Fatwa Ulama

Fatwa Ulama

Share

Ruang Informasi Fatwa hukum keiaman dari para ulama

Photos from Fatwa Ulama's post 20/02/2024

#1 - Jarang Kopyah Hitam

Kalau kita memperhatikan mayoritas pengikut wahabi dari segi kopyahnya, akan langsung terlihat ciri khasnya. Yaitu kopyah putih. Tapi, tidak sembarang kopyah putih.

Biasanya, kopyah putih yang digunakan adalah model rajutan. Bukan model malaysia, bukan model bergambar terompah Nabi, atau yang kaku bulat itu.

Apa alasannya?
Secara pastinya, saya kurang tahu.
Tapi, bisa dikira-kira sebagai berikut.

Pertama,
Mengikuti sunnah Nabi saw yang s**a putih. Karena itu, jarang dari mereka yang menggunakan songkok nasional warna hitam. Kecuali orang-orang tertentu yang terjun di pemerintahan.

Kalau ditelusuri hadis-hadis, Nabi itu tidak pakai kopyah juga sih. Yang sering dipakai justru ímāmah (sorban). Kain lembaran warna putih yang dilingkarkan di kepala.

Barangkali, agak sulit di Indonesia memakai imāmah, sehingga diganti kopyah putih saja. Diambil putihnya. Yang penting ada sisi niru kebiasaan Nabi.

Atau bisa jadi, alasan tidak pakai imāmah itu disebabkan aksesoris tersebut sudah kadung melekat di para kiai dan ulama NU di Indonesia. Makanya, harus berbeda.

Kedua,
Kopyah Hitam itu khas nusantara.
Pemahaman umum yang berlaku di kalangan Wahabi adalah mengikuti sunnah Nabi. Kebiasaan Nabi saw sehari-hari.

Ironisnya, sebagian besar kalangan mereka lantas memaknai hal itu dengan cara pakaian yang biasa dipakai di suatu daerah, atau tradisi di masyarakat setempat dianggap melanggar sunnah Nabi. Paling tidak, gak sesuai dengan sunnah beliau lah.

Yang mirip nasibnya dengan kopyah hitam ini ialah baju batik--khas Jawa.

Padahal, jika mau memperhatikan detail berbagai peristiwa yang terjadi dalam episode kehidupan Nabi, pernah juga tuh disebutkan Nabi saw memakai imāmah berwarna hitam. Sehingga apabila diqiyaskan, maka kopyah hitam itu sesuai dengan imāmah Nabi yang berwarna hitam.[KHO]

20/02/2024

#2 - Anti Kopyah Terompah Nabi saw

Secara umum, keyakinan Wahabi itu nggak mau tabarruk dengan benda-benda tinggalan Nabi saw. Rambut, baju, sandal, atau pedang Nabi saw, jika dianggap memiliki berkah atau nilai manfaat bagi pemiliknya, maka dianggap syirik. Dan itu dosa besar.

Padahal,
Andai itu benda-benda yang ASLI tinggalan Nabi saw. Jika dianggap sebagian masyarakat dapat memberi manfaat, maka Wahabi akan berusaha melenyapkannya. Jika mereka berkuasa, misalnya.

Sikap keras dan tegas itu diambil dengan dalih melindungi umat Islam dari kesyirikan dan menganggap ada yang membandingi Allah dalam memberi manfaat.

Dengan benda Asli saja dianggap syirik kok.
Apalagi dengan yang hanya simbol--macam terompah Nabi saw. Pasti akan lebih ditentang.

Model terompah Nabi inilah yang sering diadopsi mayoritas umat Islam--Aswaja, di desain kopyah, sorban, atau stiker-stiker. Tentu sambil berharap mendapatkan barokah dari simbol tersebut.

Kenapa sandal? Bukan tulisan محمد atau zikir sholawat lainnya?
Jawabannya; jika sandal saja yang tempatnya biasanya di tanah kita letakkan di atas kepala kita, apalagi dengan nama beliau; Baginda Rasulullah saw. Pasti lebih dulu merasuk dan tertarik di dalam hati.

Alasan kedua, Umat Islam Aswaja yang paham aturan agama tidak akan sembarangan menulis lafadz الله atau محمد di benda-benda yang dipakai. Sebab, risikonya benda itu bisa terkadang kita pakai utk masuk toilet, buang hajat, atau kegiatan lain yang tidak pantas. Dan itu sangat terkadang. Tidak sopan.

