Nuruddin

Nuruddin √ Educator
√Master of ceremony
√Pegiat sosial
√Content Creator
√Motivator

Belajar Nyaman Bersama Orang LainTidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menyesuaikan diri ketika bertemu d...
20/08/2026

Belajar Nyaman Bersama Orang Lain

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menyesuaikan diri ketika bertemu dengan orang lain. Ada sebagian orang yang begitu mudah membuka percakapan, tertawa, bercanda, dan segera merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Namun, ada p**a yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Ketika berada di tengah banyak orang, muncul rasa canggung, malu, bingung harus memulai pembicaraan dari mana, atau bahkan merasa kehadirannya tidak begitu diperhatikan. Perasaan seperti ini tentu bisa terjadi pada siapa saja.

Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam pergaulan. Rasa kurang percaya diri, kecemasan ketika berada di tengah lingkungan sosial, kelelahan setelah terlalu banyak berinteraksi, atau pengalaman buruk di masa lalu dapat membuat seseorang memilih untuk menjaga jarak. Kadang bukan karena tidak s**a kepada orang lain, tetapi karena ada perasaan takut tidak diterima, takut salah berbicara, khawatir dianggap aneh, atau merasa diri tidak cukup menarik untuk ikut masuk ke dalam percakapan.

Akibatnya, kita sering memilih untuk menghindari pertemuan, malas menghadiri kegiatan, atau lebih nyaman menyendiri daripada harus berhadapan dengan banyak orang. Sekali dua kali mungkin tidak menjadi masalah. Namun, jika kebiasaan ini terus dibiarkan, perlahan kita bisa semakin menutup diri. Kita kehilangan kesempatan untuk mengenal orang lain, memperluas wawasan, membangun persahabatan, bahkan mendapatkan pengalaman berharga. Semakin sering menghindar, terkadang semakin sulit p**a bagi kita untuk kembali membuka diri.

Dalam pandangan Islam, manusia pada hakikatnya diciptakan untuk hidup berdampingan dan saling mengenal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan ini menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang, sifat, karakter, dan kebiasaan bukanlah alasan untuk menjauh satu sama lain. Justru perbedaan itu menjadi jalan untuk membangun hubungan, memperluas persaudaraan, dan belajar memahami sesama.

Karena itu, ketika berada bersama orang lain, kita perlu belajar untuk melapangkan dada dan membuka pikiran. Tidak perlu memaksakan diri menjadi orang yang paling banyak bicara atau paling menonjol. Cukup hadir dengan tenang, mendengarkan, mengikuti arah pembicaraan, dan memberikan respons sederhana ketika ada kesempatan. Sebuah senyuman, sapaan, atau pertanyaan ringan terkadang sudah cukup untuk membuka jalan menuju sebuah percakapan. Kita tidak harus langsung merasa akrab dengan semua orang, karena kenyamanan memang membutuhkan proses.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan sesama. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga betapapun engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri ” (HR. Muslim).

Hadis ini memberikan pelajaran sederhana tetapi sangat mendalam. Terkadang kita merasa harus melakukan sesuatu yang besar agar diterima oleh orang lain. Padahal, wajah yang ramah, senyuman, dan sikap yang baik sudah menjadi pintu awal terciptanya kedekatan. Tidak perlu selalu menjadi orang yang paling pandai berbicara. Bersikap baik dan menampakkan wajah yang menyenangkan pun merupakan bagian dari kebaikan.

Pikiran yang terlalu dipenuhi prasangka juga sering menjadi penghalang dalam pergaulan. Kita kadang merasa orang lain tidak menyukai kita, tidak peduli kepada kita, merasa diri dicuekin atau sengaja mengabaikan kita, padahal belum tentu demikian. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar orang-orang beriman menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Karena itu, jangan sampai perasaan takut dan pikiran negatif membuat kita menilai orang lain sebelum benar-benar mengenal mereka dan takut berinteraksi dengan orang lain.

Dalam hadits , Rasulullah SAW bersabda : "Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. Bukhari, At Tirmidzi dan Ahmad)

Hadits ini tidak berarti bahwa setiap orang harus selalu berada di tengah keramaian. Namun, para ulama menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan tetap menjalankan kehidupan sosial dengan baik. Ada saatnya seseorang membutuhkan kesendirian untuk menenangkan pikiran, beribadah, dan memperbaiki diri. Tetapi jangan sampai kesendirian berubah menjadi kebiasaan menutup diri dari kebaikan, persaudaraan, dan hubungan yang bermanfaat.

