orang lain,

Demikian p**a lisan, satu kalimat yang ringan diucapkan, boleh jadi berubah menjadi luka yang panjang di hati seseorang, bahkan menjadi sebab kebangkrutan di akhirat.

🟪 Umar bin Abdul Aziz Al-Umawiy -rahimahullah- berkata,
أدركنا السلف، وهم لا يرون العبادة في الصوم ولا في الصلاة، ولكن في الكف عن أعراض الناس. فقائم الليل وصائم النهار إن لم يحفظ لسانه، أفلس يوم القيامة.
📙 التمهيد لابن عبد البر (۱۷/ 443)
“Kami mendapati para salaf. Mereka tidak memandang bahwa ibadah itu hanya terletak pada puasa dan salat, tetapi juga pada menahan diri dari mencela dan merusak kehormatan orang lain.
Seseorang yang menghidupkan malam dengan ibadah dan berpuasa di siang hari, jika ia tidak menjaga lisannya, maka ia akan menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat."
📙 At-Tamhid (17/443), karya Ibnu Abdil Barr

Nasihat ini mengajarkan kepada kita bahwa kesempurnaan ibadah, bukan hanya diukur dari banyaknya salat dan puasa, tetapi juga dari sejauh mana ibadah itu membuahkan ketakwaan dalam hati dan penjagaan terhadap lisan.

Jangan sampai seseorang begitu sibuk menghitung rakaat dan puasanya, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang telah ia lukai dengan perkataan, berapa banyak kehormatan yang telah ia jatuhkan dengan ghibah, dan berapa banyak dosa yang telah ia kumpulkan melalui lisannya.

Orang yang cerdas adalah orang yang menjaga kedua sisi ini: memperbanyak ketaatan kepada Allah dan menjaga hak-hak hamba-Nya.

Lisan ibarat pena yang tidak pernah berhenti menulis, sedangkan kehidupan kita adalah lembaran yang kelak akan dibuka pada hari kiamat.

Setiap kata yang keluar darinya akan menjadi bagian dari catatan amal; karena itu, hendaknya kita berhati-hati sebelum menorehkan sesuatu yang kelak kita sesali.

Betapa indah apabila lembaran itu dipenuhi dengan zikir, nasihat, perkataan yang baik, dan diam dari keburukan.

Sebab, keselamatan bukan hanya bagi orang yang banyak beramal, tetapi juga bagi orang yang mampu menjaga amalnya agar tidak dirusak oleh lisannya.

📌 Faedah dari Nasihat ini:

Berikut beberapa faedah penting dari nasihat Umar bin Abdul Aziz -rahimahullah- tersebut:

1/ Ibadah itu tidak terbatas pada salat dan puasa. Termasuk ibadah yang agung ialah menahan diri dari menyakiti kehormatan kaum muslimin, menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari ghibah, celaan, fitnah, serta perkataan yang menyakitkan.

2/ Menjaga lisan merupakan tanda sempurnanya ketakwaan. Seseorang tidak cukup hanya memperbanyak amal lahiriah, tetapi hendaknya ia memperhatikan lisannya, karena lisan merupakan salah satu anggota badan yang paling mudah menjerumuskan manusia kepada dosa.

3/ Kehormatan seorang muslim wajib dijaga. Perkataan yang merendahkan, mencela, menggunjing, atau membuka aib seseorang bukanlah perkara ringan. Seorang muslim hendaknya menjaga kehormatan saudaranya sebagaimana ia ingin kehormatannya sendiri dijaga.

4/ Banyaknya amal tidak menjamin keselamatan apabila lisan tidak dijaga. Seseorang boleh jadi banyak salat pada malam hari, dan banyak berpuasa pada siang hari, tetapi apabila ia gemar mencela dan menggunjing manusia, amalnya berada dalam bahaya.

5/ Para salaf sangat memperhatikan amalan hati dan anggota badan. Mereka tidak hanya melihat banyaknya ibadah, tetapi juga memperhatikan keikhlasan, akhlak, penjagaan lisan, dan keselamatan manusia dari gangguan mereka.

6/ Diam dari keburukan adalah ibadah. Tidak setiap perkataan harus diucapkan. Terkadang seseorang memperoleh pahala dengan diam, apabila perkataan tersebut tidak mengandung maslahat dan justru dikhawatirkan menimbulkan dosa.

