SKI SMAN 2 Pare

SKI SMAN 2 Pare

Share

Original Fanspage | Menebar Dakwah Sunnah | @skismadapare SKI SMAN 2 Pare merupakan suatu ekstrakurikuler dari SMAN 2 Pare yang bergerak di bidang dakwah.

Ikutilah kajian/ta'lim kami setiap sabtu sep**ang sekolah di Perpus Al Furqan SMAN 2 Pare yang diisi oleh ustadz-ustadz top kami :)

Perlu diketahui, kami bukanlah organisasi-organisasi/firqah-firqah seperti apa yang ada di luar sana. Kami disini cukup hanya menggunakan 'metode' khusus, yaitu dengan mengambil sumber dari Qur'an dan Sunnah

Photos 12/11/2016

alhamdulillah.. barokallohu fiik.. program tahfidzul Qur'an di Sma Negeri 2 Pare.. :)

Photos 26/08/2016

Happy FRIDAY,
perbanyaklah shalawat man-teman.. :)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)

Selengkapnya.. Sumber: https://rumaysho.com/203-perbanyaklah-shalawat-di-hari-juma…

Photos 31/03/2016

Kebahagiaan itu ada di tangan Allah dan ia tidak akan diraih kecuali dengan taat kepada Allah."

-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad-

Demikianlah kenyataannya...
Tidak ada setetes pun kebahagiaan yang hakiki yang akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh dengan kekurangan, kecuali dengan tunduk dan taat kepada Rabb yang menciptakannya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya.

Hanya dengan Mengingat-Mu Aku Tenang, Ustadz Ari Wahyudi

Photos 31/03/2016
28/12/2015

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.

Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkump**an yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:

Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.

selengkapnya di https://skismadapare.wordpress.com/2013/12/29/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru/

Photos 06/08/2015

Prasangka buruk bisa mulai dihindari,
dengan menanam cinta di hati :)

Photos 05/08/2015

Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan Amanah

Menuntut ilmu merupakan suatu pekerjaan yang tidak perlu lagi diragukan akan keuntungan dan keutamaan yang akan diperoleh darinya. Menuntut ilmu merupakan ciri khas umat terakhir yang menghuni bumi ini, umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Betapa banyak ayat dan hadits yang membicarakan keuntungan mempelajari syariat Islam. Bahkan tidak ada seorang muslim pun yang berakal kecuali ia akan senantiasa berpesan kepada karib kerabat dan sahabatnya agar tidak lengah dari mempelajari syariat. Hal itu karena begitu besarnya keuntungan dalam aktifitas mempelajari syariat Islam.

Dalam Al-Quran, antara lain Allah pernah mengatakan,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Ketinggian derajat di sini mencakup derajat di dunia seperti diberi kedudukan di tengah masyarakat serta keharuman namanya maupun derajat di akhirat dengan diberikan kedudukan tingga di Surga. (Fath Al-Bari I/141)

Allah juga berfirman,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah: 269)

Tentang al-hikmah di sini, Mujahid pernah mengatakan, “Maksudnya adalah ilmu dan fiqih.” (Akhlaq Al-‘Ulama hlm. 9)

Di antara firman Allah yang menunjukkan besarnya keuntungan pada aktifitas belajar adalah kewajiban memperdalam dan menambah ilmu, mengingat firman Allah Ta’ala yang berisi perintah pada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,

وقل رب زدني علما

“Katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkan ilmu padaku.” (QS Thaha: 114)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-nya meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu saja, tidak ada yang lain. Hal ini tentu karena Allah tahu bahwa ada begitu keuntungan besar yang akan diperoleh dalam ilmu. Apalagi kalau bukan buah takut pada Allah ‘Azza wa Jalla,

إنما يخشى الله من عباده العلمؤا

“Di antara hamba-hamba Allah hanya para ulama lah yang takut pada-Nya.” (QS Fathir: 28)

Khasy-yah ini tujuan paling agung dalam menuntut ilmu, bukan untuk berlagak di hadapan orang-orang dengan penuh kesombongan.