Para ulama juga banyak mengingatkan tentang pentingnya husnuzan, yaitu berbaik sangka, selama tidak ada bukti yang jelas untuk berprasangka buruk. Dengan membiasakan diri berpikir positif, hati akan lebih lapang dan kita tidak mudah merasa bahwa setiap sikap orang lain ditujukan untuk merendahkan atau menjauhi kita. Bisa jadi seseorang yang terlihat diam sebenarnya sedang bingung harus memulai pembicaraan. Bisa jadi mereka yang belum menyapa justru sedang menunggu kita untuk lebih dahulu membuka percakapan.

Maka mari kita belajar merasa nyaman, tidak canggung jika bertemu dengan orang lain, jangan biarkan rasa canggung mengurung diri terlalu lama. Sebab manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk saling mengenal, saling memahami, saling mengisi dan saling menguatkan.

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad.









Rensing Bat, 20 Agustus 2026
Nuruddin

**foto pemanis :

20/08/2026

Rutinan setiap malam Jum'at ke-138 Majelis Sholawat Jibril, Zikir dan ilmu Rensing Bat

lMalam Jum'at, 20 Agustus 2026 pukul 20.15 wita di Bale Irmayuni/ Ustadz H. Zainal Muttaqin (alm) Dusun Tembok Gading Desa Rensing Bat

# #1000 Sholawat Jibril, Zikir/do'a spesial Hari Kemerdekaan RI ke-81, HUT ke-15 Desa Rensing Bat dan Haul Majemuk Keluarga Jamaah majelis yang sudah meninggal dunia serta Pengajian

Rutinan setiap malam Jum'at ke-138 Majelis Sholawat Jibril, Zikir dan ilmu Rensing Bat1000 Sholawat Jibril, Zikir/do'a s...
20/08/2026

Rutinan setiap malam Jum'at ke-138 Majelis Sholawat Jibril, Zikir dan ilmu Rensing Bat

1000 Sholawat Jibril, Zikir/do'a spesial Hari Kemerdekaan RI ke-81, HUT ke-15 Desa Rensing Bat dan Haul Majemuk Keluarga Jamaah majelis yang sudah meninggal dunia serta Pengajian

Mari perbanyak membaca sholawat lebih-lebih di malam jum'at atau siang hari jum'at.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد

"Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad."

*Malam Jum'at, 20 Agustus 2026 pukul 20.15 wita di Bale Irmayuni/ Ustadz H. Zainal Muttaqin (alm) Dusun Tembok Gading Desa Rensing Bat*

“Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian untuk bershalawat kepadaku di hari Jumat. Karena sesungguhnya shalawatnya umatku itu disetorkan kepadaku setiap hari Jumat. Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia akan mendapatkan kedudukan yang paling dekat denganku,” (HR Imam Baihaqi).








19/08/2026

Berkah Jam'iyyah





Di Balik Hasil yang Indah, Ada Proses yang Tidak MudahKemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah yang datang...
17/08/2026

Di Balik Hasil yang Indah, Ada Proses yang Tidak Mudah

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Kemerdekaan tidak diberikan cuma-cuma dan tidak diperoleh secara gratis. Ada perjuangan panjang yang mengiringinya, ada air mata yang jatuh, ada harta yang dikorbankan, ada kehormatan yang dipertaruhkan, bahkan ada nyawa yang rela diberikan demi satu cita-cita besar: Indonesia merdeka. Para pejuang bangsa telah membuktikan bahwa sesuatu yang sangat berharga hampir selalu lahir dari perjuangan yang tidak mudah. Dari sejarah kemerdekaan itulah kita belajar bahwa tidak ada hasil besar tanpa pengorbanan.

Dalam kehidupan, prinsip itu masih tetap berlaku hingga hari ini. Cita-cita tidak akan datang menghampiri orang yang hanya duduk diam dan menunggu keajaiban. Keberhasilan juga tidak selalu berpihak kepada mereka yang merasa paling hebat, paling kuat, atau paling berbakat. Sering kali, keberhasilan justru datang kepada mereka yang tetap bertahan ketika keadaan seolah-olah mengajarkan mereka untuk menyerah. Mereka mungkin pernah gagal, kecewa, diremehkan, bahkan jatuh berkali-kali. Namun, mereka memilih untuk bangkit dan melanjutkan perjuangannya.

