31/10/2019
*Kamu telah berubah
Duluuuu, kalau bikin kesalahan di sekolah, lantas dijewer sama guru (dijewer betulan loh ya); sampai rumah ngadu sama bapak, "Pak, tadi habis dijewer guru." Apa yang terjadi? Malah dijewer sekali lagi sama bapak. Aduh. Nasib. Besoknya bapak ke sekolah, bilang ke gurunya, "Itu anak saya, tolong diajar, kalau dia masih bandel di sekolah, tidak nurut, jewer saja berkali2."
Duluuuu, jika di sekolah tidak becus, kerjaannya main dan ngobrol, apalagi nongkrong dan merokok, malahan, orang-tua yang justeru minta ke gurunya, "Anak saya tidak usah dinaikan kelas, bandel. biar belajar dulu, tinggal kelas." Aduh. Nasib. Kirain bakal dibelain sama Bapak sendiri, ternyata apes.
Tapi kamu telah berubah. Iya kamu.
Hari ini, jangan coba2 guru menjewer anak yang merokok di kelas, besoknya orang tuanya melapor ke polisi. Jangan coba2 guru merapikan rambut gondrong muridnya, besoknya orang tuanya ngamuk di sekolah. Jangan coba2 guru mendisiplinkan anak didiknya, besoknya orang tuanya super lebay, ngajak perang, segala sanak-saudaranya yg jadi pejabat ini, pejabat itu disebut2.
Begitulah realitasnya. Kamu telah berubah.
Apalagi perkara tidak naik kelas, tidak lulus sekolah, tidak lulus ujian, dan hal2 penting lainnya, wah itu penghinaan tingkat tinggi. Anak saya itu selalu benar. Saya selalu benar. Keluarga saya selalu benar. Cuiih, kami ini orang hebat, kami bawa ke pengadilan. Kamu mau apa?
Hingga kita sungguh luput untuk memikirkannya. BAHWA setiap anak pulang membawa masalah; atau membuat masalah di sekolahnya; maka siapakah yang sesungguhnya patut disalahkan?
Apakah gurunya?
Sekolahnya?
Anaknya?
Atau jangan2 salah orang tuanya sendiri? Kapan kamu bercermin?
Kamu telah berubah.
*Tere Liye