PRABU JAYABAYA

PRABU JAYABAYA

Share

Mengupas fakta Sejarah Peradapan dan Budaya Nusantara. For Members, free: Tag/Share/Copas. www.facebook.com/dahanapura Menurut kami hal itu disebabkan oleh:

1.

"Halaman ini untuk merajut kembali Kejayaan Nusantara, guna menemukan Jati Diri dan Identitas Bangsa"

Seperti telah kita ketahui, setiap daerah di Nusantara ini memiliki adat istiadat, budaya, dan legenda yang beragam yang telah ada ratusan/ribuan tahun yang lalu dan masih dilestarikan sampai sekarang. Hal itu merupakan bukti bahwa bangsa kita telah ada dan berbudaya ratusan/ribuan tahun yang lal

Kerajaan KEDIRI - Dahanapura , th. 1042-1222 27/10/2014

SITUS SUMBERCANGKRING
Gurah - Kabupaten Kediri

Atau Situs Babadan ini baru ditemukan sekitar thn 2008. Situs dan Benda c***r Budaya di Kabupaten Kediri ini dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda c***r Budaya dengan ancaman Hukuman Penjara atau denda bagi setiap pelanggarnya.

Seperti juga situs Tondowongso, situs ini terbuat dari terakota. Situs ini terletak di Dusun Babadan, Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Di situs ini banyak kita jumpai beberapa arca yang belum selesai pengerjaannya. Dimungkinkan pekerjaan tidak diselesaikan karena adanya bencana letusan Gunung Kelud. Ini sangat besar kemungkinannya, karena pada saat ditemukan, baik situs Sumbercangkring dan Tondowongso berada dibawah timbunan material/tanah vulkanis Gunung Kelud pada ekedalaman sekitar 2 meter dari permukaan tanag sekarang.

Situs Sumbercangkring diduga sebagai tempat pemujaan. Tim BP3 Trowulan menemukan bangunan semacam altar di kedalaman tiga meter dari permukan tanah dan pripih tempat sesaji pemujaan. Pripih terbuat dari bahan semacam batu berbentuk kubus. Panjang masing-masing sisi sekitar 12 centimeter dengan kedalaman ruang dalam sekitar 12 centimeter. Pripih dalam tradisi Hindu kuno dipergunakan sebagai pelengkap pemujaan.

Bangunan yang menyerupai altar, diduga merupakan bangunan yang menjadi pintu masuk menuju candi. Terbuat dari tatanan batu bata besar, panjang sisi bangunan, masing-masing sekitar 2 meter. Tingginya sekitar 1,5 meter. Sayangnya, bagian atas bangunan itu tidak ada sehingga belum bisa diketahui bentuk atau wujud aslinya.

Sebelumnya para arkeolog telah menemukan pondasi bangunan dan uang kepeng Cina di kedalaman 1,5 meter. Awal September 2008 lalu, warga menemukan sedikitnya enam buah arca. Keenam temuan itu berupa batu segi empat yang salah satu sisinya bergambar wajah raksasa dengan ketinggian 60 cm, lebar 78 cm dan tebal 18 cm. Di bawahnya terdapat batu persegi dengan panjang 70 cm, lebar 78 cm dan tebal 18 cm. Di batu-batu ada semacam tulisan.

Di sebelah batu persegi itu arca lebih besar serupa arca dwarapala yang posisinya tengkurap dengan bentuk muka serupa kera. Tingginya 98 cm, lebar 105 cm dan tebal 45 cm. Di dekat arca itu juga ditemukan potongan arca kepala dengan tinggi 48 cm, tebal 35 cm dan lebar 45 cm. Di dekatnya lagi ada kepala Ganesha serupa gajah bertinggi 16 cm, tebal 17 cm dan lebar 17 cm.
Dilokasi juga ditemukan beberapa sumur, salahsatunya masih bisa dipergunakan karena airnya juga cukup jernih.

