Artikel Santri At-Taqwa

Artikel Santri At-Taqwa

Share

Kumpulan Artikel Santri Pesantren At-Taqwa Depok

07/06/2026

SAMBUT HARI LAHIR PANCASILA, DR. SUIDAT: JANGAN SEKULARKAN PANCASILA!

Oleh: Afkarmalik Hasan (Santri SMA At-Taqwa Depok, 17 Tahun)

Tepat pada 1 Juni 2026 Pesantren At Taqwa Depok menyelenggarakan Seminar untuk para santri tentang lahirnya dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Narasumber seminar kali ini adalah Dr. Suidat (guru Pancasila Pesantren At Taqwa). Tema yang diusung adalah “Pancasila Menurut Pandangan Pahlawan Nasional (Natsir, Hamka, Kasman).”

Mengapa setiap tanggal 1 Juni selalu diperingati lahirnya Pancasila? Karena dari sisi sejarahnya pada 1 Juni 1945, Sukarno menyampaikan rumusan dasar negara di depan sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Padahal selain Sukarno ada beberapa tokoh lainnya yang menyampaikan juga tentang rumusan dasar negara, seperti Muhammad Yamin, Supomo, dan Ki Bagus Hadikusumo. Perlu diketahui sidang BPUPK yang pertama adalah pada 29, 30, 31 Mei dan 1 Juni 1945. Sidang tersebut baru hanya mendengarkan usulan-usulan dari peserta sidang. Tidak ada usulan-usulan mereka yang diterima dan disepakati untuk dijadikan dasar negara.

Namun pada 22 Juni 1945 Sukarno menginisiasi untuk dibentuknya Panitia Sembilan yang terdiri dari dua unsur tokoh yaitu nasionalis kebangsaan (sekular) dan nasionalis religius. Yang termasuk nasionalis religius adalah Haji Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Badul Kahar Muzakkir, dan Wahid Hasyim. Sementara dari unsur kebangsaan adalah Sukarno, Muhammad Yamin, Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, A.A. Maramis.

Panitia Sembilan inilah selanjutnya secara terbatas melakukan rapat untuk merumuskan dasar negara. Pada akhirnya mereka menyepakati bahwa dasar negara Indonesia adalah Piagam Jakarta atau oleh Yamin disebut sebagai The Jakarta Charter, oleh Sukiman disebut sebagai Gentlemen Agreement.

Pada Piagam Jakarta, poin yang menjadi perhatian kalangan Kristen adalah bagian pertama yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari`at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal itu sudah mengemuka pada sidang kedua BPUPK, dan Latuharhary mempermasalahkan bagian tersebut. Menurutnya tujuh kata itu tidak mengikat mereka. “Saya tidak setuju dengan semuanya, yaitu dengan perkataan tentang “Ketuhanan”. Saya usulkan supaya dalam hukum dasar diadakan 1 pasal yang terang supaya tidak ada kemungkinan apapun juga yang dapat membawa perasaan tidak senang pada golongan-golongan yang bersangkutan”.

Walaupun demikian, pada akhirnya sidang BPUPK ini menyepakati Piagam Jakarta sebagai dasar negara Indoensia merdeka. Namun pada 18 Agustus 1945, sebelum sidang PPKI dimulai, Hatta meminta Ki Bagus, Teuku Muhammad Hasan, dan Kasman membahas soal keberatan masyarakat Indonesia bagian Timur yang mayoritas Kristen tentang penghapusan tujuh kata. Berita dari Hatta jika tujuh kata itu tidak dihapus kalangan Kristen “mengancam” akan berada di luar Indonesia.

Semula Ki Bagus tidak mau memenuhi keberatan masyarakat Kristen, karena baginya Piagam Jakarta sudah menjadi konsensus nasional, dan hasil kompromis kelompok nasionalis kebangsaan dan nasionalis Islam. Namun atas saran Kasman Ki Bagus bersedia menerima keberatan tersebut. Tepapi Ki Bagus mengusulkan supaya kata “Ketuhanan” ditambah dengan kata “Yang Maha Esa.”

Menurut KH Saifuddin Zuhri (tokoh NU) “penghapusan tujuh kata itu tidak “diributkan” oleh ummat Islam, demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi bangsa Indonesia, althans untuk menjaga kekompakan seluruh potensi nasional mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang baru berusia 1 hari. Apakah ini bukan suatu toleransi terbesar dari umat Isam Indonesia ? Jika pada tanggal 18 Agustus 1945 yaitu tatkala UUD 1945 disahkan umat Islam “ngotot” mempertahankan 7 kata -kata dalam Piagam Jakarta, barangkali sejarah akan menjadi lain.”

