Membaca Al Qur'an dengan nalar - Persfektif Almarhum Dr. Muhammad Syahrur

Membaca Al Qur'an dengan nalar - Persfektif Almarhum Dr. Muhammad Syahrur Halaman ini didedikasikan untuk menggali makna Al-Qur'an dengan pendekatan linguistik, historis, dan rasional sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Muhammad Syahrur.

๐Ÿ“Œ Apakah Nabi ๏ทบ Mengetahui Hal-Hal Gaib?Banyak yang mengira beliau tahu segalanya, termasuk hal-hal gaib seperti siksa k...
02/06/2025

๐Ÿ“Œ Apakah Nabi ๏ทบ Mengetahui Hal-Hal Gaib?
Banyak yang mengira beliau tahu segalanya, termasuk hal-hal gaib seperti siksa kubur, surga, neraka, bahkan masa depan. Tapiโ€ฆ apakah itu benar menurut Al-Qur'an?
Baca artikel ini dan temukan jawabannya langsung dari ayat-ayat Al-Qurโ€™an.

Telaah Kontemporer: 5 โ€“ Apakah Nabi ๏ทบ Mengetahui Hal-Hal Gaib?Pertanyaan tentang apakah Nabi Muhammad ๏ทบ mengetahui perka...
02/06/2025

Telaah Kontemporer: 5 โ€“ Apakah Nabi ๏ทบ Mengetahui Hal-Hal Gaib?
Pertanyaan tentang apakah Nabi Muhammad ๏ทบ mengetahui perkara-perkara gaib merupakan isu penting yang sering muncul dalam tradisi Islam. Dalam telaah kontemporer ini, mari kita tinjau secara langsung apa yang dikatakan Al-Qur'an tentang persoalan tersebut โ€” sumber utama dan tertinggi dalam ajaran Islam.

Al-Qurโ€™an menegaskan secara eksplisit bahwa Rasulullah ๏ทบ tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib, kecuali apa yang diwahyukan Allah kepadanya. Dalam Surah Al-Anโ€™am ayat 50, Allah ๏ทป memerintahkan Nabi untuk menyatakan:

"Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku."
(QS. Al-Anโ€™am: 50)

Hal ini dipertegas dalam Surah Al-A'raf ayat 188:

"Katakanlah: Aku tidak berkuasa untuk memberi manfaat atau menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Kalau aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi kaum yang beriman."
(QS. Al-Aโ€™raf: 188)

Bahkan Nabi sendiri menegaskan ketidaktahuannya terhadap takdirnya dan umatnya dalam Surah Al-Ahqaf ayat 9:

"Katakanlah: Aku bukanlah sesuatu yang baru di antara para rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu."
(QS. Al-Ahqaf: 9)

Satu lagi penegasan Allah terhadap sumber pengetahuan gaib hanyalah dari wahyu:

"Itu adalah berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu; kamu tidak mengetahuinya, dan begitu p**a kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Hud: 49)

Berdasarkan ayat-ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad ๏ทบ tidak mengetahui hal-hal gaib secara independen. Pengetahuan beliau terbatas pada apa yang diwahyukan melalui Al-Qurโ€™an.

Adapun berbagai kisah dalam hadis tentang siksa kubur, shirath yang lebih tajam dari pedang, azab oleh ular botak, Munkar dan Nakir, serta gambaran visual tentang surga dan neraka yang detail, semuanya tidak bersumber dari Al-Qurโ€™an. Banyak di antaranya justru berasal dari budaya pra-Islam yang kemudian masuk ke dalam warisan Islam melalui hadis-hadis yang diragukan keasliannya.

Kita tidak diperintahkan untuk mengimani semua hal gaib, melainkan hanya hal-hal gaib yang secara eksplisit disebut dalam Al-Qurโ€™an. Oleh karena itu, umat Islam perlu bersikap kritis terhadap berbagai narasi yang tidak bersumber dari wahyu, agar tidak terjebak dalam mitos atau khayalan yang melemahkan semangat rasionalitas dan tanggung jawab pribadi dalam beragama.

