Ulama Indonesia

Call Website Contact the school

Ulama Indonesia Quotes
Pituah
Biografi Ulama
Kabar Ulama

14/10/2026

Kisah Nabi Muhammad SAW Mengqadha Sholatnya, KH M. Fakhruddin Al Bantani SH. I

Inilah 10 ulama/kiai Indonesia masa lalu yang memiliki bukti cukup kuat sebagai saudagar, pemilik tanah, atau pengusaha ...
13/10/2026

Inilah 10 ulama/kiai Indonesia masa lalu yang memiliki bukti cukup kuat sebagai saudagar, pemilik tanah, atau pengusaha kaya, bukan ranking kekayaan yang pasti.

Tokoh Sumber kekayaan yang terdokumentasi Perkiraan nilai sekarang

1. KH Hasan Gipo Perdagangan beras, tekstil, palawija; memiliki kapal, pergudangan, pertokoan, penginapan dan persewaan toko. Tidak dapat dihitung secara valid; kemungkinan termasuk saudagar Muslim pribumi yang sangat berada pada masanya.

2. Swarha Memiliki Banyak Toko yang disewakan, perusahaan impor dari Jepang, serta perusahaan konstruksi/perdagangan. Bahkan memiliki vila pribadi yang membuat pejabat kolonial terheran-heran. Tidak dapat dihitung secara valid.

3. KHR Muhammad Affandi Perdagangan dan transportasi laut; sumber sejarah lokal menyebut beliau memiliki kapal yang digunakan mengangkut jamaah haji serta memiliki sawah. Tidak dapat dihitung secara valid.

4. KH Muhammad Hasyim Asy'ari Pertanian dan perdagangan. Beberapa biografi menyebut beliau memiliki tanah puluhan hektare dan mengelola sawah. Ia juga ikut gerakan saudagar Nahdlatut Tujjar. Tanpa lokasi dan rincian kepemilikan tanah, tidak aman memberi angka.

5. KH Ahmad Dahlan Perdagangan batik. Ia bukan hanya ulama dan pendiri Muhammadiyah, tetapi juga menjalankan usaha sebagai saudagar batik. Tidak ada data aset yang cukup untuk menghitung total kekayaan.

6. KH Ahmad Sanusi Selain ulama, memiliki aktivitas ekonomi dan pernah menjadi komisaris NV Handels Maatschappij Betalmal, perusahaan yang didirikannya bersama pengusaha Dasaad A. Musin. Tidak tersedia data aset pribadi yang memadai.

7. KH Abdul Halim Majalengka Mengembangkan pendidikan sekaligus gagasan dan jaringan ekonomi/koperasi pribumi. Tidak ada data kekayaan pribadi yang cukup untuk konversi.

8. KH Wahab Hasbullah Terlibat dalam jaringan perdagangan dan Nahdlatut Tujjar, perkump**an saudagar yang menjadi salah satu embrio NU. Tidak ada angka aset pribadi yang dapat dikonversi.

9. Kiai Hasan Bisri Tegal Memiliki perkebunan dan persawahan yang sangat luas; sumber NU menyebut beliau dikenal sebagai tuan tanah pada zamannya. Luas total tanah tidak disebutkan secara pasti, sehingga belum bisa dihitung.

10. Kiai Gemma Prenduan Disebut sebagai saudagar kaya sekaligus alim di Prenduan; kekayaannya terkait aktivitas perdagangan. Tidak tersedia data aset untuk konversi

Yang paling menarik: Hasan Gipo

Kalau kriterianya adalah kekayaan yang terlihat dari jenis dan skala aset bisnis, Hasan Gipo merupakan salah satu kandidat paling kuat.

Sumber sejarah menyebut bisnis keluarganya berkembang dari perdagangan hingga pertokoan, pergudangan, persewaan toko, penginapan, bahkan aktivitas impor dan ekspor. Ada p**a catatan bahwa Hasan Gipo memiliki kapal sendiri, gudang di kawasan Kalimas, dan usaha impor beras serta tekstil.

Jadi, kalau pertanyaannya adalah “siapa ulama/kyai Indonesia zaman dulu yang benar-benar kaya karena bisnis?”, Hasan Gipo dan Swarha termasuk nama yang sangat menarik untuk diteliti.

