Na Padmo OFC

Na Padmo OFC

Share

Pejalan kehidupan. Murid Semesta. Masih belajar melatih pikiran agar: harmonis, tenang-seimbang, sadar-bijaksana.

Photos from Na Padmo OFC's post 22/05/2026

KHAWATIR 2026…?

Sudah hampir selusin orang, yang nginbox aku nanyain soal pidato Prabowo. Soal politik dan negara. Soal apakah bakal chaos atau nggak.

Lho padahal, akunku ini BUKAN akun yang membahas politik… Akunku ini membahas hal-hal terkait kehidupan, self development, dan aneka topik yang bersifat evergreen.

Apa itu evergreen?
Yaitu hal atau topik yang kalau dibaca 5 bulan lagi atau 5 tahun lagi, masih akan relevan. Kecuali ada revolusi teknologi dan revolusi kesadaran besar-besaran di seluruh dunia, sehingga species manusia tiba-tiba berubah jadi cyborg semua dalam waktu 5-10 tahun… Dan ini nyaris nggak mungkin kan? 😅😅😅😅

**********

Tapi gini lho.
Sudah sejak dari akun lamaku, kerjaanku kowar-kowar terus. Memberi peringatan soal: gimana MENYIAPKAN DIRI KITA, AGAR BISA IKUTAN TERBANG, KETIKA INDONESIA TINGGAL LANDAS.

Perhatikan lagi ya, kalimatku: MENYIAPKAN DIRI KITA.

Artinya apa????????

Artinya ya: FOKUS KE PEMBANGUNAN DIRI KITA.
Diri kita.

Artinya apa???

Kesehatan pikiran/mental kita.
Kesehatan emosional kita.
Kesehatan finansial kita.

Itu.

Ngapain fokus disebar ke hal-hal yang kita BAHKAN NGGAK PUNYA KUASANYA??????
Buat apaaaa…?

Ingat-ingat lagi ya, karena aku nggak mau ngulang-ngulang nulis lagi:

Negeri ini akan maju. Jadi bagus!!!

Tapi ini butuh proses.
Ibaratnya rumah sedang renovasi… ya pasti keadaannya chaos, berantakan, serba runyam.
Kemungkinan masih ada yang dibongkar lagi, padahal tadinya sudah bagus.

Intinya: apapun bisa terjadi selama proses berlangsung. Lha memang rumahnya belum jadi. Sehingga memang belum ada yang fix.

Nah, di dalam proses seperti ini, buat apa bolak-balik bertanya: akan gimana jadinya? Bakal gimana?

Ya jawabanku masih sama: akan bagus, nantinya.

Terus kalian ngotot: “Tapi sekarang berantakan, mbak…”

Eh bikin kesel. Kan aku bilang: NANTINYA!

Aku sudah sering ya, bikin postingan-postingan yang menjelaskan…. Memang sih, KALIAN NGGAK WAJIB BACA POSTINGANKU SEMUA. (Memangnya gue siapa? Kok mewajibkan kalian semua baca dan ngikutin setiap postingan). Tapi kalau kalian nggak nyimak, lalu nanya lagi dan nanya lagi… kan aku males jawabnya.

Aku kan bukan guru kalian.
Kalau aku guru, karuan. Aku digaji, maka musti mau menjelaskan lagi dan lagi…
Tapi ini kan medsos, say… 😅😅😅

********

Udah ah, sekarang kita bahas tahun 2026 ya.
Aku ajarin cara ngitungnya:
2 + 0 + 2 + 6 =10

Hasilnya 10.
Nah, 1 + 0 =1

Hasilnya 1.
Nah, 1 itu adalah angka awal mula.
Angka Magician, kalau di tarot.
Ini adalah tahun yang banyak tricksternya.
Tahun mulai (dan dimana mana, kalau mulai, ya serba nggak jelas)
Bahkan, kalau ngeliat ikat pinggang di bajunya si Magician… itu ikat pinggang berupa ular. Bisa bermakna ‘mengencangkan ikat pinggang’ dengan suasana ‘terlilit sampai sesak’

Mari kita cek:
9 tahun lalu, adalah tahun 2017.
Itu juga angkanya adalah 1
2 + 0 + 1 + 7 =10
1 + 0 =1
Cari informasi di google atau AI manapun.
Apa chaosnya.
Pelajari ‘benang merahnya’

Mari kita cek:
9 tahun sebelum 2017, adalah tahun 2008.
Itu juga angkanya adalah 1
2 + 0 + 0 + 8 =10
1 + 0 =1
Cari informasi di google atau AI manapun.
Apa chaosnya.
Pelajari ‘benang merahnya’

Mari kita cek:
9 tahun sebelum 2008, adalah tahun 1999.
Itu juga angkanya adalah 1
1 + 9 + 9 + 9 =28
2 + 8 =10
1 + 0 =1
Cari informasi di google atau AI manapun.
Apa chaosnya.
Pelajari ‘benang merahnya’

Menurutku, begitulah caranya ‘membaca’ kehidupan.
Perintah ‘iqra’ itu, kuyakin bukan cuma membaca tulisan dan kitab. Tapi juga ‘membaca’ pertanda.

Dan pertanda itu, bisa berupa apa saja.
Entah berupa mimpi.
Entah berupa raut wajah orang dan ekspresinya.
Entah berupa vibrasi energi orang lain.
Entah berupa ‘bisikan’ intuisi.
Entah berupa angka kembar yang terus-menerus muncul di penglihatan kita.