Ayat dapat difahami, khasy-yah seseorang kepada Allah berbanding lurus dengan ilmu yang dimilikinya. Semakin ilmunya luas, rasa takutnya pada Allah pun semakin kuat p**a. Jika sama sekali tidak memeliki ilmu? Sama sekali tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram? Tentu saja segala tindakan dosa bakal mudah diterjangnya tanpa ada rasa khawatir tertimpa azab dan siksa.

Ibaratnya suatu jalan yang kerap terjadi perampokkan dan penyamunan. Orang yang tidak mengetahui bahwa di jalan tersebut ramai penyamun, ia akan biasa saja melewatinya, tanpa ada sedikit pun rasa takut. Walaupun boleh jadi saat ia lewat sedang tidak ada penyamun yang mangkal di situ. Di lain hari ia juga akan melewati jalan tersebut dengan perasaan yang sama, aman dan tidak khawatir. Akan tetapi jika di suatu hari ada orang yang memberinya tahu, bahwa ternyata jalan yang biasa dilaluinya itu banyak penyamun yang beropreasi di sana, tentu sikapnya akan berobah derasti. Dari yang sebelumnya jalan biasa, kini mulai waspada dan hati-hati.

Maka dengan bertambahnya ilmu, bertambahlah p**a rasa takut pada Allah Ta’ala. Dan Mahasuci Allah dari segala bentuk permisalan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kerap kali mendorong dan memotofasi umatnya agar terus mempelajari syariatnya. Antara lain sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam, “Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah pasti memberi salah satu jalan menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat mendaratkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu. Sesungguhnya penduduk langit, bumi, dan ikan hiau yang berada di perut laut senantiasa memintakan ampun bagi seorang ulama. Sejatinya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah laksana keutamaan rembulan di bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para nabi. Dan sesungguhnya nabi-nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dinar. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berati ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Shahabat Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu-)

Masih banyak lagi nas-nas yang menyebutkan keutamaan ilmu. Kiranya bagi seorang Muslim yang akalnya masih sehat dapatlah cukup hanya sekedar isyarat saja, tidak seperti orang dungu yang meskipun dibacakan Al-Quran, Injil, Zabur, dan seluruh kitab Allah tidak akan membuatnya tergugah.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa seorang pelajar yang berjalan dalam rangka menimba dan mempelajari ilmu ada di sana rambu-rambu yang perlu diperhatikan. Agar apa yang selama ini ia cari tidak berubah menjadi mala petaka bagi dirinya. Akhirnya sesuatu yang seharusnya membuatnya mulia justru berubah menjadi bencana.

Salah satu adab yang kerap kali dilupakan para pelajar dan penuntut ilmu di zaman ini adalah sikap jujur dan amanah dalam menuntut ilmu. Padahal dusta yang merupakan lawan dari jujur, dan khianat yang tak lain lawan dari amanah, termasuk sifat yang paling buruk dan bejat. Seorang mukmin yang Allah terangi hatinya dengan iman tidak mungkin memendam kedua sifat buruk tersebut. Apatah lagi seorang penuntut ilmu syariat yang selalu dinaungi sayap-sayap para Malaikat dan pemburu warisan para nabi dan rasul!!

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 26)

Ilmu merupakan salah satu amanah yang benar-benar harus ditunaikan karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu sepantasnya bagi penuntu dan pengembannya dapat mengemban dan menunaikannya dengan penuh kejujuran dan amanah serta diiringi rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu ia juga harus selalu waspada terjerumus pada menyandarkan sesuatu atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam secara zhalim dan tidak benar.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti dan mengancam siapa saja yang berani berdusta atas namanya. Perkara yang semisal dengan dusta atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah terlau ceroboh membawakan suatu riwayat dari beliau Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al-Bukhari melaporkan dari ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalian jangan berdusta atas namaku. Karena sesungguhnya siapa yang berdusta atas namaku, sebaiknya ia masuk Neraka saja.”