Para pejuang terdahulu telah memberikan contoh yang sangat nyata. Mereka menghadapi penjajahan dalam waktu yang panjang, dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka tidak memiliki kehidupan yang nyaman untuk diperjuangkan, tetapi mereka memiliki keyakinan bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri. Perjuangan yang panjang, pengorbanan yang besar, dan semangat pantang menyerah itulah yang akhirnya mengantarkan bangsa Indonesia pada Proklamasi Kemerdekaan. Kemerdekaan tidak lahir dalam satu malam. Ia lahir dari proses yang panjang.

Begitu p**a dengan kehidupan kita. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi kaya hanya dengan berpangku tangan. Di balik keberhasilan seseorang, sering kali terdapat cerita yang tidak kita lihat. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, kerugian yang pernah dialami, usaha yang gagal, bahkan mungkin kebangkrutan yang pernah membuatnya hampir menyerah. Namun, mereka yang akhirnya berhasil adalah mereka yang tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Mereka belajar dari kesalahan, memperbaiki langkah, lalu kembali berjuang hingga mencapai titik keberhasilan.

Seorang petani pun memahami betul arti sebuah proses. Sebelum menikmati hasil panen, ia harus menyiapkan lahan, membeli benih, mengeluarkan biaya, menanam, menyiram, merawat, dan menghadapi berbagai kemungkinan. Kadang hujan tidak datang pada waktunya, kadang hama merusak tanaman, bahkan tidak jarang hasil panen tidak sesuai dengan harapan. Namun, petani tetap menanam karena ia tahu bahwa tidak mungkin ada panen tanpa proses menanam dan merawat. Hasil yang baik membutuhkan kesabaran yang panjang.

Seorang guru juga tidak mungkin menyaksikan murid-muridnya menjadi hebat tanpa kesabaran dalam mengajar, membimbing, dan mendidik. Tidak semua murid langsung memahami pelajaran. Tidak semua anak memiliki kemampuan dan karakter yang sama. Ada yang cepat mengerti, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Namun, di situlah pengorbanan seorang guru diperlukan. Ia mengulang pelajaran, memberikan perhatian, menahan emosi, dan terus berharap agar apa yang ditanam hari ini kelak tumbuh menjadi keberhasilan bagi anak didiknya.

Para pekerja pun menjalani perjuangannya masing-masing. Ada yang harus menghabiskan waktu berjam-jam di tempat kerja, ada yang harus bekerja di bawah terik matahari, ada yang harus berangkat ketika orang lain masih tidur dan p**ang ketika sebagian orang sudah beristirahat. Semua itu dilakukan demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seorang pengupas bawang, misalnya, harus rela mengeluarkan air mata sebelum memperoleh upah dari pekerjaannya. Air mata yang jatuh mungkin hanya dianggap biasa, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran bahwa sering kali hasil yang kita nikmati memang harus didahului oleh rasa lelah dan pengorbanan.

Seorang pengusaha pun tidak akan memperoleh keuntungan besar hanya dengan duduk diam. Ada risiko yang harus dihadapi, modal yang dipertaruhkan, tenaga dan pikiran yang dicurahkan, serta berbagai kemungkinan kerugian yang harus siap diterima. Begitu p**a dalam hal-hal sederhana. Untuk mendapatkan hasil angka 17, kita harus melewati penjumlahan yang tepat. Tidak ada proses yang bisa dilompati begitu saja. Semua memiliki tahapan, dan setiap tahapan membutuhkan kesungguhan.

Orang tua mungkin menjadi contoh pengorbanan yang paling dekat dengan kehidupan kita. Mereka tidak hanya mengeluarkan uang untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya. Mereka juga mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan menahan emosi dan keinginan pribadi demi masa depan anak-anaknya. Ada orang tua yang bekerja keras sepanjang hari, menahan lelah, bahkan rela tidak membeli sesuatu yang mereka inginkan agar anak-anaknya bisa tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik. Semua itu dilakukan dengan harapan suatu hari nanti anak-anaknya mampu berdiri tegak dan meraih kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, jangan terlalu cepat iri melihat keberhasilan orang lain. Kita sering hanya melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Kita melihat seseorang telah sukses, tetapi mungkin tidak melihat berapa kali ia pernah gagal. Kita melihat seseorang tersenyum menikmati hasil perjuangannya, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang pernah ia sembunyikan. Jangan hanya ingin menikmati hasilnya jika kita tidak siap menjalani prosesnya.