Mengapa saya tidak memberi angka “Rp100 miliar, Rp1 triliun, dst.”?

Karena itu akan mudah menjadi angka palsu yang terlihat meyakinkan. Misalnya, “memiliki puluhan hektare tanah” tidak otomatis bisa dikonversi ke harga 2026 tanpa mengetahui lokasi persis, jenis tanah, tahun pembelian, dan luas masing-masing bidang.

KH Raden Muhammad Affandi alias Kiai Affandi adalah Mursyid Tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah, juga sebagai ulama sa...
10/10/2026

KH Raden Muhammad Affandi alias Kiai Affandi adalah Mursyid Tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah, juga sebagai ulama saudagar kaya pada zamannya.

Konon, KH Raden Muhammad Affandi memiliki kapal laut yang biasa untuk mengangkut calon jamaah haji. Oleh sebab itu, beliau sering mengawal jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci.

Sebagai ulama pesantren, Kiai Affandi punya kelebihan dan karisma tersendiri. Beliau menyukai kesenian tradisional Jawa, dan tak jarang sering nonton pagelaran wayang kulit atau seni tayuban (lengger), dengan cara ini, ternyata banyak masyarakat yang tertarik dan akhirnya menjadi murid beliau.

Sejarah Berdirinya NU Sokaraja
Pada awal pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Sokaraja tahun 1928-an, Kiai Affandi mendukung KH Ahmad Satibi untuk menjabat Rais Syuriyah.

Kiai Affandi sendiri memilih berjuang di balik layar sambil mengurus Pesantren. Beliau mengajukan sang putra KH Rifai, yang kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah.

Menurut Kiai Abdul Razak, aebagai ulama sepuh, Kiai Affandi tidak terjun langsung. Sebagai wujud dukungan, beliau memerintahkan putranya untuk masuk dalam kepengurusan NU.

Kiai Affandi memimpin tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah pusat Sokaraja selama 14 tahun. KH Affandi wafat pada 12 Dzulhijjah 1348 Hijriyah pada Ahad, 11 Mei 1930.

Seusai wafat Kiai Affandi, mursyid tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah lanjut oleh putranya yaitu KH Raden Rifai. Kiai yang satu ini adalah sosok yang sangat akrab dengan para santri.

Tatkala ada santri atau ikhwan tarekat yang datang, beliau selalu meminta sang istri untuk menyediakan makanan.

Selain mengasuh Pondok Pesantren, Kiai Rifai juga harus mengurus sawah pertanian cukup luas dan usaha batik peninggalan ayahnya. Usaha batik itu melibatkan para santri sebagai pengrajin.

Sebagai seorang pengusaha, Kiai Rifai banyak menjalin relasi dengan pelaku bisnis –termasuk dari kalangan keturunan Tionghoa.

Belasan ribu santri yang berguru kepada Kiai Rifai semasa hidupnya. Santrinya tersebar tidak hanya Jawa Tengah, melainkan Jawa Barat, Sumatera dan Lampung. Salah satu murid Kiai Rifai adalah Mbah Mangli dari Magelang.

KH Rifai mepunyai 12 orang anak Kedua belas putra-putri Kiai Rifai adalah: Siti Kalsum, Siti Afiah, Abdussalam, Ngabdiah, Ali Ridlo, Siti Aminah, Siti Rogayah, Ngakib, Zubaidah, Abu Bakar, Siti Sofiah, dan Siti Khotimah. KH Raden Rifai wafat pada 10 Jumadil Awal 1388 atau pada Senin, 5 Agustus 1968. (Rhmn)
Disini, adakah yang pernah berziarah ke makam beliau?