Hakikatnya tujuh kata itu tidak benar-benar hilang. Berkat Dekrit Presiden Sukarno 5 Juli 1957, eksistensi Piagam Jakarta tetap ada dan menjiwai UUD 1945. Dalam klausul dekrit termaktub “Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut,” tegas Soekarno.

Dr. Suidat menambahkan tentang pandangan beberapa tokoh Islam mengenai Pancasila. Tokoh-tokoh Islam seperti Mohammad Natsir, Buya Hamka, Kasman Singodimedjo, umumnya sepakat bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Tauhid, Tuhannya umat Islam. Kasman sampai menegaskan bahwa “Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu sebagai sila yang paling pokok, fundamen, menjadi dasar dan sumber bagi empat sila lainnya. Bahkan jika sila itu lebih dari lima, tetaplah Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sokogurunya.”

Para tokoh Islam saat itu tidak anti Pancasila. Mohammad Natsir misalnya, menegaskan bahwa “dengan diterimanya Dekrit Presiden oleh semua golongan, maka Pancasila sebagai dasar negara tidak dipermasalahkan lagi.” Natsir juga menegaskan tentang sila pertama: “Berlainan soalnya apabila Ketuhanan Yang Maha Esa itu hanya sekedar buah bibir, bagi orang-orang yang jiwanya sebenarnya skeptis dan penuh ironi terhadap agama; bagi orang ini dalam ayunan langkahnya yang pertama ini, yang hakikatnya urat tunggal bagi sila-sila berikutnya, sudah tumbang, maka seluruhnya akan hampa, dan amorph, tidak mempunyai bentuk yang tentu.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, 16 Rabiulawwal 1404 H/21 Desember 1983 memutuskan bahwa Pancasila adalah dasar negara, tapi bukan agama. Ia tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama:
“… Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya”

Menurut Dr. Suidat, dengan tetap diakuinya eksistensi Piagam Jakarta (khususnya berkenaan dengan poin pertama yang memuat 7 kata) dan kedekatan penafsiran Pancasila dalam perspektif Islam (khususnya berkenaan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa), menyiratkan bahwa Pancasila tidak layak disekularkan, apalagi dibenturkan dengan Islam.

Photos from Artikel Santri At-Taqwa 's post 29/05/2026

Menuntut Ilmu dalam Islam: Antara Kewajiban dan Kebermanfaatan
(Khutbah Jumat, 29 Mei 2026)

Oleh: Razan Muhammad Ihsan
(Santri SMA At-Taqwa Depok, 17 Tahun)

Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang mendukung penuh tradisi keilmuan. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan teladan bagi seluruh umat manusia khususnya umat Islam, telah memerintahkan kita agar menuntut ilmu sebagaimana dalam haditsnya;

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

Dari hadits tersebut menunjukkan bahwasannya setiap muslim diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menuntut ilmu. Namun tidaklah semua ilmu itu wajib dipelajari. Kata al’ilm dari hadits tersebut dalam ilmu nahu bahasa Arab disebut sebagai isim ma’rifat yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal tertentu. Maka yang menjadi pertanyaannya ialah ilmu apa yang wajib dituntut.

Dalam agama Islam ilmu terbagi menjadi dua: ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Imam Az-Zarnuji mendefinisikan ilmu fardhu’ ain dengan ilmu haal sebagai sesuatu yang wajib dipelajari oleh seorang muslim karena keadaan yang menuntutnya. Semisal kita sebagai seorang muslim diwajibkan melaksanakan sholat, puasa, zakat, dan haji, maka semestinya kita mengetahui segala rukun, syarat, dan hal-hal yang membatalkannya melalui ilmu fikih. Begitu juga bagi seorang muslim harus mengenal dan mengimani rukun iman yang enam dengan benar melalui ilmu akidah. Adapun ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang harus dipelajari oleh setiap muslim dalam suatu daerah dan apabila telah dipelajari oleh salah satunya, maka gugurlah kewajiban tersebut. Contohnya ialah ilmu kedokteran dan matematika.

Apabila seorang muslim telah mengetahui dan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dengan semestinya, maka yang perlu diingat dan direnungi kembali oleh kita ialah buah atau hasil dari ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Semestinya segala ilmu yang telah kita pelajari membuahkan manfaat sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama sebagai ilmu nafi’. Imam Al-Ghazali menerangkan kriteria ilmu nafi’ dalam tujuh aspek, tetapi dalam kesempatan khutbah kali ini khatib hanya akan menjelaskan 5 aspek saja.

Pertama, ilmu yang bisa menambah rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam Man izdaada ‘ilman wa lamyazdad hudan lamyazdad min Allah illa bu’dan (barangsiapa yang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah baik dengan hidayah, maka ia tidak bertambah apa-apa melainkan semakin jauh kepada Allah). Maka semestinya penuntut ilmu itu senantiasa menjaga diri dari kemaksiatan karena tahu serta yakin bahwa Allah ﷻ Maha Mengetahui dan Maha Mendengar.