Kemerdekaan Indonesia mengajarkan kepada kita bahwa pengorbanan bukanlah sesuatu yang sia-sia. Setiap perjuangan mungkin tidak langsung menghasilkan keberhasilan, tetapi perjuangan yang dilakukan dengan kesungguhan akan selalu memberikan pelajaran, kekuatan, dan pengalaman. Jika hari ini kita sedang berada dalam proses yang berat, sedang berjuang untuk keluarga, pendidikan, pekerjaan, usaha, atau cita-cita, jangan buru-buru menyerah.

Sebab, tidak ada hasil besar tanpa pengorbanan. Tidak ada keberhasilan tanpa proses. Tidak ada panen tanpa menanam. Tidak ada kemerdekaan tanpa perjuangan.

Maka, teruslah melangkah meskipun perlahan. Tetaplah bertahan meskipun keadaan terasa berat. Karena bisa jadi, lelah yang kita rasakan hari ini adalah harga yang harus dibayar mahal untuk menikmati hasil yang lebih baik di masa depan. Dan ketika suatu saat kita berhasil mencapai apa yang diperjuangkan, kita akan memahami bahwa setiap air mata, tenaga, waktu, dan pengorbanan yang pernah diberikan ternyata tidak pernah benar-benar sia-sia.

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad.









Rensing Bat, 17 Agustus 2026
Nuruddin

**foto pemanis : moment peringatan HUT ke-81 RI dilapangan umum Sakra Barat.

Dirgahayu Republik Indonesia17 Agustus 1945 - 17 Agustus 202681 tahun perjalanan bangsa, saatnya melangkah bersama menuj...
16/08/2026

Dirgahayu Republik Indonesia

17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2026

81 tahun perjalanan bangsa, saatnya melangkah bersama menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur
===========
Ikuti facebook:
Nuruddin

Ketika Keluarga dan Harta Kembali, Amal Tetap MenemaniMalam Jum’at selalu memiliki suasana yang berbeda. Ada ketenangan ...
16/08/2026

Ketika Keluarga dan Harta Kembali, Amal Tetap Menemani

Malam Jum’at selalu memiliki suasana yang berbeda. Ada ketenangan yang sulit dilukiskan, ada kerinduan yang tumbuh kepada Allah dan Rasul-Nya, serta ada harapan agar setiap langkah yang telah dilalui dalam hidup ini tidak berlalu begitu saja tanpa menjadi bekal menuju kehidupan yang abadi. Pada malam Jum’at, 13 Agustus 2026 llalu, Jamaah Majelis Sholawat Jibril, Zikir dan Ilmu Rensing Bat kembali mendapat undangan untuk melaksanakan sholawatan dan peririq pusake gubuk di rumahnya Saraiyah RT 2 Gubuk SD Dusun Timuk Rurung Desa Rensing Bat. Rutinan malam Jum’at ke-137 ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan malam pertama bulan kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW, 1 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Malam tersebut juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bagi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Hari Ulang Tahun Desa Rensing Bat ke-15, serta haul majemuk bagi keluarga jamaah yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Kehadiran Al-Mukarrom Tuan Guru Beloam, TGH. Zulkarnain Almusannip, QH., Lc., semakin menambah kekhusyukan majelis. Setelah lantunan 1000 sholawat zikir dan doa menggema di rumah shohibul hajat kemudian jamaah mendengar siraman rohani dari Tuan Guru Beloam (TGB). Dalam pengajian yang disampaikan, beliau mengingatkan sebuah kenyataan yang sederhana, tetapi sering kali terlupakan oleh manusia yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa menyempatkan diri untuk mengingat Allah dan menyebut kekasihNya yakni Rasulullah Muhammad SAW.

Selama hidup di dunia, kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Ada keluarga yang selalu bersama dalam s**a dan duka, ada sahabat yang menemani perjalanan, ada anak dan cucu yang menjadi kebanggaan, ada p**a harta yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan penuh perjuangan. Kita juga mungkin memiliki jabatan, kedudukan, penghormatan, dan nama yang dikenal banyak orang. Namun, ketika ajal datang dan mata tertutup untuk terakhir kalinya, satu demi satu semuanya harus kita tinggalkan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Harta yang kita kumpulkan akan menjadi warisan bahkan penyulut perpecahan keluarga. Jabatan yang pernah kita duduki akan digantikan oleh orang lain. Nama yang dahulu sering disebut perlahan-lahan hanya menjadi kenangan.