Wallahu aโ€™lam.
Disarikan dari video Dr. Muhammad Syahrur:

23/04/2025

Disclaimer:
Halaman ini dibuat untuk menelaah dan mendiskusikan pemikiran Dr. Muhammdad Syahrur. Semua konten di halaman ini merupakan terjemahan dari video orisinal beliau yang tersedia secara publik di YouTube. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas isi asli. Tujuan saya semata-mata untuk edukasi, dakwah, dan memperluas wawasan umat terhadap Al-Qurโ€™an berdasarkan pemikiran beliau. Saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat atau pemikiran beliau tentang tafsir Al Qur'an, tetapi setidaknya ini bisa menambah wawasan dan cara berfikir kita dalam memahami Al Qur'an yang tujuan utamanya adalah meningkatkan keimanan kita. Apabila ada yang tidak setuju dengan isi konten-konten beliau yang saya bagikan di halaman ini, mari kita berdiskusi disini.

Terjemahan Video Dr. Muhammad Syahrur:ุฑุคูŠุฉ ู…ุนุงุตุฑุฉ: 3 - ุงู„ุนุจุงุฏ ูˆุงู„ุนุจูŠุฏhttps://youtu.be/lydXg-zbzgM?list=PLHRyMBl_03OA2UwZ...
29/03/2025

Terjemahan Video Dr. Muhammad Syahrur:
ุฑุคูŠุฉ ู…ุนุงุตุฑุฉ: 3 - ุงู„ุนุจุงุฏ ูˆุงู„ุนุจูŠุฏ
https://youtu.be/lydXg-zbzgM?list=PLHRyMBl_03OA2UwZEaz2pU8L9ID5aMHxV

Pandangan Kontemporer: Hamba (ุนุจุงุฏ) dan Budak (ุนุจูŠุฏ)
Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam literatur Islam, sering dikatakan bahwa peribadahan hanya untuk Allah. Namun, saya berpendapat bahwa Al-Qur'an justru menolak konsep ini. Allah tidak pernah meminta peribadahan dari siapa pun untuk diri-Nya. Kita adalah 'ibฤdullฤh (hamba Allah), bukan โ€˜abฤซdullฤh (budak Allah). Kata โ€˜ibฤd berasal dari kata kerja โ€˜abada, yang dalam bahasa Arab termasuk dalam kategori kata yang memiliki makna berlawanan (afโ€˜ฤl al-aแธdฤd), yaitu dapat berarti ketaatan dan dapat p**a berarti pembangkangan.

Dalam konteks ketaatan, Allah berfirman:

ูˆูŽุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู…ู’ุดููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฃุฑู’ุถู ู‡ูŽูˆู’ู†ู‹ุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุงุทูŽุจูŽู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููˆู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุณูŽู„ุงู…ู‹ุง

"Dan hamba-hamba Ar Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih) itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan (kata-kata) salam." (Al-Furqan: 63)

Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang menaati Allah secara sukarela, bukan karena paksaan. Sebab, kepatuhan yang sejati datang dari kehendak bebas.

Dalam Al-Qur'an juga disebutkan:
ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูู„ุฃุฑู’ุถู ุงูุฆู’ุชููŠูŽุง ุทูŽูˆู’ุนู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุฑู’ู‡ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชูŽุง ุฃูŽุชูŽูŠู’ู†ูŽุง ุทูŽุงุฆูุนููŠู†ูŽ
"Lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku, dengan sukarela atau terpaksa!' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan sukarela." (Fussilat: 11)

Kata แนญawโ€˜an (ุทูˆุนุง) berarti kepatuhan sukarela, sementara kebalikannya adalah keterpaksaan (ูƒุฑู‡ุง).

Sedangkan dalam ayat:
ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ุฅู†ู’ุณูŽ ุฅูู„ุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Az-Zariyat: 56)

Maksud dari kata li yaโ€˜budลซn (ู„ูŠุนุจุฏูˆู†ูˆ) adalah menaati Allah dengan pilihan mereka sendiri. Mereka dapat memilih untuk menaati atau membangkang, dan dalam hal ini mereka tetap disebut sebagai hamba Allah (ุนุจุฏ).

Dalam ayat lain, Allah berfirman:
ู‚ูู„ู’ ูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏููŠูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃูŽุณู’ุฑูŽูููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ู„ุง ุชูŽู‚ู’ู†ูŽุทููˆุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.'" (Az-Zumar: 53)

Di sini, kata โ€˜ibฤd (ุนุจุงุฏ)mencakup baik orang-orang yang taat maupun yang bermaksiat, karena Allah berbicara kepada mereka yang telah berbuat dosa.