Kedua, ilmu yang bisa menambah mata batinmu semakin tajam terhadap aib dirimu sendiri. Semestinya semakin banyak ilmu yang kita pelajari, maka semestinya p**a ia semakin tahu akan kesalahan-kesalahan dan cela dirinya. Maka Imam Al-Ghazali pun juga berkata “Haasibu anfusakum qabla an tuhaasibu” (Hisablah atau evaluasilah dirimu sebelum nanti kamu dihisab—oleh Allah ﷻ).

Ketiga, ilmu yang bisa mengikis ambisi duniamu. Di masa dewasa ini telah tersebar luas pemahaman materialisme. Paham itu dapat membuat seseorang mengaitkan segala sesuatu termasuk soal menuntut ilmu kepada tujuan-tujuan duniawi semata: belajar untuk ijazah, kerja, dan uang semata, bukan karena Allah dan demi menjadi manusia yang baik dan bermanfaat. Dengan mengetahui ilmu nafi’ ini, semestinya kita tidak menuntut ilmu kecuali demi mencapai ridho Allah ﷻ.

Keempat, ilmu yang bisa menambah obsesi terhadap akhirat. Poin ini merupakan kelanjutan dari poin ketiga bahwasanya setelah ia tak lagi berambisi terhadap hal-hal duniawi, maka semestinya ia semakin tahu bahwa akhiratlah yang harus ia kejar dengan senantiasa menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah. Namun hal ini bukan berarti mengabaikan aspek dunia, tetapi dunia hanya berperan sebagai kendaraan yang membantu perjalanan kita menuju akhirat sebagai tujuan akhir kita.

Kelima, ilmu yang bisa semakin membuka mata batin kita terhadap kemungkinan kerusakan amal sehingga berhati-hati dengannya. Amal kebaikan kita bisa rusak dan tidak menghasilkan apa pun bahkan ia dapat dihukumi sebagai perbuatan dosa. Hal tersebut disebabkan karena adanya penyakit-penyakit hati seperti sombong, riya, dan dengki.

Hendaklah bagi kita memerhatikan satu hal lagi tentang ‘jembatan’ antara ilmu fardhu ‘ain dan kifayah dan ilmu nafi’, yakni syarat-syarat ilmu nafi’. Syekh Utsman bin ‘Abdillah menjelaskan syarat-syarat tersebut dalam kitab Risalah Dua Ilmu yang terbagi dalam lima poin penting; Pertama, menuntut dan mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Kedua, meninggalkan segala dosa maksiat. Ketiga, beramal dengan ilmu. Keempat, mengonsumsi dan menggunakan barang-barang yang halal. Kelima, tidak sombong.

Akhirul kalam, khotib berpesan kepada para jama’ah khususnya kepada khotib sendiri agar mengenal ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah supaya kita bisa menentukan prioritas dalam menjalani pendidikan. Tak lupa kita semestinya merenungi kembali tujuan kita dalam menuntut ilmu. Apabila niat kita dalam menuntut ilmu demi mencapai ridho Allah ﷻ, maka insya Allah ilmu yang kita tuntut termasuk ke dalam ilmu nafi’. Namun, apabila niat kita dalam menuntut ilmu hanya untuk memuaskan ambisi duniawi, maka kita termasuk ke dalam golongan yang menghancurkan agama dan diri sendiri sebagaimana dalam perkataan Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayah Al-Hidayat;

إِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الْمُنَافَسَةَ وَالْمُبَاهَاةَ وَالتَّقَدُّمَ عَلَى الْأَقْرَانِ وَاسْتِمَالَةَ وُجُوْهِ النَّاسِ إِلَيْكَ وَجَمْعَ حُطَامِ الدُّنْيَا فَأَنْتَ سَاعٍ فِيْ هَدْمِ دِيْنِكَ وَإِهْلَاكِ نَفْسِكَ وَبَيْعِ آخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ

“Jika engkau bermaksud dalam menuntut ilmu untuk bersaing-saingan, berbangga diri, merasa paling hebat di antara teman-temannya, mencari perhatian orang lain, dan mengumpulkan harta duniawi, maka engkau sedang menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhiratmu dengan duniamu”

Photos from Artikel Santri At-Taqwa 's post 03/05/2026

Presentasi Makalah Santri SMA At-Taqwa Depok Tuai Pujian Para Orang Tua

Oleh: Adzkia Afifah Effendi
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 17 Tahun)

Santri-santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Sabtu (2/5/26), mempresentasikan makalah ilmiah di hadapan orang tua mereka sendiri. Rasa bangga dan syukur, mereka tampakkan lewat senyuman dan ungkapan.