Arkeolog menarik kesimp**an situs Babadan terkait dengan Tondowongso yang merupakan peninggalan jaman Kerajaan KEDIRI - Dahanapura (Kadhiri) awal yang dibangun pada abad XI. Arca Tondowongso yang diamankan ke Trowulan merupakan arca Hindu, yaitu Arca Brahma, Syiwa, Durga, Lingga, Yoni dan Lembu Andini. Dibuat dari bahan batu andesit yang sangat berat. Kehalusan arca Tondowongso lebih halus dibanding arca Pradnya Paramita yang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

-

Kerajaan MAJAPAHIT - Trowulan , th. 1293-1527 30/05/2014

CANDI CETHO
Jenawi - Karanganyar

Candi Cetho Karanganyar adalah sebuah candi Hindu yang berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Letaknya cukup tinggi yaitu di ketinggian 1.400 mdpl. Candi Cetho Karanganyar mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan Candi Sukuh yang juga berada di Kabupaten Karanganyar.

Nama Cetho sendiri merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat sekitar yang juga adalah nama dusun tempat situs candi ini berada. Cetho dalam Bahasa Jawa mempunyai arti “jelas”, ini karena di dusun Cetho ini orang dapat melihat dengan sangat jelas pemandangan pengunungan yang mengitarinya yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan di kejuhan nampak puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Selain itu dari dusun ini kita juga disuguhkan dengan pemandangan luas Kota Surakarta dan Kota Karanganyar yang terbentang luas di bawah.

Menurut para ahli sejarah dan purbakala sejarah Candi Cetho Karanganyar ini juga dibangun pada masa yang sama dengan Candi Sukuh yaitu di sekitar abad ke-15 di akhir masa kejayaan Kerajaan MAJAPAHIT - Trowulan (Hindu). Dibangunnya situs ini pada masa keruntuhan Majapahit mempengaruhi bentuk arsitektur candi. Candi ini mempunyai bentuk yang sangat unik, sama uniknya dengan arsitektur Candi Sukuh.

Candi Cetho tidaklah sama bentuknya seperti pada candi Hindu di Jawa pada umumnya. Bentuknya yang menyerupai punden berundak. Hal ini mendatangkan kesimp**an bahwa jatuhnya Majapahit membuat mulai munculnya kembali kebudayaan asli masyarakat sekitar. Candi Cetho Karanganyar sebenarnya merupakan bangunan candi yang terdiri dari 14 teras yang berundak membentang dari barat ke timur (dari bawah ke atas). Namun yang tersisa hanyalah 13 teras, dan sayangnya lagi pemugaran yang pernah dilakukan hanyalah pada 9 teras saja.

Catatan ilmiah tentang keberadaan situs Candi Cetho Karanganyar ini pertama kali oleh seorang Belanda bernama Van de Vlies di tahun 1842. Selain itu ada p**a beberapa ahli purbakala lainnya yang juga telah mengadakan penelitian tentang Candi Cetho Karanganyar ini, yaitu A.J. Bennet Kempers, N.J. Krom, W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, dan seorang Indonesia bernama Riboet Darmosoetopo. Kemudian akhirnya situs Candi Cetho Karanganyar ini digali pada sekitar tahun 1928, dan dari situlah diketahui bahwa situs ini dibangun pada masa akhir Majapahit di abad XV.

Namun bagaimanapun juga ternyata masih ada perbedaan pendapat mengenai tahun pembuatan Candi Cetho Karanganyar ini. Ada beberapa ahli yang mempunyai pendapat bahwa Candi Cetho Karanganyar ini sebenarnya telah dibangun jauh sebelum masa Majapahit, sedangkan Majapahit membangun candi (memugar) ini karena untuk digunakan kembali. Hal ini berdasarkan bukti bahwa candi ini dibangun dengan bahan dasar batu andesit dengan relief yang sangat sederhana sekali. Sedangkan kebanyakan candi era Majapahit dibangun dengan menggunakan bahan dasar batu bata merah dan memiliki relief yang jauh lebih detail.

Dan seperti halnya Candi Sukuh, candi ini memiliki bentuk arsitektur yang lebih mirip denga candi dari peradaban suku Maya di Meksiko, atau suku Inca di Peru. Selain itu beberapa patung yang ditemukan di sini samasekali tidak mirip dengan wajah orang Jawa, melainkan lebih mirip dengan orang Sumeria atau orang Romawi dan menunjukkan masa yang jauh lebih tua dari zaman Majapahit.

Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Suharto (presiden kedua Indonesia) mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Selanjutnya, Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, pada punden lebih tinggi daripada bangunan kubus.