Ketika jasad telah terbujur kaku, keluarga yang selama ini begitu kita cintai dan mencintai kita akan mengantarkan hingga tempat peristirahatan terakhir. Dengan penuh kesedihan mereka akan mengiringi kita ke liang lahat. Namun setelah tanah menutup tubuh kita, mereka pun harus kembali menjalani kehidupan. Tidak ada yang salah dengan itu, karena memang demikianlah sunnatullah. Bahkan harta yang dahulu mungkin kita jaga siang dan malam, yang kita perjuangkan dengan tenaga dan pikiran, pada akhirnya hanya menjadi warisan bagi mereka yang masih hidup. Tidak jarang, harta yang ditinggalkan justru menjadi sebab perselisihan dan perebutan di antara manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan begitu jelas melalui sabdanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anh u, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap menemani di kubur. Yang berikutnya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap menemani di kubur adalah amalnya ." (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa dalam makna hadits tersebut. Kita sadari bahwa yang benar-benar setia menemani kita bukanlah keluarga, bukan p**a harta dan kedudukan. Yang masuk bersama kita ke dalam kubur dan menjadi teman dalam kesendirian alam barzakh adalah amal yang telah kita kerjakan selama hidup. Shalat yang kita jaga, sedekah yang kita keluarkan, ilmu yang kita ajarkan, zikir yang kita lantunkan, shalawat yang kita baca, kebaikan yang kita lakukan, serta setiap amal saleh yang kita persembahkan dengan hati yang ikhlas, semuanya akan menjadi bekal ketika dunia sudah tidak lagi dapat kita genggam.

Oleh karena itu jangan menunggu sempurna untuk mendekat kepada Allah, karena manusia memang diciptakan dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Jangan menunggu molah (tidak sibuk) untuk mengerjakan amal kebaikan, karena memang manusia sejatinya selalu dalam kesibukan. Selama napas masih berembus dan kesempatan hidup masih diberikan, maka pintu kebaikan selalu terbuka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (an-Nahl: 97)

Ayat ini memberikan harapan bahwa amal saleh bukan hanya bekal untuk kehidupan setelah kematian. Amal saleh juga mendatangkan kehidupan yang baik di dunia. Kehidupan yang baik bukan semata-mata hidup yang penuh dengan harta dan kemewahan, melainkan kehidupan yang dipenuhi ketenangan hati, keberkahan, rasa cukup, kemudahan dalam menghadapi ujian, serta keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya.

Maka, malam Jum’at itu seakan menjadi pengingat bagi setiap hati yang hadir. Hidup ini tidak selamanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang kita raih, atau seberapa besar penghormatan manusia kepada kita. Semua itu akan berhenti ketika usia telah sampai pada batasnya. Yang akan terus berbicara adalah amal. Yang akan menjawab ketika kita ditanya adalah amal. Yang akan menjadi cahaya dalam gelapnya alam kubur adalah amal. Dan yang akan kita harapkan ketika tidak ada lagi pertolongan, kecuali pertolongan Allah, adalah rahmat-Nya yang kita perjuangkan melalui iman dan amal saleh.

Beruntunglah orang yang sebelum meninggalkan dunia telah mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang setelah kematian. Sebab kematian bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi pintu menuju kehidupan yang sebenarnya. Hari ini kita mungkin masih bisa berkumpul, bershalawat, berzikir, belajar ilmu, bercanda bersama keluarga, dan menikmati apa yang Allah titipkan. Namun suatu hari nanti, salah satu dari kita akan lebih dahulu dipanggil p**ang. Saat itulah tidak ada lagi kesempatan untuk kembali memperbaiki shalat yang ditinggalkan, meminta maaf atas kesalahan yang belum diselesaikan, atau mengulang waktu untuk melakukan kebaikan yang pernah kita abaikan.

