31/03/2026
Pendidikan agama Hindu di Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai spiritual, kebudayaan, serta identitas sosial umat Hindu di tengah dinamika pembangunan nasional dan global. Namun, hasil riset terapan SAGARA WIDYA menunjukkan bahwa hingga saat ini pengelolaan institusi pendidikan agama Hindu masih menghadapi tantangan struktural yang bersifat multidimensi, meliputi keterbatasan aksesibilitas geografis, lemahnya integrasi data kelembagaan, serta belum optimalnya perhatian terhadap isu kesetaraan gender dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan pendidikan .
Permasalahan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan diperkuat oleh kondisi geografis Indonesia yang beragam, karakteristik sebaran umat Hindu yang tidak merata, serta kuatnya pengaruh budaya patriarki di beberapa wilayah. Dalam konteks ini, ketiadaan sistem informasi terintegrasi berbasis spasial menyebabkan pengambilan keputusan pendidikan agama Hindu cenderung bersifat parsial, reaktif, dan kurang berbasis bukti empiris. Akibatnya, intervensi kebijakan sering kali tidak tepat sasaran, khususnya dalam menjangkau wilayah terpencil dan kelompok sosial yang rentan, termasuk perempuan dan anak perempuan.
Riset terapan SAGARA WIDYA dikembangkan sebagai respons ilmiah terhadap kondisi tersebut dengan memanfaatkan Geographic Information Systems (GIS) sebagai fondasi sistemik untuk membangun tata kelola pendidikan agama Hindu yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Pengembangan model ini tidak hanya bertujuan menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga merumuskan kerangka konseptual baru dalam pengelolaan pendidikan agama Hindu berbasis data spasial dan keadilan sosial.