7/ Lisan dapat menjadi sebab kebangkrutan pada hari kiamat. Seseorang yang memiliki banyak amal dapat kehilangan pahalanya karena kezalimannya terhadap manusia. Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan perkara yang sangat besar.

8/ Amal saleh seharusnya membentuk akhlak yang baik. Salat dan puasa yang benar semestinya mendorong seseorang untuk semakin takut kepada Allah, semakin lembut kepada manusia, dan semakin berhati-hati dalam berbicara.

9/ Dosa yang berkaitan dengan manusia memiliki bahaya yang besar. Ghibah, celaan, penghinaan, dan tindakan merusak kehormatan manusia tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah, tetapi seorang hamba harus memperhatikan hak orang yang dizaliminya.

10/ Keselamatan seseorang sangat berkaitan dengan kemampuannya mengendalikan lisannya. Lisan yang bentuknya kecil, tetapi besar pengaruhnya. Ia dapat menjadi sebab seseorang memperoleh kemuliaan, dan dapat p**a menjadi sebab kehinaan dan kebinasaan.

11/ Hendaknya seseorang menimbang perkataannya sebelum mengucapkannya, sebagaimana seseorang tidak akan melepaskan anak panah sebelum memastikan sasarannya. Demikian p**a seorang mukmin hendaknya tidak melepaskan perkataan sebelum mempertimbangkan akibatnya.

12/ Inti nasihat ini adalah menggabungkan ibadah kepada Allah dengan akhlak terhadap manusia. Seorang hamba hendaknya memperbanyak salat dan puasa sekaligus menjaga lisannya; memperbanyak zikir sekaligus menjaga kehormatan saudaranya; serta mendekatkan diri kepada Allah tanpa menyakiti makhluk-Nya.

Gowa, 07 Robi'ul Awwal 1448 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy

🔰 Masa Kuat, Masa untuk BeramalKehidupan manusia ibarat perjalanan seorang musafir yang semakin jauh melangkah, semakin ...
18/08/2026

🔰 Masa Kuat, Masa untuk Beramal

Kehidupan manusia ibarat perjalanan seorang musafir yang semakin jauh melangkah, semakin dekat p**a ia kepada tempat kembali. Pada masa muda, tubuh masih kuat, langkah masih ringan, dan berbagai amal dapat dikerjakan dengan mudah. Namun, datang suatu masa ketika kekuatan berangsur-angsur berkurang, anggota badan melemah, dan apa yang dahulu mudah dilakukan menjadi berat. Ketika itulah seseorang akan menyadari betapa berharganya kesempatan yang pernah diberikan Allah kepadanya.

Kisah Abu Ishaq as-Sabi'iy -rahimahullah- berikut ini sepatutnya menggugah hati setiap orang yang masih diberi kesehatan dan kekuatan.

Beliau menangis bukan karena kehilangan harta atau kedudukan, tetapi karena kekuatannya telah pergi sehingga ibadah yang dahulu mampu ia lakukan dengan mudah kini terasa berat. Ibarat seorang pedagang yang baru menyadari mahalnya sebuah kesempatan setelah pintu perdagangan ditutup, demikian p**a manusia akan merasakan besarnya nikmat kesehatan dan kekuatan setelah kelemahan datang.

Karena itu, sebelum kekuatan berlalu dan sebelum kesempatan berakhir, hendaknya seorang mukmin memperbanyak ketaatan dan memanfaatkan masa sehatnya untuk mendekat kepada Allah.

🟪 Dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy, ia berkata,
رأيت أبا إسحاق السبيعي يبكي، فقلت : يا أبا إسحاق مايبكيك؟
قال: ذهبت قوّتي، وذهبت الصلاة مني، ما أستطيع أن أصلي قائماً إلا بالبقرة وآل عمران ."
~ الثقات لابن حبان (٨/ ٧٦)
“Aku melihat Abu Ishaq as-Sabi‘iy menangis. Kemudian aku pun berkata, ‘Wahai Abu Ishaq, apa yang membuatmu menangis?’
Beliau menjawab, ‘Kekuatan fisikku telah pergi, dan kemampuan shalatku telah hilang (berkurang). Aku tidak lagi mampu melaksanakan shalat dalam keadaan berdiri, kecuali dengan membaca Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran.’
— Ats-Tsiqot karya Ibnu Hibban (8/76)

Janganlah kita menunggu datangnya kelemahan untuk menyadari besarnya nikmat kesehatan, dan jangan p**a menunggu hilangnya kesempatan untuk mengetahui mahalnya waktu.