Bacalah.

Na Padmo OFC
22.06, Jumat Wage
10 Shadda 2936 Jawa
15 Mei 2026 Masehi

__________

Oya, nonton channel youtube ini deh.
Link ini kudapat dari Wesiati Setyaningsih.
https://youtu.be/MPfHp4XXZDw

Wesiati membahas ini di postingannya:
https://www.facebook.com/share/p/1CW4u4uofY/?mibextid=wwXIfr

Follow dia deh.
Perenungannya sering out of the box.

22/05/2026

MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (2)

Tulisan sambungan/lanjutan ini, membahas HASIL AKHIR, alias: kayak apa suasana hidup kita, setelah kita bisa terlepas dari Kebiasaan Buruk.

Postingan ini kuberi gambar berupa:
EDIBLE BUT NOT FOOD (Bisa dimakan, tapi bukan makanan).

Tujuannya: bukan untuk ngebahas diet, tapi cuma sebagai contoh untuk memudahkan pembaca, memahami konsep yang kutawarkan: KALIBRASI SELERA DAN LINGKUNGAN KITA

Alias: membentuk STANDAR dan KRITERIA kita terhadap ‘dunia’.

Jadi, bukan kita bukan cuma perlu punya standar dan kriteria ketika cari pacar doang… melainkan punya juga kriteria dan standar UNTUK SEMUA ASPEK KEHIDUPAN….

*********

Bisa kubayangkan, sulit bagi kita untuk bisa menyeleksi mana yang sehat dan mana yang nggak sehat… kalau kita sudah terbiasa hidup dikelilingi makanan ‘palsu’, drama TV yang toksik dan berita medsos yang sampah.

Boro-boro bisa menyeleksi. Sekedar TAHU DAN SADAR bahwa itu adalah MAKANAN sampah, BERITA sampah dan TONTONAN sampah saja, nggak.

Contoh:
Anakku dan aku, tidak terbiasa nonton TV.
Dia lahir 2002. Dan sejak itu p**a, TV di rumah hanya dinyalakan untuk nonton Teletubbies, dan acara edukasi lainnya.

Setelah aku mampu beli smart TV, kami beralih menonton youtube (ini juga kami pilih, jenis tontonannya), mini seri yang bagus, National Geography. Dan sejenis itu.

Maka, ketika kami main ke rumah Oma dan Eyang… lalu dengar suara tokoh drama (di acara TV yang mereka tonton) sedang menangis-nangis histeris atau memaki-maki menantu dengan keji… anakku dan aku cuma saling pandang. Menarik napas panjang… lalu menyingkir. Baca buku di teras.

Atau p**ang cepat.

Aura rumahnya nggak asik. Berat. Dan bikin sesak.

Apakah kami jadi lemah, karena jadi sepeka itu?
Kurasa tidak.
Malah, anakku jadi lebih selektif memilih LINGKUNGAN. Begitu suasananya nggak asik, dia hengkang.

Secara neuroscience dan psikologi perilaku, itu berarti:
* nervous systemnya punya threshold sehat,
* otaknya mampu mendeteksi disregulasi,
* lalu dia melakukan protective withdrawal.

Itu bukan kelemahan.
Itu healthy filtering.
Senormal kita menyeleksi makanan, mana yang masih bagus dan mana yang sudah basi.

Orang yang mampu mengonsumsi makanan basi tanpa mencret, masak dianggap ‘hebat’?
Itu mah bukan tahan banting namanya… 🤣🤣🤣 Tapi ketidakpekaan yang membahayakan diri.

Kemampuan MELAKUKAN FILTER SECARA SEHAT ini, adalah hasil kalibrasi lingkungan sejak kecil:

Orang yang terbiasa hidup dalam kualitas sehat akan cepat mendeteksi ‘racun’: drama, intrik, kekacauan emosi, pikiran negatif kronis, manip**asi, noise sosial.

Sebaliknya, orang yang sejak kecil hidup di lingkungan toksik sering kehilangan sensitivitas. Akhirnya menganggap kekacauan itu normal. Tapi lantas heran mengapa hidupnya nggak bahagia.

Bahkan merasa sepi kalau nggak ada drama (LALU MULAI MENCARI-CARI MASALAH BARU, ketika hidupnya sudah mulai tenang dan stabil).
👉🏼 ini akan kubahas di bagian akhir tulisan ini, tentang Single Mother yang ‘terindikasi’ akan nambah masalah
👉🏼 dan screenshotannya ada di kolom komen bagian atas karena ku-pinned.

**********

Kulanjutkan menulis ya…

Nah, dan di masa dewasanya (anakku), KALIBRASI ENERGI itu ada manfaatnya!!! Ketika akhirnya dia bekerja… proses inilah yang terjadi: Karena dia TERBIASA DENGAN LINGKUNGAN YANG SEHAT, maka dia langsung bisa ‘mengendus’ saat wawancara, mana perusahaan yang sehat dan yang toksik.

Dan….??? Di perusahaan sekaranglah, dia berada.
Perusahaan dunia. Relatif bersih dari office politic, meskipun sarat dengan BEBAN TARGET dan TUNTUTAN KUALITAS KERJA.