Pada keadaannya yang sekarang, kompleks Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.

Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (p***s, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan p***s merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat p**a di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Di bagian teratas kompleks Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan).

---

Photos 26/04/2014

GUNUNG TIDAR

"Pakune Tanah Jowo"

Gunung Tidar memang tidak setenar gunung berapi lainnya seperti Gunung Kelud ataupun Gunung Merapi yang pada saat-saat tertentu mengeluarkan lava panas dan membahayakan penduduk sekitar. Gunung yang berada ditengah Kota Magelang tersebut disalah satu lerengnya merupakan kawah candradimuka bagi Akademi Militer yang mencetak perwira-perwira pejuang sapta marga yang berdiri pada 11 Nopember 1957.

Gunung Tidar tidak hanya terkenal sebagai ikon atau identitas Kota Magelang. Bagi sebagian orang yang memang nglakoni lelaku spiritual, Gunung Tidar merupakan salah satu obyek yang menjadi tempat tujuan mereka untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Gunung Tidar yang berada pada ketinggian 503 meter dpl inipun dalam legenda dikenal dengan "Pakune Tanah Jowo" (Pakunya Tanah Jawa). Memang secara geografis posisi Gunung Tidar relatif ditengah-tengah Pulau Jawa.

Dahulu Gunung Tidar terkenal akan keangkerannya dan menjadi rumah bagi para jin dan makhluk halus. Jalmo Moro Jalmo Mati, setiap orang yang datang ke Gunung Tidar bisa dipastikan akan mati atau modar (mungkin hal ini yang menjadi asal usul nama Tidar). Namun setelah Syaikh subakir berhasil menaklukkan Gunung Tidar yang pertama kali dengan mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar maka keberadaan Gunung Tidar mulai banyak dikunjungi orang. Syaikh Subakir merupakan seorang ulama yang berasal dari Turki (ada yang mengatakan dari Baghdad, Irak) yang datang bersama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama Islam. Sampai akhir hayatnya Syaikh Subakir berada di Gunung Tidar dan makamnya dapat kita jumpai di atas Gunung Tidar tersebut yang hingga saat ini sebagai tempat ziarah kubur terutama menjelang bulan ramadhan tiba. Ada yang berpendapat bahwa ini bukanlah makam tetapi petilasan (tempat istirahat) Syaikh Subakir. Selain makam Syaikh Subakir ada makam yang panjangnya 7 meter yang merupakan makam Kyai Sepanjang, Kyai Sepanjang merupakan tombak dari Syaikh Subakir untuk mengalahkan para jin Gunung tidar. Panjang makam awalnya adalah 6 meter, kemudian setelah petilasan Syaikh Subakir dan Kyai Ismoyo dipugar, makam Kyai Sepanjang-pun juga dipugar dan panjang makam ditambah 1 meter sehingga total menjadi 7 meter.

Untuk mencapai puncak tidar dibutuhkan waktu yang lama hanya sekitar 30 menit, dengan keberadaannya yang masih alami terdapat pohon-pohon pinus dan tanaman buah-buahan yang berumur tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960 yang menjadikan gunung tidur semakin hijau. Dipuncak Gunung Tidar terdapat lapangan yang luas dan ditengah lapangan tersebut terdapat Tugu dengan simbol "So" (huruf jawa) dalam tiga sisinya dan hal itu berarti "Sopo Salah Seleh" atau kurang lebih artinya siapa yang bersalah sebaiknya mengakui kesalahannya. Tugu inilah sebagai pertanda dengan apa yang disebut "Pakune Tanah Jowo" sehingga membuat keberadaan Pulau Jawa tetap tenang dan aman.

Di makam Syaikh Subakir ini tersedia mushola kecil dan pendopo. Makam Syaikh Subakir sebelumnya ditandai dengan adanya kijing yang terbuat dari kayu. Setelah dipugar, kijing tersebut diletakkan di pendopo dan diganti dengan batu fosil yang berasal dari Tulung Agung serta dikelilingi pagar tembok yang berbentuk lingkaran tanpa atap.