“Menurut saya, anak usia belasan tahun seperti kalian yang sudah bisa memapaparkan pembahasan besar seperti ini, merupakan hal yang sangat luar biasa!” ucap salah seorang wali santri.

Salah satu makalah yang banyak disorot adalah makalah milik Muhammad Rofi Abdurrahiim. Judulnya, “Pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan jiwa dalam meningkatkan kualitas bonus demografi di Indonesia”.

Dalam presentasinya, Rofi menekankan tentang pentingnya pendidikan jiwa (spiritual) dalam meningkatkan kualitas masyarakat yang sedang berada pada usia produktif dengan menisbatkan pembahasan tersebut pada pemikiran ulama besar Buya Hamka.

“Dengan meningkatkan kualitas jiwa masyarakat, fenomena bonus demografi akan dapat tertangani dengan baik,” tegasnya.

Momen yang paling ikonik adalah ketika ia mampu memberikan jawaban yang begitu filosofis kepada seorang wali santri yang bertanya kepadanya, terkait gagasan pendidikannya. Hadirin yang mendengar jawaban tersebut tampak takjub, tak menyangka kalau narasi semacam itu bisa keluar dari mulut anak SMA.

Makalah lain yang tidak kalah mencuri perhatian para orang tua adalah makalah yang ditulis oleh Fadhillah Khoyrunnisa. Ia mengangkat pembahasan tentang brain rot, fenomena yang sedang ramai sekali dibahas di masa kini. Judul makalahnya, “Solusi Permasalahan Brain Rot di kalangan Pemuda dalam Pandangan Islam”.

Para orang tua sangat antusias bertanya, karena makalah yang Fadhillah paparkan menyinggung tentang konsumsi gadget berlebih yang pada umumnya dilakukan oleh para santri itu sendiri selama liburan pondok.

Pada sesi berfoto bersama, tampak wajah-wajah berseri dengan senyuman hangat dari para santri dan orang tua. Para santri tersenyum lega, karena berhasil memaparkan makalahnya di hadapan orang yang paling mereka cinta. Sementara para orang tua tersenyum bangga karena melihat buah hatinya mampu mempertanggung jawabkan hasil karyanya di hadapan puluhan orang.

Selain keduanya, ada beberapa santri lain yang mempresentasikan makalah ilmiah mereka. Ada yang membahas pemikiran Buya Hamka seputar hubungan orang tua dan anak, pemikiran Mohammad Natsir tentang persatuan, adab pergaulan, komunikasi antara anak dan dan orang tua, sampai konsep Wali Allah dalam akidah Aswaja.

Acara ini adalah presentasi makalah ilmiah keeempat para santri SMA At-Taqwa Depok kelas satu. Presentasi pertama, di hadapan para guru. Kedua, di hadapan para santri. Ketiga, di hadapan para santri dan murid di lembaga pendidikan di luar At-Taqwa. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.

Photos from Artikel Santri At-Taqwa 's post 13/04/2026

Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok Mengkritik Pemikiran Pengamat Politik yang Membenarkan Semua Agama

Oleh: Muhammad Izzat Muflih Setiawan
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)

Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok Afkarmalik Mevlana Hasan (16 Tahun), pada Senin (6/4/26), mempresentasikan makalah ilmiahnya di hadapan para siswa SMA Dewan Dakwah, Bekasi. Makalahnya berjudul “Menimbang Ulang Pemikiran “Agama Kultural” Denny JA”.

Afkar mengkritik pemikiran pengamat politik Indonesia Denny JA yang menyimpulkan bahwa pada hakikatnya, semua agama adalah sama benarnya. Ia merujuk langsung buku-buku Denny JA seperti 10 Prinsip Spiritual Yang Universal (2025), Sosiologi Agama di Era Artificial Intelligence: 7 Prinsip (2025), Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi: Data, Teori, dan Solusi (2014), Satu Bumi, Satu Manusia, Satu Spiritualitas, 2025; juga buku yang memuat pernyataannya Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Bersama

Afkar berhasil membongkar akar pemikiran Denny JA yang membuatnya menyimpulkan hal demikian. Ia menjelaskan bahwa, kesalahan fatal Denny JA sejak awal adalah meng-kulturkan semua agama, menganggap semua agama sebagai bagian dari kebudayaan, hasil cipta manusia.

“Denny JA berpendapat bahwa agama adalah warisan kultural milik bersama… Pandangan agama sebagai warisan kultural akan mendukung terciptanya dunia yang lebih harmonis. Kebudayaan manusia saling memberi dan menerima,” jelas Afkar.

Dalam pandangan Denny JA, kata Afkar, manusia modern perlu meninggalkan keberagamaan secara konvensional (berpegang kepada satu agama tertentu), beralih fokus kepada pencarian makna dan koneksi spiritual. Agama tidak menghilang, tapi hanya beralih fokus pada ajaran-ajaran yang dirasa relevan dengan perkembangan zaman.

