20/08/2026
Belajar Nyaman Bersama Orang Lain
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menyesuaikan diri ketika bertemu dengan orang lain. Ada sebagian orang yang begitu mudah membuka percakapan, tertawa, bercanda, dan segera merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Namun, ada p**a yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Ketika berada di tengah banyak orang, muncul rasa canggung, malu, bingung harus memulai pembicaraan dari mana, atau bahkan merasa kehadirannya tidak begitu diperhatikan. Perasaan seperti ini tentu bisa terjadi pada siapa saja.
Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam pergaulan. Rasa kurang percaya diri, kecemasan ketika berada di tengah lingkungan sosial, kelelahan setelah terlalu banyak berinteraksi, atau pengalaman buruk di masa lalu dapat membuat seseorang memilih untuk menjaga jarak. Kadang bukan karena tidak s**a kepada orang lain, tetapi karena ada perasaan takut tidak diterima, takut salah berbicara, khawatir dianggap aneh, atau merasa diri tidak cukup menarik untuk ikut masuk ke dalam percakapan.
Akibatnya, kita sering memilih untuk menghindari pertemuan, malas menghadiri kegiatan, atau lebih nyaman menyendiri daripada harus berhadapan dengan banyak orang. Sekali dua kali mungkin tidak menjadi masalah. Namun, jika kebiasaan ini terus dibiarkan, perlahan kita bisa semakin menutup diri. Kita kehilangan kesempatan untuk mengenal orang lain, memperluas wawasan, membangun persahabatan, bahkan mendapatkan pengalaman berharga. Semakin sering menghindar, terkadang semakin sulit p**a bagi kita untuk kembali membuka diri.
Dalam pandangan Islam, manusia pada hakikatnya diciptakan untuk hidup berdampingan dan saling mengenal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan ini menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang, sifat, karakter, dan kebiasaan bukanlah alasan untuk menjauh satu sama lain. Justru perbedaan itu menjadi jalan untuk membangun hubungan, memperluas persaudaraan, dan belajar memahami sesama.
Karena itu, ketika berada bersama orang lain, kita perlu belajar untuk melapangkan dada dan membuka pikiran. Tidak perlu memaksakan diri menjadi orang yang paling banyak bicara atau paling menonjol. Cukup hadir dengan tenang, mendengarkan, mengikuti arah pembicaraan, dan memberikan respons sederhana ketika ada kesempatan. Sebuah senyuman, sapaan, atau pertanyaan ringan terkadang sudah cukup untuk membuka jalan menuju sebuah percakapan. Kita tidak harus langsung merasa akrab dengan semua orang, karena kenyamanan memang membutuhkan proses.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan sesama. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga betapapun engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri ” (HR. Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran sederhana tetapi sangat mendalam. Terkadang kita merasa harus melakukan sesuatu yang besar agar diterima oleh orang lain. Padahal, wajah yang ramah, senyuman, dan sikap yang baik sudah menjadi pintu awal terciptanya kedekatan. Tidak perlu selalu menjadi orang yang paling pandai berbicara. Bersikap baik dan menampakkan wajah yang menyenangkan pun merupakan bagian dari kebaikan.
Pikiran yang terlalu dipenuhi prasangka juga sering menjadi penghalang dalam pergaulan. Kita kadang merasa orang lain tidak menyukai kita, tidak peduli kepada kita, merasa diri dicuekin atau sengaja mengabaikan kita, padahal belum tentu demikian. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar orang-orang beriman menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Karena itu, jangan sampai perasaan takut dan pikiran negatif membuat kita menilai orang lain sebelum benar-benar mengenal mereka dan takut berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hadits , Rasulullah SAW bersabda : "Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. Bukhari, At Tirmidzi dan Ahmad)
Hadits ini tidak berarti bahwa setiap orang harus selalu berada di tengah keramaian. Namun, para ulama menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan tetap menjalankan kehidupan sosial dengan baik. Ada saatnya seseorang membutuhkan kesendirian untuk menenangkan pikiran, beribadah, dan memperbaiki diri. Tetapi jangan sampai kesendirian berubah menjadi kebiasaan menutup diri dari kebaikan, persaudaraan, dan hubungan yang bermanfaat.
Para ulama juga banyak mengingatkan tentang pentingnya husnuzan, yaitu berbaik sangka, selama tidak ada bukti yang jelas untuk berprasangka buruk. Dengan membiasakan diri berpikir positif, hati akan lebih lapang dan kita tidak mudah merasa bahwa setiap sikap orang lain ditujukan untuk merendahkan atau menjauhi kita. Bisa jadi seseorang yang terlihat diam sebenarnya sedang bingung harus memulai pembicaraan. Bisa jadi mereka yang belum menyapa justru sedang menunggu kita untuk lebih dahulu membuka percakapan.
Maka mari kita belajar merasa nyaman, tidak canggung jika bertemu dengan orang lain, jangan biarkan rasa canggung mengurung diri terlalu lama. Sebab manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk saling mengenal, saling memahami, saling mengisi dan saling menguatkan.
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad.
Rensing Bat, 20 Agustus 2026
Nuruddin
**foto pemanis :