Siapa sangka, ternyata ini adalah foto Al maghfurlah Abah Guru Sekumpul (KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) bersama Seor...
08/10/2026

Siapa sangka, ternyata ini adalah foto Al maghfurlah Abah Guru Sekumpul (KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) bersama Seorang Ulama Karismatik dari daerah pamangkih hulu sungai tengah.
Tapi Taukah Para Sahabat, Siapa nama sosok Ulama tersebut???
Semoga kita semua mendapat keberkahan dari Para Ulama kita.. 🤲🤲

07/10/2026

Pangersa Uwa Ajeungan KH Khoer Affandi Pendiri Pondok Pesantren Mifatahul Huda pusat Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat

Semoga senantiasa kita bisa tetap mengikuti dan mengamalkan pidawuhnya para Alim Ulama serta tetap mencintai Beliau Semu...
07/10/2026

Semoga senantiasa kita bisa tetap mengikuti dan mengamalkan pidawuhnya para Alim Ulama serta tetap mencintai Beliau Semua... 🤲🤲🤲
Menurutmu, Nasihat Siapakah yg paling menyentuh hati?

06/10/2026

Kisah kesufian Abuya Munfasir padarincang ciomas banteun.

Beliau seorang pengamal tasawuf yang mana dalam literasi ahlussunnah wal jamaah adalah sebuah jalan lain yang diakui oleh para ulama memiliki keutamaan di sisi Allah SWT.

Memisahkan diri dari keramaian dunia modern, sebagai upaya untuk menjauhi hal-hal yang akan mendekatkan dirinya dari berbuat dosa.

Sehingga banyak masyarakat yang bersilaturahmi kepada Abuya Munfasir, dengan bermacam-macam tujuan. Mulai sekedar silaturahmi, meminta doa, mendapat keberkahan dan sebagainya.

Tentu bermacam-macam p**a pengalaman dari mereka yang bertemu dengan Abuya Munfasir, dan itu menjadi sebuah cerita yang tersebar di tengah-tengah masyarakat.

06/10/2026

Di daerah kalian, adakah Ulama yang Masyhur?
Tulis dikomentar, kita diskusi..
Semoga kita Semua mendapat berkah dari para Alim Ulama.. 🤲🤲

Syekh Abdul Muhyi Pamijahan diyakini sebagai waliyullah dan dihormati masyarakat pesantren. la merupakan mata rantai dan...
05/10/2026

Syekh Abdul Muhyi Pamijahan diyakini sebagai waliyullah dan dihormati masyarakat pesantren. la merupakan mata rantai dan pembawa tarekat Syathariyah yang pertama ke p**au Jawa. Lebih dikenal dengari nama Haji Karang, karena pernah uzIah dan khalwat di Gua Karang. Di pintu gerbang makamnya yang terle tak di Pamijahan Tasikmalaya, tertera tulisan Sayyiduna Syaikh al-Hajj Waliyullah Radhiyullahu.

Abdul Muhyi dilahirkan tahun 1650 di Mataram. Mataram di sini ada yang menyebut di Lombok, tetapi ada juga yang menyebut Kerajaan Mataram Islam. Ayahnya bernama Sembah Lebe Wartakusumah, bangsawan Sunda keturunan Raja Galuh Pajajaran yang saat itu bagian dari Kerajaan Mataram Jawa. lbunya bernama Raden Ajeng Tangan Ziah, keturunan bangsawan Mataram yang berjalur sampai ke Syaikh Ainui Yaqin (Sunan Giri l).

Kefika masih anak-anak, Abdul Muhyi telah belajar di Ampel Denta untuk mendaras berbagai disiplin keilmuan pesantren. Pada tahun 1669 M, di usia 19 tahun, Abdul Muhyi merantau hendak menuiu ke Mekah, tetapi singgah di Aceh. Di Aceh Abdul Muhyi ternyata bertemu dan belajar kepada Tengku Syiah Kuala atau Syaikh Abdur Ra’uf as-Singkili. Berbagai disiplin keilmuan dipelajari Abdul Muhyi di Kota Aceh ini, termasuk tarekat Syathariyah dari jalur Syaikh Abdur Ra’uf. Sebagai guru besar Syathariyah, Syaikh Abdur Ra'uf ini berusaha mendamaikan wujudiyah dari lbnu Arabi dengan tasawuf lain yang berkembang di kalangan masyarakat Islam.

Setelah beberapa tahun di Aceh, Abdul Muhyi oleh gurunya diajak berkunjung ke makam seorang yang dikenal masyarakat sebagai Wali Quthb, Syaikh Abdul Qadir Jilani di lrak. Perjalanan diteruskan ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan haji. Abdul Muhyi kemudian belajar di Makkah, tidak langsung p**ang. Di Mekah Abdul Muhyi bertemu Syaikh Yusuf al-Maqassari, dan diduga kuat Abdul Muhyi belajar juga kepada Ahmad al-Qusyasyi, Ibrahim Kurani, dan Hasan al-Ajami,yaitu guru-guru dari AbdurRa'uf as-Singkili sendiri.

