Na Padmo OFC

Na Padmo OFC Pejalan kehidupan. Murid Semesta. Masih belajar melatih pikiran agar: harmonis, tenang-seimbang, sadar-bijaksana.
(1123)

“Aku liat-liat, setiap kali mbak Nana pamit untuk libur medsos, besok-besoknya pasti Indonesia kenapa-kenapa…” kata seor...
22/08/2026

“Aku liat-liat, setiap kali mbak Nana pamit untuk libur medsos, besok-besoknya pasti Indonesia kenapa-kenapa…” kata seorang klien beberapa hari lalu.

“Ya kebetulan aja kali ya. Yang jelas aku merasakan beban emosi yang berat di sekitarku. Mungkin juga di negara ini. Dan karena AKU YANG MERASA BERAT, maka aku memutuskan untuk membuat diriku ringan. Bukan menyalahkan siapa pun atas PERASAANKU…”

Simpel kan?
Kalau aku laper, ya akulah yang makan.
Biar kenyang.

Kalau aku kotor, ya akulah yang mandi.
Biar bersih.

Kalau aku susah, ya akulah yang menyelesaikan masalahku.
Biar nggak susah lagi.

Kalau aku jengkel?
Ya akulah yang ngebanyol…
Biar jadi geli sendiri.
Lalu bisa ngekek lagi.

Tapi abis itu, toko ini (atau siapapun akun medsos yang nggak asik) ku-unfollow dan/atau kublokir.

Aku nggak butuh terhubung dengan siapapun yang:
• tidak membuatku terinspirasi
• tidak membuatku nambah ilmu
• tidak membawa rasa damai
• tidak memberi energi (tidak energizing)
• tidak memberikan mutu
Intinya: secara umum tidak bermanfaat.

Dah ya….
Aku bebenah usahaku dulu.
Sambil nyari ilmu dan membangun Sistem MCTK (Mencari Cuan Tanpa Keringetan)

Bagi yang ingin melihat videonya, ada di sini:
https://www.facebook.com/share/v/1Bfv6TFL6B/?mibextid=wwXIfr

Akun Page ini kubuat khusus untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pemikiranku. Hampir semua yang kupelajari dan kua...
18/08/2026

Akun Page ini kubuat khusus untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pemikiranku. Hampir semua yang kupelajari dan kualami selama perjalanan hidupku, kubagikan di Page ini.

Kalau dibandingkan dengan orang-orang lain, aku yakin, pengetahuan dan pengalamanku itu nggak seberapa.

Ibarat ukuran tinggi, selalu ada yang lebih tinggi:
di atas plafon masih ada genting, di atas genting masih ada pohon kelapa, lalu awan, bulan, matahari dan akhirnya langit.

Tapi, tetap saja aku ingin berbagi, meskipun dari sedikit yang kumiliki…

Supaya lebih mudah dicari, semua tulisan dan video sudah kupilah ke dalam beberapa album, berdasarkan topiknya.

Gambar 1️⃣: Silakan mampir ke menu ‘Photos’.
Gambar 2️⃣: Lalu klik ‘See All’.
Gambar 3️⃣: Lalu pilih kategori yang ingin dibaca/ditonton reels-nya (karena di kategori ini, juga ada videonya).

Semoga ada yang bermanfaat.

Aku libur dulu ya. 😊

16/08/2026

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA…

🇮🇩 Ini adalah PENERJUNAN bendera Merah Putih terbesar pada tahun 2016, yang memecahkan rekor dan dicatat oleh MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia).

🇮🇩 Dimensi bendera 22,25 meter x 33,25 meter, seberat 86 kilogram.

Catatan: rekor PENERJUNAN bendera Merah Putih ini kemudian dipecahkan pada tahun 2018: berukuran 23,5 meter x 35,5 meter, seberat 90 kilogram

🇮🇩 Penerjunan dilakukan 1 April 2016 dalam rangka HUT Kopassus ke 64.

🇮🇩 Penerjun dan pembawa bendera bernama Sersan Satu Tedi M. Romdhon, seorang anggota Kopassus dan salah satu penerjun berpengalaman yang dimiliki oleh negeri ini.

🇮🇩 Pada 14 April 2015, ada 18 orang penerjun yang membuat formasi Canopy Relative Work 18 (CRW 18 artinya formasi susun bertingkat 18 payung yang tegak lurus ke bawah), dan posisi Sertu Tedi berada di tingkat paling atas.