Menurut satu riwayat lain disebutkan, “Hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, tuturnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

تناصحوا في العلم ، فإن خيانة أحدكم في علمه أشد خيانة في ماله ، و إن الله سائلكم يوم القيامة

“Hendaknya kalian saling memberi nasehat tentang ilmu. Sesungguhnya khianat salah seorang kalian terhadap ilmunya itu lebih besar daripada pengkhianatannya pada hartanya. Dan sesungguhnya Allah pasti akan memintai kalian pertanggungjawaban pada hari kiamat.” (Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperbincangkan kepribadiannya)

Ada satu kebiasaan tercela di tengah penuntut ilmu dan masyarakat pada umumnya, yaitu tindakan mereka yang terlalu bermudah-mudahan memberikan fatwa hanya karena pernah mentelaah suatu permasalahan syariat. Sudah seperti itu, ia menyangka bahwa dirinya sudah layak mengeluarkan fatwa dan mengkritisi pendapat-pendapat pakar fiqih.

Padahal jika kita melihat bagaimana sikap orang-orang terdahulu yang benar-benar sangat hati-hati memberi fatwa meskipun keilmuan mereka tidak perlu diragukan lagi, tentu kita akan merasa kerdil dan malu terhadap apa yang ada pada kita. Baru pernah menghadiri beberapa daurah dan kajian ilmiah serta mengkhatamkan beberapa gelintir buku saja sudah merasa seakan-akan mebawa lautan ilmu, gampang mengeluarkan fatwa, sembrono menyalahkan orang lain, dan tindakan-tindakan rendahan lainnya.

Disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti karya Ibnu Ash-Shalah, bahwa pada suatu ketika ada seseorang yang mendatangi Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhum– untuk mempertanyakan sesuatu. Maka Al-Qasim berkata, “Aku bukan pakarnya.”

Orang yang tadi datang pun terus merayu, “Sesungguhnya aku didorong untuk bertanya padamu. Aku tidak mengetahuinya selainmu.”

Al-Qasim menjawab, “Anda jangan melihat panjangnya janggutku dan padatnya orang di sekelilingku. Demi Allah, aku bukan pakarnya.”

Kemudian beliau berkata p**a, “Demi Allah, sekiranya lisanku dipotong itu lebih kusukai daripada aku harus berbicara tanpa ilmu tentangnya.”

Sufyan bin ‘Uyainah dan Sahnun bin Sa’id pernah mengatakan, “Orang yang paling gampang mengeluarkan fatwa adalah orang yang paling minim ilmunya.”

Al-Haitsam bin Jamil berkata, “Aku menyaksikan Malik bin Anas diberi pertanyaan sebanyak 48 masalah. 32 masalah di antaranya beliau katakan, ‘Aku tidak tahu.’”

Berfatwa tanpa ilmu kerap kali menyebabkan lahirnya kesesatan dan kedustaan. Boleh jadi menghalalkan yang seharusnya haram atau mengharamkan yang seharusnya halal.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS An-Nahl: 116-117)

Agar dapat menimimalisir berbicara tanpa ilmu atau berdusta atas nama seseorang adalah dengan selalu memusatkan perhatian ketika menghadiri pengajian atau ketika pelajaran tengah berlangsung. Bukan malah datang ke pengajian atau kelas hanya untuk kemudian dijadikan sebagai ajang lomba tidur. Atau hal yang serupa adalah dengan banyak melakukan hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung. Seperti misalnya banyak main HP, ngobrol dengan sesama hadirin, banyak izin keluar kelas karena alasan yang tidak masuk akal, atau bahkan hanya sekedar setor muka di hadapat sang guru. Tindakan-tindakan semacam ini sangat tidak layak dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai penuntut ilmu.