Selama Allah masih memberikan kekuatan pada tubuh, hendaknya kita gunakan untuk memperbanyak ketaatan, menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebab, masa kuat adalah kesempatan yang kelak akan ditanya: untuk apa ia digunakan dan ke mana ia dihabiskan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai mensyukuri nikmat kesehatan sebelum datang sakit, memanfaatkan masa muda sebelum datang tua, dan menggunakan waktu luang sebelum datang kesibukan.

Semoga Allah memberi kita keteguhan dalam beribadah hingga akhir hayat, serta menjadikan amal-amal kita sebagai bekal yang bermanfaat ketika seluruh kekuatan telah sirna dan tidak tersisa bagi kita kecuali apa yang telah kita persembahkan di hadapan Allah.

📌 Faedah dari Nasihat ini:
Berikut beberapa faedah yang dapat diambil dari nasihat tersebut:
1. Nikmat kesehatan dan kekuatan adalah karunia besar dari Allah. Hendaknya seorang hamba menyadarinya sebelum nikmat tersebut dicabut.

2. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan masa kuatnya untuk beribadah. Jangan menunda amal dengan angan-angan bahwa kesempatan akan selalu tersedia.

3. Berkurangnya kekuatan tubuh merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia. Masa muda akan berganti dengan masa tua, kekuatan akan berganti dengan kelemahan, dan kesehatan dapat berganti dengan sakit.

4. Shalat merupakan ibadah yang sangat agung dan tidak selayaknya diremehkan. Bahkan ketika kekuatan seseorang telah berkurang, hatinya tetap bersedih apabila kemampuan untuk memperbanyak ibadah menjadi terbatas.

5. Kesedihan karena berkurangnya kesempatan beramal merupakan tanda perhatian terhadap akhirat. Seorang yang mencintai ketaatan akan merasa kehilangan ketika tubuhnya tidak lagi mampu melakukan amal sebagaimana dahulu.

6. Al-Qur’an hendaknya menjadi sahabat seorang mukmin sepanjang hidupnya. Membaca Al-Qur’an bukan hanya amalan ketika masih muda dan sehat, tetapi hendaknya terus menyertainya sampai akhir hayat.

7. Masa sehat adalah kesempatan yang sangat berharga. Ia ibarat modal yang diberikan kepada seorang pedagang; orang yang cerdas akan menggunakannya untuk memperoleh keuntungan sebelum modal itu habis.

8. Jangan menunggu datangnya kelemahan untuk mulai bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebab, ketika kelemahan telah datang, seseorang mungkin masih memiliki keinginan untuk beramal, tetapi tidak lagi memiliki kemampuan sebagaimana sebelumnya.

9. Usia manusia terus berkurang setiap hari. Bertambahnya umur pada hakikatnya bukan sekadar bertambahnya angka usia, tetapi juga berkurangnya kesempatan untuk beramal.

10. Seorang mukmin hendaknya senantiasa mengingat akhir kehidupannya. Mengingat kelemahan, kematian, dan perjumpaan dengan Allah akan mendorong seseorang untuk lebih bersungguh-sungguh dalam ketaatan.

11. Kekuatan tubuh hendaknya diarahkan kepada perkara yang bermanfaat. Sangat merugi apabila kekuatan yang Allah berikan justru digunakan untuk kemaksiatan dan perkara yang tidak berguna.

12. Di antara tanda kecintaan kepada ibadah ialah merasa sedih ketika tidak mampu melakukannya. Bukan sekadar merasa sedih karena kehilangan kenikmatan dunia, tetapi sedih karena berkurangnya kesempatan untuk mendekat kepada Allah.

13. Orang yang bijaksana adalah orang yang beramal sebelum datang penghalang. Selagi kaki mampu melangkah menuju kebaikan, tangan mampu bersedekah, lisan mampu berdzikir, dan tubuh mampu berdiri dalam shalat, hendaknya semuanya dimanfaatkan.

14. Nasihat ini mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat dengan menunaikan amal. Syukur yang sempurna bukan hanya mengakui bahwa kesehatan adalah nikmat, tetapi menggunakan kesehatan tersebut dalam ketaatan kepada Pemberi nikmat.