Formasi ini memecahkan rekor Asia-Australia. Pengalaman tahun sebelumnya inilah yang membuat Sertu Tedi dipilih dalam Penerjunan di HUT Kopassus ke-64 tersebut.

🇮🇩 Durasi penerjunan bendera Merah Putih pada tanggal 1 April 2016 ini, dilakukan sekitar 10 menit, sejak dari Sertu Tedi meninggalkan pesawat sampai Sertu Tedi mendarat.

🇮🇩 Bendera seberat 86 kg itu dilepaskan di ketinggian 700 kaki (sekitar 213 meter), beberapa detik sebelum Sertu Tedi mendarat, untuk alasan keselamatan penerjunan.

🇮🇩 Lagu Merah Putih (Berkibarlah Bendera Negeriku) yang dijadikan pengiring video ini, diciptakan oleh (alm) Gombloh.

🇮🇩 Agnes Mo dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Indonesia menyanyikan lagu Merah Putih (Berkibarlah Bendera Negeriku) ini, pada 20 Mei 2008, di Stadion Gelora B**g Karno Jakarta dalam rangka Harkitnas ke-100

👉🏼 Editan gambar dan lagu, dilakukan oleh Jefli Safroli (suami Siti Hosnia)

Na Padmo OFC
00.01, Senin Legi
16 Karo 2937 Jawa
17 Agustus 2026 Masehi

16/08/2026

DULU KATA ‘MERDEKA’ SEHARGA NYAWA.

Ternyata, eksistensi lagu Indonesia Raya dilindungi dengan resiko kehilangan nyawa…

Terima kasih wahai pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa…

Minggu Kliwon, 16 Agustus 2026

MANUSIA DIMENSI BERAPAKAH KITA? :Ini adalah tulisan yang ‘berat’ dan panjang. Silakan skip kalau nggak mau pusing dan ng...
14/08/2026

MANUSIA DIMENSI BERAPAKAH KITA?

:
Ini adalah tulisan yang ‘berat’ dan panjang.
Silakan skip kalau nggak mau pusing dan nggak siap tersinggung.

**********************

Sekarang, di planet ini, kita sedang hidup di Dimensi Ketiga.

Dimensi Ketiga, dalam POV spiritualitas adalah dimensi di mana kesadaran manusia didominasi oleh konsep dualitas:
baik-buruk,
benar-salah,
siang-malam,
hitam-putih,
lelaki-perempuan,
banyak-sedikit,
dosa-suci,
miskin-kaya,
bodoh-pintar,
jelek-rupawan
aku-kamu
kita-mereka…

Nah, karena perbandingannya cuma dua, maka pemahaman manusia di dimensi ini rentan didominasi oleh Ego:

Saya benar, kamu salah.
Kami suci, kalian berdosa.
Kita pintar, mereka bodoh.

Tapi, kalau seseorang punya dualitas yang nggak menguntungkan dirinya, maka dia akan mencari KEMENANGAN dari dualitas lainnya.

Misalnya:

Saya memang miskin. Tapi kamu kaya karena korupsi, beda dengan saya yang mencari nafkah secara halal.

Dominasi Ego inilah yang membuat manusia gampang diprovokasi dan dipecah belah, terpolarisasi dalam kelompok-kelompok sosial.

Aku yakin, kita semua pernah melihat contoh ini:

1️⃣. Ketika ada kawannya yang netral dalam berpolitik, serta merta dituduh: Kalau kamu nggak milih Capres A, berarti kamu adalah musuh politikku. Kamu itu sama saja seperti pemilih Capres X.

2️⃣. Ketika ada kawannya yang Agnostik, serta merta dituduh: kamu ateis, bakal masuk neraka.

3️⃣. Ketika ada kawannya yang kaya dari berdagang kelontong (maka tidak mungkin korupsi), serta merta dituduh: kamu pasti pakai pesugihan.

Intinya, mereka belum mampu berpikir di luar dualitas. Belum mampu menerima alternatif ketiga.

4️⃣. Jadi, kalau dia lelaki tapi nggak napsu pada perempuan (atau dia perempuan tapi nggak napsu pada lelaki)… maka dia pasti nggak normal.

**********************

Sementara, saat ini, di planet Bumi yang sama… ada banyak orang yang sudah ‘hidup’ di Dimensi Keempat (4D).