Begitu p**a dalam firman-Nya:
ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฎู’ู„ูŽ ุจูŽุงุณูู‚ูŽุงุชู ู„ูŽู‡ูŽุง ุทูŽู„ู’ุนูŒ ู†ูŽุถููŠุฏูŒ (ูกู )ุฑูุฒู’ู‚ู‹ุง ู„ูู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู
"Dan pohon kurma yang menjulang tinggi, yang mempunyai mayang bersusun-susun, sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami)." (Qaf: 10-11)

Kata โ€˜ibฤd dalam ayat ini mencakup semua manusia, baik yang taat maupun yang bermaksiat, karena mereka semua mendapatkan rezeki yang sama dari Allah.

Di sisi lain, kata โ€˜abada (ุนุจุฏ)juga dapat bermakna ingkar atau menolak sesuatu, sebagaimana dalam ayat:

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŒ ููŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุงู„ู’ุนูŽุงุจูุฏููŠู†ูŽ
"Katakanlah: 'Jika (benar) Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang pertama menjadi hambaNya (yang megingkariNya).'" (Az-Zukhruf: 81)

Maksudnya adalah orang yang pertama menolak atau mengingkarinya. Karena dalam ayat lain Allah menegaskan:

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู„ูุฏู’ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠููˆู„ูŽุฏู’ (ูฃ)
"Dia tiada beranak dan tiada p**a diperanakkan." (Al-Ikhlas: 3)

Jadi, jika seandainya (dan ini tidak mungkin) Allah memiliki anak, maka orang pertama yang akan menentangnya adalah aku. Ini menunjukkan bahwa kata โ€˜abada (ุนุจุฏ)dalam beberapa konteks juga berarti penolakan dan pembangkangan.

Adapun kata โ€˜abฤซd (ุนุจูŠุฏ), digunakan dalam Al-Qur'an untuk merujuk pada seseorang yang tidak memiliki kebebasan (=budak), sebagaimana dalam ayat:

ุถูŽุฑูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุซูŽู„ุง ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ู…ูŽู…ู’ู„ููˆูƒู‹ุง ู„ุง ูŠูŽู‚ู’ุฏูุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู
"Allah membuat perumpamaan (dengan) seorang hamba sahaya yang dimiliki, yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun." (An-Nahl: 75)

Di sini, โ€˜abd (ุนุจุฏ)berarti seorang budak yang tidak memiliki otoritas atas dirinya sendiri. Berbeda dengan kata โ€˜ibฤd (ุนุจุงุฏ), yang berarti orang-orang yang memiliki kebebasan untuk memilih antara taat atau durhaka.

Pada Hari Kiamat, ketika manusia tidak lagi memiliki pilihan, Allah menyebut semua manusia sebagai โ€˜abฤซd (ุนุจูŠุฏ) (budak,), sebagaimana dalam ayat:

ูˆูŽู…ูŽุง ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุธูŽู„ุงู…ู ู„ูู„ู’ุนูŽุจููŠุฏู
"Dan Tuhanmu tidaklah berlaku zalim kepada hamba-hamba(-Nya)." (Fussilat: 46)

Ungkapan serupa muncul sebanyak lima kali dalam Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa pada Hari Pembalasan, manusia berada dalam kondisi tidak memiliki kehendak bebas dan hanya bisa menerima keputusan Allah.

Namun, di dalam surga, manusia kembali disebut sebagai โ€˜ibฤd (ุนุจุงุฏ), sebagaimana dalam firman-Nya:

ุนูŽูŠู’ู†ู‹ุง ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ุจูู‡ูŽุง ุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูููŽุฌูู‘ุฑููˆู†ูŽู‡ูŽุง ุชูŽูู’ุฌููŠุฑู‹ุง
"Mata air (di dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan mudah." (Al-Insan: 6)

Oleh karena itu, konsep perbudakan sangatlah ditolak dalam Islam. Kebebasan adalah tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ู„ูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ููˆู†ูŽ ู…ูุฎู’ุชูŽู„ููููŠู†ูŽ
"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat." (Hud: 118)

Allah menciptakan manusia agar mereka memiliki kebebasan berpikir dan berpendapat. Itulah inti keberadaan manusia.
Kebebasan adalah sesuatu yang sangat suci, dan kebebasan memilih adalah inti dari ajaran Islam. Sementara perbudakan adalah konsep yang diciptakan oleh manusia, bukan oleh Allah. Allah tidak pernah meminta peribadahan secara paksaan dari siapa pun, tetapi Dia ingin agar manusia menjadi hamba-Nya dengan penuh kebebasan.