Makam lainnya adalah makam Sang Hyang Ismoyo Jati atau yang biasa disebut dengan Kyai Semar (bukan Semar dalam pewayangan). Kyai Semar merupakan Pamomong Tanah Jawa. Dikisahkan bahwa Kyai Semar menelan dunia (bumi) dan tidak bisa dikeluarkan lagi sehingga bentuk perutnya membuncit seperti orang hamil.
"Tumpeng jejeg sejati, sego kuning sabukono, janur kuning sundukono, s**o sapu gerang sak ler, bawang lanang brambang lanang lombok abang".
Makam Kyai Semar berbentuk kerucut berwarna kuning, di dasar kerucut dikelilingi (disabuki) dengan tulisan Jawa Hanacaraka dan di puncaknya disunduk dengan janur kuning. Makam yang berbentuk kerucut tersebut ajejuluk Tumpeng Jejeg Sejati yang berarti bahwa manusia hidup harus benar tindakannya (jejeg lakune) dan senantiasa bersyukur kepada yang memberi hidup (Gusti Allah Robbul Alamien). Makam dikelilingi dengan pagar tembok yang berbentuk persegi , angka 9 pada panjang dan lebar tembok melambangkan Wali Songo (yang berjumlah 9) sebagai penyebar Agama Islam. Di dalam komplek makam juga terdapat pohon Jati yang memang dibiarkan berada di dalam kompleks makam (karena tidak bisa ditebang) sesuai dengan nama Sang Hyang Ismoyo Jati.
Lantai kijing Kyai Semar dikelilingi dengan kaca cermin agar setiap orang yang berziarah hendaknya dapat berkaca terlebih dahulu, apakah wajahnya berupa hewan atau manusia. Diatas kijing makam diletakkan keris raksasa yang terbuat dari campuran logam kuningan dibalut kain putih dalam posisi berdiri.

Di hari libur, semakin siang semakin banyak rombongan peziarah yang datang ke Gunung Tidar. Di malam-malam tertentu-pun ternyata komplek makam juga ramai dikunjungi oleh peziarah dengan berbagi tujuannya masing-masing.

Wallahu’alam...

---

Photos 14/03/2014

RORO JONGGRANG
( Legenda Jawa )

Atau Loro Jonggrang adalah sebuah cerita rakyat Jawa yang melegenda. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya. Legenda ini juga menceritakan asal mula dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam kompleks Candi Prambanan. Roro Jonggrang artinya adalah "dara (gadis) yang langsing". Meskipun candi-candi ini berasal dari abad ke-9, akan tetapi diduga dongeng ini disusun pada zaman yang kemudian yaitu zaman Kesultanan Mataram (Islam). Tafsiran lainnya menyebutkan bahwa legenda ini mungkin merupakan ingatan kolektif masyarakat setempat mengenai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kawasan ini. Yaitu peristiwa perebutan kekuasaan antara wangsa Sailendra dan Wangsa Sanjaya dari Kerajaan MATARAM - Kuno.

Konon di Jawa terdapat dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Moyo. Prabu Damar Moyo memiliki putra bernama Raden Bandung Bondowoso yang gagah perkasa dan sakti. Sedangkan Kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa (raksasa) pemakan manusia bernama Prabu Baka. Prabu Baka dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupala yang juga seorang raksasa. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Roro Jonggrang.

Untuk memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging, Prabu Baka bersama Patih Gupala memperbanyak dan melatih balatentara. Setelah persiapan matang, Prabu Baka beserta tentaranya menyerbu Kerajaan Pengging. Pertempuran meletus di Kerajaan Pengging. Banyak korban jatuh dari kedua belah pihak. Akibatnya rakyat Pengging menderita kelaparan, kehilangan harta benda, dan banyak yang tewas. Demi mengalahkan para penyerang, Prabu Damar Moyo mengutus putranya, Sang Pangeran Bandung Bondowoso, untuk bertempur melawan Prabu Baka. Pertempuran antara keduanya begitu hebat, dan berkat kesaktiannya Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Ketika Patih Gupala mendengar kabar kematian junjungannya, ia segera melarikan diri mundur kembali ke Kerajaan Baka. Pangeran Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupala hingga memasukki Kerajaan Baka. Ketika Patih Gupala tiba di Keraton Baka, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Sang Putri Roro Jongrang. Mendengar kabar duka ini Sang Putri bersedih dan meratapi kematian ayahnya.