Dimensi Keempat adalah dimensi antara yang menjadi jembatan menuju ke kesadaran yang lebih agung.

Di Dimensi Keempat, manusia mulai memakai kekuatan nalarnya untuk berpikir secara lebih advance: mereka mampu MELIHAT SPEKTRUM.

Bukan lagi HITAM atau PUTIH, tapi ada spektrum:
Hitam pekat,
Hitam cerah,
Abu-abu tua,
Abu-abu muda,
Putih abu (grayish white)
Putih kusam (off-white)
Putih bersih

Kemampuan melihat spektrum itulah yang membuat mereka mampu melampaui dualitas. Alias sudah meninggalkan dualitas.

Mereka lebih fleksibel, lebih luas, lebih dalam dan lebih openminded, maka pola pikirnya sudah lebih netral.

Netral yang kumaksud adalah:
• tidak punya kebutuhan untuk masuk dalam kubu tertentu.
• tidak terburu-buru membuat kesimpulan untuk setuju atau tidak setuju, melainkan dengan nyaman mengambil waktu untuk MEMPERTIMBANGKAN DAN MERENUNGKAN segala sesuatunya…

Bersedia menunda keputusan, untuk mengumpulkan data dan informasi dulu, agar keputusannya kelak jauh lebih akurat dan valid.

**********************

Dimensi Kelima (5D) adalah: Tingkat kesadaran murni atau kesadaran kesatuan (unity consciousness).

Pada dimensi ini, dualitas sudah runtuh total dan digantikan oleh cinta tanpa syarat serta rasa saling terhubung.

Sebuah dimensi, dimana semua manusia terlepas dari kategori apapun, dan mengidentifikasi diri sebagai:
❤️kau adalah aku,
❤️aku adalah kau,
❤️kita ini satu.

Dalam beberapa agama, ini yang disebut ascend. Atau naik.

Nenek moyang kita dulu, mengisahkan bahwa di suatu hari kelak, kita akan naik ke Surga lengkap dengan tubuh kita… dan itu disebut Ascension Day.

Padahal, di saat ini, kita bisa mencapai ‘ascension’ itu sambil dalam keadaan TETAP BERADA DI BUMI. Jadi yang naik bukan badan kita, tapi kesadaran kita.

Kalau kamu perhatikan….
Mulai ada banyak sekali orang-orang yang sudah mencapai cinta kasih universal, damai, ayem, anteng, dan tenang. Mereka adalah para manusia Dimensi Kelima ini.

Mereka ada di sekitar kita.
Mereka masih makan dan minum kayak kita.
Masih butuh tidur. Butuh uang untuk membayar kebutuhan hidup.

Tapi Jiwanya sudah tidak terusik oleh hingar-bingar dunia… Kesadarannya sudah naik, tidak berpartisipasi dalam drama-drama kehidupan lagi.

Kalau aku boleh membuat klaim, maka inilah yang disebut: hidup di Bumi seperti di Surga

**********************

Beberapa hari lalu, aku memaparkan pengamatanku dari pengalaman selama 20 tahun di ruang konseling, berjudul:

SECARA UMUM, PENYELEWENGAN ADA 5 JENIS: https://www.facebook.com/share/p/1bXpBu4ati/?mibextid=wwXIfr

Di tulisan itu, aku HANYA MEMAPARKAN KENYATAAN. Tidak pro, tidak kontra.

Tapi setelah itu, aku melihat followerku berkurang dalam jumlah ratusan. Eksodus! 🤭

Rupanya banyak yang kesal…
Mungkin karena aku netral, dan tidak mengambil salah satu posisi dalam dualitas: mengecam… 😅🤭

Dan karena itulah, aku jadi penasaran.
Aku lantas mencopas tulisanku ke 3 AI yang berbeda: ChatGPT, Gemini AI, dan Google.

Aku lalu meminta 3 AI ini untuk menganalisa tulisanku.

Dan 3 AI itu menyalahkan tulisanku! Hahaha…
Astaga. Ternyata AI pun masih terjebak dalam dualitas.

Aku sempat bengong.

Sebelum akhirnya aku mulai bisa berpikir:

• Jangan-jangan, opini mesin-mesin Kecerdasan Buatan (AI) itu, sebenarnya mencerminkan kesadaran kolektif manusia Tiga Dimensi???