Wassalamuโ€˜alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
=========================

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.Pada kesempatan ini saya ingin berbagi terjemahan saya dari sebuah video dar...
26/03/2025

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi terjemahan saya dari sebuah video dari almarhum Dr. Muhammad Syahrur yang berjudul โ€œุฑุคูŠุฉ ู…ุนุงุตุฑุฉ: 2 - ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ู‚ุฑุขู†โ€ (Pandangan Kontemporer 2: Perbedaan istilah Al Kitab dan Al Qurโ€™an). Semoga artikel ini memberi manfaat untuk menambah wawasan kita akan pemikiran kontemporer dari Dr. M. Syahrur. Silahkan jika ada pertanyaan tulis di komentar untuk mendiskusikannya.

https://youtu.be/W8IzfFH6Dfs?list=PLHRyMBl_03OA2UwZEaz2pU8L9ID5aMHxV

ุฑุคูŠุฉ ู…ุนุงุตุฑุฉ: 2 - ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ู‚ุฑุขู†

Perbedaan Antara Al-Kitab (ุงู„ูƒุชุงุจ) dan Al-Qur'an (ุงู„ู‚ุฑุขู†)
Dalam diskusi keislaman, sering muncul pertanyaan mengenai perbedaan antara Al-Kitab dan Al-Qur'an. Al-Fatihah disebut sebagai "Fatihatul Kitab", bukan "Fatihatul Qur'an". Begitu p**a dalam Surah Al-Baqarah, ayat pertama dimulai dengan "Alif Lam Mim", dan pada ayat kedua disebutkan, "Dzalikal Kitabu la rayba fihi hudan lil-muttaqin" (Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).

Selanjutnya, dalam ayat 185 dari surah yang sama disebutkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an (ุงู„ู‚ุฑุขู†) sebagai petunjuk bagi manusia.

Dari sini terlihat bahwa Al-Kitab (ุงู„ูƒุชุงุจ)disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan Al-Qur'an (ุงู„ู‚ุฑุขู†) sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Kitab mencakup Al-Qur'an, karena orang-orang bertakwa juga termasuk dalam kategori manusia. Dengan kata lain, Al-Kitab lebih luas dan mencakup berbagai aspek selain yang terdapat dalam Al-Qur'an.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang menulis sebuah buku dan menyatakan bahwa buku tersebut untuk seluruh penduduk Jerman dan diberi nama "Hasan", lalu menulis buku lain yang khusus untuk penduduk Berlin dan menamakannya "Said", maka sudah pasti isi buku "Said" harus termasuk dalam buku "Hasan", karena penduduk Berlin juga bagian dari penduduk Jerman. Demikian p**a, Al-Kitab mencakup Al-Qur'an, tetapi juga mencakup hal-hal lain yang lebih spesifik yang membuat seseorang menjadi bertakwa.

Dalam ayat yang sama, Al-Kitab disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada hal-hal gaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa mendirikan salat dan menafkahkan rezeki merupakan bagian dari Al-Kitab, tetapi bukan bagian dari Al-Qur'an. Al-Qur'an sendiri lebih berkaitan dengan aspek keimanan terhadap hal-hal gaib, seperti kenabian, kehidupan setelah mati, dan hari kiamat.

Dalam pemahaman ini, kenabian (ุงู„ู†ุจูˆุฉ) berasal dari kata "naba'" (ู†ุจุฃ) yang berarti berita gaib. Oleh karena itu, Muhammad disebut sebagai "Nabi" (ูŠุจูŠ) karena membawa berita gaib, bukan hanya sebagai "Rasul" (ุฑุณูˆู„). Al-Qur'an menjadi petunjuk bagi seluruh manusia karena mengandung berita gaib yang pasti terjadi, seperti kematian. Setiap manusia, baik ia percaya atau tidak, pasti akan mengalami kematian.

