20/01/2026
Waktu perlahan meluruh dalam kepalaku…
Seperti angin tipis yang menyusup ke jendela tua—tanpa suara.
Kadang kita lupa, hidup ini bukan hanya tentang apa yang kita miliki… tapi bagaimana kita menjalaninya.
Dan bagaimana kita bertemu dengan ujung.
Di rak paling tinggi rumah nenekku, ada mushaf kecil bersampul kain hijau.
Sudah robek di salah satu sudutnya.
Tapi huruf-hurufnya masih jelas, gemetar seperti napas seorang yang telah lama menanti.
Aku ingat dulu s**a membukanya diam-diam,
walau tak benar-benar paham…
Bismillahirrahmanirrahim.
Kata itu membuka hampir setiap babak dalam hidup ini.
Dengan nama-Nya Yang Maha Pengasih,
kita belajar membuka pagi, menelan luka, menjalani ujian—tanpa banyak tanya.
Anehnya ya… semakin bertambah usia,
semakin terasa bahwa hidup ini bukan tempat tinggal,
tapi tempat lewat.
Para nabi—Anbiya alayhis salam—datang bukan sekadar untuk mengajarkan rukuk atau sujud.
Mereka membawa peta…
Peta yang menunjuk pada cahaya, sekalipun kita tersembunyi dalam kabut.
Mereka tidak janji hidup tanpa susah.
Tapi mereka pernah berdiri di tempat paling hening, paling kosong…
Dan dari situ mereka bicara.
Kadang tuh… kita pikir kita kuat.
Ternyata, kita cuma belum diuji di titik yang paling dalam.
Titik di mana malam tak menjawab.
Dan suara ibu dalam kepala pun terasa jauh.
Ada orang-orang yang jalannya berat, tapi wajahnya tenang.
Mereka bukan tidak merasa sakit—mereka hanya tahu arah.
Dan tahu kepada siapa meminta.
Karena hidup ini, kata mereka,
bukan kompetisi… tapi ujian.
Dan setiap ujian punya tempat kembali.
Alhamdulillahi Rabbil Alameen.
Segala puji… meski belum semua rahasia terjawab.
Segala puji… bahkan saat yang dicinta pergi.
Segala puji… untuk jalan yang tidak kita pilih,
tapi ternyata menyelamatkan.
Udara berat seperti ini…
Sering datang setelah kita melempar tanya
ke langit yang sunyi.
Jujur, ada hari-hari ketika aku cuma ingin diam.
Bukan karena tak beriman—tapi karena lelah jadi manusia.
Dan mungkin itu juga bagian dari rencana-Nya.
Agar kita kembali…
Dengan hati yang tidak lagi sombong.
Kita kehilangan banyak—
Kesehatan, waktu, orang-orang, rencana-rencana.
Tapi saat kita ganti pertanyaan dari “kenapa aku?” menjadi “apa yang bisa kupelajari?”,
semuanya mulai terasa berbeda.
Perlahan.
Ada gema masa lampau dalam setiap sujud.
Ada jejak manusia lain
yang dulu juga bertanya hal yang sama.
Lalu menyerah, bukan karena kalah—
tapi karena percaya.
Semakin hari, aku makin yakin:
Kehidupan ini bukan tentang sempurna.
Ia hanya tentang rendah hati dan berupaya.
Sungguh—
apa yang sedang kita ukir sebenarnya…?