19/05/2026
DARI ORTU YANG MAJU, LAHIRLAH ANAK YANG BERMUTU...
Seperti yang sudah kutulis sebelumnya di sini:
BAPAK TERSAYANG
https://www.facebook.com/share/p/1BH6SeWEwj/?mibextid=wwXIfr
Bahwa aku ini beruntung jadi anak dari Bapak dan Ibuku...
Tapi, kupikir-pikir…
Bapakku juga sangat beruntung dilahirkan oleh Kakek dan Nenekku.
Mbah Putri (begitulah kami memanggilnya) adalah ibu yang progresif dan berpikiran terbuka untuk zaman dulu, jauh sebelum kemerdekaan.
Menurutku, Mbah Putri adalah SOSOK YANG MEMUTUSKAN POLA FEODAL dan POLA PATRIARKI bagi generasi anak cucunya.
*********
Mbah Putri dan Mbah Kakung dari pihak Bapak, adalah orang dusun.
Mbah Kakung adalah petani dan pemilik tanah, bergelar Raden. Wajahnya memiliki rahang yang kuat, tulang p**i tinggi, berhidung mancung dan berkulit terang. Tubuhnya tinggi dan ramping (ciri-ciri fisik yang kemudian diturunkan 100% ke bapakku).
Mbah Kakung ini terpelajar, s**a membaca, giat berserikat (berorganisasi), dan merupakan pejuang kemerdekaan level lokal. Rumahnya sempat dijadikan markas oleh Slamet Riyadi dan pas**an gerilyanya selama berbulan-bulan.
Mbah Putriku adalah seorang gadis yang sudah mandiri, sejak dia belum menikah dengan Kakekku.
Mbah Putri ini buta huruf (seperti umumnya nasib rakyat jelata zaman kolonial) tetapi pikirannya meloncat jauuuh ke masa depan.
Bagaimana tidak? Ketika orang masa itu lazim beranak 12 atau 15 orang, nenekku membuat syarat ke calon suaminya (ke Kakekku), saat dia dilamar:
“Anak kita nanti, tiga orang saja ya. Semuanya harus disekolahkan sampai tinggi, meskipun perempuan. Semua harus dibolehkan bekerja mengejar cita-citanya. Harta warisan harus dibagi rata, nggak ada pembedaan...! Anak lanang dan anak wedok sama saja..!”
Catatan:
Pada saat itu (bahkan sampai saat ini pun, di masyarakat pedesaan), masih berlaku aturan: warisan untuk anak perempuan berjumlah segendongan (alias cuma 1 keranjang) dan warisan untuk anak lelaki berjumlah sepikulan (alias 2 keranjang).
Dengan perkataan lain: lelaki dapat warisan dua kali lipat, lebih banyak.
Kakekku, yang bertemperamen kalem itu, mengiyakan saja. Dia mendukung istrinya untuk tetap berdagang hasil bumi.
Kakek juga tidak mewajibkan istrinya mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mewajibkan istrinya ‘meladeni’nya dengan menyuguhkan kopi atau masakan. Dia tahu calon istrinya nggak pintar memasak, meskipun bisa memasak kalau keadaan memaksa. Lha wong sejak jadi gadis bau kencur, Mbah Putri sudah sibuk berproduksi dan berdagang.
Sebagai cucu, aku terbiasa melihat Kakekku menyapu pelataran dan pekarangan dengan gesit. Juga menjemur padi dan jagung, meskipun ada ‘abdi dalem’ yang bekerja bergantian mengurus dapur dan bebersih rumah. Mereka itu adalah petani dan tetangga yang hidup di sekitar rumah Kakek.
Kakekku itu juragan tanah, tapi sikapnya santai... kalem saja membantu pekerjaan orang lain.
Nenekku lebih banyak sibuk di tokonya. Meskipun buta huruf, dia adalah pedagang yang tangguh.