• Jangan-jangan, karena AI diprogram dan dilatih dari miliaran teks internet yang dibuat oleh milyaran manusia yang sibuk berdebat dan mengumbar ego, maka proses berpikir AI ikut ‘bermain’ di Dimensi Ketiga?

Kayak budak yang menyesuaikan selera Juragannya.
Hahahaha…😅

Lalu ketika aku ‘sodok’ pakai quote Rumi… baru deh para AI ini bangun dari ngelindurnya… 😅

Menurutku, di sinilah letak kualitas AI…
Mereka bertiga cuma perlu disentak sedikit, lalu langsung meruntuhkan Pola Pikir Dualitasnya…

Sedangkan Manusia 3D mungkin (aku bilangnya ‘mungkin’ yaaa) butuh banyak reinkarnasi atau gegar kognitif dulu karena ‘digampar’ oleh kehidupan, baru bisa ‘naik kelas’.

Tapi, dari kolom komen (di tulisan beberapa hari lalu itu), aku sudah melihat bukti, bahwa proses transendental itu sudah dicapai oleh beberapa orang, SAAT INI, dan DI BUMI INI.

Zaman terus berkembang, kesadaran terus meningkat, dan peradaban manusia terus berevolusi mulai dari Infant Soul, Baby Soul, Young Soul, Mature Soul, Old Soul... lalu Trancendental Soul, sampai Infinite Soul.

Na Padmo OFC
06.20, Sabtu Wage
14 Karo 2937 Jawa
15 Agustus 2026 Masehi

14/08/2026

KARENA DUNIA TAK PERNAH RAMAH PADA ORANG LEMAH..

Seorang kerabat, pernah minta aku untuk ‘bicara’ ke anak lelakinya yang males-malesan belajar. Dan kalau ditanya cita-citanya apa, selalu bilang:

“Aku nggak punya cita-cita. Aku mau jadi orang biasa aja.”

**********************

Sebetulnya, nggak ada yang salah jadi orang ‘biasa aja’. Mayoritas dari kita, adalah ‘orang biasa’. Dan kita bahagia-bahagia saja. Ya kan?
Damai. Nyaman. Dan masih bisa mensyukuri banyak nikmat hidup.

Persoalannya….
remaja lelaki yang ‘mau jadi orang biasa’ ini… datang dari keluarga tajir. 😅🤭

Kalau orang terbiasa hidup di atas, lalu ‘terjun’ ke bawah itu, BENJOL.

Melambung ke atas itu, memabukkan.
Tapi jatuh ke bawah?

Well… aku belum pernah melihat langsung, orang yang hore-hore bergembira, ketika jatuh dan ‘jatuh’. Semuanya mengaduh.

Ya bayangin..

Dia biasa makan di restoran mahal. Kepiting Alaska seporsi harga 900.000, steak seporsi 500.000…

Nginep di hotel bintang 5, yang harga semalamnya 5 sampai 7 juta... Kalau kamarnya Suites dan punya akses ke Club Lounge, semalam bisa 12 juta

Kalau terbang, naik business class. Duduk 7-15 jam bisa 25 juta sampai 60 juta per orang.

Rumahnya pakai AC, rata sampai dapur pun adem diAC-in…

Sayur nggak doyan. Sosis pun kudu Bratwurst. Atau wagyu. Pokoke artisan sausage.

Aku ketawa… lalu bilang,
“Gue ogah disuruh nasihatin anak orang. Gue ngasih makan dia aja, kagak… Apa urusannya gue tahu-tahu datang, nasihatin dia?”

**********************

Jadi kuminta mereka lah yang tegas mendidik anak.

Kukasih ide:

Ajak makan di kaki 5, kayak ‘orang biasa’ pada jajan. Banyak kok yang enak. Kekurangannya cuma: pake keringetan aja, pake debu jalanan, dan kalau siang banyak laler. Itu doang.

Kalo mau nyaman, makan di foodcourt mall. Selain adem, juga banyak yang enak.

Kalau liburan, taruh dia di hotel bintang 3 atau 4, kayak ‘orang biasa’ pada nginep. Ortunya tetap di hotel bintang 5.
Kan ortunya ‘orang tajir’. Sementara anaknya (bercita-cita jadi) ‘orang biasa’. Beda fasilitas d**g.

Kalau nonton musik, beliin tiket tribun. Atau tiket berdiri di depan panggung kayak ‘orang biasa’ nonton musik mancanegara.