15. Kesempatan beramal tidak selalu kembali. Apa yang dapat dilakukan seseorang hari ini, belum tentu mampu ia lakukan esok hari. Karena itu, kesempatan hendaknya dipandang sebagai amanah yang harus segera dimanfaatkan.

Gowa, 05 Robi'ul Awwal 1448 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy

16/08/2026

🔰 Hakikat Kemerdekaan

✍ Voice: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

🔰 Tiga Hari yang Mengubah Perjalanan ManusiaKehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai perpindahan dari satu keadaan men...
15/08/2026

🔰 Tiga Hari yang Mengubah Perjalanan Manusia

Kehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai perpindahan dari satu keadaan menuju keadaan yang lain. Ada saat ketika seseorang merasa nyaman dengan keadaan yang telah dikenalnya, kemudian tiba-tiba ia harus meninggalkannya dan memasuki keadaan yang sama sekali berbeda.

Demikianlah perjalanan seorang hamba: ia berpindah dari rahim menuju dunia, dari dunia menuju alam kubur, lalu dari alam kubur menuju tempat berkumpulnya seluruh manusia pada hari kiamat.

Setiap perpindahan itu memiliki keadaan dan kesulitannya sendiri, hingga akhirnya seorang hamba berdiri di hadapan Allah, Rabb alam semesta untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.

Keadaan tersebut dapat diibaratkan seperti seseorang yang sepanjang hidupnya tinggal di sebuah rumah yang sangat ia kenal, kemudian pada suatu hari ia diperintahkan meninggalkan rumah itu untuk memasuki tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia tidak mengetahui apa yang akan dijumpainya di sana, siapa yang akan menemaninya, dan bagaimana keadaan tempat tersebut.

Demikian p**a seorang manusia ketika berpindah dari satu fase kehidupan menuju fase berikutnya. Karena itu, penting untuk selalu kita ingat agar tidak terlena dengan dunia yang sementara, tetapi mempersiapkan diri menghadapi setiap perjalanan yang pasti akan dilalui oleh setiap anak Adam.

🟪 Sufyan bin ‘Uyainah Al-Hilaliy -rahimahullah- berkata,
أوحش ما يكون الخلق في ثلاثة مواطن : يوم يولد ، فيرى نفسه خارجا مما كان فيه ، ويوم يموت فيرى قوما لم يكن عاينهم ، ويوم يبعث ، فيرى نفسه في محشر عظيم."
~ تفسير ابن كثير (٥/ ٢١٧)
“Makhluk berada dalam keadaan paling asing dan paling berat pada tiga keadaan:
* Pada hari ketika ia dilahirkan, lalu ia melihat dirinya keluar dari keadaan yang sebelumnya ia berada di dalamnya.
* Pada ada hari ketika ia meninggal, lalu ia melihat orang-orang yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
* Pada hari ketika ia dibangkitkan, lalu ia melihat dirinya berada di tempat berkumpul yang sangat besar.”
📙 ~ Tafsir Ibnu Katsir, 5/217.

Perjalanan hidup manusia pada hakikatnya bukanlah perjalanan menuju akhir, melainkan perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah -Subhanahu wa ta'ala-.

Hari kelahiran telah kita lewati, kematian sedang mendekat tanpa pernah memberi tahu kapan ia akan datang, dan hari kebangkitan pasti akan tiba.

Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari tiga keadaan tersebut. Yang tersisa bagi kita hanyalah mempersiapkan bekal sebelum perjalanan berikutnya dimulai. Sebab, ketika kematian telah datang, kesempatan untuk menambah amal telah berakhir.

Karena itu, janganlah kita terlalu sibuk menghias tempat persinggahan sementara, sementara tempat kembali yang abadi justru kita lalaikan. Hendaknya setiap hari kita gunakan untuk memperbanyak amal saleh, bertaubat dari dosa, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, serta mempersiapkan jawaban untuk hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di hadapan-Nya.

Bayangkan seorang musafir yang mengetahui bahwa perjalanan panjang sedang menantinya. Ia tidak akan sibuk menghias tempat persinggahan dan melupakan bekal, karena ia sadar bahwa setiap langkah membawanya semakin dekat kepada tujuan.