Menurut cerita, sejak sebelum akil balik, Nenek sudah terbiasa berdagang minyak kelapa di pasar. Minyak kelapa buatannya enak, awet, dan tidak cepat tengik. Makanya jadi laku keras.
Ketika umurnya 12 tahun, Nenek sudah mampu menyewa pedati dan seorang tetangga untuk menjadi Pak Kusir.... mengantarkan Nenekku berdagang minyak kelapa, ke kota Solo setiap hari pasaran.
Dia berdagang sendiri, lho...! Bukan membantu ortunya jualan. Bukan.
Kamu bisa kebayang gak..? Tahun 1910-an, ada anak perawan yang sudah semandiri itu?
*********
Aku pernah bertanya ke Bapakku:
“Kok bisa sih, Mbah Putri semerdeka itu? Siapa orang tuanya? Keren amat tuh ortunya!”
“Buyut Kakungmu itu dulu kepala pasar, semacam managernya pasar. Di jaman Belanda, para ketua pasar adalah anak buahnya Asisten Residen dan mengatur perdagangan hasil bumi.”
“Ooo jadi bukan preman pasar?”
“Sebetulnya ya preman pasar. Tapi lantas dapat kepercayaan dari administrasi kolonial Belanda untuk mengatur perdagangan hasil bumi. Maka cara berpikirnya jadi berbeda dengan orang kampung kebanyakan, dan mendorong anak perempuannya, Mbah Putrimu itu, untuk mandiri.”
“Oooo...”
“Malah Mbah Kakung Buyut lah yang ngajari Mbah Putrimu itu strategi berdagang.”
“Ooya..? Strategi berdagang?”
“Iya. Mbah Buyut nyuruh anak gadisnya untuk mempekerjakan anak buah, dan harus diupah. Buyutmu bilang begini, ‘Nduk, kalau kamu masak sendiri minyakmu, lalu kamu jualan sendiri, nanti kamu kecapekan dan jadi galak ke pembeli yang menawar. Kamu musti punya anak buah. Nanti kalau kamu sudah punya anak buah yang harus diupah, kamu pasti berpikir untuk memajukan dagangan. Nggak akan begini-begini aja.’”
Ternyata Nenekku menjalankan usulan ayahnya.
Dia merekrut dua orang teman sepermainannya di kampung untuk jadi tenaga ‘sales’ (zaman sekarang: SPG). Dan karena untungnya jadi sedikit, sebab harus mengupah dua orang, Nenekku membesarkan skala produksinya: Dia bikin lebih banyak minyak, sampai berkendi-kendi... lalu dijual ke pasar desa, dan juga ke pasar kota setiap hari pasaran.
Bisnisnya berkembang pesat, sehingga dia jadi gadis yang duitnya banyak, juga berpikiran maju dan memiliki kepercayaan diri yang besar.
Cowo-cowo di kampungnya, nggak ada yang pede melamarnya...! 😂
Kurasa memang cuma lelaki kuat yang mampu mendampingi perempuan ‘sesangar’ itu. Jadilah dia perawan tua untuk ukuran ‘djaman doeloe’: sampai lewat pertengahan umur 20-an, dia belum menikah.
Akhirnya dia ‘ditemukan’ oleh Kakekku, yang saat itu sudah menjadi duda mati tanpa anak, lumayan tajir dan ganteng, yang sedang mencari istri yang sepadan secara intelektual. Untuk membangun tanah pertanian yang dimilikinya dari warisan ortunya.
Joss ya??? Tahun segitu…
Kakek tidak mencari istri yang patuh. Tapi istri yang sepadan secara intelektual.
Widiiiih… Ngeriiii 😅
Kakek ogah cari bini plonga-plongo yang cuma bisa dijadikan ‘guling hidup’. Begitu katanya. Dengan pede, Kakek PDKT ke Nenekku yang judes, tegas, mandiri, tak pintar berbasa-basi. Nenekku itu, gaya bicaranya lugas khas ‘pedagang pasar’… Sama sekali nggak halus kayak Priyayi. Dan eeeh, tidak terlalu cantik p**a 😂
Mereka menikah, lalu memiliki 3 anak. Dua perempuan dan satu lelaki.