Kemudian banyak melakukan hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung hanya akan mengganggu konsenterasi memahami penjelasan sang guru. Apalagi permasalahan yang sedang dibahas terhitung rumit dan sulit yang tidak hanya memerlukan kesadaran penuh, namun juga konsenterasi dan berfungsinya akal pikiran secara sempurna. Bahkan jika perlu, tidak hanya suara guru yang didengar, namun juga gerak-gerik bibir guru juga diperhatikan agar tidak ada satu huruf pun yang salah terdengar. Karena biasanya satu kalimat saja luput dari penangkapan indera, dapat mempengaruhi pemahaman seseorang. Apalagi mereka yang pemahamannya standart. Yang seharusnya hukumnya A, malah difahami hukumnya B. Dan demikianlah seterusnya.

Maka ketika sudah salah menangkap penjelasan sang guru, bisa jadi ketika keluar dari pengajian dan kelas pelajaran, langsung menyampaikan apa yang ditangkapnya dari sang guru. Hasilnya tidak dapat tidak, ia telah berkata dusta atas nama gurunya. Padahal sang guru berlepas diri dari apa yang ditangkapnya itu.

Apalagi di zaman modert seperti saat ini. Ketika media-media informasi mudah didapat, seperti facebook dan twitter. Berapa banyak Anda jumpai mereka yang baru saja keluar dari pengajian atau daurah, langsung update di akun jejaringan sosial yang dimilikinya. Bahkan penulis pernah menjumpai orang yang sudah terburu-buru update ketika pelajaran tengah berlangsung. Iya kalau apa yang ia tangkap dari sang guru sesuai realita, jika ternyata berbedar bagaimana?!

Dalam hal ini penulis tidak menyalahkan mereka yang menebar ilmu di jejaringan sosial, akan tetapi alangkah baiknya jika apa yang ditulis itu benar-benar sesuai dengan keadaan yang ada. Tidak ada penambahan ataupun pengurangan yang bersifat sia-sia, apalagi diotak-atik seperti kebiasaan ahlul bida’ wal ahwa’ (baca: pelaku bid’ah dan pengekor hawa nafsu) yang kerap mengotak-atik teks-teks Al-Quran dan hadits shahih.

Pernah suatu kali salah seorang dosen kami, Syaikh ‘Ali Hufaizh, menceritakan ketika beliau tengah mengisi suatu pengajian di sebuah masjid. Karena suaranya yang tinggi, sehingga orang-orang di luar masjid yang berlalu lalang pun dapat mendengarnya. Di kemudian hari salah seorang yang mendengar suatu penjelasan beliau dari luar masjid menyampaikan sesuatu pada orang lain. Satu permasalah penting. Ketika hal tersebut didengar oleh Syaikh, ternyata beliau mengingkarinya. Bukan seperti itu penjelasan yang beliau pernah sampaikan saat itu.

Hal lain yang perlu diperhatikan selain satu hal di atas adalah saat membaca buku. Membaca buku juga sangat diperlukan sikap kehati-hatian. Sebaiknya seorang yang membaca buku selau memusatkan perhatiannya pada apa yang tengah dibacanya. Bukan sekedar membaca tanpa ada keseriusan. Oleh sebab itu, seyogyanya membaca buku bukan saja target cepat selesai dan banyaknya buku yang dikhatamkan, namun juga target memahami buku yang dibacanya hingga benar-benar faham. Jika ada hal-hal yang kiranya sulit difahami sendiri, alangkah baiknya jika ia menanyakannya pada seorang yang ahli di bidangnya. Membaca sedikit dengan disertai pemahaman yang benar itu lebih baik daripada banyak khatam kitab namun salah tangkap.

Sungguh betapa indahnya syair yang mengatakan,

أقول زيدا فيسمعه عمروا *** و يكتبه بكرا و يقرؤه بدرا

Aku katakan Zaid, dia malah mendengarnya ‘Amr

Lalu ia menulisnya Bakr namun dibacanya Badr

Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rizki pada kita semua berupa sikap amanah, jujur, dan khasy-yah pada-Nya, serta memberikan kita kecintaan pada ilmu dan mengamalkannya. Sesungguhnya hanya Dia jualah Dzat yang Mahamengabulkan doa. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. []



Penulis: Firman Hidayat

Artikel Muslim.Or.Id
link: muslim.or.id/manhaj/penuntut-ilmu-harus-memiliki-sifat-jujur-dan-amanah.html

Mobile uploads 28/07/2015

MOS teladan, MOS hendaknya lebih mengedepankan unsur edukasi dan kekeluargaan bukan perploncoan atau balas dendam.