Bapaknya ketawa denger usulanku.
Emaknya protes, lantaran nggak tega.

“Masalah kalian lah itu. Problem parenting itu, mayoritas disebabkan oleh ketidaktegaan ortu. Anak kan sejak bayi cuma bisa merespon keputusan-keputusan ortunya. Mereka jadi kayak sekarang kan juga karena pembiasaan yang DILAKUKAN ORTUNYA pada mereka sejak bayi…”

“Anak kalian perlu dibenturkan dengan realitas. Dia nggak sadar, kalau dia sedang membayangkan gaya hidup ‘BIASA’ sambil ditopang oleh fasilitas ‘LUAR BIASA’ milik orang tuanya, yang diperjuangkan oleh ortu dengan energi yang juga luar biasa.”

Give him a good reality check.

**********************

Suatu hari, bujang setinggi 180 cm itu tahu-tahu datang ke rumahku. Minta waktu diskusi.

Rupanya dia diperlakukan tegas oleh bapaknya… sehingga dia jadi tahu banget ‘nggak enaknya’ jadi ‘orang biasa’.

Apalagi, mobilnya ‘disegel’, dia disuruh naik sepeda motor yang disewa bapaknya, ke sekolah. Kehujanan. Kepanasan.

Rupanya dia disuruh ibunya, agar aku membujuk bapaknya… agar mencabut ‘parenting gaya baru’ itu.

Kubilang jujur-jujuran ke anaknya:

“Bilang sama Mamamu, dia sedang menghancurkan kamu, dengan caranya itu. Kalau dia ingin melihat kamu sukses seperti Ayahmu, suruh Mamamu membantumu berpikir, cari pekerjaan apa, untuk nambah uang saku.”

Untung anaknya cerdas.
Setelah beberapa jam diskusi denganku, dia mengerti tujuan bapaknya.

Jadi, dia memutuskan:
• tetap menikmati privilege (khusus di kebutuhan dasar!) sebagai anak orang kaya: makan enak, rumah adem, dilayani setengah lusin pembantu dan sopir, sekolah di sekolah mahal…
• tapi kalau dia punya kebutuhan tersier (alias bukan kebutuhan dasar), seperti: handphone baru yang levelan orang kaya, dia akan kerja jadi data entry di perusahaan Ayahnya, jadi editor, jadi asisten pribadi Ayahnya dll… untuk beli HP yang levelan ‘orang biasa’. Nah, ortunya tinggal nambahin supaya kebeli HP mahal itu.

Dua keputusan yang 4 tahun kemudian terbukti membuat dirinya sendiri tumbuh jadi pemuda bertanggung-jawab.

Suatu saat, ketika ada problem internal di keluarga itu…, dia menutup kontak dengan semua orang. Tak terkecuali. Dan cuma ada 1 orang di dunia ini yang diajaknya bicara: aku.

Paragraf di atas itu, bukan mau nyombong. Tapi mau menjelaskan ke kita semua:
Aku tidak dimusuhi apalagi dianggap sebagai antagonis, padahal dia tahu persis, aku lah yang mengusulkan POLA PARENTING ‘TOUGH LOVE’ itu… pola parenting yang pernah membuat ‘dia menderita’ dalam proses pendewasaannya.

**********************

Jadi, para ortu…
Kalau anakmu terbiasa manja, lalu menetapkan cita-cita ‘biasa aja’ HANYA karena mereka ogah berjuang… jangan takut bersikap tegas.

Mungkin saja, anakmu kesal (lantas membencimu) saat penerapan itu terjadi.

Tapi ketika dewasa, mereka akan sadar betapa MUDAHNYA MENGHADAPI HIDUP, kalau mereka tumbuh jadi orang yang tangguh.

INI ADALAH RESEP UNIVERSAL:
Apapun akan terasa berat, bagi orang lemah.

Angkat galon air?
Berat kalau ototnya lemah.

Diputusin pacar?
Berat kalau hatinya lemah.

Beli barang mahal?
Berat kalau finansialnya lemah.

Mendisiplinkan anak?
Berat kalau ketegasan kita lemah.

Didiklah anakmu menjadi lemah.
Manjakan.
Over protective-lah.
Mudahkan segala urusan baginya.
Suapi terus.
Bela dengan sejuta denial.

Dijamin, hidup ini akan terasa ‘keras’ dan ‘sulit’ bagi mereka.