Secara umum, Al-Qur'an terdiri dari dua kategori utama, yaitu berita gaib yang berkaitan dengan alam dan sejarah. Berita gaib tentang alam mencakup penciptaan langit dan bumi, kejadian manusia, hari kiamat, surga, neraka, dan hukum alam yang tidak bisa dihindari. Sementara itu, berita gaib tentang sejarah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan terdokumentasi dengan baik.

Keunikan Al-Qur'an sebagai Wahyu Ilahi
Al-Qur'an dapat diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa dilawan. Misalnya, seseorang dapat memilih untuk percaya atau tidak pada kehidupan setelah mati, tetapi ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa ada konsekuensi atas setiap perbuatannya. Oleh karena itu, Al-Qur'an membedakan antara hak dan batil dalam keberadaan alam dan sejarah, sedangkan wahyu kenabian membedakan antara halal dan haram dalam perilaku manusia.

Konsep ini juga dipahami oleh kelompok Mu'tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Hal ini karena sebagian besar isinya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang terekam dalam "Imam Mubin" (ุงู…ุงู… ู…ุจูŠู†) โ€”catatan dari semua kejadian yang telah terjadi. Sementara itu, bagian lain dari Al-Qur'an yang berisi hukum alam berasal dari "Lauh Mahfuzh" (ู„ูˆุญ ู…ุญููˆุธ), yang merupakan ketetapan Allah yang tidak berubah.
Ketika seorang nabi mengalami suatu kejadian, peristiwa tersebut terdokumentasi dalam "Imam Mubin" dan kemudian diwahyukan kembali sebagai bagian dari Al-Qur'an. Contohnya adalah peristiwa di mana Nabi Muhammad pernah bermuka masam kepada seorang buta. Kejadian ini terekam dalam sejarah, kemudian Allah mewahyukan ayat "Abasa wa tawalla" (ุนูŽุจูŽุณูŽ ูˆูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽู‰) sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Perbedaan Antara Al-Qur'an, Hadis, dan Zikir
Hadis (ุญุฏูŠุซ) adalah kump**an peristiwa sejarah dan kejadian alam yang diceritakan kembali, baik yang berasal dari manusia maupun dari Allah. Sementara itu, "Zikir" (ุงู„ุฐูƒุฑ) adalah bentuk suara dari wahyu ilahi, yaitu Al-Qur'an dalam bentuk yang dapat dihafal dan dibaca. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Inna nahnu nazzalna adz-dzikra wa inna lahu la hafizun" (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Zikir dan Kami p**a yang akan menjaganya). Zikir dalam hal ini mengacu pada Al-Qur'an yang dibaca dan dihafal oleh manusia.

Sedangkan "Furqan" (ูุฑู‚ุงู†) merujuk pada sepuluh perintah utama yang diwahyukan kepada Nabi Musa, Isa, dan Muhammad, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An'am ayat 152-153. Oleh karena itu, istilah "Ahlul Kitab" (ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจ) yang sering digunakan untuk merujuk pada kaum Nasrani dan Yahudi sering disalahpahami. Kitab mereka bukanlah Taurat atau Injil semata, tetapi juga mencakup hikmah dan petunjuk lain yang diajarkan oleh para nabi mereka.

Dengan pemahaman ini, kita dapat membedakan antara Al-Kitab (ุงู„ูƒุชุงุจ) dan Al-Qur'an (ุงู„ู‚ุฑุขู†), serta memahami bagaimana wahyu ilahi tersusun dalam berbagai bentuk dan kategori yang memiliki fungsi berbeda dalam kehidupan manusia.

https://youtu.be/LXjiAAEGs1A?si=5jP2L5zl4cu_MLhrArtikel berikut ini adalah hasil terjemahan saya dari video Dr. Syahrur ...
25/03/2025

https://youtu.be/LXjiAAEGs1A?si=5jP2L5zl4cu_MLhr
Artikel berikut ini adalah hasil terjemahan saya dari video Dr. Syahrur dengan judul video:
ุฑุคูŠุฉ ู…ุนุงุตุฑุฉ: 1 - ุฎุทุฃ ู…ุตุทู„ุญ ุงู„ูˆุญูŠูŠู†

Bismillahirrahmanirrahim
Ilmu fiqih mengatakan bahwa fiqih didasarkan pada empat prinsip utama: Al-Kitab (Al-Qurโ€™an), As-Sunnah, Ijmaโ€™, dan Qiyas. Keempat prinsip ini ditetapkan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafiโ€™i, yang lahir pada tahun 150 Hijriah, yaitu 140 tahun setelah wafatnya Rasulullah ๏ทบ. Ketika ia menyusun dasar-dasar fiqih, ia berpegang pada sebuah gagasan yang sangat berresiko.