Karena itu, selagi masih diberi kesempatan untuk bernapas, mari memperbanyak amal saleh. Selagi masih memiliki keluarga, mari saling mencintai dan mendoakan. Selagi masih memiliki harta, mari belajar berbagi. Selagi masih memiliki kedudukan dan kesempatan, mari gunakan untuk memberi manfaat. Jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan kehidupan dunia yang hanya sementara, tetapi lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Semoga lantunan Sholawat Jibril, zikir, ilmu, dan doa yang dipanjatkan pada rutinan malam Jum’at ke-137 tersebut menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup ini sedang berjalan menuju sebuah kepastian. Rumah akan kita tinggalkan, keluarga akan kita tinggalkan, harta akan kita tinggalkan, jabatan akan kita tinggalkan. Tetapi ada satu yang tidak akan meninggalkan kita. Ia akan setia menemani ketika semua telah pergi. “Itulah amal kita.”

Maka sebelum kita diantar ke tempat terakhir oleh keluarga, sebelum harta menjadi warisan, sebelum nama hanya tinggal kenangan, dan sebelum tubuh kembali menyatu dengan tanah, mari kita tinggalkan jejak-jejak kebaikan. Semoga ketika dunia telah menutup pintunya untuk kita, amal saleh menjadi sahabat setia, menjadi cahaya dalam kubur, menjadi penolong di hari perhitungan, dan menjadi jalan untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia serta kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan akhir kami. Jadikanlah setiap langkah kami bernilai ibadah, setiap kebaikan kami menjadi bekal, dan ketika tiba saat kami kembali kepada-Mu, pertemukanlah kami dengan rahmat dan ampunan-Mu. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.












Tembok Gading, 16 Agustus 2026
Nuruddin

**foto pemanis : sholawatan dan peririq pusake gubuk di rumah warga dusun Timuk Rurung Desa Rensing Bat

16/08/2026

Anak-anak soleh bersalaman dengan sang murobbi al-mukarrom TGH. M. Yusuf Ma'mun dan Syeikh As-Sayyid Abduh Athiyah Mesir





Selamat dan Berkah Hari Ulang Tahun ke-15 Desa Rensing Bat15 Agustus 2011 – 15 Agustus 2026Kebersamaan adalah rumah yang...
15/08/2026

Selamat dan Berkah Hari Ulang Tahun ke-15 Desa Rensing Bat
15 Agustus 2011 – 15 Agustus 2026

Kebersamaan adalah rumah yang harus terus kita rawat, sementara perbedaan adalah warna yang menjadikan perjalanan kita semakin indah.

Di usia yang ke-15 tahun, Desa Rensing Bat telah tumbuh melalui perjalanan panjang yang tidak selalu sama dalam pandangan dan langkah. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadikan kita saling menjauh, melainkan mengajarkan kita untuk lebih dewasa dalam memahami dan menghormati satu sama lain.

Mari menjaga hati, mempererat silaturahmi, dan merawat persaudaraan. Karena membangun desa tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan jiwa yang saling menghargai, tangan yang saling menguatkan, dan hati yang tetap bersatu.

Boleh berbeda pilihan dan pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan. Boleh berbeda jalan pemikiran, tetapi jangan sampai berhenti berjalan menuju kebaikan bersama.

Semoga Desa Rensing Bat semakin maju dalam pembangunan, semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, serta semakin kuat dalam menjaga persatuan dan kebersamaan.

Rensing Bat, 15 Agustus 2026
Nuruddin
Pendiri KMI Nabbany Rensing Bat / Eks Sekretaris Panitia Pembentukan Desa Rensing Bat

Tak Menyangka Dengan Perjalanan Hidup SeseorangTak menyangka...... barangkali itulah kata yang sering terucap ketika kit...
13/08/2026

Tak Menyangka Dengan Perjalanan Hidup Seseorang

Tak menyangka...... barangkali itulah kata yang sering terucap ketika kita melihat kembali perjalanan hidup teman-teman lama atau orang yang kita kenal jauh sebelumnya. Ada seseorang yang dahulu terlihat biasa-biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak terlalu menonjol, bahkan mungkin kehadirannya sering luput dari perhatian. Namun waktu berjalan, kehidupan mengajarkannya banyak hal. Hari ini ia tumbuh menjadi pribadi yang cemerlang, pandai berbicara, mampu menjalin komunikasi dengan banyak orang, dan memiliki kepercayaan diri yang mungkin dahulu tidak pernah kita bayangkan.