“Agama, yang dulu merupakan batasan identitas yang tegas, kini menjadi warisan kultural yang bisa dinikmati siapa saja. Ia bukan lagi pagar yang memisahkan, tetapi jendela yang terbuka bagi siapa pun yang ingin mengintip ke dalamnya,” jelas Afkar.

Ketika ia merumuskan konsep ketuhanan, lanjut Afkar, maknanya pun menjadi kabur dan tidak lagi eksklusif, menjadi sebatas “perasaan”:

“Di balik semua nama; Allah, Brahman, Tian, Logos—hanya ada satu sumber. Bukan untuk disepakati, tapi untuk dirasakan. Ia bukan konsep. Ia adalah getaran batin ketika kita benar-benar diam.”

Afkar menerangkan, pada akhirnya, pandangan agama kultural Jenny JA menuntun kepada kesimp**an yang dibawa paham Pluralisme Agama, bahwa “semua agama, meski berbeda dalam bentuk, ritus, dan simbol, mengalir pada satu hakikat (Tuhan) yang sama.”

Afkar memahami bahwa pandangan agama kultural Denny JA merupakan perkembangan dari teori Wilfred Cantwell Smith, yang mengatakan bahwa, “kebenaran, termasuk pemikiran teologi suatu agama adalah produk sejarah, agama adalah tumpukan tradisi atau cumulative traditions yang senantiasa berkembang dan berubah.”

Afkar menegaskan, pandangan itu jelas bertentangan dengan pandangan alam Islam (Worldview of Islam). Pokok masalahnya adalah “ketika semua agama dianggap sebagai produk budaya.” Padahal Islam tidak demikian.

Mengutip pandangan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Afkar mengatakan, dalam pandangan alam Islam, agama Islam bersumber dari wahyu bukan budaya. Mulai dari nama dan ajaran agama Islam sampai konsep Tuhannya, berasal dari wahyu.

“Ia tidak tunduk pada budaya, tapi juga tidak anti pada budaya, selama tidak bertentangan dengan wahyu,” tegasnya.

Dalam istilah Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, ajaran Islam bersifat “Dynamic Stabilism”. Ada ajaran yang tetap dan ada yang berubah. Dengan sifat yang demikian, ujar Afkar, Islam bisa tetap mempertahankan asas-asas yang sudah final tanpa perlu tertutup dengan perkembangan zaman.

“Jadi, tidak semua harus mengikuti perkembangan zaman dan budaya. Adanya hal-hal yang tetap dalam ajaran Islam justru sejalan dengan fitrah manusia,” jelasnya mengutip buku 10 Kuliah Agama Islam (2016) karya Dr. Adian Husaini.

Afkar kemudian juga mengupas kesalahan paham Pluralisme Agama, khususnya ajaran Hikmah Abadi, beserta kritiknya dalam pandangan alam Islam. Ia merujuk langsung salah satu buku primer soal ini, berjudul Tren Pluralisme Agama (2005) karya Dr. Anis Malik Thoha.

“Bagi seorang muslim, solusi keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat bukanlah Pluralisme, melainkan Tauhid,” ucapnya mengutip buku Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab (2015) karya Dr. Adian Husaini.

Bagaimana agar kita memutus rantai pemikiran ini” tanya seorang siswa SMA Dewan Dakwah.

Caranya, jawab Afkar, adalah dengan mengubah cara pandang menjadi Islami. “Jika setiap Muslim memahami Worldview of Islam, ia bisa menjadi ‘eksekutor’ dalam pemberantasan pemikiran keliru,” ucapnya.

Selain Afkar, ada dua santri lain yang juga presentasi. Ada Muhammad Rofi Abdurrohim (17 Tahun) dengan judul makalah “Pendidikan Jiwa Dalam Tafsir Asy-Syams Buya Hamka: Meningkatkan Kualitas Bonus Demografi Indonesia” dan Jafar Abdurrahman Sani (16 Tahun) yang menulis makalah berjudul “Dampak Perang Salib Terhadap Perkembangan Budaya dan Intelektual Barat”

Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.