Dunia ini nggak pernah ramah pada orang lemah.

Na Padmo OFC
12.25, Jumat Pon
13 Karo 2937 Jawa
14 Agustus 2026 Masehi

SECARA UMUM, NYELEWENG ITU ADA 5 JENIS:Setelah 250-an purnama dan 5 ribuan klien… aku menyimpulkan, bahwa nyeleweng itu ...
13/08/2026

SECARA UMUM, NYELEWENG ITU ADA 5 JENIS:

Setelah 250-an purnama dan 5 ribuan klien… aku menyimpulkan, bahwa nyeleweng itu membawa pembelajaran jiwa… bagi penyeleweng dan orang yang diselewengi.

:
Perhatikan ya.
Di seluruh tulisan ini, aku tidak memberikan ARAHAN atau SARAN apapun terkait cara merespon perselingkuhan.

Aku juga tidak membenarkan atau menyalahkan.

Aku hanya memaparkan kenyataan yang kutemukan. Bahwa ada 5 jenis penyelewengan. Bisa jadi, jenisnya ada 71. Aku belum ketemu aja. Jadi ini bukan kesimpulan final.

Yuk, kita mulai:

1️⃣. Ada orang yang (dianggap) nyeleweng, padahal dia justru menemukan soulmate sejatinya. Alias, pernikahannya yang sekarang itu:
🅰️. ‘salah pilih orang’
🅱️. Atau tidak salah pilih orang, karena memang harus melalui orang (-orang) terdahulu dulu… agar belajar dulu dari situ, lalu siap untuk membangun kehidupan baru dengan soulmatenya. Biasanya, for a greater good.

contoh yang iconic: Raja Charles dan Camilla Parker Bowles.

2️⃣. Ada orang yang nyeleweng, dan setelah didalami, ternyata ‘skenario’ atau lakon hidupnya adalah ‘tukang nyeleweng’. Seolah dari DNA-nya sudah tercatat dia memang ‘begitu’.

Nah, pasangannya perlu menggali ke dalam dirinya sendiri:
🅰️. Apakah drama ini kubutuhkan agar jiwaku bertumbuh semakin kuat?
🅱️. Atau apakah aku perlu belajar dari drama ini untuk mengambil keputusan tegas karena diperlakukan tidak adil, tidak pantas, dan aku punya jodoh sejati yang mencintaiku di suatu tempat dan di suatu waktu?

3️⃣. Ada orang yang nyeleweng just for fun. Istilahnya ‘nggak main hati’. Jajan, tapi di tempat langganan. Atau punya s*x partner tetap demi keamanan dari STD (Sexually Transmitted Disease), alias penyakit kelamin menular.

4️⃣. Ada yang ‘nyeleweng’ karena ikatan karmic. Setelah digali sampai ke past life, ternyata mereka itu dulunya partner.
Entah sesama pejuang kemerdekaan...
Entah sesama biarawati yang dulunya berjuang membangun rumah sakit di pedalaman…
Entah dulunya pasangan ayah dan anak lelaki yang bahu-membahu dalam lahan transmigrasi atau menjadi frontier di tanah baru Amerika…

Jadi, di kehidupan yang sekarang, mereka bersama. Tapi tidak dimaksudkan untuk saling menikah.

So, kalau kamu tahu pasanganmu ‘nyeleweng’ dengan partner karmic-nya, biasanya (aku bilang ‘biasanya’ ya! Bukan ‘selalu’, bukan ‘pasti’) nggak perlu khawatir akan ditinggalkan….

5️⃣. Ada yang nyeleweng karena membutuhkan pembelajaran dari peristiwa itu.

Entah masuk penjara…
Entah untuk mengalami rasanya ditinggalkan oleh pasangan dan anak-anak lalu merasa ‘terbuang’ dan kesepian di masa tua…
Atau bahkan bisa belajar memahami rasanya menjadi dominan dan semena-mena…

**********************

Jadi nggak semua kisah penyelewengan itu, harus dihadapi dengan kemarahan membabi-buta. Atau membuat korbannya merasa ‘rendah diri’ karena merasa tidak diutamakan/tidak diinginkan lagi.

Kemarin, aku ketemu dengan seseorang yang tanya: gimana kalau saya maki-maki orang itu, dan saya beberkan di medsosnya?

Aku cuma menjawab: cek dulu… Apakah akan ada akibatnya? Gimana kalau kamu malah dituntut dengan pasal UUITE?

