Sanur Archive

Sanur Archive Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sanur Archive, Educational Research Center, Denpasar.

Melayangan di Padang Galak, tahun 2000.Sebuah layangan bebean berukuran besar terlihat sedang berusaha diterbangkan di P...
13/09/2026

Melayangan di Padang Galak, tahun 2000.

Sebuah layangan bebean berukuran besar terlihat sedang berusaha diterbangkan di Pantai Padang Galak. Di sekelilingnya, masyarakat turut membantu, menarik, menahan, dan menunggu hingga layangan mendapatkan angin yang tepat untuk mengudara. Antusiasme itu menjadi bagian dari pemandangan melayangan yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Bali.

Melayangan bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Di dalamnya terdapat tradisi, kebersamaan, keterampilan, serta pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, melayangan masih menjadi salah satu tradisi yang hidup dan terus dilaksanakan, terutama ketika musim melayangan tiba.

Foto ini merekam salah satu momen melayangan di Pantai Padang Galak pada tahun 2000, ketika sebuah bebean besar dan orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi bagian dari cerita kecil tentang bagaimana sebuah tradisi terus hidup.

Pictures Archive from Rupert Tenison

Suasana belajar di Sekolah Dasar Sanur, sekitar tahun 1970.Di ruang kelas sederhana ini, anak-anak Sanur belajar membaca...
05/09/2026

Suasana belajar di Sekolah Dasar Sanur, sekitar tahun 1970.

Di ruang kelas sederhana ini, anak-anak Sanur belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia yang lebih luas. Mungkin fasilitasnya tidak seperti sekolah masa kini, namun semangat untuk belajar dan meraih masa depan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kelas. Pendidikan adalah fondasi yang membentuk cara berpikir, membuka kesempatan, dan mempersiapkan generasi untuk menghadapi masa depan.
Foto ini mengingatkan kita bahwa setiap generasi memiliki kesempatan untuk tumbuh karena adanya pendidikan. Apa yang ditanamkan kepada anak-anak Sanur pada masa itu, menjadi bagian dari perjalanan masyarakat hingga hari ini.

Picture Archives by Dwi Arini Anak Agung

Baris Cina Semawang, Sanur 2005Bagi masyarakat Banjar Semawang, Baris Cina bukan sekadar sebuah tarian. Ia merupakan bag...
30/08/2026

Baris Cina Semawang, Sanur 2005

Bagi masyarakat Banjar Semawang, Baris Cina bukan sekadar sebuah tarian. Ia merupakan bagian dari kehidupan ritual dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pusat pemujaannya berada di Pura Kesumajati, yang dikenal sebagai linggih Ida Ratu Tuan. Pementasannya berkaitan dengan piodalan dan berbagai ritual keagamaan masyarakat setempat.

Gerakannya memiliki karakter yang berbeda dari kebanyakan tari Baris di Bali. Para penari memperagakan gerakan yang menyerupai pencak silat, membawa pedang, dan mengenakan pakaian sederhana berupa celana panjang, baju berlengan panjang, serta topi bundar yang mengingatkan pada busana saudagar Tionghoa pada masa lalu. Dalam beberapa pementasan, terdapat Baris Putih dan Baris Selem, yang menjadi bagian dari formasi pasukan.

Iringannya pun memiliki karakter khas, yaitu Gong Bheri, gong datar tanpa pencu, bersama perangkat musik lainnya. Istilah bheri sendiri telah disebut dalam Prasasti Blanjong yang bertarikh 913 Masehi.

Semawang, sebagai kawasan pesisir, juga menyimpan jejak hubungan dengan aktivitas perdagangan masa lalu. Temuan keramik, uang kepeng, dan berbagai benda lainnya menjadi bagian dari cerita panjang kawasan ini sebagai ruang pertemuan manusia dan kebudayaan.

Namun, asal-usul Baris Cina Semawang terutama hidup melalui cerita lisan. Masyarakat mengaitkannya dengan Ida Ratu Tuan, yang dipercaya pernah tedun atau hadir melalui keadaan kerauhan, dengan ucapan yang terdengar seperti logat Cina. Dari kisah inilah nama Baris Cina kemudian diwariskan.

Terdapat p**a cerita masyarakat yang menghubungkannya dengan para pendekar atau saudagar Cina yang dahulu datang melalui pesisir Semawang, membawa barang dagangan seperti uang kepeng dan keramik. Kisah tersebut merupakan bagian dari ingatan lisan masyarakat sebuah cerita yang mempertemukan sejarah perdagangan, perjumpaan budaya, dan kepercayaan lokal dalam satu tradisi.

Pictures Archives by Leunard Leuras

Pemuda Br. Gulingan STT Saraswati, Sanur, 1966Sebuah potret para pemuda Br. Gulingan, Sanur, yang tergabung dalam STT Sa...
22/08/2026

Pemuda Br. Gulingan STT Saraswati, Sanur, 1966

Sebuah potret para pemuda Br. Gulingan, Sanur, yang tergabung dalam STT Saraswati, diabadikan pada 18 Juni 1966. Foto ini memperlihatkan sekelompok pemuda mengenakan busana adat Bali, berpose bersama di depan bangunan tradisional dengan ornamen khas Bali.
Di bagian depan tampak sebuah papan bertuliskan “Saraswati Tg. 18-6-1966
Lebih dari sekadar foto kelompok, dokumentasi ini menjadi jejak visual keberadaan STT Saraswati dan para pemuda Br. Gulingan dalam kehidupan sosial masyarakat Sanur pada masa itu. Busana, arsitektur, papan nama organisasi, hingga ekspresi para pemuda yang terekam dalam foto menjadi bagian dari cerita sebuah generasi yang hidup di tengah perubahan sosial Indonesia pada tahun 1960-an.
Kini, enam dekade kemudian, foto ini menjadi salah satu fragmen penting dalam mengingat kehidupan pemuda Gulingan dan perjalanan komunitas Sanur.

