15/04/2022
Sebutir Nasi yang Membuat Habib Luthfi Terdiam
Dalam perjalanan mencari ilmu, Habib Lutfi Bin Yahya berjumpa dgn seorang Kiai Sepuh. Romo Habib muda terheran saat menyaksikan akhlak kiai sepuh yg mengambil butiran nasi yg terjatuh saat sedang dhahar (makan), untuk dikembalikan ke piring dan dimakan kembali.
"Kenapa harus diambil, Yai. Kan cuma nasi sebutir," ujar Habib Luthfi
"Lho, jangan dilihat sebutir nasinya, Yik. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seper seribu menir saja?"
Terdiamlah Romo Habib muda. Kiai sepuh melanjutkan, "Ketahuilah, Yik. Pada saat kita makan nasi, Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama hingga memanen ada jasa banyak sekali hamba Allah di sana."
"Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang2 kita masih banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabur dan Allah tidak s**a dg manusia yg takabur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudlorot bagi kesehatan kita, ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian syukur kita".
Romo Habib muda pun menyimak lebih dalam. "Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa: Allahumma barik lana. Bukan Allahumma barik li, walau sedang makan sendirian."
"'Lana itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji, semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi doa itu merupakan ucapan syukur serta mendoakan semua orang yg berperan dlm kehadiran nasi yg kita makan."
"Dan satu lagi, mengapa wong makan kok ada doa: waqina ‘adzaban nar.Apa hubungan makan dg neraka? Kan gak nyambung."
"Inggih Yai. Kok bisa ya?" tanya Habib Luthfi.
"Begini, Yik.Kita makan ini hanya wasilah. Yg memberi kenyang itu Allah. Kalau kita makan dan menganggap bahwa yg mengenyangkan kita adalah makanan yg kita makan, maka takutlah, itu akan menjatuhkan kita dlm kemusyrikan. Dosa terbesar bagi orang beriman."
"Bayangkan saja, Yik. Jika kita makan dan minum tp tidak hilang rasa lapar dan dahaga kita karena tidak dikehendaki Allah, apalah jadinya?"