Demikian p**a kehidupan seorang mukmin; dunia hanyalah tempat persinggahan, sedangkan kematian adalah pintu menuju perjalanan berikutnya, dan hari kebangkitan adalah saat seluruh manusia dikumpulkan untuk menerima hasil dari apa yang telah mereka kerjakan.

Orang yang cerdas bukanlah yang paling lama menikmati persinggahan, tetapi yang paling baik mempersiapkan bekal sebelum perjalanan berakhir.

Semoga ketika kita berpindah dari dunia menuju akhirat, Allah -Azza wa jalla- menjadikan perpindahan itu sebagai jalan menuju keselamatan, memberikan keteguhan ketika dibangkitkan, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.

📌 Faedah dan Renungan dari Nasihat Sufyan bin 'Uyainah -rahimahullah-:

Berikut beberapa faedah dan renungan yang dapat diambil dari nasihat Sufyan bin ‘Uyainah -rahimahullah- tentang tiga keadaan manusia tersebut:

1/ Kehidupan manusia adalah perjalanan dari satu fase menuju fase berikutnya.
Manusia tidak menetap selamanya dalam satu keadaan. Ia berpindah dari rahim ke dunia, dari dunia ke alam barzakh, kemudian dari alam barzakh menuju kehidupan akhirat.

2/ Kematian adalah perpindahan, bukan akhir dari perjalanan.
Dunia bukan tempat tinggal terakhir. Kematian hanyalah pintu yang mengantarkan manusia menuju kehidupan berikutnya.

3/ Hari kebangkitan merupakan perkara yang pasti. Setiap manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di hadapan Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya, baik ia kaya maupun miskin, kuat maupun lemah.

4/ Setiap perpindahan membutuhkan persiapan, sebagaimana seorang musafir mempersiapkan bekal sebelum menempuh perjalanan panjang, seorang mukmin hendaknya mempersiapkan amal saleh sebelum meninggalkan dunia.

5/ Dunia adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang kekal.
Karena itu, jangan sampai seorang hamba menghabiskan seluruh perhatian dan tenaganya untuk memperindah kehidupan dunia, sementara kehidupan akhirat yang kekal justru dilupakan dan tidak dihiasi dengan amal-amal saleh.

6/ Kematian akan memutus kesempatan untuk beramal.
Selama seseorang masih hidup, pintu taubat dan amal saleh masih terbuka. Namun ketika kematian datang, kesempatan tersebut telah berakhir.

7. Kita semua pernah melewati salah satu dari tiga keadaan tersebut tanpa menyadarinya.
Dahulu kita berada di dalam rahim dan kemudian keluar menuju dunia. Suatu hari nanti kita akan keluar dari dunia menuju kubur. Setelah itu kita akan keluar dari kubur menuju tempat berkumpul yang sangat besar. Betapa singkatnya perjalanan ini!

8/ Jika kelahiran saja membawa kita kepada kehidupan yang tidak kita kenal, lalu bagaimana dengan kematian?
Seorang bayi keluar dari tempat yang selama berbulan-bulan menjadi tempat tinggalnya menuju dunia yang belum pernah ia kenal. Demikian p**a manusia ketika meninggalkan dunia. Maka hendaknya kita mempersiapkan diri untuk sesuatu yang pasti, meskipun waktunya tidak kita ketahui.

9/ Yang seharusnya ditakuti bukanlah sekadar kematian, tetapi keadaan setelah kematian.
Orang yang cerdas tidak hanya memikirkan kapan ia akan mati, tetapi memikirkan dengan amal apa ia akan menghadap Allah.

10/ Jangan sampai kita mempersiapkan kehidupan dunia tetapi melupakan kehidupan akhirat.
Untuk perjalanan beberapa hari saja manusia menyiapkan pakaian, makanan, kendaraan, dan bekal. Lalu bagaimana dengan perjalanan menuju kehidupan yang tidak memiliki akhir? Bukankah perjalanan tersebut jauh lebih layak untuk dipersiapkan?

11/ Setiap hari yang berlalu sebenarnya semakin mendekatkan kita kepada kematian.
Umur yang berkurang bukan sekadar angka yang berubah, tetapi bagian dari kesempatan beramal yang telah berlalu dan tidak akan kembali.