Enak kan???
Masalah dan problemnya bukan yang ‘sampah-sampah’

*********

Nah… di poin inilah aku ingin berbagi…..

Karena sungguh, kami ‘sampai di sini’ bukan karena disengaja. Ini murni kebetulan yang terjadi, karena DULUUUU, aku mengambil keputusan yang (saat ini baru disadari kalau) tepat: memilih mutu.

Dimulai dari memilih makanan dan tontonan buat anakku dan aku.

Aku memperkenalkan makanan sehat untuk anakku. Ketika batita, cemilannya: brokoli kukus, wortel mentah, timun segar, tomat cherry segar.

Pertama kali mengenal permen, pas masuk sekolah. Karena di kantin ada yang jual. Dia doyan? Nggak. Karena nggak terbiasa.

Dia juga nggak doyan coca cola, chiki2an, kripik-kripikan…

Di urusan tontonan juga begitu. Kami nggak mengonsumsi kisah drama. Maka, wajar kalau kami akhirnya ‘nggak cocok’ masuk dalam komunitas gosip dan intrik.

Kuperhatikan, circle anakku pun adalah remaja-remaja yang riang, berprestasi, punya ambisi yang sehat, semuanya ‘punya otak dan menggunakannya secara optimal’, dan…. Punya hobi yang konstruktif: basket, golf, menembak, diving, piano, klub debat, melukis.

Lucunya, mereka (ini dari yang kudengar hasil ‘nguping’ ya) nggak membahas lawan jenis dan naksir-naksiran norak. Kalau ada yang naksir seseorang dan curhat, kawan-kawannya akan membahas poin-poin yang menurutku ‘cerdas’:
• orang itu bertanggung jawab atau nggak
• orang itu berpola pikir kayak apa
• orang itu sportif atau tidak
• bahkan juga dibahas: orang itu punya perencanaan hidup atau nggak

Aku belum pernah mendengar mereka ngebahas cantik atau gantengnya si ‘subyek’. Apalagi membahas siapa ortunya dan apa pekerjaan ortunya.

************

Saat ini, waktu menulis postingan ini, aku baru tersadar: betapa krusial dan kritisnya terbiasa memilih kualitas itu….

Ternyata imbasnya bisa kemana-mana…

Ada seorang perempuan, single mother yang BARUSAN SAJA curhat padaku di inbox messenger, kalau dia sedang galau memikirkan ini:

Dia berjuang hidup sendirian.
Membesarkan anak.
Tapi juga menampung adik kandungnya yang skizoprenia.
Tapi saat ini bingung karena ibu kandungnya ditolak oleh semua anak-anaknya karena selalu memaki, berpikiran negatif, bertengkar dengan tetangga dan bermasalah dengan menantu dan besan.

Eh dia masih bisa bertanya, “Apa sebaiknya saya menampung ibu saya ya mbak? Kakak dan adik saya sudah nggak tahan mengurus dia.”

Wah… ini sih ibu yang malah menyediakan lingkungan yang, ibaratnya ‘penuh limbah nuklir bagi anak, tapi berharap anaknya akan tumbuh sehat dan kuat tanpa sakit kanker’…

Aku malas meladeni curhatan model begini. Aku bikinkan postingan (ini) aja buat menjelaskan: bahwa dia sudah memiliki chaos addiction. Kecanduan suasana runyam.

*******

Btw, tulisan ini sedang membahas ‘diet mental’ dan pembentukan standar hidup yang pada akhirnya akan mengantarkan kita ke masa depan yang serba positif, sehat, dan bahagia.

Ini karena ‘bawah sadar’ kita sudah kita biasakan selama puluhan tahun untuk berada di suasana yang TERPILIH…

Na Padmo OFC
13.00, Jumat Wage
10 Shadda 2936 Jawa
15 Mei 2026 Masehi

—————-

Postingan terkait:

1. MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (1)
https://www.facebook.com/share/p/16ymKX8kkP/?mibextid=wwXIfr

2. MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (2)
https://www.facebook.com/share/p/1JqBoNYvog/?mibextid=wwXIfr

22/05/2026

MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (1)

Seorang karyawan mengeluh, “Gimana sih bu caranya positive thinking? Susah dah…”

“Buat kamu, susah nggak melakukan negative thinking?”

“Nggak.”

“Lho. Thinking itu, kegiatannya sama lho: mengaktifkan otak dengan pikiran. Artinya, kamu bisa mikir.”

“Ya bisalah bu, kalo mikir doang mah.”

“Iya. Bisa mikir. Tapi arahnya ke negatif terus, gitu ya?”

“Iya. Kuatir sama curiga terus.”

‘Oke. Sekarang, jawab pertanyaanku: mana yang lebih gampang? Berbuat sesuatu? Atau diem aja, nggak ngapa-ngapain?”

“Lebih gampang diem aja.”

“Oke. Mulai sekarang, diem aja. Stop mikir yang negatif. Jangan lakukan. Pertahankan itu.”

********

Kalau kita masih kesulitan membantu orang…
Minimal, STOP ngerepotin orang.

Kalau kita masih belum mampu ngomong sopan…
Minimal, STOP memaki, menyumpahi, dan berkata kasar.

Kalau kita masih nggak tahu caranya verifikasi data dan fakta…
Minimal, STOP menyebarkan berita apapun.