Editor: Fatih Madini

Photos from Artikel Santri At-Taqwa 's post 08/04/2026

Di Hadapan Ratusan Santri Tahfiz, Santri-Santri SMA At-Taqwa Depok Bahas Ahmadiyah, Islamofobia sampai Konsep Wali Allah

Oleh: Aflaha Man Tazakka (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 tahun)

Tiga santri kelas 1 SMA Pesantren At-Taqwa Depok, pada Senin (6/4/26) presentasi makalah di Pesantren Tahfiz Al-Qur’an Imam Asy-Syafi’i, Bogor. Di antara mereka ada:

- Fatih Daanish (15 Tahun) dengan bertema “Pandangan Ihsan Ilahi Zhahir terhadap Konsep Kenabian dan Wahyu Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah”.
- Hisyam Rajabi (15 tahun) dengan makalah “Kritik Imam Syamsi Ali Terhadap Islamofobia di Amerika: Studi Kasus 9/11 Di Amerika Serikat”;
- Abdurrahman Hanif (16 tahun) yang menulis makalah berjudul “Wali Allah Menurut Perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah: Studi Keteladanan Syekh Abdul Qadir al-Jilani”;

Dalam presentasinya, Fatih menjelaskan berbagai kesesatan bahkan penghinaan Ahmadiyah terhadap agama Islam dengan merujuk kepada seorang tokoh besar Islam asal Pakistan, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir.

Lewat dua buku Dr. Ihsan, Melacak Ideologi Ahmadiyah dan Mengapa Ahmadiyah Dilarang, Fatih memaparkan bahwa ada 3 kesesatan Ahmadiyah, secara spesifik Ahmadiyah Al-Qadiyaniyah:

1) Merumuskan konsep Tuhan dengan banyak sifat kemanusiaan;
2) Mengakui kenabian setelah Nabi Muhammad sehingga berujung pada kesesatan lainnya, yaitu penurunan wahyu oleh Malaikat Jibril.
3) Meyakini kota Qadian (India) sebagai kota suci, setara dengan Makkah dan Madinah

Permasalahan yang dibawa oleh Ahmadiyah, kata Fatih, “bukan sekedar khilafiyah madzhab fiqih atau-pun akidah, tapi sebenarnya telah mencapai dasar akidah yang bersifat ushul.” Jadi masalah ini harus dipahami oleh generasi muda Muslim supaya terjaga imannya di zaman penuh kebohongan ini.

Hisyam Rajabi menyajikan pembahasan yang masih begitu relevan dengan zaman sekarang, yakni Islamofobia di tengah masyarakat Barat. Ia mengangkat isu fenomena Islamofobia di Amerika Serikat (AS) terutama pasca peristiwa 11 September 2001 (9/11), serta solusi yang ditawarkan oleh tokoh besar Islam AS, Imam Shamsi Ali.

Barat, kata Hisyam, memposisikan Islam sebagai musuh yang harus ditakuti karena dua motif: agama dan peradaban. Puncaknya adalah tragedi 9/11, di mana umat Islam dituduh sebagai dalang terorisme atas hancurnya dua gedung World Trade Centre (WTC), sehingga umat Islam di AS ditakuti dan mendapat banyak persekusi.

Di tengah maraknya Islamofobia di AS, muncul seorang pendakwah ulung, alumni Pesantren Darul Arqam Gombara, Shamsi Ali. Sampai hari ini, ia terus berupaya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang begitu cinta akan perdamaian, toleransi, dan kasih sayang. Tapi karena permainan media dan ketidaktahuan, akhirnya non-Muslim Barat mencitrakan Islam sebaliknya.

Imam Shamsi Ali berdakwah di AS sejak tahun 1997 dan beberapa diakui sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia. Ia menyimpulkan bahwa di antara strategi untuk menyudahi Islamamofobia di dunia Barat adalah

- Manampilkan wajah Islam yang wasathiyah, tidak ekstrem melalui keteladanan
- Mengedepankan akhlak mulia ketimbang hanya kuat idealisme
- Membangun komunikasi yang baik dengan non-Muslim karena banyak dari mereka yang benci karena tidak tahu, bukan murni karena benci.

Abdurrahman Hanif mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman anak muda Muslim hari ini tentang Wali Allah. Karena banyaknya konten media sosial yang nyeleneh, Wali Allah diragukan keberadaannya karena dianggap mempunyai kesaktian-kesaktian di luar nalar manusia.

Maka lewat makalahnya, Hanif menjelaskan konsep wali Allah sesungguhnya menurut akidah Ahlussunnah wal Jamaah, serta mencontohkannya melalui sosok Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Ia menjelaskan bahwa kriteria utama wali Allah adalah Beriman, Bertakwa, Berpegang pada syariat dan konsisten menjalaninya.

Jadi, Wali Allah bertumpu pada ketaqwaan yang melampaui manusia biasa, bukan sekadar karomah atau fenomena luar biasa yang dialaminya. Di sinilah Syekh Abdul Qadir al-Jilani layak menjadi teladan. Karena begitu tingginya iman, akhlak mulia dan ketaatannya kepada Allah, ia sampai diakui sebagai sulthanul auliya’ (pemimpin para wali)

Syekh Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata dalam Al-Fath al-Rabbani bahwa, “Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan tertipu, hingga engkau lihat bagaimana ia menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” tegas Hanif

Ini adalah presentasi mereka tahap ketiga. Tahap pertama, di depan para guru pada Januari. Tahap kedua, di depan para santri, Maret lalu. Kali ini, giliran angkatan ke-8 yang melakukannya. Artinya, sudah delapan tahun At-Taqwa konsisten menerapkan kebijakan ini.

Selain tiga santri di atas, masih banyak lagi santri 1 SMA At-Taqwa yang akan presentasi makalah di sekolah dan pesantren di luar At-taqwa. Semoga makalah mereka bisa memberi manfaat luar bagi para generasi muda Muslim.

05/03/2026

KEBIASAAN ATAU IKUT-IKUTAN?

Oleh: Darian Al-Fatih Alamsya Pohan (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 tahun)

Pada bulan suci Ramadhan ini, Allah melipat gandakan pahala sebuah amalan menjadi lebih besar. Jika amal-amal baik yang kita lakukan pada bulan puasa hanya bernilai satu pahala, maka pada bulan Ramadhan ini bisa bernilai dua atau tiga.

Selain itu, ada saat di mana amal shalih yang kita lakukan bisa setara dengan mengerjakan amalan tersebut selama 1000 bulan penuh. Waktu tersebut adalah malam lailatul qadr. Malam tersebut terletak pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Maka tak heran jika banyak sekali orang yang ‘gila-gilaan’ melakukan ibadah pada sepuluh malam terakhir ini demi bisa ‘mendapatkan’ lailatul qadr. Tapi secara umum, tak sedikit p**a orang yang melakukan ibadah pada bulan Ramadhan lebih banyak, lebih giat, dan lebih sering dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Tapi ada satu fenomena yang menarik yang sekiranya jarang tersorot dan disadari. Begitu Ramadhan datang, kita jadi “gila ibadah”. Sedekah, “gas”. Tarawih, full team. target khatam Al-Qur’an lebih dari satu kali. Tapi begitu bulan Syawwal tiba, pelan-pelan masjid kembali sepi. Al-Qur’an mulai berdebu lagi. Bahkan alarm sholat Subuh kalah sama dengan snooze.

Pertanyaannya: ini karena FOMO (fear of miss of), takut ketinggalan pahala, atau jangan-jangan Ramadhan cuma jadi formalitas tahunan? Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. 1: 183).

Dalam ayat tersebut jelas tertera dari tujuan Ramadhan itu sendiri, yakni untuk menjadikan kita orang yang bertakwa. Bukan cuma jadi “rajin musiman”. Jika setelah Ramadhan kita Kembali pada mode default, berarti ada yang perlu dievaluasi. Karena Ramadhan itu bukan tujuan akhir. Dia itu training camp, ibarat “gym rohani”. Masa iya habis sebulan latihan, otot keimanan langsung kempes lagi?

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” Dalam hadits tersebut jelas dikatakan, yang dicintai itu amalan istiqamah, bukan yang meledak-ledak tapi cuma 30 hari.

Sekarang soal FOMO. Jujur, pasti kebanyakan dari kita melihat orang tarawih, kita ikut. Lihat orang sedekah, kita semangat. Tapi sebenarnya itu tidak selalu buruk. Kadang hidayah memang datang dari suasana. Dari lingkungan. Dari momentum.

Masalahnya terletak pada bulan Ramadhan itu. Masalahnya adalah jika setelah Ramadhan kita merasa, “Ya udah, event-nya selesai.” Padahal Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan, itu juga Allah yang sama di bulan Syawal, Dzulhijjah, sampai seterusnya. Jadi jangan sampai kita menjadi orang yang beramal “muslim musiman”.

Kita bisa mulai dengan amalan kecil tapi konsisten. Karena yang membuat kita mulia bukan seberapa heboh, seberapa brutal, dan seberapa gacor-nya ibadah kita di satu bulan, tapi seberapa tahan kita menjaga iman setelah spotlight Ramadhan itu pergi.

Semoga Ramadhan bukan hanya membuat kita rajin sementara, tapi benar-benar mengubah kita jadi versi yang lebih taat, upgrade permanen, bukan hanya trial atau ‘percobaan gratis akun premium’ selama 30 hari.

26/02/2026

Mengenal Ustadz Halim Ambiya, Dai Bijak Kesayangan Anak Jalanan

Oleh: Shofiya Syakira
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 17 Tahun)

Kedatangan dai ulung Ustadz Halim Ambiya pagi tadi (22/02/2026), disambut dengan begitu meriah oleh para santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok. Ia adalah pendiri komunitas “Tasawuf Underground”. Ia dikenal sebagai pendakwah kesayangan anak-anak jalanan bahkan komunitas punk.

Awalnya, Ustadz Halim adalah seorang aktivis dakwah di media sosial sejak 2012. Hingga pada suatu hari ia melihat kenyataan bahwa ternyata ranah dakwah tidak pernah sampai kepada masyarakat awam yang memang betul membutuhkan.

