14/08/2026
Organisasi Lahir Dari Realitas Kehidupan Rakyat, Bukan Hanya Dari Teori.
Organisasi bukan tempat untuk menjauh dari rakyat setelah memperoleh pengetahuan. Organisasi adalah ruang untuk mengolah pengetahuan bersama rakyat, memahami realitas, dan bekerja bersama untuk mengubah keadaan yang tidak adil.
Oleh: Iali Karunggu
Organisasi harus berangkat dari persoalan nyata. Organisasi tidak seharusnya dibentuk hanya karena ingin memiliki struktur, jabatan, nama besar, atau kelompok intelektual. Organisasi yang benar-benar hidup biasanya muncul karena ada persoalan, kebutuhan, ketidakadilan, dan kegelisahan nyata yang dirasakan rakyat.
Teori penting, tetapi teori bukan tujuan akhir
Teori membantu seseorang memahami keadaan, menganalisis masalah, dan menentukan arah perjuangan. Namun, teori tanpa praktik dapat menjadi pengetahuan yang kosong. Seseorang boleh menguasai banyak buku dan pandai berbicara tentang rakyat, tetapi jika tidak memahami kehidupan rakyat secara langsung, pengetahuannya dapat menjadi jauh dari kenyataan. Karena itu, hubungan yang sehat adalah: Realitas, analisis, teori, tindakan, evaluasi, kembali kepada realitas.
Kritik terhadap organisasi yang menjauh dari rakyat. Ada organisasi yang pada awalnya berbicara atas nama rakyat, tetapi setelah berkembang justru sibuk dengan urusan internal, jabatan, kepentingan pribadi, dan perebutan pengaruh. Ketika hal itu terjadi, organisasi berisiko kehilangan alasan awal mengapa ia dibentuk. Organisasi yang melupakan rakyat pada akhirnya dapat berubah dari alat perjuangan menjadi alat kepentingan kelompok.
Berorganisasi berarti belajar bersama rakyat. Berorganisasi bukan berarti seseorang merasa dirinya lebih pintar daripada rakyat. Justru organisasi seharusnya menjadi ruang untuk belajar dari pengalaman rakyat sekaligus membawa pengetahuan yang berguna bagi perjuangan bersama. Pengetahuan akademik, teori, dan pengalaman organisasi perlu dipertemukan dengan pengalaman nyata masyarakat. Sebab rakyat juga memiliki pengetahuan yang lahir dari kehidupan, pekerjaan, budaya, tanah, sejarah, dan pengalaman menghadapi berbagai persoalan.
Ukuran organisasi bukan hanya banyaknya anggota. Kekuatan organisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota, kantor, atribut, atau kemampuan berbicara di depan umum. Salah satu ukuran penting adalah seberapa jauh organisasi mampu memahami persoalan nyata dan bekerja bersama masyarakat untuk mencari perubahan yang adil. Dengan demikian, organisasi bukan menempatkan diri di atas rakyat, melainkan bersama rakyat.
Organisasi yang hanya hidup dalam teori akan mudah kehilangan realitas. Sebaliknya, organisasi yang hanya bertindak tanpa analisis juga dapat kehilangan arah. Karena itu, teori dan praktik harus berjalan bersama. Organisasi harus mampu turun dari ruang rapat menuju kehidupan nyata, mendengar suara masyarakat, memahami penderitaan dan kebutuhan mereka, kemudian mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan yang bertanggung jawab.
Organisasi.
“Organisasi bukan tempat untuk menjauh dari rakyat setelah memperoleh pengetahuan. Organisasi adalah ruang untuk mengolah pengetahuan bersama rakyat, memahami realitas, dan bekerja bersama untuk mengubah keadaan yang tidak adil.”
1. Organisasi bukan tujuan, melainkan alat perjuangan. Berorganisasi tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada masyarakat. Organisasi adalah sarana untuk belajar, menyusun kekuatan, membangun solidaritas, dan mencari jalan keluar bersama atas persoalan yang dihadapi rakyat.
Ketika organisasi justru membuat anggotanya menjauh dari rakyat, organisasi tersebut berisiko kehilangan tujuan awalnya. Organisasi dapat berubah menjadi ruang bagi kepentingan kelompok sendiri, jabatan, kekuasaan, atau kebanggaan pribadi.
2. Kekuatan harus berakar pada rakyat
Kekuatan sosial tidak hanya lahir dari kemampuan berbicara, pengetahuan, jabatan, atau banyaknya teori yang dikuasai. Kekuatan yang berkelanjutan membutuhkan kepercayaan dan keterlibatan masyarakat.