Semua anak disekolahkan.
Semua anak diberi tanggung-jawab.
Ada yang memimpin pekerja di ladang.
Ada yang jadi asisten di toko.
Bapakku kebagian memelihara beberapa kambing dan mengelolanya bersama teman sekampung.
Anak-anak ini belajar bekerja sama dan membagi tugas. Nggak ada istilah ‘anak juragan’, ‘anak buruh’ atau ‘anak abdi’. Bapakku belajar bersikap egaliter (setara) sejak usia dini.
Ketika musim tanam dan panen, Bapakku dan kakak-adiknya diwajibkan ikut bekerja di kebun dan sawah. Mereka juga diupah oleh ortunya, seperti ortunya mengupah pekerja dan petani lainnya: berupa bagi hasil tanaman dan uang.
Setiap panen, Mbah Putriku akan membuat acara makan malam yang istimewa:
hasil panenan yang diperoleh anak-anaknya akan dimasak... lalu nenekku akan memuji-muji terus, dengan kalimat:
“Waaaah hari ini kita makan dari hasil kerja anak-anak. Kalian ini pinter-pinter, masih kecil sudah bisa ngasih makan orang tuanya..!”
Tentu saja Bapakku dan kakak-adiknya bangga.
Mereka merasa dihargai, dan memahami apa itu rasa berdaya karena mampu berkontribusi.
Mendengar cerita ini, aku kagum.
Dari mana perempuan buta huruf ini memahami pentingnya menumbuhkan ‘self worth’ di dalam diri anak-anaknya..? Dia nggak pernah sekolah lho!
Dan pada zaman Bapakku masih kecil itu (sekitar tahun 1930an...!) juga belum ada ilmu parenting semaju ini.
Nenek yang badass 👍🏼
Dia sudah paham, bahwa harga diri manusia bisa tumbuh sehat ketika merasa dirinya berguna dan dihargai. Sekali lagi: harga diri ya. Bukan gengsi.
Bukan hanya itu, letak kecadasan Nenek.
Dia juga seorang ‘feminis’: Anak lelaki dan anak perempuannya diwajibkannya belajar mengurus diri sendiri. Semua bisa masak (meskipun ala kadarnya) dan mencuci bajunya sendiri-sendiri.
Prinsipnya Nenekku, jelas: semua lelaki dan semua perempuan itu punya perut yang bisa lapar dan tubuh yang perlu diurus. Maka semua orang harus mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri: bisa mencuci baju sendiri, mencari nafkah sendiri, dan bisa masak untuk menyambung hidup...!
Simpel tapi nonjok kan..?
**********
Kelak, ketika Bapakku barusan menikah dengan ibuku dan belum sanggup menggaji ART, Bapak lah yang mencucikan baju kami semua... Bapak juga nggak minta diladeni.
Ibuku sayaaaang banget sama Nenekku, mertuanya ini.
Kenapa coba, tebak...!
Soalnya Nenekku lah yang menyuruh Bapakku untuk meratukan ibuku. Bapak membiarkan ibuku meneruskan kuliahnya dan ‘memerdekakan’ ibuku dari beban kerja domestik..! 😍
Begini kata Nenek ke Ibuku,
“Jadi istri dan ibu itu harus ngerti prioritas. Kamu kerjakan sendiri hal-hal YANG TIDAK BISA DIWAKILI ORANG LAIN...”
“Menemani suamimu berdiskusi dan mendampingi anakmu belajar, itu adalah hal-hal yang nggak bisa diwakili ke siapa pun..! Itu harus kamu sendiri yang melakukannya!”
“Maka kamu harus pintar. Harus punya banyak ilmu. Kamu harus sekolah tinggi. Jangan sampai suamimu malah lebih krasan (betah) ngobrol sama orang lain karena kamu ngah-ngoh (plonga plongo).”