Setelah Kerajaan Baka jatuh ke tangan balatentara Kerajaan Pengging, Bandung Bondowoso menyerbu masuk ke dalam Keraton Baka. Secara tidak sengaja Sang Pangeran bertemu dengan Roro Jonggrang, seketika Sang Pangeran terpesona oleh kemolekkan dan kecantikan Sang Putri. Demikian juga Roro Jonggrang, terpikat dengan ketampanan dan kegagahan Sang Pangeran. Meski hanya bertemu sesaat, wajah cantik Sang Putri selalu terbayang dibenak Sang Pangeran. Akhirnya Bandung Bondowoso pun memberanikan diri untuk melamar Roro Jonggrang. Meski Roro Jonggrang juga tertarik dengan Bandung Bondowoso tapi dia tidak dapat menerima lamarannya. Karena menurut pengasuhnya (mbok emban), sangatlah tidak pantas atau tabu bagi Roro Jonggrang menikah dan menjadi istri seseorang yang telah membunuh ayahnya dan menjajah kerajaannya. Bingung dan kalut hati Sang Putri, dia tidak dapat menerima lamaran Sang Pangeran tapi dia juga tidak dapat serta merta menolaknya. Bagaimanapun juga sekarang Kerajaan Baka dibawah kekuasaan Bandung Bondowoso, jika lamaran Sang Pangeran ditolak maka akan dianggap sebagai suatu penghinaan bagi Sang Pangeran, dan akibatnya nasib para punggawa dan kerabat/keluarga Kerajaan Baka yang masih tersisa akan dihabisi karena dianggap sebagai musuh. Atas nasehat dari para pengasuhnya akhirnya Roro Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso tetapi dengan mengajukan 2 syarat. Pertama, ia minta dibuatkan sumur yang dinamakan sumur Jolotundo. Kedua, ia minta dibuatkan seribu candi dalam satu malam. Meskipun syarat-syarat itu teramat berat dan mustahil untuk dipenuhi, Bandung Bondowoso menyanggupinya.

Dengan kesaktiannya Bandung Bondowoso berhasil memenuhi syarat yang pertama yaitu membuatkan Sumur Jolotundo. Setelah sumur selesai, Roro Jonggrang berusaha memperdaya Bandung Bondowoso dengan membujuknya turun ke dalam sumur untuk memeriksa apakah sumur tersebut telah keluar airnya atau belum. Setelang Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Roro Jonggrang memerintahkan Patih Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu-batu besar dengan tujuan mengubur Sang Pangeran hidup-hidup di dalam sumur. Akan tetapi Bandung Bondowoso berhasil keluar dengan mendobrak timbunan batu-batu itu. Bandung Bondowoso sempat marah karena merasa ditipu oleh Roro Jonggrang, tetapi dengan kecantikan dan kelembutannya Roro Jonggrang berhasil merayu dan memadamkan kemarahan Sang Pangeran.

Untuk mewujudkan syarat kedua, Sang Pangeran bersemadi sesaat guna memanggil makhluk halus (jin atau dedemit) dari dalam bumi. Dengan bantuan makhluk halus ini Sang Pangeran berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, Sang Putri pun berusaha menggagalkannya. Ia membangunkan dayang-dayangnya dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia segera memerintahkan agar mereka membakar jerami di sisi sebelah timur keraton. Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan lalu bersembunyi masuk kembali ke dalam bumi. Akibatnya hanya 999 candi yang berhasil dibangun dan artinya Bandung Bondowoso telah gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang. Ketika mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah arca batu. Sang Putri berubah menjadi arca yang terindah untuk menggenapi candi terakhir. Menurut kisah ini, situs Keraton Ratu Baka di dekat Prambanan adalah Keraton Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara dalam candi utama di kompleks Candi Prambanan adalah perwujudan Sang Putri yang telah dikutuk menjadi arca batu dan dikenal sebagai Roro Jonggrang.