Nah,
Atas dasar argumen di ataslah, Wahabi gak mungkin pakai kopyah bergambar terompah Nabi. Kecuali wahabi yang gak paham.

Photos from Fatwa Ulama's post 05/01/2024

Amplop Kiai

Di acara "Hormat Sang Guru", Rabu (3/1) Gus Kautsar bercerita; suatu ketika beliau ditelpon KH Marzuqi Mustamar.

Rupanya, malam itu Kiai Marzuqi punya jadwal ngisi ceramah di Trenggalek. Dua tempat p**a. Karena ada uzur, Kiai Marzuqi berharap Gus Kautsar bisa menggantikan ngisi pengajian di 2 tempat itu.

"Gus Reza (Lirboyo) mawon, Yai..." cerita Gus Kautsar mengelak di awal telpon.

Namun, pada akhirnya tetap Gus Kautsar yang berangkat. Lokasi beliau yg di Ploso Kediri, memang cukup dekat ke Trenggalek--dibandingkan Kiai Marzuqi yang dari Malang.

Ceramah 1: berjalan normal.
Pindah ceramah ke tempat ke-2. Beliau disambut meriah, dinaikkan kuda, dan dipayungi p**a. Jamaah ramai menandungkan sroqolan.

"Ketika perjalanan p**ang, saya mau buka amplop. Penasaran aja, berapa sih 'amplop' Kiai Marzuqi saat ceramah," ujar Gus Kautsar.

Amplop pertama, isinya 250 ribu.
Amplop kedua, isinya 500 ribu.

"Saya kaget. Satu PWNU itu tahu isi amplop tersebut. Ternyata, Kiai Marzuqi ini memang Kiai tenanan."

Coba bayangkan,
Kiai Marzuqi perjalanan dari Malang ke Trenggalek. Itu sekitar 138 km (3.5 jam). Ngisi ceramah, bawa mobil sendiri. Bawa sopir. Dikasih uang saku hanya Rp.250.000. 😅

Opo yo cukup?!
Tapi, itu dilakoni Yai Marzuqi.

"Kiai temenan beliau ini!"

===

Saya beberapa kali nyopir-i mertua ngisi ceramah. Pernah suatu ketika, saya nyopir ke Surabaya.

Selesai acara, kami p**ang. Di dalam mobil beliau membuka amplop pemberian tuan rumah. Saat dibuka, isinya 300 ribu.

===

PP Cahaya Quran, 6 Januari 2024
IG : .kholid
X :



Photos from I Love Learning Arabic's post 24/09/2023
08/08/2023

1. Bukan Peci Hitam
2. Bukan Peci Logo Sandal
3. Celana Cingkrang
4. Jarang Berkopyah
5. Sedekap Melingkar di Dada
6. Takbir Model Gunung
7. Jari Bergerak Kencang Saat Tasyahud
8.

08/08/2023

Prakata

Ketika p**ang kampung, selalu ada stigma negatif terhadap orang-orang baru. Khususnya, bagi orang yang nampak menonjol dalam keagamaan di masyarakat.

Tuduhan wahabi, membawa misi dari Timur Tengah, boneka Jakarta, merusak tatanan masyarakat, melawan tradisi, dan lain-lain. Seringkali jadi senjata untuk mengerangkeng orang tersebut.

Secara pribadi, sep**ang dari Jakarta saya punya angan-angan untuk menulis buku; ciri-ciri Wahabi Awam.
Dalam arti ciri fisik dan tingkah keseharian. Bukan dalam masalah Akidah.

Kenapa cuma fisik?
Karena: نحكم بالظواهر
Yang kita ketahui hanyalah sisi luarnya orang. Batinnya, kita tidak tahu sama sekali. Akidahnya, pun kita tidak tahu. Untuk memastikan akidahnya (khas wahabi atau tidak) perlu diskusi dan tanya jawab dulu. Baru bisa disimpulkan.

Kalau ciri fisik, langsung kelihatan.
Namun, tetap saja itu hanya jadi asumsi awal. Bukan sepenuhnya benar; bahwa dia Wahabi atau bukan.
Bisa jadi sekadar ikut-ikutan karena semangat beragamanya yang tinggi.

Keinginan menulis buku tersebut, sempat mengendap lama. Hingga suatu hari, guru saya dari Gresik menelepon. Beliau bercerita, tadi pagi kedatangan tamu orang sedesa saya. Orang itu takziyah ke rumah, karena ibundanya wafat.

