17/08/2020
MENUNGGU ASRAMA H HIMPUNAN
BEBERAPA KISAH AL QUR'AN TENTANG ORANG-ORANG YANG DENGKI
Dari sini kita bisa mengetahui, betapa jahatnya seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara
Alloh Ta’ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya,
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ ...الأية . ال عمران ١٢٠
Artinya:
“Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)
1. KISAH QOBIL DAN HABIL
Kisah dua putra Adam Qobil dan Habil yang dikisahkan oleh Alloh dalam Al-Qur’anul Karim
Kisah ini menjelaskan betapa buruknya akibat kedengkian, kedzoliman, dan kejahatan serta permusuhan dalam kisah dua putra Nabi Adam tersebut,
Baik disebabkan perebutan calon istri, harta, kedudukan
ataukah sebab lainnya
Alloh berfirman:
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil).
Ia berkata (Qobil):
“Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.
Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Alloh, Robb semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzolim.”
Maka hawa nafsu Qobil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah (Habil).
Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
Kemudian Alloh menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qobil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qobil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.(Al-Maidah : 27-31)
Nabi Adam sudah turun ke bumi. Hawa pun demikian.
Iblis tak ketinggalan, dia diusir dan diturunkan ke dunia disertai laknat hingga hari pembalasan.
Adam dan Hawwa mulai merasakan pahit getir yang belum pernah mereka dapatkan di dalam jannah.
Beberapa waktu kemudian Hawwa mulai mengandung dan tak lama dia pun melahirkan anaknya. Kemudian lahir p**a putra mereka berikutnya.
Anak-anak tersebut tumbuh dewasa di bawah pengawasan kedua orangtua mereka. Mulailah mereka berusaha mengolah bumi ini, mencari rezeki Alloh
Setan yang telah bersumpah untuk menghancurkan manusia dan menyeret mereka agar menyertainya di dalam neraka, tidak pernah berhenti mencari jalan untuk menyesatkan mereka.
Akhirnya dia melihat kesempatan tersebut.
Ketika dua anak tersebut sudah tumbuh dewasa dan masing-masing mempunyai usaha untuk penghidupannya, mereka diperintahkan untuk mengeluarkan sebagian harta mereka sebagai korban untuk mendekatkan diri kepada Alloh
Qobil yang bekerja sebagai petani, memilih harta yang akan dikorbankannya dari hasil panen sawah ladangnya. Dia pun mengambil buah atau tanaman yang buruk sebagai korbannya. Sedangkan Habil, bekerja sebagai penggembala ternak. Dia memilih untuk korbannya salah satu ternaknya yang terbaik, paling gemuk dan sehat.
Dalam syariat umat terdahulu, tanda diterimanya suatu korban adalah dengan turunnya api membakar korban tersebut.
Hari berikutnya, terlihatlah bahwa hasil panen yang dipersembahkan Qobil masih utuh di tempatnya. Sedangkan ternak gemuk yang dikorbankan Habil tidak ada lagi, tanda bahwa korbannya telah diterima. Kenyataan ini menumbuhkan kedengkian dalam diri Qobil, dia berkata :
“Aku pasti membunuhmu!”
Habil berkata kepadanya :
Sesungguhnya Alloh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Apa dosa dan kesalahanku
hingga harus kau bunuh? Tidak lain karena aku bertakwa kepada Alloh, yang takwa itu wajib atasku, atasmu, dan atas setiap orang.”
Qobil tetap meradang dan ingin membunuh Habil. Sementara Habil, tidak ada ucapan lain selain mengingatkannya:
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.”
Yakni, seandainya engkau memulai untuk membunuhku, maka aku tidak akan memulainya. Aku pun tidak akan membalas seperti yang engkau lakukan. Tapi aku hanya mengingatkan engkau kepada Alloh Robb semesta alam.
Artinya, dia tidak ingin membela dirinya bila dibunuh oleh saudaranya.
Meskipun dia lebih kuat dan mampu mengalahkan saudaranya.
Lalu Habil menerangkan apa sebabnya dia tidak ingin membalas :
“Sesungguhnya aku takut kepada Alloh , Robb semesta alam.”
Itulah alasan mengapa dia tidak ingin membalas. Orang yang takut kepada Alloh, tidak akan berani berbuat dosa, terlebih dosa-dosa besar.
Namun Qobil tidak bergeming mendengar nasihat tersebut. Dia tetap pada keinginannya membunuh Habil.
Maka Habil beralih menakut-nakutinya dengan azab Alloh, memberikan targhib dan tarhib. Habil berkata kepada Qobil :
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali membawa dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzolim.”
Artinya, aku ingin agar kamu kembali kepada Robb kita pada hari kiamat dengan dosa pembunuhan yang kau lakukan terhadapku dan dosa yang kau bawa selama hidupmu, sehingga dengan sebab itu engkau menjadi penghuni neraka, kekal di dalamnya. Na’udzubillahi min dzalik.
Namun, targhib dan tarhib (1) ini pun tidak berguna bagi Qobil. Sebab, setan telah menguasai dan memenuhi hatinya dengan hasad dan dendam kepada saudaranya.
Akhirnya:
“Maka hawa nafsu Qobil menjadikannya menganggap remeh membunuh saudaranya.”
Hawa nafsunya membangkitkan keberaniannya, bahkan membuatnya memandang indah sehingga dia pun membunuhnya.
“Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.”
Kisah ini menunjukkan p**a kepada kita bahwa setiap orang yang memperoleh nikmat tentu akan menjadi sasaran kedengkian dari orang yang memiliki sifat dengki.
”Hati-hatilah dan jauhilah sifat dengki, yang mendorong anak Adam nekad membunuh saudaranya sendiri karena telah dijangkiti penyakit dengki ”
2. KISAH NABI YUSUF 'ALAIHIS SALAM
Kedengkian saudara-saudara Yusuf pada dirinya, mengakibatkan sebagian dari mereka ingin menghabisi nyawa saudaranya sendiri, Yusuf ‘Alaihis Salam.
Alloh Ta’ala mengisahkan dalam firman-Nya :
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (8)
اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِن بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ (9)
“(Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS. Yusuf: 8 – 9)
Iri dan dengki adalah kedzoliman, karena dia mengharapkan hilangnya nikmat yang Alloh berikan kepada seseorang.
Oleh karena itu, wajib atas orang yang dihinggapi penyakit dengki segera bertaubat kepada Alloh dengan taubatan nasuha
YaAlloh,
Lindungilah kami dari penyakit dengki.
Ya Alloh,
Bersihkanlah benih-benih penyakit dengki yang ada dihati kami, sehingga kami menghadap kepada-Mu dengan hati yang selamat. Aamiiin YRA🙏
الحمدلله جزاكم الله خيرا
(1)
targhib = motivasi.
tarhib = ancaman atau resiko.