---

Kerajaan MATARAM (Kuno) - Medang ri Poh Pitu , abad VIII-XI 07/03/2014

PRASASTI SHIWAGRHA
Prambanan - Sleman/Klaten

Adalah prasasti yang berasal dari Kerajaan MATARAM - Kuno atau Kerajaan Medang di Jawa Tengah, tertulis chandrasengkala "Walung Gunung Sang Wiku" yang bermakna angka tahun 778 Saka (856 Masehi). Prasasti ini dikeluarkan oleh Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi atau Sang Walaputra (putra bungsu), tidak lama setelah menggantikan ayahnya, Rakai Pikatan atau Sang Jatiningrat yang mengundurkan diri menjadi seorang brahmana. Dyah Lokapala adalah putra bungsu dari raja Rakai Pikatan dan permaisuri Pramodawardhani, yang berhasil menumpas musuh ayahnya bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (Sanjaya) bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka.

Prasasti ini menyebutkan deskripsi kelompok candi agung yang dipersembahkan untuk Dewa Siwa disebut Shiwagrha (Rumah Siwa) yang cirinya sangat cocok dengan kompleks Candi Prambanan.

Kini prasasti ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor inventaris No. D.28.

---

Kerajaan MATARAM (Kuno) - Medang ri Poh Pitu , abad VIII-XI 05/03/2014

CANDI PRAMBANAN
Prambanan - Sleman/Klaten

Disebut juga dengan Candi Roro Jonggrang, adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad IX masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu: Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter dan lebar 34 meter. Candi Siwa di tengah-tengah, memuat lima ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin dan satu garbagriha, yaitu ruangan utama dan terbesar yang terletak di tengah candi. Ruangan timur terhubung dengan ruangan utama tempat bersemayam sebuah arca Siwa Mahadewa (Perwujudan Siwa sebagai Dewa Tertinggi) setinggi tiga meter. Arca ini memiliki Lakçana (atribut atau simbol) Siwa, yaitu chandrakapala (tengkorak di atas bulan sabit), jatamakuta (mahkota keagungan), dan trinetra (mata ketiga) di dahinya. Arca ini memiliki empat lengan yang memegang atribut Siwa, seperti aksamala (tasbih), camara (rambut ekor kuda pengusir lalat), dan trisula. Arca ini mengenakan upawita (tali kasta) berbentuk ular naga (kobra). Siwa digambarkan mengenakan cawat dari kulit harimau, digambarkan dengan ukiran kepala, cakar, dan ekor harimau di pahanya. Sebagian sejarawan beranggapa bahwa arca Siwa ini merupakan perwujudan raja Balitung sebagai dewa Siwa, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau. Sehingga ketika raja ini wafat, arwahnya dianggap bersatu kembali dengan dewa penitisnya yaitu Siwa. Arca Siwa Mahadewa ini berdiri di atas lapik bunga padma di atas landasan persegi berbentuk yoni yang pada sisi utaranya terukir ular Nāga (kobra).

Tiga ruang yang lebih kecil lainnya menyimpan arca-arca yang ukuran lebih kecil yang berkaitan dengan Siwa. Di dalam ruang selatan terdapat Resi Agastya, Ganesha putra Siwa di ruang barat, dan di ruang utara terdapat arca sakti atau istri Siwa, Durga Mahisasuramardini, menggambarkan Durga sebagai pembasmi Mahisasura, raksasa Lembu yang menyerang swargaloka. Arca Durga ini juga disebut sebagai Roro Jonggrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Arca ini dikaitkan dengan tokoh putri legendaris Roro Jonggrang yang dikutuk oleh Bandung Bondowoso karena tipu muslihat cinta yang dilakukanya.

Berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi), nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna "Rumah Siwa" , dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter (inzet: kiri atas) yang menunjukkan bahwa di candi ini Dewa Siwa lebih diutamakan.

Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambanan - Sleman dan kecamatan Prambanan - Klaten, kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten.

Menurut Prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan Candi Buddha Borobudur dan juga Candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh raja Balitung Maha Sambu. Pembangunan kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang / Mataram (Kuno) berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, Candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan MATARAM - Kuno , tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan. Pada masa puncak kejayaannya, ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara agama Hindu. Sementara pusat kerajaan Kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Dataran Kewu atau dataran Prambanan adalah dataran subur yang membentang antara lereng selatan kaki gunung Merapi di utara dan jajaran pegunungan kapur Sewu di selatan, dekat perbatasan Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Selain candi Prambanan, lembah dan dataran di sekitar Prambanan kaya akan peninggalan arkeologi candi-candi Buddha paling awal dalam sejarah Indonesia, serta candi-candi Hindu. Candi Prambanan dikelilingi candi-candi Buddha. Masih di dalam kompleks taman wisata purbakala, tak jauh di sebelah utara candi Prambanan terdapat reruntuhan candi Lumbung dan candi Bubrah. Lebih ke utara lagi terdapat candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Lebih jauh ke timur terdapat candi Plaosan. Di arah barat Prambanan terdapat candi Kalasan dan candi Sari. Sementara di arah selatan terdapat candi Sojiwan, Situs Ratu Baka yang terletak di atas perbukitan, serta candi Banyunibo, candi Barong, dan candi Ijo.