Orang tersebut bercerita bahwa saya adalah dai utusan Timur Tengah; membawa misi Wahabi. Saya hanya disetir dari sana. Biaya untuk pondok dikirim miliaran rupiah tiap bulan.

Dan, isu ini menurutnya, sudah viral di kalangan warga desa saya.

Saya pribadi malah tidak pernah mendengarnya. Maklum, saya bukan maniak kumpul-kumpul di warung kopi. Jadinya, kurang up to date masalah undeground seperti ini di masyarakat.

Atas kejadian ini, ingatan saya tentang cita-cita lama terbersit kembali. Yaitu menulis buku tentang ciri-ciri Wahabi.

Dan inilah sekelumit informasi yang saya bagikan ke pembaca.

Disclaimer on.
Ciri-ciri ini hanya asumsi awal. Jadi, tidak sepenuhnya bisa menjadi referensi kebenaran tentang status seseorang wahabi atau tidak.

Kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis nantikan.

Wassalamualaikum wr wb.

17/02/2023

اسم الكتاب : أربعون حديثا تتعلق بمبادئ جمعية نهضة العلماء
مؤلف : الشيخ محمد هاشم أشعري (١٣٦٦ ه)

《 الحديث الثاني 》

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لا تبكوا على الدين إذا وليه أهله ، وابكوا على الدين إذا وليه غير أهله》(رواه الطبراني)

إسناد الحديث :
هذا الحديث رواه الطبراني في المعجم الأوسط.
قال الألباني : حديث ضعيف [سلسلة الأحاديث الضعيفة]

(حم) والطبراني في الأوسط (ك) كلهم من حديث عبد الملك بن عمرو عن كثير بن زيد عن داود بن أبي صالح (عن أبي أيوب) الأنصاري قال داود: أقبل مروان بن الحكم فوجد رجلا واضعا وجهه على القبر أي قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال: أتدري -[387]- ما تصنع؟ فأقبل عليه فإذا هو أبو أيوب فقال: نعم جئت رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولم آت الحجر سمعته يقول لا تبكوا إلخ. قال الهيثمي عقب عزوه لأحمد والطبراني: فيه كثير بن زيد وثقه أحمد وغيره وضعفه النسائي وغيره رواه سفيان بن حمزة عن كثير بن زيد عن المطلب بن عبد الله بن حنطب بدل داود اه وكثير بن زيد أورده الذهبي في الضعفاء وقال: ضعفه النسائي وقبله غيره وداود بن أبي صالح قال ابن حبان: يروي الموضوعات
《 فيض القدير ...

16/02/2023

اسم الكتاب : أربعون حديثا تتعلق بمبادئ جمعية نهضة العلماء
مؤلف : الشيخ محمد هاشم أشعري (١٣٦٦ ه)

《 الحديث الأول 》
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ المسلمين عامتهم)

الإسناد:
الحديث رواه مسلم (٥٥) في صحيحه.
فلا يحتاج إلى البحث والتخريج
فقد اتفق العلماء المحدثين بأن الأحاديث المروية في صحيحي البخاري ومسلم كلها صحيحة.

معنى الحديث:
فليس المعنى بأن ينصح الله ، وينصح الرسول ، ولكن كما قاله الإمام النووي في كتابه المنهاج في شرح صحيح مسلم بن الحجاج : أن عماد الدين وقوامه النصحية كَقَوْلِهِ الْحَجُّ عَرَفَةُ أَيْ عِمَادُهُ وَمُعْظَمُهُ عَرَفَةُ .

أ. تَفْسِيرُ النَّصِيحَةُ لِلَّهِ تَعَالَى :
فَمَعْنَاهَا مُنْصَرِفٌ إِلَى الْإِيمَانِ بِهِ وَنَفْيِ الشَّرِيكِ عَنْهُ وَتَرْكِ الْإِلْحَادِ فِي صِفَاتِهِ وَوَصْفِهِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ وَالْجَلَالِ كُلِّهَا وَتَنْزِيهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ جَمِيعِ النَّقَائِصِ وَالْقِيَامِ بِطَاعَتِهِ وَاجْتِنَابِ مَعْصِيَتِهِ وَالْحُبِّ فيه والبغض فيه وموالاة من أطاعه ومعادة مَنْ عَصَاهُ وَجِهَادِ مَنْ كَفَرَ بِهِ وَالِاعْتِرَافِ بِنِعْمَتِهِ وَشُكْرِهِ عَلَيْهَا وَالْإِخْلَاصِ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ وَالدُّعَاءِ إِلَى جَمِيعِ الْأَوْصَافِ الْمَذْكُورَةِ وَالْحَثِّ عَلَيْهَا وَالتَّلَطُّفِ فِي جَمِيعِ النَّاسِ أَوْ مَنْ أَمْكَنَ مِنْهُمْ عَلَيْهَا .

