21/12/2012
Kiamat Ditunda!
Djoko Suud Sukahar -
detikNews
Jakarta - Isu kiamat berakhir
sudah. Hari ini dunia masih
utuh. Segalanya berjalan normal.
Tidak ada yang spesial. Tidak
ada yang mengejutkan. Hanya
mungkin kejutannya nanti di
akhir tahun. Pergantian tahun
diramaikan secara istimewa.
Sebagai bukti syukur, bahwa
ternyata kiamat ditunda.
Kiamat pastilah tiba. Itu tersurat
dalam banyak kitab suci. Dalam
agama samawi, sebelum hari
akhir tiba, banyak tanda-tanda.
Kegaduhan tak terperi,
tampilnya sosok Imam Mahdi,
planet kehilangan rotasi, langit
dan bumi tergulung tatkala
malaikat Izrail meniup terompet
sebagai penutup hari akhir.
Keyakinan itu menempatkan
posisi malaikat Izrail sebagai
grade tertinggi dalam maqom
sufi. Dia cerminan watak terbaik
di antara 200 manusia terbaik.
Manusia yang total berbakti
kepada Tuhan, seperti tersurat
dalam Ordo Christiyyah.
(Sebagai catatan, ordo ini
meyakini, sekacau apapun dunia
ini, masih tersisa 200 manusia
baik dengan tingkah-lakunya
seperti nabi dan malaikat).
Namun dalam pemahaman
budaya, kiamat tidaklah terjadi
seperti itu. ‘Kiamat’ kali ini
contohnya. Tanggal 21-12-2012
merupakan ‘tutup buku’ dari
sebuah almanak Suku Maya.
Sebuah suku berkebudayaan
tinggi di-era-nya, mempunyai
hitungan terhadap banyak hal,
yang hitung-hitungannya
dijadikan patokan bagi banyak
pihak yang menyukai dunia
symbol.
Di Jawa, ‘kiamat’ seperti ini
sudah berulang terjadi. Tahun
1945-an memunculkan banyak
tokoh marjinal seperti Gerakan
Ngaisah, tahun 1966 ketika
kegaduhan politik melahirkan
Mbah Suro, dan di tahun 1999
‘kiamat’ juga diasumsikan tiba
sehingga orang-orang
berduyun-duyun membangun
tenda di Alas Purwo untuk
keselamatan diri. Kenapa Alas
Purwo Banyuwangi?
Itu karena tahun 1999
merupakan tahun akhir dari
sumpah Sabdo Palon Noyo
Genggong. Sosok penasehat
spiritual raja Majapahit terakhir
yang masuk agama Islam. Dia
merelakan sang raja memeluk
Islam. Dia kembali ke asalnya
sebagai ‘Ratu Demit’, yang
kerajaannya, dalam mitologi
‘Islam Jawa’ disebut berada di
Alas Purwo.
Sabdo Palon Noyo Genggong
tidak sekadar memisahkan diri
dengan sang raja. Tokoh ini juga
meluapkan sumpah. Katanya,
jika saatnya tiba, maka Pulau
Jawa akan dibuatnya porak-
poranda. Mayat
bergelimpangan. Pagebluk
(wabah penyakit) terjadi
dimana-mana. Pagi sakit sore
mati. Itu karena pasukan Sabdo
Palon Noyo Genggong yang
terdiri dari berbagai jenis setan
dan jin mulai melaksanakan
dendamnya. Menagih janji.
Dalam untaian prahara itu juga
disebut ‘Serat Sabdo Palon Noyo
Genggong’, bahwa untuk
menangkal bencana itu, langkah
yang harus dilakukan manusia
adalah bergabung. Bergabung
dalam komunitas Sabdo Palon
Noyo Genggong. Berada di
‘istananya’, yaitu Alas Purwo.
Itulah alasan, mengapa ribuan
manusia membangun tenda di
Alas Purwo yang menimbulkan
kegaduhan kala itu.
Realitas dari ‘mitos yang
diyakini’ itu acap memberi cap
manusia Jawa sebagai ‘manusia
nglenik’. Itu tak salah. Namun di
tengah zaman yang sangat
maju sekarang ini, dan
berakhirnya almanak Suku Maya
menimbulkan kegoncangan di
berbagai penjuru dunia, rasanya
tidak beralasan jika ‘nglenik’
hanya prerogatif orang Jawa.
‘Nglenik’ hakekatnya adalah
mempercayai kegaiban. Setiap
manusia beragama, wajib
hukumnya percaya dengan
kegaiban. Gaib, yang secara
metafisis berarti di luar
jangkauan akal manusia.
Percaya Tuhan, malaikat, hari
kiamat salahsatunya.
Serpihan dari kepercayaan-
kepercayaan itu yang
mengindoors dan bersimbiose
dengan keyakinan lama, yang
kemudian memunculkan
penafsiran-penafsiran baru.
Geger tentang ‘kiamat’ kali ini
merupakan bagian dari itu.
Percaya tidaknya kiamat bukan
bergantung pada cerdas atau
tumpulnya logika, tetapi lebih
pada ranting dari sebuah pohon
besar yang disebut agama.
Mereka tidak salah jika percaya
kiamat datang lebih dini. Begitu
juga dengan yang percaya
kiamat tiba seperti yang
diyakini pemeluk agama
samawi.
Tetapi mengapa manusia
percaya tentang ini? Sebagai
pemeluk Islam, maka Surat An-
Nas telah memberi siratan
makna yang tegas, bahwa
manusia itu mempunyai
keraguan tingkat tinggi. Setan
berkeliaran sampai detak
jantungnya. Menggoda dari
sana, dan manusia pun
terombang-ambing akal dan
perasaannya.
Untuk itu, menyikapi ‘kiamat-
kiamat’ lain yang akan
berdatangan lagi, maka kita
perlu melihat tanda-tanda yang
menyertai. Tanda yang sudah
terpampang jelas dalam kitab
suci, seraya berdoa agar kita
tidak sampai melihat hari akhir
itu tiba. Hari yang disebut
sebagai hari-hari yang tinggal
dihuni manusia-manusia
terjelek.