20/01/2026
JANGAN MUSEUMKAN JALAN PIKIRAN SJAFEI DI MUSEUMNYA
Oleh : Yudhistira Alin (alumni INS Kayutanam)
Ada sekolah yang kita kunjungi sebagai tamu. Ada sekolah yang kita kenang sebagai masa lalu. Dan, ada p**a sekolah yang bahkan setelah puluhan tahun, tetap terasa seperti bagian dari tubuh kita sendiri. Umumnya, "anak-anak" INS menyikapi sekolahnya pada poin ketiga ini. Begitupun dengan saya. Setelah sekian lama tidak p**ang ke sekolah yang didirikan Mohammad Sjafei ini, beberapa hari lalu akhirnya kembali menjejakkan kaki ke INS Kayutanam. Sebuah Ruang Pendidik tempat saya menghabiskan waktu sekitar dua puluh enam tahun, baik sebagai siswa, sebagai guru guru, bahkan sebagai penghuni komplek sekolah yang sejatinya bukan sekadar institusi, melainkan sebagai ruang hidup, ruang pembentukan, sekaligus ruang pergulatan.
Kembali ke INS tentu saja menghadirkan perasaan yang bercampur aduk. Ada rindu, ada kebanggaan, namun ada p**a kegelisahan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Di antara bangunan-bangunan yang akrab dan lanskap yang sarat ingatan, satu hal paling menyita perhatian sekaligus menggelitik pikiran adalah berdirinya Museum Mohammad Sjafei. Melihat bangun itu membuat saya kagum. Tentu saja. Museum itu jelas menandai kesungguhan untuk merawat ingatan terhadap Mohammad Sjafei. Namun pada saat yang sama, sebuah pertanyaan terus berputar di kepala saya. Apakah Sjafei ingin kita berhenti pada ingatan? Ataukah justru ia ingin pendidikan terus bergerak, terus gelisah, dan terus hidup? Dari kegelisahan itulah esai ini lahir. Bukan sebagai penolakan terhadap museum, melainkan sebagai upaya membaca ulang makna kehadiran museum dan jalan pikiran Sjafei di dalam Ruang Pendidik INS Kayutanam.
Mohammad Sjafei bukanlah sosok yang cukup dipahami melalui biografi atau jejak institusional semata. Lebih dari itu, ia adalah sebuah jalan pikiran. Sebuah paham hidup yang bekerja dalam praktik sehari-hari yang diajarkan dalam sekolahnya. INS tidak ia rancang sebagai sekolah dalam pengertian sempit, melainkan sebagai laboratorium manusia merdeka. Di sana, pendidikan tidak dipisahkan dari kerja, dari kebudayaan, dari tanggung jawab, dan dari kehidupan nyata. Anak-anak tidak hanya diajar untuk tahu, tetapi untuk mampu hidup. Untuk memahami jalan pikiran itu, kita perlu menempatkan Sjafei dalam konteks zamannya. Awal abad ke-20 adalah masa ketika pendidikan modern mulai diperkenalkan kepada bumiputra melalui sekolah-sekolah guru seperti Kweekschool. Pendidikan membuka pintu rasionalitas, memperkenalkan metode berpikir modern, dan melahirkan kaum terpelajar baru. Namun di saat yang sama, pendidikan kolonial menyimpan batas-batas yang tegas. Akal boleh diasah, tetapi diarahkan. Logika boleh diajarkan, tetapi keberanian untuk menggugat dibatasi.
Dari ruang zaman yang sama itulah lahir kegelisahan pada tokoh-tokoh seperti Mohammad Sjafei dan Tan Malaka. Dua sosok yang tidak hanya bertemu di ruang dan waktu yang hampir bersamaan, tetapi juga menunjukkan kesadaran yang sama bahwa pendidikan yang hanya melahirkan kepandaian, tetapi tidak membebaskan manusia, pada akhirnya hanya akan melanggengkan ketundukan dalam bentuk baru.