“Anak-anakmu juga perlu contoh ibu yang gesit dan serba bisa.”
“Pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih rumah... itu diserahkan saja ke rewang (ART). Itu urusannya cuma tenaga. Lebih baik membayar orang untuk mengirit tenagamu. Soal gaji rewang, biar suamimu yang mikir.”
“Kalau kamu capek, nanti kamu jadi galak. Jadi ibu itu nggak boleh kecapean, supaya nggak galak. Supaya tetap lembut, tetap bijaksana dan bikin ayem anak-anakmu dan suamimu.”
“Kamu kuasai masakan-masakan istimewa saja. Misal opor, gule, mie godog, bakso kuah, bolu, es.... Jadi suamimu dan anak-anakmu selalu merindui masakan istimewamu kalau liburan. Masakan biasa sehari-hari, yang goreng-goreng atau tumis, biar rewang yang bikin...!”
Nenekku juga bilang ke Bapakku, anak kandungnya itu:
“Istrimu itu suruh kerja. Suruh banyak pergaulan. Kalau istrimu maju, anak-anakmu akan dididik untuk maju juga.”
“Kalau istrimu terbelakang, nggak ngerti dunia kerja, nanti dia gampang jadi curigaan dan cemburuan. Bikin suasana rumah tangga jadi gelap. Nggak enak...!”
Aku mendengar semua cerita ini, dari ibuku. Menurut perkataannya sendiri, dia adalah menantu yang paling beruntung sedunia. Dan setiap kali dia bercerita tentang Nenekku, aku bisa melihat bahwa Ibuku itu menghormati ibu mertuanya seperti menghormati malaikat.
Tapi, siapa sih yang tidak respek pada Ibu Mertua kuat, yang memberikan kemerdekaan bagi menantu perempuannya....?
Perempuan yang mewariskan kepercayaan diri kepada sesama perempuan untuk mengembangkan sayap dan tumbuh optimal...
Perempuan yang mengembangkan konsep tentang harga diri di zaman perempuan masih dianggap ‘sekedar konco wingking’, pemuas napsu dan ‘pabrik’ keturunan.
Aku jadi ingat pepatah itu: cuma orang merdeka yang bisa memerdekakan orang lain. Nenekku memang sudah merdeka sejak zaman gadis. Dia nggak punya kebutuhan untuk menindas siapapun demi merasa hebat dan ‘berkuasa’.
Sungguh, dari garis keturunan Kakek Nenekku yang orang dusun ini, aku melihat benang merah yang sama: semuanya (lelaki dan perempuan), sama-sama maju dan punya kontribusi di masyarakat, sambil mengelola keluarga dan rumah tangga.
Nggak ada yang jadi generasi lembek…
Transgenerational Trauma sebagai rakyat jelata yang tertindas dan cuma bisa nerima nasib… berhenti di Kakek dan Nenekku.
Na Padmo OFC
02.40, Rabu Pahing
8 Shadda 2936
20 Mei 2026
————
Postingan terkait:
1. BAPAKKU DAN ‘BAWAAN HOKI’NYA
https://www.facebook.com/share/p/1BKoZ5XhSu/?mibextid=wwXIfr
2. BAPAK TERSAYANG
https://www.facebook.com/share/p/1fySJ4HMvc/?mibextid=wwXIfr
3. DARI ORTU YANG MAJU, LAHIRLAH ANAK YANG BERMUTU…
https://www.facebook.com/share/p/1Eft6KK6C1/?mibextid=wwXIfr
4. ANAK USIL SEDESA DAN SEMALIOBORO
https://www.facebook.com/share/p/1aRVutykYg/?mibextid=wwXIfr
5. INTERGENERATIONAL TRAUMA
(Trauma Yang Dibawa Dari Generasi Sebelumnya)
https://www.facebook.com/share/p/1E17WmzTUC/?mibextid=wwXIfr