12/ Renungan terbesar dari nasihat ini adalah: ke manakah kita akan pergi setelah kehidupan ini berakhir?
Kita semua pasti akan meninggalkan dunia. Persoalannya bukan apakah kita akan pergi, tetapi dengan bekal apa kita akan pergi dan ke mana kita akan kembali. Sebelum tiba hari ketika seluruh manusia dikumpulkan, hendaknya kita memperbaiki amal, memperbanyak taubat, dan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah -Subhanahu wa ta'ala-.

Gowa, 2 Robi'ul Awwal 1448 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy

🔰 Nasihat untuk Mereka yang Dekat dengan Majelis Ilmu, tetapi Malas MenghadirinyaDi antara nikmat Allah yang terkadang t...
11/08/2026

🔰 Nasihat untuk Mereka yang Dekat dengan Majelis Ilmu, tetapi Malas Menghadirinya

Di antara nikmat Allah yang terkadang tidak disadari oleh seorang hamba adalah ketika Allah menempatkannya di suatu tempat yang dekat dengan majelis-majelis ilmu, tempat Al-Qur’an dan Sunnah diajarkan sesuai dengan pemahaman para sahabat dan salafus shalih.

Tidak setiap orang mendapatkan kesempatan seperti ini. Ada orang yang harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mendatangi seorang alim, mengeluarkan harta dan tenaga, bahkan menunggu bertahun-tahun agar dapat duduk di hadapan ahli ilmu.

Adapun seseorang yang rumahnya berdekatan dengan majelis ilmu, suara adzan dan kajian mudah didengar, pintu-pintu masjid terbuka di hadapannya, dan para penuntut ilmu berada di sekelilingnya, maka sungguh ia sedang berada di tengah-tengah nikmat yang besar.

Namun, amat disayangkan apabila seseorang hidup di tengah limpahan nikmat tersebut, tetapi hatinya tidak tergerak untuk menghadiri majelis ilmu.

Keadaannya seperti orang yang tinggal di tepi mata air yang jernih; airnya mengalir tanpa harus ia gali, namun ia memilih berjalan jauh mencari seteguk air; atau seperti orang yang berada di bawah pohon yang penuh buah ketika musim panen, tetapi ia membiarkan buah-buah itu berguguran di hadapannya tanpa memetiknya.

Demikianlah keadaan orang yang bermukim di sekitar majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf, tetapi tidak mengambil bagian darinya.

Hendaknya ia takut bahwa kelalaian terhadap nikmat ilmu tersebut termasuk bentuk kufur nikmat (ingkar nikmat); sebab nikmat yang tidak disyukuri dengan menghargai dan memanfaatkannya, dapat berubah menjadi hujjah yang memberatkan seorang hamba pada hari ketika ia ditanya tentang nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Hendaknya seorang hamba merenungi kembali nikmat yang Allah limpahkan kepadanya.

🟣 Allah -Ta'ala- berfirman,
﴿وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا﴾
"Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”

Di antara nikmat yang agung ialah nikmat diberi kesempatan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mempelajari hadis Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-, dan duduk di majelis yang mengajarkan agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini.

🟣 Allah juga berfirman,
﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾
“Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian; tetapi jika kalian mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”

Lantaran itu, bersyukur atas nikmat ilmu, bukan sekadar mengakui bahwa ilmu itu berharga, tetapi dengan menghadiri majelisnya, mendengarkan dengan hati yang tunduk, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya.

Sebab, seseorang yang diberi jalan menuju kebaikan, lalu ia berpaling darinya, hendaknya takut bahwa kelalaiannya itu merupakan bentuk tidak mensyukuri karunia Allah.

Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- telah bersabda,
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.” (Hadis Riwayat Al-Bukhoriy dan Muslim)

Beliau -Shallallahu 'alaihi wasallam- juga bersabda,
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Janganlah seseorang memandang ringan langkah menuju majelis ilmu. Bisa jadi langkah yang dianggapnya sederhana, justru itulah yang menjadi sebab Allah menghidupkan hatinya, meluruskan pemahamannya, memperbaiki amalnya, dan menyelamatkannya dari berbagai kesesatan.

Adapun tinggal di dekat sumber ilmu tetapi tidak mendatanginya, maka keadaannya sungguh patut direnungkan.

Ia berada dekat dengan pintu kebaikan, tetapi memilih untuk tidak mengetuknya; berada dekat dengan mata air, tetapi membiarkan dirinya kehausan.

