04/06/2026
DARI JALAN MAKSIAT MENUJU BAITULLAH
Kisah Taubat Al-Fudhail bin 'Iyadh
Dahulu kala, di antara jalan sunyi yang menghubungkan Abiward dan Sarkhas, dua kota di daerah khurasan, hiduplah seorang laki-laki, perompak tersohor, dia adalah Al-Fudhail bin 'Iyadh dan para musafir mengenalnya sebagai ahli maksiat.
Di masa silam, Nama yang sangat harum itu tidak dikenal sebagai ulama, tidak dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi seseorang yang membuat perjalanan terasa mencekam, menahan napas ketika mendengarnya, bahkan membuat gentar orang yang harus melewati wilayahnya.
Namun, siapa sangka namanya menjadi ulama yang begitu masyhur, justru hanya dimulai dari kejadian suatu malam
Dikisahkan, Al-Fudhail pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan.
Di suatu malam, dengan hati dipenuhi hasrat yang menggebu-gebu, dia memanjat dinding untuk menemui perempuan tersebut secara diam-diam.
Langkah demi langkah, Dinding demi dinding
Hingga tiba-tiba...
Di tengah malam yang begitu hening, dia mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur'an :
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. al-Ḥadīd: 16)
ayat itu menembus, Bukan telinga, Tapi menyelinap dalam jiwanya.
Hatinya tersentuh, perasaannya terenyuh. Seakan- akan ayat itu dibaca bukan untuk siapa pun, namun hanya untuk dirinya
Al-Fudhail terhenti. Ia termangu dalam diam. Dengan tangan yang masih menempel pada dinding, dari bibirnya perlahan terucap kalimat yang mengubah seluruh jalan hidupnya
بَلَى يَا رَبِّ، قَدْ آنَ
“Benar wahai Tuhanku… sungguh waktunya telah tiba.”
Hanya dengan satu ayat, Tanpa dialog yang panjang. Tanpa perdebatan yang berbelit-belit dan khotbah atau ceramah.
Bersamaan dengan hati yang akhirnya berani jujur, ia pun membatalkan niatnya untuk bermaksiat dan memilih untuk pergi
Kemudian malam membawa dirinya singgah di sebuah bangunan yang hampir roboh, sementara di sana terdapat sekelompok musafir yang sedang beristirahat.
Al-Fudhail hanya diam, dia tidak mengenalkan dirinya, Kemudian ia mendengar percakapan mereka.
Sebagian berkata:
“Ayo kita lanjut perjalanan !.”
Yang lain menolak:
“Jangan sekarang, tunggu sampai pagi !. Karena Al-Fuḍhail sedang berada di jalan, nanti kita dirampok.”
Seketika Hening dan ucapan itu menusuknya seperti anak panah. Saat itu juga, akhirnya dia sadar.
Orang-orang yang bahkan tidak mengenal dirinya secara pribadi, hidup dalam rasa takut hanya karena namanya. Lalu batinnya mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
“Aku mengarungi malam untuk bermaksiat kepada Allah, sementara di tempat ini ada kaum muslimin yang hidup dalam ketakutan karena ulahku. Tidaklah Allah mempertemukanku dengan mereka melainkan sebagai teguran agar aku menghentikan semua ini.”
Kemudian pada malam itu, seorang penyamun tersohor mengangkat tangannya, bukan untuk merampas, akan tetapi untuk berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ تُبْتُ إِلَيْكَ، وَجَعَلْتُ تَوْبَتِي مُجَاوَرَةَ الْبَيْتِ الْحَرَامِ
“Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku jadikan taubatku dengan tinggal di dekat Baitul Haram.”
Sejak itu, akhirnya sejarah mengenang, bukan sebagai Al-Fudhail sang penyamun, namun sebagai Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh
Seorang ahli ibadah, ulama besar, Seorang yang dengan kata-katanya menggugah dan menghidupkan hati manusia.
Hikmah yang dapat dipetik
“Kadang yang kita butuhkan bukan seribu nasihat, Namun cukup satu ayat yang datang di waktu yang tepat.”
Sumber: Al-Dzahabī, Siyar A'lām al-Nubalā', Juz 8, hlm. 423