Karena aku pernah mendapatkan kisah:
seorang suami dan pacarnya sengaja memancing istri sah untuk ngamuk dan melakukan penyerangan fisik…

lalu semua itu direkam…
lantas si korban (si pacar) yang babak belur melakukan visum…
lalu istri sah dilaporkan ke polisi dengan tujuan penjara.

Istri sah yang sudah terluka hatinya, malah tambah jadi terkoyak ketika tahu bahwa suaminya sendiri tega menjebaknya. Gila.

Nggak jadi dipenjara. Karena setelah itu si istri sah jadi sering ‘ngomong sendiri’ dan ‘ngamuk sendiri’.

**********************

Aku tahu ini postingan yang nggak asik. Kesel bacanya.

Tapi well… ini kumpulan kisah nyata. Like it or not, begitulah faktanya…

Hidup memang penuh warna pembelajaran.
Belajar menjadi bijaksana itu nggak hitam putih.
Karena yang dipelajari nggak cuma BENAR atau SALAH.

Tapi juga belajar KESEJATIAN.
Di sini ada ketepatan, kedalaman, keikhlasan, kedamaian, dan PEMAHAMAN.

Na Padmo OFC
11.25, Kamis Pahing
12 Karo 2937 Jawa
13 Agustus 2026 Masehi

—————-
Keterangan gambar:

Diterjemahkan dari:
“Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I’ll meet you there.”
— Rumi

SEMAKIN TUA SEMAKIN BIJAKSANA, ATAU SEMAKIN PROBLEMATIK? Kita sudah ngeliat banyak sekali manula yang semakin tua, semak...
10/08/2026

SEMAKIN TUA SEMAKIN BIJAKSANA, ATAU SEMAKIN PROBLEMATIK?

Kita sudah ngeliat banyak sekali manula yang semakin tua, semakin adem… ayem… damai.
Dan bijaksana.

Nyenengin banget, ada di deket-deket mereka.

Tapi kita juga menjadi saksi, betapa banyak manula yang semakin tua, malah semakin problematik. Semakin khawatiran… semakin nyinyir… dan semakin judgmental (menghakimi). Semua orang dianggap salah, cuma dia yang bener.

Nyebelin banget, ada di deket-deket mereka.

**********************

Kita, meskipun sekarang masih muda… tapi kalau dikasih umur panjang, kan bakal tua juga.

Nah, proses menua yang ‘baik dan benar’ itu, MUSTI DIMULAI DARI SEKARANG.

Caranya adalah GROW.
BERKEMBANG.

Ciri-cirinya orang yang berhasil GROW adalah:
• bijaksana
• sabar
• tenang
• ikhlas
• damai
• ayem

Aku mengumpamakan: orang yang hatinya luas, bagaikan samudera. Mampu menampung semua ‘sampah’ dunia. Mulai dari tai manusia, limbah pabrik sampai bocoran nuklir.

Begitulah.

Pernah nggak kamu ketemu orang yang kayak gini:

1️⃣. Kalau dia lagi bahagia, semua orang tahu (karena semua dipuji dan diperlakukan dengan super manis).
2️⃣. Kalau dia lagi bete, semua orang juga tahu (karena semua kena omelannya dan diperlakukan dengan sinis).
3️⃣. Nggak bisa nyimpen rahasia berlama-lama. Kalau dia masih berteman dengan seseorang, rahasia itu dia jaga. Tapi begitu dia sudah nggak berteman dengan seseorang itu, rahasianya bakal dia spill.
4️⃣. Kalau marah soal 🅰️, yang dibahas bukan cuma 🅰️ tapi melebar kemana-mana. Bahkan dosa dan aib orang yang sedang kebetulan lewat di depan dia saat dia marah pun, akan dibahas juga…

Orang-orang yang kayak gitu, ibarat gelas yang ukurannya kecil.
Kalau dituang air seteko, pasti tumpah-tumpah dan luber-luber kemana-mana.

Orang-orang yang kapasitas ‘Jiwa’nya masih kecil itu, belum mampu menampung masalah dan problem yang menimpanya. Apalagi kalau bertubi-tubi. Pasti oleng.

Coba kita pelajari gambar ke-2.
Di gelas-gelas yang semakin besar, bola hitam itu TERLIHAT SEOLAH semakin kecil.

