26/03/2025
Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi terjemahan saya dari sebuah video dari almarhum Dr. Muhammad Syahrur yang berjudul โุฑุคูุฉ ู
ุนุงุตุฑุฉ: 2 - ุงููุชุงุจ ูุงููุฑุขูโ (Pandangan Kontemporer 2: Perbedaan istilah Al Kitab dan Al Qurโan). Semoga artikel ini memberi manfaat untuk menambah wawasan kita akan pemikiran kontemporer dari Dr. M. Syahrur. Silahkan jika ada pertanyaan tulis di komentar untuk mendiskusikannya.
https://youtu.be/W8IzfFH6Dfs?list=PLHRyMBl_03OA2UwZEaz2pU8L9ID5aMHxV
ุฑุคูุฉ ู
ุนุงุตุฑุฉ: 2 - ุงููุชุงุจ ูุงููุฑุขู
Perbedaan Antara Al-Kitab (ุงููุชุงุจ) dan Al-Qur'an (ุงููุฑุขู)
Dalam diskusi keislaman, sering muncul pertanyaan mengenai perbedaan antara Al-Kitab dan Al-Qur'an. Al-Fatihah disebut sebagai "Fatihatul Kitab", bukan "Fatihatul Qur'an". Begitu p**a dalam Surah Al-Baqarah, ayat pertama dimulai dengan "Alif Lam Mim", dan pada ayat kedua disebutkan, "Dzalikal Kitabu la rayba fihi hudan lil-muttaqin" (Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).
Selanjutnya, dalam ayat 185 dari surah yang sama disebutkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an (ุงููุฑุขู) sebagai petunjuk bagi manusia.
Dari sini terlihat bahwa Al-Kitab (ุงููุชุงุจ)disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan Al-Qur'an (ุงููุฑุขู) sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Kitab mencakup Al-Qur'an, karena orang-orang bertakwa juga termasuk dalam kategori manusia. Dengan kata lain, Al-Kitab lebih luas dan mencakup berbagai aspek selain yang terdapat dalam Al-Qur'an.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang menulis sebuah buku dan menyatakan bahwa buku tersebut untuk seluruh penduduk Jerman dan diberi nama "Hasan", lalu menulis buku lain yang khusus untuk penduduk Berlin dan menamakannya "Said", maka sudah pasti isi buku "Said" harus termasuk dalam buku "Hasan", karena penduduk Berlin juga bagian dari penduduk Jerman. Demikian p**a, Al-Kitab mencakup Al-Qur'an, tetapi juga mencakup hal-hal lain yang lebih spesifik yang membuat seseorang menjadi bertakwa.
Dalam ayat yang sama, Al-Kitab disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada hal-hal gaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa mendirikan salat dan menafkahkan rezeki merupakan bagian dari Al-Kitab, tetapi bukan bagian dari Al-Qur'an. Al-Qur'an sendiri lebih berkaitan dengan aspek keimanan terhadap hal-hal gaib, seperti kenabian, kehidupan setelah mati, dan hari kiamat.
Dalam pemahaman ini, kenabian (ุงููุจูุฉ) berasal dari kata "naba'" (ูุจุฃ) yang berarti berita gaib. Oleh karena itu, Muhammad disebut sebagai "Nabi" (ูุจู) karena membawa berita gaib, bukan hanya sebagai "Rasul" (ุฑุณูู). Al-Qur'an menjadi petunjuk bagi seluruh manusia karena mengandung berita gaib yang pasti terjadi, seperti kematian. Setiap manusia, baik ia percaya atau tidak, pasti akan mengalami kematian.
Secara umum, Al-Qur'an terdiri dari dua kategori utama, yaitu berita gaib yang berkaitan dengan alam dan sejarah. Berita gaib tentang alam mencakup penciptaan langit dan bumi, kejadian manusia, hari kiamat, surga, neraka, dan hukum alam yang tidak bisa dihindari. Sementara itu, berita gaib tentang sejarah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan terdokumentasi dengan baik.
Keunikan Al-Qur'an sebagai Wahyu Ilahi
Al-Qur'an dapat diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa dilawan. Misalnya, seseorang dapat memilih untuk percaya atau tidak pada kehidupan setelah mati, tetapi ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa ada konsekuensi atas setiap perbuatannya. Oleh karena itu, Al-Qur'an membedakan antara hak dan batil dalam keberadaan alam dan sejarah, sedangkan wahyu kenabian membedakan antara halal dan haram dalam perilaku manusia.
Konsep ini juga dipahami oleh kelompok Mu'tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Hal ini karena sebagian besar isinya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang terekam dalam "Imam Mubin" (ุงู
ุงู
ู
ุจูู) โcatatan dari semua kejadian yang telah terjadi. Sementara itu, bagian lain dari Al-Qur'an yang berisi hukum alam berasal dari "Lauh Mahfuzh" (ููุญ ู
ุญููุธ), yang merupakan ketetapan Allah yang tidak berubah.
Ketika seorang nabi mengalami suatu kejadian, peristiwa tersebut terdokumentasi dalam "Imam Mubin" dan kemudian diwahyukan kembali sebagai bagian dari Al-Qur'an. Contohnya adalah peristiwa di mana Nabi Muhammad pernah bermuka masam kepada seorang buta. Kejadian ini terekam dalam sejarah, kemudian Allah mewahyukan ayat "Abasa wa tawalla" (ุนูุจูุณู ููุชููููููู) sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Perbedaan Antara Al-Qur'an, Hadis, dan Zikir
Hadis (ุญุฏูุซ) adalah kump**an peristiwa sejarah dan kejadian alam yang diceritakan kembali, baik yang berasal dari manusia maupun dari Allah. Sementara itu, "Zikir" (ุงูุฐูุฑ) adalah bentuk suara dari wahyu ilahi, yaitu Al-Qur'an dalam bentuk yang dapat dihafal dan dibaca. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Inna nahnu nazzalna adz-dzikra wa inna lahu la hafizun" (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Zikir dan Kami p**a yang akan menjaganya). Zikir dalam hal ini mengacu pada Al-Qur'an yang dibaca dan dihafal oleh manusia.
Sedangkan "Furqan" (ูุฑูุงู) merujuk pada sepuluh perintah utama yang diwahyukan kepada Nabi Musa, Isa, dan Muhammad, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An'am ayat 152-153. Oleh karena itu, istilah "Ahlul Kitab" (ุฃูู ุงููุชุงุจ) yang sering digunakan untuk merujuk pada kaum Nasrani dan Yahudi sering disalahpahami. Kitab mereka bukanlah Taurat atau Injil semata, tetapi juga mencakup hikmah dan petunjuk lain yang diajarkan oleh para nabi mereka.
Dengan pemahaman ini, kita dapat membedakan antara Al-Kitab (ุงููุชุงุจ) dan Al-Qur'an (ุงููุฑุขู), serta memahami bagaimana wahyu ilahi tersusun dalam berbagai bentuk dan kategori yang memiliki fungsi berbeda dalam kehidupan manusia.