Untuk pertama kalinya, ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad ๏ทบ adalah pemilik dua wahyu. Menurutnya, Al-Kitab / Tanzil al Hakim adalah wahyu, sementara sunnah adalah wahyu lain. Dengan demikian, ia memberikan legalitas (keabsahan hukum) terhadap sunnah sebagaimana Al-Kitab. Dari sinilah muncul ilmu hadits. Namun, menurut saya, dari sinilah p**a industri hadits mulai berkembang, karena hadits kemudian dijadikan sebagai sumber hukum dan rujukan dalam berbagai hal.

Segala sesuatu yang ingin diteliti harus didukung dengan hadits atau perkataan tertentu. Bahkan, istilah ilmu hadits secara keseluruhan diciptakan sebagai bagian dari sistem ini. Imam Asy-Syafiโ€™i mendasarkan gagasannya pada ayat berikut:
ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ู…ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูŽูˆูŽู‰ (ูก)ู…ูŽุง ุถูŽู„ู‘ูŽ ุตูŽุงุญูุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุบูŽูˆูŽู‰ (ูข)ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุทูู‚ู ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽู‰ (ูฃ)ุฅูู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฅูู„ุง ูˆูŽุญู’ูŠูŒ ูŠููˆุญูŽู‰ (ูค)
"Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru. Dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya. Itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan."
(Surat An-Najm: 1-4)

Imam Asy-Syafiโ€™i memahami ayat โ€œDan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya. Itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukanโ€ sebagai bukti bahwa perkataan Nabi, termasuk hadits-hadits yang dinisbatkan kepadanya, adalah wahyu. Dengan dasar ini, ilmu fiqih Islam secara keseluruhan berdiri berdasarkan konsep sinonimitas (kesamaan makna).

Jika sinonimitas ini dihilangkan dari Al-Qurโ€™an, maka fiqih akan runtuh dan kehilangan pijakannya. Sebab, Imam Asy-Syafiโ€™i sendiri tidak membedakan antara โ€œู‚ูˆู„โ€ dan โ€œู†ุทู‚โ€ (perkataan dan ucapan).
Misalnya, jika seseorang berkata, โ€œRasulullah ๏ทบ bersabda: Katakanlah, Dialah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak p**a diperanakkan (Surah Al-Ikhlas),โ€ maka siapa pun akan menolak dengan mengatakan, โ€œItu bukan perkataan Muhammad, itu adalah firman Allah.โ€

Namun, jika dikatakan, โ€œAllah berfirman/berkata dan Rasulullah ๏ทบ mengucapkannya: Katakanlah, Dialah Allah yang Maha Esa,โ€ maka tidak ada yang bisa membantahnya. Dalam hal ini, Allah adalah yang berkata/berfirman, sedangkan Rasulullah ๏ทบ adalah yang menyampaikan (menyuarakan wahyu).

Rasulullah ๏ทบ bertugas menyampaikan wahyu (balagh) dan menjelaskannya (bayan). Makna bayan di sini adalah menjelaskan secara terang, bukan menafsirkan atau menambahkan makna lain.
Sebagaimana dalam ayat:
ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู„ุฐูู‘ูƒู’ุฑูŽ ู„ูุชูุจูŽูŠูู‘ู†ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุง ู†ูุฒูู‘ู„ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ
"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka memikirkan." (An-Nahl: 44)