Karena itu, seseorang yang aktif dalam organisasi perlu memahami kehidupan rakyat secara langsung: mendengar keluhan mereka, memahami kesulitan mereka, dan ikut mencari penyelesaian bersama. Bukan berbicara atas nama rakyat tanpa pernah benar-benar hadir bersama rakyat.
3. Teori harus bertemu dengan praktik
Menguasai teori merupakan sesuatu yang penting. Pengetahuan membantu seseorang memahami persoalan secara lebih mendalam. Namun, teori yang tidak diterapkan dapat berhenti menjadi sekadar kata-kata.
Orang yang benar-benar belajar seharusnya mampu menghubungkan pikiran dengan tindakan. Ia tidak hanya pandai menjelaskan penderitaan rakyat, tetapi juga bersedia melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Dengan demikian, ukuran seseorang dalam organisasi bukan hanya seberapa banyak teori yang dapat ia jelaskan, tetapi juga seberapa bertanggung jawab ia menggunakan pengetahuan tersebut untuk kepentingan bersama.
4. Jangan merasa pintar lalu merendahkan rakyat.
Ada bahaya ketika seseorang memperoleh pendidikan, pengalaman organisasi, atau pengetahuan politik lalu merasa dirinya lebih pintar daripada masyarakat biasa. Dari sinilah dapat muncul sikap elitis: rakyat dianggap hanya sebagai objek yang harus mengikuti pemikiran para pemimpin.
Padahal, rakyat memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan kebijaksanaan yang tidak selalu ditemukan dalam buku atau ruang organisasi.
Karena itu, seorang organisator seharusnya memiliki sikap belajar dari rakyat sekaligus belajar bersama rakyat. Pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat seharusnya saling melengkapi.
5. Hidup bersama rakyat berarti memahami kenyataan.Berbicara tentang rakyat dari jauh tentu berbeda dengan hidup dan bekerja bersama mereka. Kehidupan nyata sering kali jauh lebih kompleks daripada teori.
Dengan berada bersama masyarakat, seseorang dapat memahami bahwa persoalan rakyat bukan sekadar angka atau bahan diskusi. Di dalamnya terdapat kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, tanah, ekonomi, budaya, martabat, dan masa depan.
Karena itu, kedekatan dengan rakyat bukan berarti kehilangan prinsip organisasi. Justru kedekatan tersebut dapat membuat perjuangan menjadi lebih realistis dan bertanggung jawab.
6. Kritik terhadap “kata-kata manis”
Bagian paling kritis dari tulisan Anda adalah persoalan kesenjangan antara ucapan dan tindakan.
Masyarakat mungkin mendengar banyak janji tentang perubahan, keadilan, kebebasan, kesejahteraan, dan pembelaan terhadap rakyat. Namun, apabila semuanya berhenti pada pidato, slogan, rapat, atau tulisan, rakyat tidak mengalami perubahan nyata.
Bukan berarti kata-kata tidak penting. Kata-kata dapat membangun kesadaran dan menyatukan pemikiran. Tetapi kata-kata harus memiliki konsekuensi dalam tindakan.
7. Tindakan nyata tetap harus dilakukan secara bertanggung jawab “Tindakan nyata” juga tidak berarti melakukan sesuatu secara sembarangan. Perubahan yang baik membutuhkan pendidikan, organisasi, solidaritas, dialog, disiplin, dan pertimbangan terhadap dampaknya bagi masyarakat.
Dengan demikian, tindakan nyata bukan sekadar bertindak agar terlihat aktif, tetapi bertindak berdasarkan kebutuhan rakyat, dengan cara yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.
Seorang organisator tidak boleh menjadi semakin jauh dari rakyat setelah memperoleh pengetahuan dan pengalaman organisasi. Semakin banyak seseorang belajar, seharusnya semakin besar p**a tanggung jawabnya untuk mendengar, memahami, dan bekerja bersama masyarakat.
Teori penting untuk membangun kesadaran, tetapi teori harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata dan bertanggung jawab. Organisasi kehilangan maknanya ketika hanya melahirkan orang-orang yang pandai berbicara tetapi tidak lagi memahami kehidupan rakyat.
Dengan kata lain, rakyat bukan objek perjuangan, melainkan subjek yang memiliki suara, pengalaman, martabat, dan kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang menjadikan anggotanya merasa paling pintar, melainkan organisasi yang mampu menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan tindakan bersama masyarakat.
Mataram, 13 Agustus 2026.
Iali karunggu