Masyarakat yang ia soroti, adalah para anak jalanan terutama anak punk, mereka yang umumnya bergaya urakan ala rock dan bertato. Maka tak heran, hal tersebut membawa sugesti buruk di benak masyarakat sekitar.

Ustadz Halim bilang, tak salah memang pada realitanya, sebagian komunitas anak punk ini acap kali melakukan pelanggaran sosial seperti narkoba, tawuran, mabuk-mabukan, seks bebas, melakukan aksi vandalisme dan lainnya.

Namun, lanjutnya, menjadi suatu hal yang ironis ketika sebagian dari mereka dicurigai dan dilarang memasuki masjid hanya karena tampilannya, meski itu ke toiletnya. Akhirnya, stigma yang dihasilkan di masyarakat adalah bahwa “masjid hanya untuk orang suci.”

Bagi Ustadz Halim, ini adalah kesalahan fatal. Sebab masjid adalah tempat bagi mereka yang ingin bersuci, apa pun bentuknya, bagaimana pun perawakan orangnya.

Hal inilah yang kemudian menyadarkan Ustadz Halim, bahwa dakwah justru harus dimulai dan sampai manfaatnya kepada masyarakat seperti itu. Beliau pun mulai mengobservasi dan melakukan pendekatan kepada masyarakat, terkhusus kepada para anak jalanan dan anak punk.

Langkah pertama yang dilakukannya ialah dengan menjalin hubungan sebagai seorang sahabat yang terbuka dan apa adanya. Sebab bagi Ustadz Halim, anak punk biasanya lahir dari keluarga yang rusak fungsi pengasuhan dan pendidikannya.

Sebabnya macam-macam, bisa karena perceraian, perkelahian, ataupun perselingkuhan orang tua. Mereka pun kehilangan figur untuk p**ang dan berteduh, sehingga kerap membuat mereka terbiasa memendam luka emosi sendirian.

Pendekatan awal, kata Ustadz Halim, tidak perlu ada nasihat. Cukup dengarkan cerita mereka, ajak mengobrol ringan, bahkan bila perlu ajak makan bersama. Begitulah upaya pendekatan yang sangat efektif dan telah dibuktikan langsung oleh Ustadz Halim dan komunitasnya.

Langkah kedua, memposisikan diri sebagai seorang ayah. Sebagaimana seorang ayah yang umumnya akan membela apa pun yang dilakukan oleh anaknya, Ustadz Halim dan komunitasnya pun kerap membela mereka yang tertangkap oleh polisi maupun Satpol PP, meskipun beliau juga tetap menghormati kedaulatan hukum pidana.

Tak cukup sampai di situ, pada langkah selanjutnya, Ustadz memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang mendampingi. Salah satunya dengan mulai mengajaknya untuk meninggalkan kebiasaan buruk.

Anak-anak jalanan itu mula-mula diajak mandi, diberikan makan guna memutus efek “fly” akibat narkoba yang dapat menghantuinya hingga berhari-hari. Mereka juga diajak untuk tinggal di tempat yang lebih baik dan sehat pergaulannya.

Oleh sebab inilah beliau kemudian mendirikan sebuah pondok berbasis tasawuf dengan nama “Tasawuf Underground”. Setelah dapat mensterilkan mereka dari lingkungan yang dulu, Ustadz Halim kemudian memberikan mereka pekerjaan yang lebih baik, tentu sembari sedikit demi sedikit mengajarkan mereka shalat dan dzikir.

Satu hal yang penting bagi beliau dalam proses bimbingan ini ialah aktualisasi refleksi ayat dalam kehidupan mereka. Sebab bagi Ustadz Halim, penanaman nilai Islam kepada kalangan seperti mereka haruslah rasional.

Sebab untuk mereka, alasan “mengapa” dan “untuk apa”, lebih logis ditanyakan dari sekadar “bagaimana”. Contohnya, ketika salah seorang murid beliau yang menanyakan alasan sujud dilakukan sebanyak dua kali, padahal hanya dalam satu rakaat.

Dari pertanyaan semacam itu, beliau merasa tepat untuk menggunakan ilmu tasawuf sebagai jawaban. Ustadz Halim menyisipkan makna batin dari syariat yang dilakukan. Sujud dua kali, katanya, mengisyaratkan makna dari tanah lalu kembali ke tanah. Maka bagi beliau, konsep Pendidikan Hudurul Qalbu (menghadirkan hati) lebih utama dari sekedar melakukan dakwah tekstual.

Semoga upaya dakwah Ustadz Halim, keilmuan dan kebijaksanaannya, bisa diteladani, secara khusus oleh para dai di Indonesia, secara umum oleh umat Islam di Indonesia.

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address

Pesantren At-Taqwa Depok
Depok
16413