Tan Malaka memilih jalur pembongkaran cara berpikir. Melalui MADILOG (materialisme, dialektika, dan logika), ia mengingatkan bahwa penjajahan paling lama bertahan bukan pada senjata, melainkan pada cara berpikir. Bangsa yang tidak mampu membaca realitas secara sebab-akibat, yang tidak terbiasa berpikir rasional dan kritis terhadap kenyataan materialnya sendiri, akan terus mudah dikuasai, bahkan setelah kemerdekaan formal diraih. Disisi yang lain, Mohammad Sjafei menempuh jalan yang berbeda, tetapi bergerak ke arah yang sama. Ia tidak menulis risalah filsafat pembebasan, melainkan membangun ruang hidup pembebasan. INS Kayutanam adalah jawabannya. Tempat di mana akal dilatih bersamaan dengan tangan, di mana kreativitas tidak dipisahkan dari kerja, dan di mana pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Jika Tan Malaka berjuang membebaskan akal dari belenggu dogma dan tahayul, maka Sjafei berjuang membebaskan manusia dari keterputusan antara sekolah dan kehidupan. Keduanya menolak pendidikan yang jinak. Pendidikan yang rapi secara administratif, tetapi tumpul secara keberanian. Keduanya percaya bahwa manusia merdeka hanya bisa lahir dari pendidikan yang berani berpihak pada kenyataan hidup.
Sayangnya, tradisi pemikiran semacam ini tidak pernah benar-benar menjadi arus utama dalam pendidikan nasional setelah kemerdekaan. Pendidikan kita lebih banyak memilih jalan seragam, terpusat, dan berorientasi ijazah. Akal boleh berkembang, tetapi dalam koridor yang aman. Kreativitas boleh tumbuh, tetapi tidak sampai menggugat struktur. Sekolah semakin jauh dari kerja nyata, dari kehidupan sehari-hari, dan dari persoalan riil masyarakat. Krisis pendidikan hari ini justru memperjelas relevansi jalan pikiran Sjafei. Kita hidup di zaman ketika sekolah semakin tertib secara administratif, tetapi semakin rapuh secara makna. Anak-anak dilatih menjawab soal, tetapi tidak dibiasakan membaca kenyataan. Pendidikan melahirkan lulusan yang pandai berbicara tentang masa depan, namun gagap menghadapi krisis-krisis kerja, krisis pangan, krisis kebermaknaan hidup.
Di titik inilah jalan pikiran Sjafei dan INS Kayutanam seharusnya dibaca ulang. Bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai kritik hidup terhadap pendidikan hari ini. Dan di sinilah museum menemukan ujian terberatnya. Museum Mohammad Sjafei tidak boleh menjadi ruang penenangan ingatan semata. Ia harus menjadi ruang yang menggugah kegelisahan. Bahaya terbesar museum bukanlah lupa, melainkan membekukan. Sjafei tidak boleh diabadikan sebagai patung. Ia harus tetap hidup sebagai pertanyaan.
Selain itu, seratus tahun INS Kayutanam bukanlah penanda bahwa sebuah tugas telah selesai, melainkan penegasan bahwa sebuah pekerjaan besar masih berlangsung. Museum ini hanya akan bermakna jika ia tidak menutup percakapan, tetapi justru membukanya kembali. Tentang pendidikan, tentang kemandirian, dan tentang keberanian hidup sebagai manusia merdeka. Jika setiap orang yang keluar dari museum membawa satu kegelisahan tentang apa arti pendidikan bagi hidupnya, maka INS Kayutanam benar-benar telah hidup seratus tahun. Bukan karena usianya, tetapi karena keberaniannya untuk terus diperbarui.
Mohammad Sjafei sering dikenang sebagai pendiri INS Kayutanam. Dalam ingatan publik, ia hadir sebagai tokoh pendidikan, seorang guru besar dalam arti moral, dan pelopor sekolah alternatif di zamannya. Namun pembacaan semacam itu, meski tidak keliru, terasa belum cukup. Sjafei lebih dari sekadar sosok. Ia adalah sebuah jalan pikiran.
Jalan pikiran yang tidak tidak pernah ia rumuskan dalam manifesto, tidak dinamai sebagai aliran, tidak dibungkus dalam istilah filsafat, dan tidak mewariskannya lewat buku teori. Ia memilih jalan yang lebih sunyi sekaligus lebih berisiko. Menjelmakan pikirannya langsung ke dalam kehidupan. INS Kayutanam adalah bukti bahwa Sjafei tidak sedang membangun institusi, melainkan sedang menguji sebuah keyakinan bahwa manusia hanya bisa menjadi merdeka jika pendidikan menyatu dengan hidupnya sendiri. Karena itu, pendidikan menurut Sjafei tidak boleh terpisah dari kerja, dari kebudayaan, dari disiplin, dari tanggung jawab, dan dari kenyataan sehari-hari. Sekolah yang terpisah dari hidup, baginya, hanya akan melahirkan manusia yang asing di negerinya sendiri.