Abdul Muhyi kembali dari Mekah menuju Ampel Denta pada tahun 1678 setelah mendapatkan ijazah untuk men jadi mursyid tarekat Syathariyah dari gurunya. Sekembalinya dari Ampel Denta, sang ayah menikahkannya dengan putri bernama Ayu Bekta. Setelah menikah, bersama orang tuanya, Abdul Muhyi pindah ke Jawa barat untuk menyebarkan Islam, dan berusaha mencari sebuah gua yang ditunjukkan oleh gurunya, Syaikh Abdur Ra'uf as-Singkili.

Awalnya Abdul Muhyi dan keluarga menetap di Desa Darma Kuningan selama 8 tahun (1678-1685) atas permintaan masyarakat. Karena belum menemukan tujuan yang hendak dicari, sambil melakukan dakwah, Abdul Muhyi menuju ke Garut Selatan dan diminta masyarakat untuk tinggal di Pameungpeuk, Garut. Perjalanan diteruskan ke Lebaksiuh di dekat Batuwarigi. Di berbagai tempat tinggal ini Abdul Muhyi terus menyebarkan Islam secara santun dengan sentuhan hati sebagai seorang sufi. Di Lebaksiuh inilah Abdul Muhyi menemukan gua yang dikeramatkan dan wingit.

Gua ini dinamakan Pamijahan, karena tempat berkembang biaknya banyak ikan. Gua Pamijahan ini berbatu karang dan penuh dengan hutan lebat, dan karenanya sering disebut juga sebagai Gua Karang. Sejak saat itu, meski kadang-kadang masih tinggal di Lebaksiuh, Abdul Muhyi lebih dikenal sebagai Haji Karang. Gua ini menjadi tempat ’uzlah dan khalwat-nya, akan tetapi di tempat tinggalnya yang terakhir, ia membangun perkampungan baru bersama para pengikutnya di sebelah barat Kampung Ojong, dan dikenal dengan sebutan Safar Wadi. Di tempat ini dia membangun masjid dan padepokan sebagai pusat penyebaran lslam dan tarekat Syathariyah.

Sebagai guru Rohani, Abdul Muhyi dihormati masyarakat dan Keraton Mataram. Desanya diakui sebagai desa perdikan, yang artinya berhak mengurus urusannya sendiri secara mandiri, meskipun ada di wilayah Mataram. Meski memiliki hubungan dengan Mataram, hubungan dengan Keraton Cirebon dan Banten juga dibangun, termasuk setuju sebagian anak-anaknya menikah dengan para bangsawan dari Cirebon. Hubungan dekat juga terjadi dengan Kesultanan Banten, termasuk dengan guru Rohani di Banten, yaitu Syaikh Yusuf Tajul khalwaiti al-Maqassari, yang merupakan temannya ketika di Mekah. Ketika Syaikh Yusuf bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda akibat keberhasilan Belanda memecah Keraton Banten, Syaikh Yusuf bersembunyi di tempat Syaikh Abdul Muhyi.

Di samping sebagai pendidik, mujahid dalam menyebarkan Islam, seorang yang dikenal memiliki kemampuan linuwih, Syekh Abdul Muhyi juga seorang penulis. Dia menulis kitab dalam disiplin tarekat Syathariyah.

Tokoh ini meninggal pada 1730 M atau 1151 H dalam usia 80 tahun. Dia dimakamkan di Pamijahan, yaitu di Bantar Kalong, Tasikmalaya bagian selatan, Makamnya hingga saat ini menjadi makam yang sering diziarahi oleh masyarakat NU dan masyarakat Islam pada umumnya.

Semoga kita dikehendaki bertabarruk berziarah ke makam beliau.. 🤲🤲

29/12/2025

Buya Qurthubi Banten, 3 Sifat Yg harus dimiliki Supaya bisa merasakan Lezatnya Iman..

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ulama Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Ulama Indonesia:

Shortcuts

Share

Category