Ini nih MOS yang berkualitas, kakak kelas ngajak adek2 kelasnya untuk shalat dhuha dan semua muslimah berjilbab 100%. Semoga Allah memberkahi panitia MOS nya di SMA N 5 yogyakarta...

________________________
📲 Daftar broadcast Status Nasehat:
BBM: 5816C69F
Whatsapp: 085743549664
[cara daftar, ketik: Nama Lengkap-Kota-SN-1]
------------------------
♻ Silahkan disebarluaskan

Photos 05/02/2015

Ngapain ikut-ikutan Valentinan !!
Mending ikut Nabi Muhammad SAW

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (H.R Bukhari)

05/02/2015

Ust. Musyaffa ad Dariny
—---------------------—
LIMA MENIT yg sangat bermanfaat...
=======
Seringkali datang rasa malas dlm benak kita utk melakukan amal ketaatan yg sebenarnya ringan, itulah lihainya setan dlm menggoda manusia.
Diantara tips utk melawan kemalasan ini adalah dg MENYEDERHANAKAN sebuah amalan, yakni menyadarkan diri bahwa amalan itu sangat ringan dan sederhana, hanya butuh LIMA MENIT saja.
Ketika Anda malas sholat sunnah 2 rekaat sebelum atau sesudah sholat wajib, maka katakan pada diri Anda dan lihatlah jam: "Hanya butuh kurang dari lima menit, masa pelit beramal utk diri sendiri?!".
Ketika Anda malas membaca Qur'an, maka katakan pada diri Anda: "Cobalah membaca Qur'an, lima meniiit saja, pahala utk selamanya lo..."
Ketika Anda malas utk membaca dzikir-dzikir setelah sholat fardhu, katakan pada diri Anda: "Tidak maukah berdzikir meski hanya lima menit?! bukankah telah banyak waktu yg terbuang tanpa pahala?!"
Selamat mencoba tips ini, dan ikutilah gerakan jam utk membuktikannya bila diinginkan dan dimungkinkan, insyaAllah akan banyak amal ibadah yg bisa Anda lakukan...
------------
Bilangan "5 menit" di sini hanyalah sebagai perwakilan utk bagian kecil dari waktu Anda, sehingga bila masih terlihat banyak, maka bisa diganti dg 4, 3, 2, 1 menit... dan bila terlihat terlalu sedikit, bisa diganti dg 6,7,8, dst...
Metode seperti ini juga tersirat dlm beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-
"Ada DUA kalimat yg RINGAN di lisan, dicintai oleh Arrohman, dan berat dlm timbangan; subhanallohu wabihamdih, subhanallohil azhim"

15/01/2015

~ Kisah yang Sangat Inspiratif ~

أحببت أهديها لمن أحب

Ku ingin hadiahkan kepada orang yang kucinta

كان هناك شيخ يعلم تلاميذه العقيدة

Ada seorang guru agama yang mengajarkan Aqidah kepada murid-muridnya

يعلمهم لا إله إلا اللـه يشرحها لهم

Dia mengajarkan “Laa ilaaha illallaah” kepada mereka dan menjelaskan maknanya

يربيهم عليها أسوة بما كان يفعل رسول الله صلى الله عليه وسلم

Mendidik mereka dengan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

عندما كان يعلم أصحابه العقيدة ويغرسها في نفوسهم

Ketika mengajarkan aqidah, beliau berusaha menanamkanya ke dalam jiwa murid-muridnya