Demikian p**a hendaknya kita mengingat keadaan para salafush shalih yang sangat menghargai waktu dan kesempatan untuk memperoleh ilmu.

Mereka tidak memandang majelis ilmu sebagai perkara sampingan yang didatangi hanya ketika ada waktu luang, tetapi sebagai kebutuhan hati dan jalan menuju keselamatan.

Karena itu, wahai saudaraku, janganlah menunggu ilmu mendatangi rumahmu, sementara Allah telah mendekatkanmu kepada majelisnya.

Janganlah menunggu hati menjadi lapang untuk menghadiri kajian. Karena, bisa jadi kelapangan hati itu justru lahir setelah engkau memaksakan dirimu untuk duduk di majelis ilmu.

Syukurilah nikmat ini sebelum ia dicabut, manfaatkanlah kesempatan sebelum datang kesibukan, kelemahan, atau kematian, dan ketahuilah bahwa majelis yang hari ini engkau tinggalkan, mungkin saja suatu hari nanti akan menjadi sesuatu yang paling engkau rindukan ketika kesempatan untuk menghadirinya telah tiada.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang apabila diberi nikmat ilmu, mereka mensyukurinya; apabila mendengar kebenaran, mereka menerimanya; dan apabila mengetahuinya, mereka mengamalkannya.

Faedah dan Pelajaran dari Nasihat ini:

Berikut beberapa faedah dan pelajaran yang dapat dijadikan bahan muhasabah, khususnya bagi orang yang telah Allah dekatkan dengan majelis ilmu, tetapi masih berat dan malas untuk menghadirinya.

1/ Dekatnya seseorang dengan majelis ilmu merupakan nikmat yang besar. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk tinggal di tempat yang mudah menjangkau masjid dan majelis yang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Semakin mudah seseorang mendapatkan ilmu, semakin besar p**a kesempatan yang Allah berikan kepadanya untuk memperoleh kebaikan.

2/ Nikmat ilmu menuntut adanya rasa syukur. Bersyukur bukan hanya dengan mengakui bahwa ilmu itu nikmat, tetapi dengan mendatangi sumbernya, mendengarkannya, memahaminya, dan mengamalkannya.
Karenanya, barangsiapa diberi kemudahan menuju ilmu, tetapi terus-menerus berpaling darinya, maka hendaknya ia mengoreksi bentuk syukurnya.

3/ Kemalasan menghadiri majelis ilmu merupakan tanda yang patut dikhawatirkan.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda,
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.”
Karena itu, hendaknya seseorang takut apabila hatinya selalu merasa berat ketika diajak kepada ilmu, sementara ia mudah meluangkan waktunya untuk perkara-perkara dunia. Jangan sampai itu tanda ia dijauhkan dari kebaikan, dan pada gilirannya dekat dengan keburukan!

4/ Jangan sampai seseorang mencari-cari alasan untuk meninggalkan majelis ilmu.
Terkadang seseorang berkata, “Saya sibuk,” “Saya lelah,” atau “Nanti saja kalau ada waktu.”
Padahal apabila sesuatu benar-benar dianggap penting, ia akan berusaha menyediakan waktu untuknya.
Hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah benar kita tidak memiliki waktu, ataukah ilmu agama belum menjadi kebutuhan utama bagi hati kita?"

5/ Majelis ilmu bukan hanya tempat menambah pengetahuan, tetapi tempat menghidupkan hati.
Seseorang mungkin telah mengetahui banyak perkara, tetapi hatinya tetap keras karena ilmu yang dimilikinya tidak diiringi dengan menghadiri majelis, mendengarkan nasihat, dan mengambil pelajaran.
Betapa banyak hati yang semula lalai, kemudian Allah hidupkan melalui satu ayat, satu hadis, atau satu nasihat yang didengarnya di majelis ilmu.

6/ Kesempatan tidak selamanya terbuka.
Hari ini seseorang sehat, lapang, dekat dengan majelis ilmu, dan memiliki kesempatan menghadiri kajian. Namun, esok hari keadaan dapat berubah, kesibukan bertambah, kesehatan berkurang, tempat tinggal berubah, terjadi kekacauan atau bahkan kematian datang menutup seluruh kesempatan.
Orang yang cerdas ialah yang mengambil manfaat dari kesempatan sebelum kesempatan itu hilang.