Kalau kita masih kesulitan berbuat baik…
Minimal, STOP berbuat jahat.

Kalau kita masih kesulitan menjauhi orang yang toksik…
Minimal, STOP ngintip story-nya, menerima telponnya, menjawab pesannya.

Kalau kita belum bisa bikin konten yang bermanfaat…
Minimal, STOP nyebarin konten kebencian dan kemarahan.

*******

Hampir 100% orang yang curhat, bertanya:
‘Apa yang harus kulakukan?’

Padahal dalam psikologi perilaku, kemajuan sering dimulai dari pertanyaan:
‘Perilaku destruktif apa yang harus diberhentikan dulu?’

Melakukan hal yang terbalik/berlawanan dari kebiasaan, itu susah. Selain perlu energi yang besar, juga perlu ilmu dan strategi.

Lebih gampang: berhentiin kebiasaan jelek aja dulu.
Ini lebih realistis sebagai langkah awal ‘self healing’.

Berhenti.
Stop.
Menjauh.
Nggak liat.
Nggak ngomong.
Nggak mikir.
Nggak ngonten sampah.

Sampai kamu TERBIASA BERSIH dari suasana energinya. BERSIH dari sensasi emosi negatifnya.

BERSIH dulu.
Setelah bersih. Baru menuju ke ARAH yang baru.

Kalau otak dan sistem saraf kita sudah terbiasa ada di atmosfer emosional yang lebih adem, damai, dan santuy… Kita akan lebih gampang mengubah arah.

Ini namanya: nervous system recalibration.
Kalibrasi dulu. Jadi kita nggak langsung ‘melawan arus’. Padahal ‘arus’ itu, sudah puluhan tahun jadi kebiasaan kita. Makanya jadi susah dilawan…

BANYAK ORANG GAGAL BERUBAH, bukan karena kurang niat.

Tapi karena: sistem sarafnya masih terus bekerja dengan ‘pola lama’. Nah, ‘pola lama’ ini yang terus-terusan ngasih stimulus dan trigger.

Maka, sistem saraf perlu ditenangkan dulu. Emotional arousal harus turun dulu.

Contoh:
Bakal sulit, kalau pecinta kuliner yang selama ini ‘pemakan segala’ kecuali beling, paku dan silet, kalau tiba-tiba disuruh diet dan hanya makan makanan sehat.

Pertama-tama, dia musti berhenti makan makanan buatan pabrik. Itu dulu. Tapi masih makan siomay, burger…

Setelah terbiasa, baru deh, mulai membiasakan makan makanan ENAK. Dan STOP TOTAL processed food. Contoh processed food: sosis, nugget pabrikan, bakso pabrikan, pasta, pastry, spam dll.

Jadi ya makan sop kimlo, sate kambing, tongseng, soto kuning dll. Banyak kok makanan enak yang NON pabrikan.

Setelah terbiasa, baru deh, mulai mencari makanan bernutrisi DAN LEBIH 'CLEAN': sayuran segar, daging dan ikan segar TANPA bumbu saus dan aneka kecap pabrikan, dst. Tapi hanya pakai bumbu segar berupa akar-akaran dan daun-daunan (bukan bumbu racikan pabrik).

Nggak pake lama, kesadarannya akan bergeser:
Aku makan bukan untuk ngisi perut, apalagi sekedar mengganjal perut agar tidak 'bikin resah'.
Aku makan untuk menutrisi tubuh.

Setelah itu, kesadaran akan bertambah kuat lagi setelah berpikir begini:
This is edible, but not food.
Ini memang edible (bisa dimakan); tapi ini bukan makanan.

Karena memang ada jajanan yang nutrisinya kosong tapi kalorinya banyak. Seperti kerupuk, snack Chiki, permen jeli, pastry, donat.

Dengan kesadaran THIS IS EDIBLE BUT NOT FOOD, orang akan lebih mudah melakukan eliminasi 'makanan sampah'.

Well, ini hanya contoh biar gampang dibayangkan. Postingan ini bukan sedang membahas diet, tapi membahas 'pikiran sampah' yang nggak bermanfaat.

Menjadikan makanan sebagai contoh, itu lebih mudah karena makanan ada WUJUDNYA. Kalian bisa membayangkan.

Nah, sekarang pakailah analogi itu untuk proses memilih dan memilah pikiran.

********

Nah, kalau ada yang sudah nyoba ‘Stop mikir negatif’ tapi nggak bisa-bisa… Kemungkinan dia punya:
* trauma
* anxiety disorder
* OCD
* hypervigilance
* depresi
Ini semua akan bikin pikiran negatif muncul terus secara otomatis dan ‘menggedor-gedor’ (intrusif).

Kalo sudah gini, cari psikolog deh.
Terapi.
Sudah nggak bisa self-help.

Na Padmo OFC
10.34, Jumat Wage
10 Shadda 2936 Jawa
15 Mei 2026 Masehi

—————

Postingan terkait:

1. MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (1)
https://www.facebook.com/share/p/16ymKX8kkP/?mibextid=wwXIfr

2. MENERAPKAN STRATEGI NEUROSCIENCE DALAM MENGUBAH KEBIASAAN BURUK (2)
https://www.facebook.com/share/p/1JqBoNYvog/?mibextid=wwXIfr

19/05/2026

ANAK USIL SEDESA DAN SEMALIOBORO… 🤣

Nah, kan…? Kalau sudah cerita tentang Bapak, aku susah berhenti. Hahaha… Karena banyak sekali kenangannya.

Salah satunya adalah kelucuan Bapakku.

Ada kisah, mereka mengadakan pertandingan sepak bola antar desa. Di babak final, kesebelasan desa Bapakku melawan kesebelasan desa lain.

Menurut Bapak, kesebelasan dari desa tetangga itu sangat tangguh. “Jadi, kita musti bertanding pakai ‘psy war’ nih.”

Psy war kayak apa?

Di dusun Bapak, ada orang ‘gila’ kumat-kumatan, namanya Mbah Donding. Orangnya sudah tua, rambutnya panjang dan gondrong kusut, matanya nanar.

Oleh Bapakku, Mbah Donding dibriefing. Dijanjikan akan dikasih uang, kalau mau berpura-pura.

Lucu ya, meskipun ‘gila’ tapi paham lho kalo diajak membahas uang! Hahahaha…

Singkatnya, Mbah Donding setuju. Dia lalu dikasih baju baru, berwarna hitam-hitam. Nurut juga waktu dipakaikan ikat kepala. Lalu disuruh duduk di pinggir lapangan bola selama pertandingan berlangsung.

Ya namanya orang rada ‘setrip’, Mbah Donding komat-kamit, ngedumel nggak jelas selama menonton.

Entah waktu itu Mbah Donding sedang kumat? Atau justru pas lagi waras dan sedang serius memerankan ‘tugas’? Hanya Tuhan yang tahu. 🤣🤣🤣

Nah, rupanya kesebelasan lawan merasa keder. Karena mengira Mbah Donding adalah dukun yang akan ‘menyantet’ jalannya pertandingan.

Entah apa yang terjadi di benak kesebelasan lawan, yang jelas: desa Bapakku menang! Hahaha…

Tentu saja, kepala desa pihak lawan, lantas protes keras. Merasa nggak terima karena dicurangi pakai dukun.

Kepala desa Bapakku, yang tahu duduk perkaranya, malah ketawa.

“Dukun apa? Wong dia itu ‘pikirannya rada terganggu’ kok. Mari sini, saya kenalkan…”

Dan setelah ketemu dengan Mbah Donding secara langsung, percayalah mereka kalau Mbah Donding itu bukan dukun. Hahaha…

Waktu bercerita tentang ini ke kami, anak-anaknya, Bapakku ngakak-ngakak sampai keluar air mata…

Aku juga ngakak.
Kayaknya dalam sejarah negeri ini, cuma ada satu kesebelasan tangguh, yang kalah tanding karena ‘psy war’ Dukun Palsu 😅😅😅😅😅

*********

Nah, Bocah usil itu… nggak kehilangan ‘skill trickster’nya saat sudah dewasa.

Ceritanya, Bapak sudah kuliah di Yogya.

Aku lupa, gimana persisnya…. Tapi suatu hari Bapak dan kawan-kawannya bikin taruhan: siapa yang paling populer (dalam artian paling banyak kenalannya di sepanjang Malioboro), akan ditraktir makan kenyang. Kawan-kawan yang kalah akan patungan buat si pemenang.

Lalu, berjalanlah mereka di sepanjang Malioboro. Kayak mejeng gitu. Berharap ketemu kawan-kawan yang kenal.

Apa yang dilakukan Bapakku?

Bapak cuma tersenyum lebar sambil menaik-naikkan alis ke orang secara random… dan mereka lah yang menyapa duluan:

“Hai mas!”
“Eeeh… si Mas e…”
“Oyy dab!”

Dan Bapak tinggal menyambut dengan respon ramah yang makin bikin ‘gayeng’ (akrab), seperti:

“He lha kok makin keliatan seger?”
“Wah, sudah lama nggak liat ya mas?”

Hahahaha… bisa ditebak kan???
Bapakku lah yang akhinya menang dalam kontes ‘Adu Kondang’ itu… 😅😅😅

Apa rahasia Bapak?

“Orang Jawa itu, ramah… dan nggak sampai hati untuk nyuekin orang yang tersenyum duluan...”

Sekali lagi, Bapak menceritakan kisah itu, sambil ketawa sampai keluar air mata… 😅😅😅

**********

Apa benang merahnya?
Dari 2 peristiwa itu, terlihat bahwa Bapak memahami ‘psikologi’ manusia. Daya observasinya kuat, dan kreatifitasnya tinggi. Lalu dia ‘memanfaatkan’ sikon itu…

Tentu, bawaan usilnya juga banyak 😃

Udah ah. Sehari nulis 4 postingan. Rekor banget ini! Hahahaha

Na Padmo OFC
05.45 Rabu Pahing
8 Shadda 2936
20 Mei 2026

____________

Postingan terkait:

1. BAPAKKU DAN ‘BAWAAN HOKI’NYA
https://www.facebook.com/share/p/1BKoZ5XhSu/?mibextid=wwXIfr

2. BAPAK TERSAYANG
https://www.facebook.com/share/p/1fySJ4HMvc/?mibextid=wwXIfr

3. DARI ORTU YANG MAJU, LAHIRLAH ANAK YANG BERMUTU…
https://www.facebook.com/share/p/1Eft6KK6C1/?mibextid=wwXIfr

4. ANAK USIL SEDESA DAN SEMALIOBORO
https://www.facebook.com/share/p/1aRVutykYg/?mibextid=wwXIfr

5. INTERGENERATIONAL TRAUMA
(Trauma Yang Dibawa Dari Generasi Sebelumnya)
https://www.facebook.com/share/p/1E17WmzTUC/?mibextid=wwXIfr

19/05/2026

DARI ORTU YANG MAJU, LAHIRLAH ANAK YANG BERMUTU...

Seperti yang sudah kutulis sebelumnya di sini:

BAPAK TERSAYANG
https://www.facebook.com/share/p/1BH6SeWEwj/?mibextid=wwXIfr
Bahwa aku ini beruntung jadi anak dari Bapak dan Ibuku...

Tapi, kupikir-pikir…
Bapakku juga sangat beruntung dilahirkan oleh Kakek dan Nenekku.

Mbah Putri (begitulah kami memanggilnya) adalah ibu yang progresif dan berpikiran terbuka untuk zaman dulu, jauh sebelum kemerdekaan.

Menurutku, Mbah Putri adalah SOSOK YANG MEMUTUSKAN POLA FEODAL dan POLA PATRIARKI bagi generasi anak cucunya.

*********

Mbah Putri dan Mbah Kakung dari pihak Bapak, adalah orang dusun.

Mbah Kakung adalah petani dan pemilik tanah, bergelar Raden. Wajahnya memiliki rahang yang kuat, tulang p**i tinggi, berhidung mancung dan berkulit terang. Tubuhnya tinggi dan ramping (ciri-ciri fisik yang kemudian diturunkan 100% ke bapakku).

Mbah Kakung ini terpelajar, s**a membaca, giat berserikat (berorganisasi), dan merupakan pejuang kemerdekaan level lokal. Rumahnya sempat dijadikan markas oleh Slamet Riyadi dan pas**an gerilyanya selama berbulan-bulan.

Mbah Putriku adalah seorang gadis yang sudah mandiri, sejak dia belum menikah dengan Kakekku.

Mbah Putri ini buta huruf (seperti umumnya nasib rakyat jelata zaman kolonial) tetapi pikirannya meloncat jauuuh ke masa depan.

Bagaimana tidak? Ketika orang masa itu lazim beranak 12 atau 15 orang, nenekku membuat syarat ke calon suaminya (ke Kakekku), saat dia dilamar:

“Anak kita nanti, tiga orang saja ya. Semuanya harus disekolahkan sampai tinggi, meskipun perempuan. Semua harus dibolehkan bekerja mengejar cita-citanya. Harta warisan harus dibagi rata, nggak ada pembedaan...! Anak lanang dan anak wedok sama saja..!”

Catatan:
Pada saat itu (bahkan sampai saat ini pun, di masyarakat pedesaan), masih berlaku aturan: warisan untuk anak perempuan berjumlah segendongan (alias cuma 1 keranjang) dan warisan untuk anak lelaki berjumlah sepikulan (alias 2 keranjang).

Dengan perkataan lain: lelaki dapat warisan dua kali lipat, lebih banyak.

Kakekku, yang bertemperamen kalem itu, mengiyakan saja. Dia mendukung istrinya untuk tetap berdagang hasil bumi.

Kakek juga tidak mewajibkan istrinya mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mewajibkan istrinya ‘meladeni’nya dengan menyuguhkan kopi atau masakan. Dia tahu calon istrinya nggak pintar memasak, meskipun bisa memasak kalau keadaan memaksa. Lha wong sejak jadi gadis bau kencur, Mbah Putri sudah sibuk berproduksi dan berdagang.

Sebagai cucu, aku terbiasa melihat Kakekku menyapu pelataran dan pekarangan dengan gesit. Juga menjemur padi dan jagung, meskipun ada ‘abdi dalem’ yang bekerja bergantian mengurus dapur dan bebersih rumah. Mereka itu adalah petani dan tetangga yang hidup di sekitar rumah Kakek.

Kakekku itu juragan tanah, tapi sikapnya santai... kalem saja membantu pekerjaan orang lain.

Nenekku lebih banyak sibuk di tokonya. Meskipun buta huruf, dia adalah pedagang yang tangguh.

Menurut cerita, sejak sebelum akil balik, Nenek sudah terbiasa berdagang minyak kelapa di pasar. Minyak kelapa buatannya enak, awet, dan tidak cepat tengik. Makanya jadi laku keras.

Ketika umurnya 12 tahun, Nenek sudah mampu menyewa pedati dan seorang tetangga untuk menjadi Pak Kusir.... mengantarkan Nenekku berdagang minyak kelapa, ke kota Solo setiap hari pasaran.

Dia berdagang sendiri, lho...! Bukan membantu ortunya jualan. Bukan.

Kamu bisa kebayang gak..? Tahun 1910-an, ada anak perawan yang sudah semandiri itu?

*********

Aku pernah bertanya ke Bapakku:

“Kok bisa sih, Mbah Putri semerdeka itu? Siapa orang tuanya? Keren amat tuh ortunya!”

“Buyut Kakungmu itu dulu kepala pasar, semacam managernya pasar. Di jaman Belanda, para ketua pasar adalah anak buahnya Asisten Residen dan mengatur perdagangan hasil bumi.”

“Ooo jadi bukan preman pasar?”

“Sebetulnya ya preman pasar. Tapi lantas dapat kepercayaan dari administrasi kolonial Belanda untuk mengatur perdagangan hasil bumi. Maka cara berpikirnya jadi berbeda dengan orang kampung kebanyakan, dan mendorong anak perempuannya, Mbah Putrimu itu, untuk mandiri.”

“Oooo...”

“Malah Mbah Kakung Buyut lah yang ngajari Mbah Putrimu itu strategi berdagang.”

“Ooya..? Strategi berdagang?”

“Iya. Mbah Buyut nyuruh anak gadisnya untuk mempekerjakan anak buah, dan harus diupah. Buyutmu bilang begini, ‘Nduk, kalau kamu masak sendiri minyakmu, lalu kamu jualan sendiri, nanti kamu kecapekan dan jadi galak ke pembeli yang menawar. Kamu musti punya anak buah. Nanti kalau kamu sudah punya anak buah yang harus diupah, kamu pasti berpikir untuk memajukan dagangan. Nggak akan begini-begini aja.’”

Ternyata Nenekku menjalankan usulan ayahnya.

Dia merekrut dua orang teman sepermainannya di kampung untuk jadi tenaga ‘sales’ (zaman sekarang: SPG). Dan karena untungnya jadi sedikit, sebab harus mengupah dua orang, Nenekku membesarkan skala produksinya: Dia bikin lebih banyak minyak, sampai berkendi-kendi... lalu dijual ke pasar desa, dan juga ke pasar kota setiap hari pasaran.

Bisnisnya berkembang pesat, sehingga dia jadi gadis yang duitnya banyak, juga berpikiran maju dan memiliki kepercayaan diri yang besar.

Cowo-cowo di kampungnya, nggak ada yang pede melamarnya...! 😂

Kurasa memang cuma lelaki kuat yang mampu mendampingi perempuan ‘sesangar’ itu. Jadilah dia perawan tua untuk ukuran ‘djaman doeloe’: sampai lewat pertengahan umur 20-an, dia belum menikah.

Akhirnya dia ‘ditemukan’ oleh Kakekku, yang saat itu sudah menjadi duda mati tanpa anak, lumayan tajir dan ganteng, yang sedang mencari istri yang sepadan secara intelektual. Untuk membangun tanah pertanian yang dimilikinya dari warisan ortunya.

Joss ya??? Tahun segitu…
Kakek tidak mencari istri yang patuh. Tapi istri yang sepadan secara intelektual.

Widiiiih… Ngeriiii 😅

Kakek ogah cari bini plonga-plongo yang cuma bisa dijadikan ‘guling hidup’. Begitu katanya. Dengan pede, Kakek PDKT ke Nenekku yang judes, tegas, mandiri, tak pintar berbasa-basi. Nenekku itu, gaya bicaranya lugas khas ‘pedagang pasar’… Sama sekali nggak halus kayak Priyayi. Dan eeeh, tidak terlalu cantik p**a 😂

Mereka menikah, lalu memiliki 3 anak. Dua perempuan dan satu lelaki.

Semua anak disekolahkan.
Semua anak diberi tanggung-jawab.
Ada yang memimpin pekerja di ladang.
Ada yang jadi asisten di toko.
Bapakku kebagian memelihara beberapa kambing dan mengelolanya bersama teman sekampung.
Anak-anak ini belajar bekerja sama dan membagi tugas. Nggak ada istilah ‘anak juragan’, ‘anak buruh’ atau ‘anak abdi’. Bapakku belajar bersikap egaliter (setara) sejak usia dini.

Ketika musim tanam dan panen, Bapakku dan kakak-adiknya diwajibkan ikut bekerja di kebun dan sawah. Mereka juga diupah oleh ortunya, seperti ortunya mengupah pekerja dan petani lainnya: berupa bagi hasil tanaman dan uang.

Setiap panen, Mbah Putriku akan membuat acara makan malam yang istimewa:
hasil panenan yang diperoleh anak-anaknya akan dimasak... lalu nenekku akan memuji-muji terus, dengan kalimat:

“Waaaah hari ini kita makan dari hasil kerja anak-anak. Kalian ini pinter-pinter, masih kecil sudah bisa ngasih makan orang tuanya..!”

Tentu saja Bapakku dan kakak-adiknya bangga.
Mereka merasa dihargai, dan memahami apa itu rasa berdaya karena mampu berkontribusi.

Mendengar cerita ini, aku kagum.

Dari mana perempuan buta huruf ini memahami pentingnya menumbuhkan ‘self worth’ di dalam diri anak-anaknya..? Dia nggak pernah sekolah lho!
Dan pada zaman Bapakku masih kecil itu (sekitar tahun 1930an...!) juga belum ada ilmu parenting semaju ini.

Nenek yang badass 👍🏼
Dia sudah paham, bahwa harga diri manusia bisa tumbuh sehat ketika merasa dirinya berguna dan dihargai. Sekali lagi: harga diri ya. Bukan gengsi.

Bukan hanya itu, letak kecadasan Nenek.
Dia juga seorang ‘feminis’: Anak lelaki dan anak perempuannya diwajibkannya belajar mengurus diri sendiri. Semua bisa masak (meskipun ala kadarnya) dan mencuci bajunya sendiri-sendiri.

Prinsipnya Nenekku, jelas: semua lelaki dan semua perempuan itu punya perut yang bisa lapar dan tubuh yang perlu diurus. Maka semua orang harus mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri: bisa mencuci baju sendiri, mencari nafkah sendiri, dan bisa masak untuk menyambung hidup...!

Simpel tapi nonjok kan..?

**********

Kelak, ketika Bapakku barusan menikah dengan ibuku dan belum sanggup menggaji ART, Bapak lah yang mencucikan baju kami semua... Bapak juga nggak minta diladeni.

Ibuku sayaaaang banget sama Nenekku, mertuanya ini.

Kenapa coba, tebak...!

Soalnya Nenekku lah yang menyuruh Bapakku untuk meratukan ibuku. Bapak membiarkan ibuku meneruskan kuliahnya dan ‘memerdekakan’ ibuku dari beban kerja domestik..! 😍

Begini kata Nenek ke Ibuku,

“Jadi istri dan ibu itu harus ngerti prioritas. Kamu kerjakan sendiri hal-hal YANG TIDAK BISA DIWAKILI ORANG LAIN...”

“Menemani suamimu berdiskusi dan mendampingi anakmu belajar, itu adalah hal-hal yang nggak bisa diwakili ke siapa pun..! Itu harus kamu sendiri yang melakukannya!”

“Maka kamu harus pintar. Harus punya banyak ilmu. Kamu harus sekolah tinggi. Jangan sampai suamimu malah lebih krasan (betah) ngobrol sama orang lain karena kamu ngah-ngoh (plonga plongo).”

“Anak-anakmu juga perlu contoh ibu yang gesit dan serba bisa.”

“Pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih rumah... itu diserahkan saja ke rewang (ART). Itu urusannya cuma tenaga. Lebih baik membayar orang untuk mengirit tenagamu. Soal gaji rewang, biar suamimu yang mikir.”

“Kalau kamu capek, nanti kamu jadi galak. Jadi ibu itu nggak boleh kecapean, supaya nggak galak. Supaya tetap lembut, tetap bijaksana dan bikin ayem anak-anakmu dan suamimu.”

“Kamu kuasai masakan-masakan istimewa saja. Misal opor, gule, mie godog, bakso kuah, bolu, es.... Jadi suamimu dan anak-anakmu selalu merindui masakan istimewamu kalau liburan. Masakan biasa sehari-hari, yang goreng-goreng atau tumis, biar rewang yang bikin...!”

Nenekku juga bilang ke Bapakku, anak kandungnya itu:

“Istrimu itu suruh kerja. Suruh banyak pergaulan. Kalau istrimu maju, anak-anakmu akan dididik untuk maju juga.”

“Kalau istrimu terbelakang, nggak ngerti dunia kerja, nanti dia gampang jadi curigaan dan cemburuan. Bikin suasana rumah tangga jadi gelap. Nggak enak...!”

Aku mendengar semua cerita ini, dari ibuku. Menurut perkataannya sendiri, dia adalah menantu yang paling beruntung sedunia. Dan setiap kali dia bercerita tentang Nenekku, aku bisa melihat bahwa Ibuku itu menghormati ibu mertuanya seperti menghormati malaikat.

Tapi, siapa sih yang tidak respek pada Ibu Mertua kuat, yang memberikan kemerdekaan bagi menantu perempuannya....?
Perempuan yang mewariskan kepercayaan diri kepada sesama perempuan untuk mengembangkan sayap dan tumbuh optimal...
Perempuan yang mengembangkan konsep tentang harga diri di zaman perempuan masih dianggap ‘sekedar konco wingking’, pemuas napsu dan ‘pabrik’ keturunan.

Aku jadi ingat pepatah itu: cuma orang merdeka yang bisa memerdekakan orang lain. Nenekku memang sudah merdeka sejak zaman gadis. Dia nggak punya kebutuhan untuk menindas siapapun demi merasa hebat dan ‘berkuasa’.

Sungguh, dari garis keturunan Kakek Nenekku yang orang dusun ini, aku melihat benang merah yang sama: semuanya (lelaki dan perempuan), sama-sama maju dan punya kontribusi di masyarakat, sambil mengelola keluarga dan rumah tangga.

Nggak ada yang jadi generasi lembek…

Transgenerational Trauma sebagai rakyat jelata yang tertindas dan cuma bisa nerima nasib… berhenti di Kakek dan Nenekku.

Na Padmo OFC
02.40, Rabu Pahing
8 Shadda 2936
20 Mei 2026

————

Postingan terkait:

1. BAPAKKU DAN ‘BAWAAN HOKI’NYA
https://www.facebook.com/share/p/1BKoZ5XhSu/?mibextid=wwXIfr

2. BAPAK TERSAYANG
https://www.facebook.com/share/p/1fySJ4HMvc/?mibextid=wwXIfr

3. DARI ORTU YANG MAJU, LAHIRLAH ANAK YANG BERMUTU…
https://www.facebook.com/share/p/1Eft6KK6C1/?mibextid=wwXIfr

4. ANAK USIL SEDESA DAN SEMALIOBORO
https://www.facebook.com/share/p/1aRVutykYg/?mibextid=wwXIfr

5. INTERGENERATIONAL TRAUMA
(Trauma Yang Dibawa Dari Generasi Sebelumnya)
https://www.facebook.com/share/p/1E17WmzTUC/?mibextid=wwXIfr

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Jakarta