Ada p**a yang ketika masih sekolah dahulu tidak begitu dianggap. Tidak memiliki banyak prestasi bahkan berada di posisi buntut jika dinilai dari rapotnya, tidak menjadi pusat perhatian, bahkan mungkin pernah dipandang sebelah mata. Namun siapa sangka, hari ini ia memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Relasinya luas, jejaring bisnisnya tersebar di berbagai tempat, kemampuan membangun komunikasi dan melobi orang tidak bisa dianggap remeh. Orang yang dahulu mungkin dianggap “biasa”, ternyata sedang dipersiapkan oleh kehidupan untuk menjadi pribadi yang luar biasa.

Tak menyangka....dulunya dianggap pasangan pembawa sial, tidak disetujui saat awal pernikahan namun justru ia lah yang menjadi pahlawan keluarga dan paling diharapkan.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita duga. Ada juga orang yang dahulu sangat aktif, ramah, pintar, berprestasi, bahkan memiliki kehidupan yang serba berkecukupan. Banyak yang mengira masa depannya pasti akan selalu berada di atas. Tetapi waktu terus berjalan, keadaan berubah, dan orang-orang yang dahulu dianggap kecil justru perlahan melangkah mendahului. Bahkan dulunya punya IQ tinggi banyak yang mengira dia paling cepat sukses justru kehidupannya sangat memperihatinkan. Bukan karena siapa yang lebih hebat, tetapi karena hidup memang memiliki jalan yang tidak pernah sepenuhnya bisa kita tebak.

Tak menyangka....orang yang dulunya sangat dipercaya, disayangi, di cintai justru saat ini mulai berkhianat dan merusak kehidupan keluarga yang telah lama dibina.

Begitulah hidup. Allah memiliki cara-Nya sendiri dalam mengatur perjalanan setiap manusia. Ada yang bersinar sejak awal, ada yang baru menemukan cahayanya setelah melewati jalan panjang. Ada yang cepat sampai, ada yang harus tersesat, jatuh, bangkit, bahkan menangis berkali-kali sebelum menemukan jalannya. Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya dari keadaan hari ini. Kita tidak pernah tahu seperti apa bab berikutnya dalam kehidupan seseorang.

Jangan pernah terlalu bangga dengan kejayaan masa lalu, sebab apa yang pernah kita miliki belum tentu tetap tinggal bersama kita. Dan jangan p**a sombong dengan keadaan hari ini hanya karena kita merasa telah mampu melebihi orang-orang yang dahulu memiliki kelebihan. Roda kehidupan terus berputar. Hari ini kita berada di atas, esok mungkin keadaan berubah. Hari ini seseorang terlihat tertinggal, esok ia mungkin berada jauh di depan, melampaui semua perkiraan.

Yang kita miliki hari ini bukanlah alasan untuk merendahkan orang lain, tetapi alasan untuk semakin bersyukur. Syukuri setiap keadaan, teruslah berikhtiar dengan maksimal, sandarkan segala harapan kepada Sang Pencipta, perbanyak doa, dan belajar bertawakal. Sebab kemampuan, jabatan, harta, relasi, kecerdasan, bahkan pop**aritas, semuanya bisa datang dan pergi. Tetapi hati yang rendah, dada yang lapang, usaha yang sungguh-sungguh, serta keyakinan kepada Allah akan menjadi kekuatan untuk tetap berdiri dalam setiap perubahan keadaan.

Maka, jika hari ini melihat seseorang yang kehidupannya berubah jauh dari masa lalunya, jangan terlalu heran. Jangan p**a terburu-buru membandingkan perjalanan hidup kita dengannya. Setiap orang sedang berjalan di jalan yang telah Allah tetapkan, dengan waktu dan cerita yang berbeda-beda.

Jangan sombong karena pernah hebat, jangan p**a merasa rendah karena pernah diremehkan. Sebab perjalanan hidup belum selesai, dan kita tidak pernah tahu siapa yang akan bersinar di akhir perjalanan.

Hari ini mungkin kita hanya mengenal seseorang dari masa lalunya, tetapi esok hari bisa jadi Allah memperlihatkan kepada kita betapa luar biasanya masa depannya.

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad.











Tembok Gading, 13 Agustus 2026
Nuruddin

**foto pemanis : membersamai Tim Pengabdian kepada masyarakat Universitas Hamzanwadi Prof. Dr. Baiq Fatmawati, M.Pd, Wawan Muliawan,M. Pd dan guru-guru MIPA Ponpes Birrul Walidain Nwdi dalam kegiatan workshop

Address

Lombok

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nuruddin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Nuruddin:

Shortcuts

Share

Category