قَالَ الْخَطَّابِيُّ رَحْمَهُ اللَّهُ : وَحَقِيقَةُ هَذِهِ الْإِضَافَةِ رَاجِعَةٌ إِلَى الْعَبْدِ فِي نُصْحِهِ نَفْسَهُ فَاللَّهُ تَعَالَى غَنِيٌّ عَنْ نُصْحِ النَّاصِحِ.

ب. النصيحة لكتابه سبحانه وتعالى :

فمعناها : الإيمان بأن كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى وَتَنْزِيلُهُ لَا يُشْبِههُ شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ الْخَلْقِ وَلَا يَقْدِرُ عَلَى مِثْلِهِ أَحَدٌ مِنَ الْخَلْقِ ثُمَّ تَعْظِيمُهُ وَتِلَاوَتُهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ وَتَحْسِينُهَا وَالْخُشُوعُ عِنْدَهَا وَإِقَامَةُ حُرُوفِهِ فِي التِّلَاوَةِ وَالذَّبُّ عَنْهُ لِتَأْوِيلِ الْمُحَرِّفِينَ وَتَعَرُّضِ الطَّاعِنِينَ وَالتَّصْدِيقُ بِمَا فِيهِ وَالْوُقُوفُ مَعَ أَحْكَامِهِ وَتَفَهُّمُ عُلُومِهِ وَأَمْثَالِهِ وَالِاعْتِبَارُ بِمَوَاعِظِهِ وَالتَّفَكُّرُ فِي عَجَائِبِهِ وَالْعَمَلُ بِمُحْكَمِهِ وَالتَّسْلِيمُ لِمُتَشَابِهِهِ وَالْبَحْثُ عَنْ عُمُومِهِ وَخُصُوصِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوخِهِ وَنَشْرُ عُلُومِهِ وَالدُّعَاءُ إِلَيْهِ والى ما ذكرناه مِنْ نَصِيحَتِهِ .

ج. النَّصِيحَةُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
معناها : تَصْدِيقُهُ عَلَى الرِّسَالَةِ وَالْإِيمَانُ بِجَمِيعِ مَا جَاءَ بِهِ وَطَاعَتُهُ فِي أَمْرِهِ ونهيه ونصرته حيا وميتا ومعاداة عن عَادَاهُ وَمُوَالَاةُ مَنْ وَالَاهُ وَإِعْظَامُ حَقِّهِ وَتَوْقِيرُهُ وَإِحْيَاءُ طَرِيقَتِهِ وَسُنَّتِهِ وَبَثُّ دَعْوَتِهِ وَنَشْرُ شَرِيعَتِهِ وَنَفْيُ التُّهْمَةِ عَنْهَا وَاسْتِثَارَةُ عُلُومِهَا وَالتَّفَقُّهُ فِي مَعَانِيهَا وَالدُّعَاءُ إِلَيْهَا وَالتَّلَطُّفُ فِي تَعَلُّمِهَا وَتَعْلِيمِهَا وَإِعْظَامُهَا وَإِجْلَالُهَا وَالتَّأَدُّبُ عِنْدَ قِرَاءَتِهَا وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الكلام فيها بغير علم وإجلال أهلها لانتسابها إِلَيْهَا وَالتَّخَلُّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَالتَّأَدُّبُ بِآدَابِهِ وَمَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمُجَانَبَةُ مَنِ ابْتَدَعَ فِي سُنَّتِهِ أوتعرض لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَنَحْوُ ذَلِكَ .

د. النَّصِيحَةُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ :
معناها مُعَاوَنَتُهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَطَاعَتُهُمْ فِيهِ وأمرهم به وتنبيهم وَتَذْكِيرُهُمْ بِرِفْقٍ وَلُطْفٍ وَإِعْلَامُهُمْ بِمَا غَفَلُوا عَنْهُ وَلَمْ يَبْلُغْهُمْ مِنْ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ وَتَرْكُ الْخُرُوجِ عَلَيْهِمْ وَتَأَلُّفُ قُلُوبِ النَّاسِ لِطَاعَتِهِمْ.