Dalam pengertian ini, Sjafei sesungguhnya sedang melawan dua hal sekaligus. Pertama, ia melawan pendidikan kolonial yang menjadikan sekolah sebagai alat pencetak tenaga terampil, bukan manusia merdeka. Kedua, ia juga secara diam-diam melawan kecenderungan pendidikan modern yang memisahkan pengetahuan dari laku hidup.
Sjafei percaya bahwa akal tidak cukup diasah melalui hafalan dan ceramah. Akal harus dilatih melalui kerja nyata. Tangan harus berpikir, dan pikiran harus bekerja. Inilah sebabnya INS tidak pernah hanya menjadi ruang kelas. Ia adalah ruang hidup. Di sana, belajar berarti mengalami. Jika jalan pikiran ini kita tarik ke dalam konteks yang lebih luas, maka Sjafei berada dalam satu tradisi yang sama dengan Tan Malaka, meskipun keduanya menempuh medan yang berbeda. Tan Malaka membebaskan manusia melalui pembongkaran cara berpikir, sementara Sjafei membebaskan manusia melalui pembiasaan hidup merdeka. Yang satu bekerja di ranah teori kritis, yang lain di ranah praksis pendidikan. Namun keduanya bertemu pada keyakinan yang sama. Pendidikan yang tidak membebaskan hanyalah bentuk penjinakan yang lebih halus. Di sinilah kita bisa mengatakan bahwa Sjafei memiliki jalan pikiran dan ajaran, atau mungkin juga "isme", yang mengajarkan cara memandang manusia, kerja, dan kehidupan. Isme yang menolak pemisahan antara berpikir dan hidup. Isme yang menolak pendidikan sebagai jalur naik kelas sosial semata, tetapi menegaskannya sebagai jalan pembentukan manusia utuh.
Masalahnya, jalan pikiran semacam ini seringkali sulit diwariskan. Ia tidak mudah direplikasi melalui kurikulum nasional, tidak gampang distandarkan, dan tidak nyaman bagi sistem yang menyukai kepastian administratif. Mungkin karena itulah, setelah kemerdekaan, pendidikan Indonesia lebih memilih jalur yang rapi, seragam, dan terukur, meskipun harus mengorbankan kedalaman makna. Dalam situasi pendidikan hari ini, ketika sekolah semakin sibuk mengurus indikator, angka, dan peringkat, jalan pikiran Sjafei justru terasa semakin relevan. Kita menyaksikan generasi yang terdidik secara formal, tetapi rapuh menghadapi kenyataan. Banyak yang pintar berbicara, tetapi canggung bekerja. Banyak yang hafal teori, tetapi bingung membaca kehidupan.
Di titik ini, Sjafei hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kritik. Ia mengingatkan bahwa pendidikan sejati tidak pernah netral. Ia selalu berpihak pada kehidupan atau berpihak pada sistem. Sjafei dengan jelas berpihak pada kehidupan.
Karena itu, tantangan terbesar hari ini bukanlah bagaimana mengenang Mohammad Sjafei, melainkan bagaimana menjaga jalan pikirannya tetap hidup. Museum, arsip, dan peringatan seratus tahun hanya akan bermakna jika ia mendorong pertanyaan baru: apakah pendidikan kita hari ini masih membentuk manusia merdeka, atau justru melahirkan manusia yang semakin terpisah dari hidupnya sendiri?
Mohammad Sjafei mungkin telah tiada sebagai sosok. Tetapi selama pendidikan masih dipahami sebagai laku hidup, bukan sekadar prosedur, selama akal dan tangan masih dilatih bersama, selama sekolah masih berani berpihak pada kenyataan, selama sekolah masih menjadi ruang mengaktifkan otak, hati, dan tangan, selama sekolah masih membudayakan karakter aktif, kreatif, inovatif, dan produktif, selama sekolah masih melatih anak didiknya menjadi diri sendiri atau dalam ungkapan filosofis Sjafei "jangan minta buah mangga pada pohon rambutan, tapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis", maka berarti jalan pikiran Sjafei masih hidup. Ia masih berjalan, menunggu untuk terus dijalani. Dan akhirnya, museum Mohammad Sjafei mestilah menjadi ruang untuk menghidupkan jalan pikiran Sjafei sendiri, bukan sekedar menjadi ruang mengenang dan pembekuan jalan pikirannya.***
-Selamat atas peresmian museum Mohammad Sjafei di Ruang Pendidik INS Kayutanam-
Bukittinggi, Senin 19/01/2026