18/08/2026
Nikmat negara yang aman dan makmur adalah satu hal yang harus disyukuri. Nabi Ibrahim alaihis salam, setelah membangun ka'bah beliau berdoa:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian." Dia (Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
Artinya tujuan bernegara adalah memberikan keamanan dan memakmurkan rakyatnya.
Di Negeri ini dua nikmat tersebut tidak datang begitu saja tapi melalui perjuangan Para pahlawan.
Dalam rangka itulah kita mengingat dan mensyukuri untuk melanjutkan perjuangan mereka.
Namun dua nikmat aman dan makmur tidak ada nilainya jika tanpa ada yang ketiga yaitu nikmat keimanan.
Saudara kita di Palestina, mereka memiliki keimanan tapi mereka sedang memperjuangkan keamanan. Sedangkan kita di Indonesia sudah mendapatkan keamanan tapi apakah kita tetap bisa menjaga keimanan kita.
Bentuk kesyukuran kita dengan kemerdekaan ini adalah dengan menjaga keimanan.
Dan tentunya dengan menjaga keamanan sebagai bentuk tanda cinta kita kepada bangsa dan negara.
Cinta kepada tanah air adalah ajaran Rasulullah. Sebagai bentuk cinta, kita berbuat yang terbaik, baik sebagai santri maupun sebagai guru.
Indonesia telah memasuki usia 81 tahun, artinya telah memasuki generasi kedua.
Ibnu Khaldun menyampaikan generasi pertama adalah generasi perintis, generasi kedua adalah generasi pembangun dan generasi ketiga adalah generasi penghancur.
Hari ini jangan sampai kita lalai dalam mendidik generasi, agar tidak lahir generasi penghancur. Bukan lahir Indonesia Emas tapi Indonesia Cemas.
Bukan masa depan duniawi yang kita cemaskan tapi masa depan ukhrawi generasi kita.
-----------------
Faidah dari Amanat KH. Salim Kholili, Lc, dalam Upacara Bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-81 di Halaman Gedung Wakaf Kuttab Al-Fatih Gresik.
Senin, 17 Agustus 2026
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81