7/ Jangan menunggu semangat untuk menuntut ilmu. Sebagian orang berkata, “Kalau hati saya sudah semangat, saya akan hadir.”
Ini terbalik. Sering kali semangat justru lahir setelah seseorang memaksa dirinya untuk melangkahkan kaki menuju majelis. Sama dengan tubuh yang lemah, menjadi kuat setelah berolahraga. Demikian p**a hati yang berat terhadap ilmu dapat menjadi ringan setelah dibiasakan duduk di majelis.

8/ Menuntut ilmu membutuhkan mujahadah.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda,
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Perhatikan bahwa Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- menyebut menempuh jalan, yang menunjukkan adanya usaha dan langkah. Ilmu tidak selalu diperoleh dengan kenyamanan; terkadang ia harus dicari dengan melawan rasa malas.

9/ Orang yang berada dekat dengan majelis ilmu memiliki hujjah yang lebih kuat atas dirinya.
Orang yang tinggal jauh mungkin memiliki alasan karena sulitnya perjalanan.
Adapun orang yang tinggal di sekitar masjid atau tempat kajian, lalu pintunya terbuka dan waktunya memungkinkan, hendaknya lebih takut apabila ia terus berpaling.
Semakin dekat seseorang dengan pintu kebaikan, semakin besar tanggung jawabnya untuk memasukinya.

10/ Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang kehausan, padahal berada di tepi mata air.
Ini merupakan perumpamaan yang layak direnungkan. Air berada di hadapannya, jernih dan mudah diambil, tetapi ia memilih menahan haus.
Demikian p**a mereka yang tinggal di sekitar majelis ilmu, tetapi lebih memilih menghabiskan waktunya dengan perkara yang tidak bermanfaat.
Bukan karena ilmu itu jauh darinya, melainkan karena dirinya sendiri yang enggan mendatanginya.

11/ Ilmu yang tidak dicari dapat menjadi penyesalan.
Ketika seseorang telah tua, kesempatan telah berlalu, dan kekuatan telah melemah, barulah ia menyadari betapa berharganya masa ketika ia masih sehat dan mudah mendatangi majelis. Lantaran itu, jangan menunggu masa tua untuk menyesali masa muda, dan jangan menunggu hilangnya nikmat untuk menyadari nilainya.

12/ Ukuran kecintaan kepada ilmu tampak pada pengorbanan untuk mendapatkannya.
Seseorang akan mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan sebagian urusan dunianya demi sesuatu yang ia cintai. Hendaknya setiap orang bertanya kepada dirinya, "Seberapa besar pengorbananku untuk ilmu agama?"
Sebab jawaban terhadap pertanyaan ini dapat menjadi cermin bagi keadaan hati kita.

Hendaknya seseorang tidak hanya bertanya, “Mengapa saya malas menghadiri kajian?” Tetapi bertanyalah lebih dalam, “Apa yang membuat hati saya lebih memilih perkara lain daripada duduk mendengarkan firman Allah dan sabda Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-?”

Bisa jadi seseorang sangat dekat dengan majelis ilmu secara jarak, tetapi sangat jauh darinya secara hati.

Sebaliknya, para salaf dahulu rela menempuh perjalanan yang jauh demi mendapatkan satu hadis.

Fenomena kemalasan menghadiri majelis ilmu, sungguh ini merupakan sesuatu yang patut direnungkan apabila seseorang pada zaman ini telah mendapatkan masjid, ustadz, kajian, kitab, dan majelis ilmu hanya beberapa langkah dari rumahnya, tetapi tetap merasa berat dan malas untuk menghadirinya.

Semoga Allah -Azza wa jalla- tidak menjadikan kita orang yang mengetahui nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu dicabut.

Semoga Allah -Ta'ala- menjadikan kita termasuk orang yang ketika dibukakan pintu ilmu, segera memasukinya; ketika diseru kepada kebaikan, segera menyambutnya; dan ketika diberi kesempatan duduk di majelis ilmu, memandangnya sebagai karunia dari Allah yang harus disyukuri, bukan sebagai beban yang boleh ditinggalkan dan disepelekan.

Gowa, 29 Shofar 1447 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Address

Jalan Bonto Te'ne, Perumahan Tanwirus Sunnah, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu
Makassar
92171

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ustadz Abdul Qodir, Lc. posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Ustadz Abdul Qodir, Lc.:

Shortcuts

Share

Category