19/07/2026
BAG III — Manusia Awal dan Lanskap Megalitik Kuningan
Jejak Leluhur di Lereng Gunung Ciremai
=====================================
Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat bahwa tanah Cilaja bukanlah tanah yang baru terbentuk. Melalui penelitian Sungai Cisande, diketahui bahwa kawasan ini telah mengalami perjalanan geologi yang sangat panjang, bahkan sejak jutaan tahun lalu ketika sebagian wilayah Jawa masih berupa lingkungan laut purba.
Namun setelah daratan terbentuk, pertanyaan berikutnya muncul:
Kapan manusia mulai hadir dan memberi makna terhadap tanah yang kini menjadi wilayah Cilaja?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat konteks yang lebih luas, yaitu kawasan lereng timur Gunung Ciremai dan wilayah Kuningan.
Kuningan: Lanskap Kehidupan Manusia Prasejarah
=================================
Penelitian arkeologi di beberapa tempat di Kuningan menunjukkan bahwa kawasan sekitar Gunung Ciremai telah menjadi ruang kehidupan manusia sejak masa prasejarah.
Salah satu yang paling terkenal adalah Situs Cipari di Kecamatan Cigugur, Kuningan. Situs ini menjadi salah satu bukti penting keberadaan tradisi megalitik, yaitu kebudayaan masyarakat masa lalu yang menggunakan batu-batu besar sebagai bagian dari kehidupan sosial dan kepercayaan.
Dari penelitian di Cipari ditemukan berbagai tinggalan seperti: menhir (batu tegak), peti kubur batu, altar batu, dolmen, serta berbagai artefak kehidupan masyarakat masa lalu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah tidak hanya tinggal dan mencari makan, tetapi juga telah memiliki cara pandang terhadap alam, leluhur, dan kehidupan setelah kematian.
Selain Cipari, kawasan lain seperti Cibuntu dan Ragawacana juga memperlihatkan adanya jejak budaya megalitik di sekitar lereng Gunung Ciremai.
Hal ini memberikan gambaran bahwa wilayah Kuningan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi merupakan sebuah lanskap budaya yang telah dihuni dan dimaknai manusia sejak ribuan tahun lalu.
Lalu Bagaimana dengan Cilaja?
=====================
Desa Cilaja belum memiliki penelitian arkeologi berupa ekskavasi besar seperti Situs Cipari. Oleh karena itu, kita belum dapat menyatakan secara pasti bahwa Cilaja merupakan situs permukiman megalitik.
Namun, Cilaja memiliki beberapa petunjuk yang menarik.
Salah satunya adalah catatan seorang peneliti Belanda, F.C. Wilsen, pada tahun 1855.
Dalam catatannya mengenai tinggalan batu kuno di wilayah Kuningan dan sekitarnya, Wilsen membuat dokumentasi gambar beberapa batu yang ditemukan di berbagai lokasi, termasuk Tji-ladja (Cilaja), Kuningan.
Salah satu yang menarik adalah gambar batu tegak yang oleh masyarakat kemudian dikenal sebagai Batu Satangtung.
Keberadaan catatan Wilsen menunjukkan bahwa sejak abad ke-19, wilayah Cilaja telah dikenal memiliki tinggalan batu yang dianggap penting oleh masyarakat setempat.
Batu Satangtung dan Ingatan Leluhur
========================
Dalam tradisi masyarakat Nusantara, batu tegak atau batu besar sering memiliki hubungan dengan penghormatan terhadap leluhur dan ruang sakral.
Namun, secara ilmiah, sebuah batu belum dapat langsung disebut peninggalan megalitik tanpa penelitian lebih lanjut mengenai konteks lokasi, hubungan dengan tinggalan lain, lapisan tanah,
serta analisis arkeologi.
Karena itu, Batu Satangtung di Cilaja dapat dipandang sebagai indikasi penting yang perlu dikaji lebih lanjut, sekaligus bagian dari ingatan budaya masyarakat mengenai masa lalu wilayah ini.
Cilaja dalam Satu Lanskap Megalitik Kuningan
================================
Jika kita melihat peta kawasan, Cilaja berada dalam lingkungan geografis yang sama dengan berbagai situs prasejarah di sekitar Gunung Ciremai.
Ada hubungan antara:
- gunung sebagai sumber kehidupan,
- mata air sebagai pusat aktivitas manusia,
- sungai sebagai jalur kehidupan,
- dan batu sebagai simbol hubungan manusia dengan leluhur.
Sungai Cisande yang melintasi Cilaja, sumber-sumber mata air, serta keberadaan tinggalan batu menjadi bagian dari lanskap yang memungkinkan manusia masa lalu memilih kawasan ini sebagai ruang kehidupan.
Maka, meskipun penelitian langsung di Cilaja masih perlu dilakukan, posisi Cilaja dapat dipahami sebagai bagian dari lanskap budaya Kuningan yang memiliki perjalanan panjang sejak masa prasejarah.
Dari Batu Menuju Peradaban
=====================
Jejak megalitik mengajarkan bahwa sejarah Cilaja tidak dimulai dari dokumen tertulis.
Jauh sebelum ada kerajaan, sebelum ada nama desa seperti sekarang, manusia telah berinteraksi dengan tanah ini.
Mereka melihat gunung, sungai, mata air, dan batu bukan sekadar benda alam, tetapi bagian dari kehidupan yang memiliki makna.
Dan mungkin, di balik batu-batu tua yang masih tersisa hingga hari ini, masih tersimpan cerita panjang tentang bagaimana leluhur kita pertama kali mengenal dan menghormati tanah Cilaja.
Sumber Referensi Awal
- Wilsen, F.C. (1855). Bijgeloovigheden der Soendanezen, dalam
Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde.
- Penelitian arkeologi Situs Cipari, Kuningan (Balai Arkeologi Bandung/BRIN).
- Penelitian tinggalan megalitik kawasan Cibuntu dan Ragawacana, Kuningan.
- Van Bemmelen, R.W. (1949). The Geology of Indonesia.