24/08/2026
⚠️ SEBAGIAN KESALAHAN DALAM PERAYAAN MAULID
Di antara perkara yang perlu diwaspadai dalam sebagian perayaan Maulid Nabi ﷺ adalah:
1. Menyebarkan riwayat lemah, palsu, dan kisah-kisah khurafat
Dalam sebagian acara Maulid disampaikan kisah-kisah tentang Nabi ﷺ yang tidak memiliki dasar yang kuat, bahkan sebagian di antaranya mengandung khurafat, seperti klaim bahwa Nabi ﷺ diciptakan dari cahaya dengan pemahaman yang keliru, tidak memiliki bayangan, lahir dalam keadaan telah dikhitan, dan berbagai kisah ajaib tentang kelahiran beliau yang tidak terbukti secara sahih.
**Cinta kepada Nabi ﷺ tidak boleh dibangun di atas cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.**
2. Keyakinan bahwa Nabi ﷺ hadir secara langsung dalam majelis Maulid
Sebagian orang meyakini bahwa ruh Nabi ﷺ datang dan hadir ketika Maulid dibacakan. Karena keyakinan tersebut, sebagian peserta bahkan **berdiri ketika sampai pada bagian tertentu**, sebagai bentuk penghormatan yang mereka anggap karena Nabi ﷺ hadir.
Keyakinan semacam ini membutuhkan dalil yang sahih. Jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ justru dicampuri dengan perkara gaib yang tidak pernah diajarkan oleh beliau.
3. Ghuluw atau berlebih-lebihan dalam memuji Nabi ﷺ
Sebagian syair dan pujian kepada Nabi ﷺ mengandung **ghuluw**, yaitu melampaui batas dalam memberikan pujian kepada beliau.
Nabi ﷺ sendiri telah memperingatkan:
> **لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ**
> “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Ibnu Maryam.”
Sumber yang Anda kirim juga menukil contoh dari *Qashidah al-Burdah* yang dinilai mengandung ungkapan berlebihan, bahkan mengandung kesyirikan, seperti permohonan perlindungan kepada Nabi ﷺ dan pen*sbatan ilmu yang sangat luas kepada beliau.
4. Memalingkan sebagian ibadah kepada Nabi ﷺ
Ini merupakan perkara yang jauh lebih serius. Pada sebagian praktik, ghuluw terhadap Nabi ﷺ dapat sampai kepada **berdoa kepada beliau, beristighatsah kepada beliau, atau meminta sesuatu yang merupakan kekhususan Allah**.
Sumber yang Anda kirim secara tegas menyebut bahwa pada sebagian perayaan terdapat **kesyirikan, beristighatsah kepada Nabi ﷺ dan berdoa kepada selain Allah**.
5. Menjadikan Maulid sebagai ritual keagamaan yang diulang setiap tahun
Masalahnya bukan sekadar berkumpul untuk membaca Al-Qur'an atau bershalawat. Persoalannya adalah **mengkhususkan waktu tertentu setiap tahun sebagai perayaan keagamaan dengan nama Maulid Nabi ﷺ**, padahal tidak ada contoh dari Nabi ﷺ dan para sahabat.
Dalam sumber tersebut dijelaskan bahwa bahkan apabila isi acaranya hanya membaca Al-Qur'an, sejarah Nabi ﷺ, dan shalawat, apabila dikemas sebagai **perayaan khusus yang berulang setiap tahun**, hal itu tetap dinilai sebagai bid'ah.
6. Menyerupakannya dengan hari raya keagamaan
Sebagian orang memperlakukan Maulid seperti **hari raya yang memiliki ritual khusus, waktu khusus, dan perayaan khusus yang berulang setiap tahun**.
Ini yang perlu dibedakan: **mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah sesuatu yang baik**, tetapi menjadikan tanggal atau momentum tertentu sebagai perayaan agama membutuhkan dalil.