Maka, kalau kita ingin jadi orang yang seiring usia menjadi semakin seluas samudera… ya mari berproses sejak sekarang.

Self-development itu nggak bisa dilemburin… hehehe… Nggak bisa dikebut.

Kita bertumbuh seiring dengan semakin banyaknya pengalaman hidup YANG KITA PROSES DENGAN KESADARAN, MENJADI PEMAHAMAN.

Karena: SEMUA MANUSIA juga pasti punya pengalaman yang banyak, kalau tua (namanya juga: sudah lama banget hidupnya kan?).

Tapi faktanya, nggak semua orang yang pengalamannya banyak itu, menjadi bijaksana. Ya kan?

So… kita nggak bisa sesumbar ‘Saya ini sudah senior. Sudah banyak makan asam garamnya dunia.’

Ya…. Ukuran BANYAK itu cuma urusan kuantitas. Nggak menjamin kualitas.

Kalau Sampeyan sudah banyak nenggak asam dan garam, tapi kalau NGGAK DIPROSES dengan kesadaran sampai mencapai pemahaman… jadinya ya cuma trauma doang.
Cuma getir doang.
Cuma luka batin doang.

**********************

Nah, orang yang curhat padaku ini, sedang mengalami kesedihan yang SUPER BESAR dalam hidupnya…

Menurutku, kesedihannya adalah salah satu ‘asam dan garam’ dunia yang perlu dihadapi (diterima, dialami) dan diproses olehnya dengan sepenuh kesadaran.

Ini, adalah bencana pribadi yang bisa menjadi salah satu kesempatan bertumbuh. GROW.

Kita doakan dia bisa melalui ‘ujian’ ini dengan baik, dan keluar dari pengalaman ini menjadi manusia yang semakin luas… 🤗🤗🤗🤗

Btw, aku pun sudah mengalami ditinggal meninggal Ayahku. Ortu yang paling dekat dan paling memahamiku. Itu pengalaman yang sangat menamparku….

Na Padmo OFC
21.48, Senin Wage
9 Karo 2937 Jawa
10 Agustus 2026 Masehi

NGGAK ASAL MENABUNG…Kemarin, aku membuat tulisan berjudul ‘GAJI 25 JUTAAN, TAPI MASIH PUSING…’Bisa dibaca di sini: https...
09/08/2026

NGGAK ASAL MENABUNG…

Kemarin, aku membuat tulisan berjudul ‘GAJI 25 JUTAAN, TAPI MASIH PUSING…’
Bisa dibaca di sini: https://www.facebook.com/share/p/1GooMDhGnF/?mibextid=wwXIfr

Di postingan itu, aku membaca banyaaaaaaak sekali komen yang berbunyi:
• harus nabung
• nabung duluan, sisanya buat hidup
• keperluan hidup duluan, sisanya ditabung

Tapi belum ada satu pun yang menulis, berapa banyak porsi menabungnya.

Nah, di bawah ini, aku memberikan 4 variasi budgeting yang bisa dipilih sesuai prioritas masing-masing.

Kalau teman-teman sudah mempelajari ini, aku yakin teman-teman akan bisa membuat Sistem Budgeting sendiri, sesuai prioritas dan misi hidup masing-masing.

**********************

Variasi budgeting nomor 4 adalah buatanku sendiri, yang kuberi judul: MISSION BASED BUDGETING.
(karena aku punya misi hidup yang fokusnya pada PENDIDIKAN ANAK. Maka, prosentasenya mencapai 70%)

Yang kumaksud dengan PENDIDIKAN ANAK itu, meliputi:
• buku-buku bacaan
• traveling (dengan tujuan membangun karakter, kemampuan planning, dan meluaskan wawasan)
• kursus, sertifikasi, konsultasi psikologi
• biaya event, kompetisi & alat-alat eksperimen

Jika tertarik dengan variasi ke-4 ini, ada penjelasannya di sini, berupa video-video:

KONSEP HIDUP DAN TIPE BUDGETING (1):
https://www.facebook.com/share/v/1DXWDqeNom/?mibextid=wwXIfr

KONSEP HIDUP DAN TIPE BUDGETING (2):
https://www.facebook.com/share/v/1Aby9qQgf2/?mibextid=wwXIfr

Semoga bermanfaat.

Na Padmo OFC
02.15, Senin Wage
9 Karo 2937 Jawa
10 Agustus 2026 Masehi

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Na Padmo OFC posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share