20/08/2026
🔰 Bahaya Lisan bagi Seorang Hamba
Terkadang ada orang yang lebih mudah memperbanyak ibadah; ia dapat berdiri lama dalam salat, menahan lapar dengan puasa, dan memperbanyak amal-amal kebaikan. Namun, ada satu perkara yang sering luput dari perhatian: menjaga lisan dan kehormatan manusia.
Sebab, lisan yang tidak dijaga dapat menghancurkan dalam sekejap apa yang telah dibangun oleh seseorang melalui ibadahnya selama bertahun-tahun. Ibarat nila setitik, merusak susu sebelanga.
Ibadah yang banyak semestinya melahirkan hati yang bersih dan lisan yang terjaga, bukan justru menjadi sebab seseorang meremehkan dan menyakiti orang lain.
Lisan itu ibarat pedang yang tidak terlihat; ia tidak memiliki sarung yang menahannya, kecuali ketakwaan pemiliknya.
Pedang yang berada di tangan orang yang bijak akan dijaga dan tidak dihunus, kecuali pada tempatnya, sedangkan di tangan orang yang ceroboh ia dapat melukai orang lain,
Demikian p**a lisan, satu kalimat yang ringan diucapkan, boleh jadi berubah menjadi luka yang panjang di hati seseorang, bahkan menjadi sebab kebangkrutan di akhirat.
🟪 Umar bin Abdul Aziz Al-Umawiy -rahimahullah- berkata,
أدركنا السلف، وهم لا يرون العبادة في الصوم ولا في الصلاة، ولكن في الكف عن أعراض الناس. فقائم الليل وصائم النهار إن لم يحفظ لسانه، أفلس يوم القيامة.
📙 التمهيد لابن عبد البر (۱۷/ 443)
“Kami mendapati para salaf. Mereka tidak memandang bahwa ibadah itu hanya terletak pada puasa dan salat, tetapi juga pada menahan diri dari mencela dan merusak kehormatan orang lain.
Seseorang yang menghidupkan malam dengan ibadah dan berpuasa di siang hari, jika ia tidak menjaga lisannya, maka ia akan menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat."
📙 At-Tamhid (17/443), karya Ibnu Abdil Barr
Nasihat ini mengajarkan kepada kita bahwa kesempurnaan ibadah, bukan hanya diukur dari banyaknya salat dan puasa, tetapi juga dari sejauh mana ibadah itu membuahkan ketakwaan dalam hati dan penjagaan terhadap lisan.
Jangan sampai seseorang begitu sibuk menghitung rakaat dan puasanya, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang telah ia lukai dengan perkataan, berapa banyak kehormatan yang telah ia jatuhkan dengan ghibah, dan berapa banyak dosa yang telah ia kumpulkan melalui lisannya.
Orang yang cerdas adalah orang yang menjaga kedua sisi ini: memperbanyak ketaatan kepada Allah dan menjaga hak-hak hamba-Nya.
Lisan ibarat pena yang tidak pernah berhenti menulis, sedangkan kehidupan kita adalah lembaran yang kelak akan dibuka pada hari kiamat.
Setiap kata yang keluar darinya akan menjadi bagian dari catatan amal; karena itu, hendaknya kita berhati-hati sebelum menorehkan sesuatu yang kelak kita sesali.
Betapa indah apabila lembaran itu dipenuhi dengan zikir, nasihat, perkataan yang baik, dan diam dari keburukan.
Sebab, keselamatan bukan hanya bagi orang yang banyak beramal, tetapi juga bagi orang yang mampu menjaga amalnya agar tidak dirusak oleh lisannya.
📌 Faedah dari Nasihat ini:
Berikut beberapa faedah penting dari nasihat Umar bin Abdul Aziz -rahimahullah- tersebut:
1/ Ibadah itu tidak terbatas pada salat dan puasa. Termasuk ibadah yang agung ialah menahan diri dari menyakiti kehormatan kaum muslimin, menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari ghibah, celaan, fitnah, serta perkataan yang menyakitkan.
2/ Menjaga lisan merupakan tanda sempurnanya ketakwaan. Seseorang tidak cukup hanya memperbanyak amal lahiriah, tetapi hendaknya ia memperhatikan lisannya, karena lisan merupakan salah satu anggota badan yang paling mudah menjerumuskan manusia kepada dosa.
3/ Kehormatan seorang muslim wajib dijaga. Perkataan yang merendahkan, mencela, menggunjing, atau membuka aib seseorang bukanlah perkara ringan. Seorang muslim hendaknya menjaga kehormatan saudaranya sebagaimana ia ingin kehormatannya sendiri dijaga.
4/ Banyaknya amal tidak menjamin keselamatan apabila lisan tidak dijaga. Seseorang boleh jadi banyak salat pada malam hari, dan banyak berpuasa pada siang hari, tetapi apabila ia gemar mencela dan menggunjing manusia, amalnya berada dalam bahaya.
5/ Para salaf sangat memperhatikan amalan hati dan anggota badan. Mereka tidak hanya melihat banyaknya ibadah, tetapi juga memperhatikan keikhlasan, akhlak, penjagaan lisan, dan keselamatan manusia dari gangguan mereka.
6/ Diam dari keburukan adalah ibadah. Tidak setiap perkataan harus diucapkan. Terkadang seseorang memperoleh pahala dengan diam, apabila perkataan tersebut tidak mengandung maslahat dan justru dikhawatirkan menimbulkan dosa.
7/ Lisan dapat menjadi sebab kebangkrutan pada hari kiamat. Seseorang yang memiliki banyak amal dapat kehilangan pahalanya karena kezalimannya terhadap manusia. Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan perkara yang sangat besar.
8/ Amal saleh seharusnya membentuk akhlak yang baik. Salat dan puasa yang benar semestinya mendorong seseorang untuk semakin takut kepada Allah, semakin lembut kepada manusia, dan semakin berhati-hati dalam berbicara.
9/ Dosa yang berkaitan dengan manusia memiliki bahaya yang besar. Ghibah, celaan, penghinaan, dan tindakan merusak kehormatan manusia tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah, tetapi seorang hamba harus memperhatikan hak orang yang dizaliminya.
10/ Keselamatan seseorang sangat berkaitan dengan kemampuannya mengendalikan lisannya. Lisan yang bentuknya kecil, tetapi besar pengaruhnya. Ia dapat menjadi sebab seseorang memperoleh kemuliaan, dan dapat p**a menjadi sebab kehinaan dan kebinasaan.
11/ Hendaknya seseorang menimbang perkataannya sebelum mengucapkannya, sebagaimana seseorang tidak akan melepaskan anak panah sebelum memastikan sasarannya. Demikian p**a seorang mukmin hendaknya tidak melepaskan perkataan sebelum mempertimbangkan akibatnya.
12/ Inti nasihat ini adalah menggabungkan ibadah kepada Allah dengan akhlak terhadap manusia. Seorang hamba hendaknya memperbanyak salat dan puasa sekaligus menjaga lisannya; memperbanyak zikir sekaligus menjaga kehormatan saudaranya; serta mendekatkan diri kepada Allah tanpa menyakiti makhluk-Nya.
Gowa, 07 Robi'ul Awwal 1448 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy