30/07/2025
Tentang "Firman"
🪀
Teks Asli Yohanes 1:1 dalam Bahasa Yunani
"Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος."
(En archē ēn ho logos, kai ho logos ēn pros ton theon, kai theos ēn ho logos.)
Arti harfiah:
"Pada mulanya adalah Firman (Logos), dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah."
Kata "theos" di bagian terakhir tidak memakai artikel (tanpa "ho", yaitu "theos" bukan "ho theos").
Ini penting karena dalam bahasa Yunani Koine, tanpa artikel menunjukkan sifat atau esensi, bukan identitas personal.
Artinya:
Bukan berarti "Firman adalah Allah Bapa", tetapi "Firman itu memiliki sifat ke-Allah-an."
Jadi, Firman (Logos) memiliki hakekat ilahi, bukan berarti Dia adalah Bapa itu sendiri.
Ini sesuai dengan doktrin Trinitas: Allah esa dalam hakikat, namun berelasi dalam tiga pribadi (Bapa, Firman/Anak, dan Roh Kudus).
Apa itu "Firman" (Logos)?
Dalam pemahaman Yahudi-Helenistik
Logos adalah pernyataan diri Allah yang kekal, baik sebagai hikmat, perintah, maupun sebagai pengantara penciptaan.
Dalam Perjanjian Lama, “Firman TUHAN” (Ibrani: Dabar YHWH) sering muncul sebagai pribadi aktif
Mencipta (Mazmur 33:6),
Menyembuhkan,
Membimbing nabi-nabi.
Jadi ketika Yohanes berkata “Firman itu adalah Allah”, dia berbicara dalam kategori Yahudi, tetapi dengan pemahaman yang diperluas secara wahyu, bahwa Firman itu turun menjadi manusia (lih. Yohanes 1:14).
Keluaran 20:1 dan Ulangan 18:18
Ayat-ayat ini tidak bertentangan dengan Yohanes 1:1, karena apa om
Karena Memang Firman adalah ungkapan Allah, dan di dalam Perjanjian Lama, ini diartikan sebagai perintah atau ucapan Allah.
Tetapi Yohanes memberikan dimensi tambahan, bahwa Firman itu kekal, dan memiliki eksistensi pribadi sebelum menjadi manusia dalam diri Yesus.
Maka, dalam Ulangan 18:18, ketika Allah berkata “Aku akan menaruh Firman-Ku ke dalam mulutnya”, itu konteksnya adalah pewahyuan, bukan inkarnasi (penjelmaan). Ini menunjuk ke fungsi kenabian: nabi menerima firman dari Allah.
Sebaliknya, Yohanes 1:1–14 berbicara tentang Firman itu sendiri menjadi manusia, bukan sekadar disampaikan lewat nabi.
Dalam Yahudi rabinik, Firman (dabar) dipahami sebagai kekuatan Allah yang aktif.
Dalam Kristen awal, terutama komunitas Yohanes, Firman itu tidak hanya kekuatan, tapi eksistensi pribadi yang berasal dari Allah, dan bahkan turun menjadi manusia dalam pribadi Yesus.
Maka itu
Firman sama dengan Allah dalam hakikatnya, bukan Allah dalam pribadi Bapa.
Yesus sama dengan Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:14).
Dari sudut pandang rasional, ini memang rumit, tetapi tidak bertentangan dengan logika, karna apa
Firman yang kekal sama dengan bagian dari hakekat Allah,
Dinyatakan dalam dunia lewat nabi-nabi (PL),
Dan puncaknya adalah menjadi manusia dalam pribadi Yesus.
Jadi, “Firman itu Allah” bukan berarti Allah dimasukkan ke mulut manusia, tapi bahwa Allah sendiri, dalam Firman-Nya, datang ke dalam dunia — inilah inti iman Kristen tentang inkarnasi.