Dengan ditemukannya begitu banyak peninggalan bersejarah berupa candi-candi yang hanya berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, menunjukkan bahwa kawasan di sekitar Prambanan pada zaman dahulu kala adalah kawasan penting. Kawasan yang memiliki nilai penting baik dalam hal keagamaan, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Diduga pusat kerajaan Medang Mataram terletak disuatu tempat di dataran ini. Kekayaan situs arkeologi, serta kecanggihan dan keindahan candi-candinya menjadikan Dataran Prambanan tak kalah dengan kawasan bersejarah terkenal lainnya di Asia Tenggara, seperti situs arkeologi kota purbakala Angkor, Bagan, dan Ayutthaya.

Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:
1. 3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
2. 3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
3. 2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
4. 4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
5. 4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
6. 224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan. Tetapi kini hanya tersisa 18 candi, yaitu: 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yang terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui, kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana bersama murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.

Arsitektur candi Prambanan berpedoman kepada tradisi arsitektur Hindu yang berdasarkan kitab Wastu Sastra. Denah candi megikuti pola mandala, sementara bentuk candi yang tinggi menjulang merupakan ciri khas candi Hindu. Prambanan memiliki nama asli Siwagrha dan dirancang menyerupai rumah Siwa, yaitu mengikuti bentuk gunung suci Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Seluruh bagian kompleks candi mengikuti model alam semesta menurut konsep kosmologi Hindu, yakni terbagi atas beberapa lapisan ranah, alam atau Loka.

Seperti Borobudur, Prambanan juga memiliki tingkatan zona candi, mulai dari yang kurang suci hingga ke zona yang paling suci. Meskipun berbeda nama, tiap konsep Hindu ini memiliki sandingannya dalam konsep Buddha yang pada hakikatnya hampir sama.
Baik lahan denah secara horisontal maupun vertikal terbagi atas tiga zona:
- Bhurloka (dalam Buddhisme: Kamadhatu), adalah ranah terendah makhluk yang fana; manusia, hewan, juga makhluk halus dan iblis. Di ranah ini manusia masih terikat dengn hawa nafsu, hasrat, dan cara hidup yang tidak suci. Halaman terlar dan kaki candi melambangkan ranah bhurloka.
- Bhuwarloka (dalam Buddhisme: Rupadhatu), adalah alam tegah, tempat orang suci, resi, pertapa, dan dewata rendahan. Di alam ini manusia mulai melihat cahaya kebenaran. Halaman tengah dan tubuh candi melambangkan ranah bhuwarloka.
- Swarloka (dalam Buddhisme: Arupadhatu), adalah ranah trtinggi sekaligus tersuci tempat para dewa bersemayam, juga disebut swargaloka. Halaman dalam dan atap candi melambangkan ranah swarloka. Atap candi-candi di kompleks Prambanan dihiasi dengan kemuncak mastaka berupa ratna (Sanskerta: permata), bentuk ratna Prambanan merupakan modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Dalam arsitektur Hindu Jawa kuno, ratna adalah sandingan Hindu untuk stupa Buddha, yang berfungsi sebagai kemuncak atau mastaka candi.

Pada saat pemugaran, tepat di bawah arca Siwa di bawah ruang utama candi Siwa terdapat sumur yang didasarnya terdapat pripih (kotak batu). Sumur ini sedalam 5,75 meter dan peti batu pripih ini ditemukan diatas timbunan arang kayu, tanah, dan tulang belulang hewan korban. Di dalam pripih ini terdapat benda-benda suci seperti lembaran emas dengan aksara bertuliskan Waruna (dewa laut) dan Parwata (dewa gunung). Dalam peti batu ini terdapat lembaran tembaga bercampur arang, abu, dan tanah, 20 keping uang kuno, beberapa butir permata, kaca, potongan emas, dan lembaran perak, cangkang kerang, dan 12 lembaran emas (5 diantaranya berbentuk kura-kura, ular naga (kobra), padma, altar, dan telur).