قَالَ الْخَطَّابِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمِنَ النَّصِيحَةِ لَهُمُ الصَّلَاةُ خَلْفَهُمْ وَالْجِهَادُ مَعَهُمْ وَأَدَاءُ الصَّدَقَاتِ إِلَيْهِمْ وَتَرْكُ الْخُرُوجِ بِالسَّيْفِ عَلَيْهِمْ إِذَا ظَهَرَ مِنْهُمْ حَيْفٌ أَوْ سُوءُ عِشْرَةٍ وَأَنْ لَا يُغَرُّوا بِالثَّنَاءِ الْكَاذِبِ عَلَيْهِمْ وَأَنْ يُدْعَى لَهُمْ بِالصَّلَاحِ.

وَهَذَا كُلُّهُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ الْخُلَفَاءُ وَغَيْرُهُمْ ممن يقوم بأمور المسملين مِنْ أَصْحَابِ الْوِلَايَاتِ وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ وَحَكَاهُ أَيْضًا الْخَطَّابِيُّ

ثُمَّ قَالَ وَقَدْ يُتَأَوَّلُ ذَلِكَ عَلَى الْأَئِمَّةِ الَّذِينَ هُمْ عُلَمَاءُ الدِّينِ وَأَنَّ مِنْ نَصِيحَتِهِمْ قَبُولُ مَا رَوَوْهُ وَتَقْلِيدُهُمْ فِي الْأَحْكَامِ وَإِحْسَانُ الظَّنِّ بِهِمْ .

ح. نَصِيحَةُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ
وَهُمْ مَنْ عَدَا وُلَاةِ الْأَمْرِ فَإِرْشَادُهُمْ لِمَصَالِحِهِمْ فِي آخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَكَفُّ الْأَذَى عَنْهُمْ فَيُعَلِّمُهُمْ مَا يَجْهَلُونَهُ مِنْ دِينِهِمْ وَيُعِينُهُمْ عَلَيْهِ بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَسَتْرُ عَوْرَاتِهِمْ وَسَدُّ خَلَّاتِهِمْ وَدَفْعُ الْمَضَارِّ عَنْهُمْ وَجَلْبُ الْمَنَافِعِ لَهُمْ وَأَمْرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ بِرِفْقٍ وَإِخْلَاصٍ وَالشَّفَقَةُ عَلَيْهِمْ وَتَوْقِيرُ كَبِيرِهِمْ وَرَحْمَةُ صَغِيرِهِمْ وَتَخَوُّلُهُمْ بِالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَتَرْكُ غِشِّهِمْ وَحَسَدِهِمْ وَأَنْ يُحِبَّ لهم ما يجب لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ وَيَكْرَهُ لَهُمْ مَا يَكْرَهُ لِنَفْسِهِ مِنَ الْمَكْرُوهِ وَالذَّبُّ عَنْ أَمْوَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَحْوَالِهِمْ بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَحَثُّهُمْ عَلَى التَّخَلُّقِ بِجَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنْوَاعِ النصيحة وتنشيط هممهم إِلَى الطَّاعَاتِ

وَقَدْ كَانَ فِي السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ تَبْلُغُ بِهِ النَّصِيحَةُ إِلَى الْإِضْرَارِ بِدُنْيَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ .
هَذَا آخِرُ مَا تلخص في تفسير النصيحة

قال ابن بَطَّالٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ النَّصِيحَةَ تُسَمَّى دِينًا وَإِسْلَامًا وَأَنَّ الدِّينَ يَقَعُ عَلَى الْعَمَلِ كَمَا يَقَعُ عَلَى الْقَوْلِ قَالَ وَالنَّصِيحَةُ فَرْضٌ يُجْزِي فِيهِ مَنْ قَامَ بِهِ وَيَسْقُطُ عَنِ الْبَاقِينَ قَالَ وَالنَّصِيحَةُ لَازِمَةٌ عَلَى قَدْرِ الطَّاقَةِ إِذَا عَلِمَ النَّاصِحُ أَنَّهُ يُقْبَلُ نُصْحُهُ وَيُطَاعُ أَمْرُهُ وَأَمِنَ عَلَى نَفْسِهِ الْمَكْرُوهَ فَإِنْ خَشِيَ عَلَى نَفْسِهِ أَذًى فَهُوَ فِي سَعَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.



04/02/2023

Mbah Maimoen mulai ngaji kepada ayahnya. Di usia 17 sudah kuasai kitab-kitab dasar berbagai ilmu keislaman. Setelah itu, di masa remajanya, beliau lanjut mengaji di Pesantren Lirboyo selama 5 tahun kepada Kiai Abdul Karim, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Marzuqi Dahlan.