Sumber tersebut menegaskan bahwa mempelajari sejarah Nabi ﷺ tetap dianjurkan, tetapi hendaknya dilakukan di masjid, madrasah, rumah, lembaga pendidikan, dan tempat lainnya **tanpa menjadikannya perayaan Maulid**.
7. Joget, menari, musik dan tindakan yang tidak pantas dalam majelis
Pada sebagian perayaan, terdapat praktik yang jauh dari ketenangan majelis ilmu, seperti **joget, bermusik, menari, berteriak-teriak, atau gerakan-gerakan tertentu** yang tidak layak dijadikan bagian dari majelis dzikir dan ilmu.
Jika ditambah dengan klaim-karomah atau atraksi tertentu, maka perkara tersebut perlu ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar karena dianggap bagian dari “tradisi Maulid”.
8. Atraksi kekebalan atau “hikmah”
Pada sebagian tempat, acara keagamaan terkadang dicampur dengan **atraksi kekebalan, kesaktian, atau pertunjukan yang disebut hikmah**.
Ini jelas bukan dalil kecintaan kepada Nabi ﷺ. Apalagi apabila di dalamnya terdapat perdukunan, jimat, mantra yang tidak syar'i, meminta bantuan jin, atau bentuk kesyirikan lainnya.
9. Campur baur laki-laki dan perempuan
Pada sebagian perayaan dapat terjadi **ikhtilath**, yaitu bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa batasan syar'i.
Lebih buruk lagi apabila momentum tersebut justru dimanfaatkan sebagian orang untuk **mencari pasangan/pacar**, saling berkenalan secara bebas, atau melakukan interaksi yang tidak dibenarkan syariat.
Tentu, adanya sebagian kesalahan tersebut pada sebagian tempat **tidak berarti setiap orang yang menghadiri Maulid pasti melakukannya**. Namun apabila kemaksiatan memang terjadi, ia tetap merupakan kemungkaran yang wajib diingkari.
10. Menganggap banyaknya orang yang hadir sebagai dalil kebenaran
Kadang sebuah acara dibenarkan dengan alasan:
> “Yang hadir ribuan orang, berarti ini baik.”
Padahal **banyaknya orang bukan dalil bahwa suatu amalan merupakan sunnah**. Yang menjadi ukuran adalah apakah amalan tersebut memiliki landasan dari Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman generasi Salaf.
11. Menganggap kecintaan kepada Nabi ﷺ harus diwujudkan dengan perayaan Maulid
Ini juga perlu diluruskan.
**Mencintai Nabi ﷺ adalah kewajiban.** Akan tetapi, cara mewujudkan kecintaan kepada beliau harus mengikuti petunjuk beliau ﷺ.
Mempelajari sirah, membaca hadits, memperbanyak shalawat yang disyariatkan, mengikuti sunnah, menaati perintah beliau, dan menjauhi larangannya adalah bentuk kecintaan yang nyata.
🔴 Kesimpulan
Jadi, persoalannya **bukan bahwa membaca Al-Qur'an, bershalawat, atau mempelajari sirah Nabi ﷺ itu salah**.
Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu **dikemas menjadi ritual perayaan keagamaan tertentu yang dikhususkan dan diulang setiap tahun tanpa landasan dari Nabi ﷺ dan para sahabat**, lalu dalam praktik sebagian tempat ditambah dengan **kisah-kisah lemah dan khurafat, ghuluw terhadap Nabi ﷺ, doa atau istighatsah kepada selain Allah, ikhtilath, joget, bermusik, atraksi kesaktian, dan berbagai kemungkaran lainnya**.
membedakan antara mempelajari sirah Nabi ﷺ—yang disebut sebagai perkara yang dibutuhkan—dengan menjadikannya sebagai perayaan Maulid.
> **Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan dengan mengada-adakan perayaan yang tidak pernah beliau ajarkan, tetapi dengan mengikuti sunnah beliau, membenarkan berita yang beliau bawa, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan beliau ﷺ.**