Candi ini dihiasi relief naratif yang menceritakan epos Hindu, Ramayana dan Krishnayana. Relief berkisah ini diukirkan pada dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama. Relief ini dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Hal ini sesuai dengan ritual pradaksina, yaitu ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam oleh peziarah. Kisah Ramayana bermula di sisi timur candi Siwa dan dilanjutkan ke candi Brahma. Pada pagar langkan candi Wisnu terdapat relief naratif Krishnayana yang menceritakan kehidupan Krishna sebagai salah satu awatara Wishnu.

Relief Ramayana menggambarkan bagaimana Shinta, istri Rama, diculik oleh Rahwana. Panglima bangsa wanara (kera), Hanuman, datang ke Alengka untuk membantu Rama mencari Shinta. Kisah ini juga ditampilkan dalam Sendratari Ramayana, yaitu pagelaran wayang orang Jawa yang dipentaskan secara rutin di panggung terbuka Trimurti setiap malam bulan purnama. Latar belakang panggung Trimurti adalah pemandangan megah tiga candi utama yang disinari cahaya lampu.

Di dinding luar sebelah bawah candi dihiasi oleh barisan relung (ceruk) yang menyimpan arca singa diapit oleh dua panil yang menggambarkan pohon hayat kalpataru. Pohon suci ini dalam mitologi Hindu-Buddha dianggap pohon yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Di kaki pohon Kalpataru ini diapit oleh pasangan kinnara-kinnari (hewan ajaib bertubuh burung berkepala manusia), atau pasangan hewan lainnya, seperti burung, kijang, domba, monyet, kuda, gajah, dan lain-lain. Pola singa diapit kalpataru adalah pola khas yang hanya ditemukan di Prambanan, karena itulah disebut "Panil Prambanan".

Pemugaran Kompleks Candi Prambanan dimulai pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. Sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu secara sembarangan tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali. Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993.

Upaya renovasi terus menerus dilakukan bahkan hingga kini. Pemugaran candi Siwa yaitu candi utama kompleks ini dirampungkan pada tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno. Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak pondasinya saja.

Di dalam kompleks taman purbakala candi Prambanan terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum ini terletak di sisi utara Candi Prambanan, antara candi Prambanan dan candi Lumbung. Museum ini dibangun dalam arsitektur tradisional Jawa, berupa rumah joglo. Koleksi yang tersimpan di museum ini adalah berbagai batu-batu candi dan berbagai arca yang ditemukan di sekitar lokasi candi Prambanan; misalnya arca lembu Nandi, resi Agastya, Siwa, Wishnu, Garuda, dan arca Durga Mahisasuramardini, termasuk p**a batu Lingga Siwa, sebagai lambang kesuburan.

Replika harta karun emas temuan Wonoboyo yang terkenal itu, berupa mangkuk berukir Ramayana, gayung, tas, uang, dan perhiasan emas juga dipamerkan di museum ini. Temuan Wonoboyo yang asli kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Museum ini dapat dimasuki secara gratis oleh pengunjung taman purbakala Prambanan karena tiket masuk taman wisata sudah termasuk museum ini.

Candi Prambanan masuk dalam Situs Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO, status ini diberikan UNESCO pada tahun 1991.

* Lepas dari masalah "Agama", mereka yang membangun Candi Prambanan ini adalah Leluhur kita. Dan kita adalah anak cucu / keturunan mereka, darah mereka mengalir dalam tubuh kita. Perbedaan Agama Leluhur kita saat itu dengan Agama kita saat ini, janganlah dijadikan "dinding" untuk kita merasa bangga akan kebesaran sejarah bangsa sendiri. Karena seperti leluhur kita dulu, kita juga tidak pernah tahu apakah anak cucu / keturunan kita nanti masih memiliki Agama yang sama dengan kita atau tidak.

---

Want your school to be the top-listed School/college in Kediri?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Kediri
64132