Seusai ngaji di Lirboyo, usia 21 tahun Mbah Maimoen ke Tanah Suci dan mengaji selama 2 tahun, kepada Sayyid Alawi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin al-Fadani, Syaikh Abdul Qodir al-Mandily, dan Syaikh Imron Rosyadi di Darul Ulum Mekah.

Sep**ang dari Tanah Suci usia 23, Mbah Maimoen lanjut ngaji; Kiai Baidhowi Lasem, Kiai Ali Krapyak, Kiai Bisri Rembang, Kiai Muslih Mranggen, Kiai Abbas Buntet, Kiai Fadhol Senori, Kiai Hamid Pasuruan, Habib Abdul Qadir Bilfaqih Malang, dan Habib Ali Alatthas Pekalongan, dll.

Tahun 1964M (usia 36 tahun), Mbah Maimoen mendirikan musholla kecil untuk mengajar masyarakat di desa Sarang. Tahun 1966, membangun kamar di sebelah musholla untuk santri yang menghendaki mondok. Tahun tahun 1970; berdirilah Pesantren Al-Anwar.

Mbah Maimoen tiap hari mengaji ilmu tingkat lanjut; Fathul Wahhab, Syarah Mahalli, Jam’ul Jawami’, Ihya ‘Ulumiddin, dll. Saat Ramadan, beliau mengaji Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha, dll. Tiap Ahad beliau ngaji Tafsir Jalalain bersama ribuan masyarakat umum.

Mbah Maimoen pernah jadi anggota DPRD Kabupaten Rembang 7 tahun, anggota MPR RI utusan daerah 3 periode. Sejak dahulu berjuang melalui PPP. Di PBNU, beliau menjadi mustasyar serta duduk di ‘majlis ifta wal irsyad’ Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).

Mbah Maimoen dikenal sebagai sosok yang mandiri sejak muda. Beliau pernah menjadi petugas koramil, kepala pasar, pengayong bulog, ketua koperasi, hingga bekerja di pelelangan ikan. Macam-macam pekerjaan beliau lakoni.

Mbah Maimoen sangat hati-hati dlam urusan nafkah. Saat menyimpan uang, Mbah Maemoen selalu membeda-bedakan lokasinya di lemari. Antara uang dari ceramah, atau dari partai, atau dari hasil penjualan warung, atau dari hasil pertanian. Tidak dicampur.

Kalau ada keperluan ceramah, Mbah Maimoen gunakan uang dari hasil ceramah. Kalau ada keperluan politik, beliau pakai uang hasil berpolitik. Adapun untuk keperluan nafkah keluarga dan makan sehari-hari, beliau ambil dari hasil pertanian dan warung beliau sendiri.

Ketika jadi anggota dewan, Mbah Maimoen tidak mau menikmati gajinya. Hal ini beliau lakukan untuk menghindari harta yang syubhat. Bahkan konon saat pergi ke Jakarta untuk keperluan politik, beliau sekeluarga memilih membawa bahan makanan sendiri untuk dimasak.

Di usianya yang lebih dari 90 tahun Mbah Maimoen masih membuka pintu rumahnya untuk menerima tamu setiap hari. Penulis pernah sowan satu kali dan terpana dengan segala keramahan beliau. Beliau juga kerap dikunjungi para ulama internasional dari berbagai penjuru dunia.

Saat dikunjungi Dr. Abdunnashir al-Malibari, Mbah Maimoen berkata; "Thaala 'umrii wa qalla 'amalii; sudah panjang usiaku namun sedikit amalku. 'Umrii fawqat tis'iin, ud'u lii an amuuta 'alaa diinil Islaam; usiaku sudah lebih dari 90 tahun, doakan aku agar mati dalam agama Islam."

Mbah Maimoen juga menyusun banyak kitab. Misalnya ‘Tarajim Masyayikh Sarang’ yang berisi biografi para kiai Sarang, kitab ‘Maslak at-Tanassuk al-Makki’, kitab ‘Ta'liqat Ala Jauharatit Tauhid’, kitab ‘Ta'liqat Ala Bad'i al-Amali’, kitab al-‘Ulama al-Mujaddidun’, dan lain-lainnya.

Want your school to be the top-listed School/college in Lamongan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Jl Umar Al Karim Dsn Beton RT 005 RW 003 Kec Babat
Lamongan