وكان الشيخ يحب تربية الطيور والقطط

Sang guru itu senang memelihara burung dan kucing

فأهداه أحد تلاميذه ببغاء

Lalu seorang muridnya pun menghadiahkan padanya seekor burung kakatua

ومع الأيام أحب الشيخ الببغاء

Makin hari sang guru pun senang dengan burung itu

وكان يأخذه معه في دروسه
Dan sering membawanya pada saat mengajar murid-muridnya

حتى تعلم الببغاء نطق كلمة لا إله إلا الله

Sehingga kakatua itu belajar mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaha illallaah”

فكان ينطقها ليلا ونهارا

Burung kakatua itu pun bisa mengucapkan (laa ilaaha illallaah) siang malam

وفي مرة وجد التلاميذ شيخهم يبكي

Suatu ketika murid-murid mendapati sang guru tengah menangis

وينتحب وعندما سألوه

Ketika ditanya beliau menjelaskan dengan terbata-bata

قال لهم هجم القط على الببغاء وقتله

Kucing telah menerkam kakatua dan membunuhnya

فقالوا له لهذا تبكي

Merekapun bertanya dengan heran, “Karena inikah engkau menangis?”

إن شئت أحضرنا لك غيره وأفضل منہ

Kalau anda menginginkan kami bisa datangkan burung lain bahkan yang jauh lebih baik

رد الشيخ وقال لا أبكي لهذا

Sang guru berkata, “Bukan karena itu aku menangis.”

ولكن أبكاني أنه عندما هاجم القط الببغاء

Tetapi yang membuat aku menangis adalah ketika diserang kucing,

أخذ يصرخ ويصرخ إلي أن مات

Burung itu hanya teriak-teriak saja sampai matinya

مع أنه كان يكثر من قول لا إله إلا الله

Padahal dia sering sekali mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallaah”

إلا أنه عندما هاجمه القط نسيها

Tetapi ketika diterkam kucing ia lupa kalimat itu

ولم يقم إلا بالصراخ

Tidak mengucapkan apapun kecuali hanya teriakan dan rintihan

لأنه كان يقولها بلسانه

Karena waktu itu ia hanya mengucapkan “laa ilaaha illallaah” dengan lisannya saja

فقط ولم يعلمها قلبه ولم يشعر بها

Sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya

ثم قال الشيخ

Sang guru pun berkata,

أخاف أن نكون مثل هذا الببغاء

Aku khawatir kalau nanti kita seperti kakatua itu

نعيش حياتنا نردد لا إله إلا الله

Saat kita hidup mengulang-ulang kalimat “laa ilaaha illallaah”

بألسنتنا وعندما يحضرنا الموت ننساها

Dengan lisan kita, tapi ketika maut datang kita pun lupa

ولا نتذكرها؛ لأن قلوبنا لم تعرفها

Tidak bisa mengingatnya, karena hati kita belum menghayatinya

فأخذ الطلبة يبكون؛ خوفا من عدم الصدق في لا إله إلا اللـه

Kemudian para muridnya pun menangis, khawatir tidak jujur terhadap kalimat tauhid ini

ونحن هل تعلمنا لا إله إلا الله بقلوبنا

Dan kita sendiri, apakah kita telah menanamkan kalimat “laa ilaaha illallaah” ini ke dalam hati sanubari kita?

ما ارتفع شيء إلى السماء أعظم من الإخلاص

Tidak ada sesuatupun yang naik ke langit yang lebih agung dibanding keikhlasan

و لا نزل شيء إلى الأرض أعظم من التوفيق

Dan tidak ada sesuatupun yang turun ke bumi yang lebih agung dari taufiq Allah

و بقدرالإخلاص يكون التوفيق

Sesuai kadar keikhlasan kita taufiq Allah kita dapatkan

من روائع ما وصلني

Ini termasuk hal-hal menarik yang sampai kepadaku

إهداء لمن أحبهم

Hadiah bagi orang-orang yang kucintai

Al-Ustadz Ali Basuki, Lc.

Want your school to be the top-listed School/college in Kediri?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address

Jalan PK Bangsa No. 28 Pare – Kediri
Kediri
64213