Kata dzikr merujuk pada Al-Qurโ€™an yang diucapkan oleh Rasulullah ๏ทบ sebagai bentuk wahyu dari Allah. Oleh karena itu, ucapan (nuthq) berasal dari mulut dan tenggorokan, dan ucapan itu selalu benar karena berbentuk suara yang nyata. Namun, perkataan (qawl) bisa benar atau bisa juga salah.
Sebagaimana dalam ayat:
ููŽูˆูŽุฑูŽุจูู‘ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุฃุฑู’ุถู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุญูŽู‚ู‘ูŒ ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽู†ู’ุทูู‚ููˆู†ูŽ (ูขูฃ)
"Demi Rab langit-langit dan bumi, sungguh (Al-Qur'an) itu benar-benar Haq seperti yang kalian ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23)

Ucapan adalah sesuatu yang nyata, tetapi tidak selalu berarti kebenaran. Sedangkan perkataan mengandung makna dan bisa benar atau salah. Itulah sebabnya dalam kisah Nabi Sulaiman, semut berkomunikasi dengan isyarat, bukan dengan ucapan verbal.

Dalam Surah An-Naml disebutkan:
ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุชูŽูˆู’ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุงุฏู ุงู„ู†ู‘ูŽู…ู’ู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู†ูŽู…ู’ู„ูŽุฉูŒ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽู…ู’ู„ู ุงุฏู’ุฎูู„ููˆุง ู…ูŽุณูŽุงูƒูู†ูŽูƒูู…ู’ ู„ุง ูŠูŽุญู’ุทูู…ูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุณูู„ูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุฌูู†ููˆุฏูู‡ู ูˆูŽู‡ูู…ู’ ู„ุง ูŠูŽุดู’ุนูุฑููˆู†ูŽ (ูกูจ)
"Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: 'Wahai para semut, masuklah kalian ke dalam sarang agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sementara mereka tidak menyadarinya.'" (An-Naml: 18)
ููŽุชูŽุจูŽุณู‘ูŽู…ูŽ ุถูŽุงุญููƒู‹ุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ูŽุง ...
Maka dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa mendengar perkataan semut (bukan ucapan semut).

Jadi, perkataan memiliki makna, sedangkan ucapan hanya suara yang keluar tanpa harus memiliki makna tertentu.
Dari sini, kita bisa melihat kelemahan konsep yang dikemukakan oleh Imam Asy-Syafiโ€™i, yaitu bahwa sunnah merupakan wahyu. Kesalahannya terletak pada ketidakmampuannya membedakan antara perkataan dan ucapan.
Misalnya, jika saya mengatakan:
"Akulah yang diperhatikan orang dalam sastraku, dan kata-kataku bahkan didengar oleh mereka yang tuli."
Dalam hal ini, saya yang mengucapkan, tetapi penyair Mutanabbi-lah yang mengatakan.

Ketika kita berkata, โ€œJuru bicara Kementerian Luar Negeri menyampaikan pernyataan,โ€ maka kita memahami bahwa yang berbicara adalah juru bicara, tetapi yang mengatakan adalah kementerian.

Kesalahan logika inilah yang dilakukan oleh Imam Asy-Syafiโ€™i, yang kemudian melahirkan sistem hukum Islam berdasarkan hadits. Dengan demikian, seluruh kehidupan masyarakat Arab pada abad ke-7 dijadikan sebagai bagian dari agama, yang akhirnya membawa kita ke dalam kompleksitas hukum Islam seperti yang kita hadapi hingga hari ini.
Wassalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

25/03/2025

Selamat datang di "Membaca Al-Qur'an dengan Nalar โ€“ Perspektif Almarhum Dr. Muhammad Syahrur".
Halaman ini didedikasikan untuk menggali makna Al-Qur'an dengan pendekatan linguistik, historis, dan rasional sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Muhammad Syahrur.

Di sini, kita akan membahas berbagai konsep yang dikemukakan beliau, termasuk makna lafadz dalam Al-Qur'an, konsep halal-haram, dan metodologi pemikiran kritis terhadap teks-teks suci.

Kami mengundang semua yang tertarik untuk berdiskusi dengan terbuka dan objektif, dengan tetap menjaga sikap ilmiah dan menghormati perbedaan pandangan.

Mari bersama-sama memperkaya pemahaman kita terhadap kitabullah dengan pendekatan yang berbasis nalar dan penelitian.

Silakan like, follow, dan bagikan halaman ini agar lebih banyak orang dapat belajar dan berdiskusi.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Membaca Al Qur'an dengan nalar - Persfektif Almarhum Dr. Muhammad Syahrur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share