Pictures Archive by I Made Gede Sumantara

Ni Ketut Reneng Mengajar Tari di Hotel Tandjung Sari, Sekitar 1980-anDalam suasana latihan di Hotel Tandjung Sari, Sanur...
01/08/2026

Ni Ketut Reneng Mengajar Tari di Hotel Tandjung Sari, Sekitar 1980-an
Dalam suasana latihan di Hotel Tandjung Sari, Sanur, maestro tari Bali Ni Ketut Reneng terlihat membimbing para penari muda dalam mempelajari gerak, ekspresi, dan karakter tari Bali. Dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam tradisi pelegongan, Reneng tidak hanya dikenang melalui kepiawaiannya sebagai penari, tetapi juga melalui pengabdiannya sebagai guru yang mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Foto ini bukan hanya merekam kegiatan belajar tari, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ruang pariwisata di Sanur pernah menjadi tempat berlangsungnya pewarisan budaya—ketika pengetahuan, disiplin, dan rasa dalam tarian diturunkan secara langsung dari seorang maestro kepada generasi penerus.
Warisan tersebut masih dijaga hingga saat ini. Hotel Tandjung Sari terus menyelenggarakan Legong Night, sebuah malam budaya yang menampilkan tari klasik Bali sebagai bagian dari komitmen panjangnya dalam mendukung pendidikan dan pelestarian seni. Melalui Yayasan Tandjung Sari, pelajaran tari Bali juga diberikan kepada anak-anak setempat, yang kemudian memperoleh ruang untuk menampilkan hasil pembelajaran mereka di hadapan masyarakat dan para pengunjung.

26/07/2026

Pantai Sanur, 1995.

Sebuah cuplikan suasana Sanur 31 tahun silam, ketika kehidupan di sekitar pantai berjalan dalam ritme yang lebih sederhana dan menyatu dengan keseharian masyarakat. Laut, deretan jukung, nelayan, serta berbagai aktivitas di pesisir menjadi pemandangan yang begitu dekat dengan kehidupan warga Sanur pada masa itu.
Pada tahun 1990-an, pariwisata memang telah menjadi bagian dari Sanur, tetapi perkembangannya belum sepadat dan secepat saat ini. Kehidupan masyarakat pesisir, aktivitas melaut, ruang-ruang terbuka, serta hubungan antara warga dan pantai masih terlihat lebih kuat dalam keseharian. Wisatawan datang untuk menikmati ketenangan, alam, budaya, dan suasana Sanur yang tumbuh berdampingan dengan kehidupan masyarakat lokal.
Hari ini, perkembangan pariwisata telah membawa banyak perubahan. Hotel, restoran, kawasan komersial, transportasi, dan berbagai fasilitas wisata terus berkembang. Perubahan tersebut membuka peluang ekonomi dan lapangan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan terhadap lingkungan, ruang hidup masyarakat, identitas kawasan, serta keberlanjutan tradisi lokal.
Ke depan, pariwisata tentu akan terus memengaruhi kehidupan masyarakat Sanur. Dampaknya akan sangat bergantung pada bagaimana pembangunan direncanakan dan dikelola. Apabila masyarakat lokal tetap dilibatkan, lingkungan pesisir dilindungi, serta budaya dan sejarah Sanur ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan, pariwisata dapat memberikan manfaat yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sebuah kenangan dari Pantai Sanur yang tidak hanya mengajak kita melihat masa lalu, tetapi juga mempertanyakan seperti apa Sanur yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Arthur Fleischmann dan Jejak Sanur pada Akhir 1930-anArthur Fleischmann tinggal dan berkarya di Bali antara 1937–1939. S...
19/07/2026

Arthur Fleischmann dan Jejak Sanur pada Akhir 1930-an

Arthur Fleischmann tinggal dan berkarya di Bali antara 1937–1939. Selain membuat patung terakota, ia juga mendokumentasikan kehidupan masyarakat Bali melalui lebih dari 1.800 foto menggunakan kamera Dolina 35 mm.

Dalam salah satu dokumentasinya, Ni Pollok terlihat berjalan di pesisir Sanur. Foto tersebut tidak hanya menampilkan dirinya sebagai model dan istri pelukis Adrien-Jean Le Mayeur, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan Sanur yang masih sederhana, alami, dan dekat dengan tradisi.

Melalui kepekaan seorang pematung, Fleischmann merekam gerak, ekspresi, cahaya, dan suasana dengan sangat kuat. Kini, foto-fotonya menjadi arsip visual berharga yang membawa kita kembali melihat wajah Sanur sebelum berkembangnya pariwisata modern.

Pictures Archive from Bali 1930 by Arthur Fleischman

27/06/2026

Pantai Sanur dan Suasana Penyeberangan Menuju Pura Sakenan pada Tahun 1970-an

Pada tahun 1970-an, pesisir Sanur masih menjadi jalur utama penyeberangan menuju Pura Sakenan di Pulau Serangan, yang saat itu masih terpisah dari daratan Bali. Sebelum adanya reklamasi dan akses jalan, masyarakat hanya dapat mencapai pura menggunakan jukung saat air laut pasang atau berjalan melintasi hamparan pasir ketika air surut.

Setiap piodalan yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, ribuan pemedek berkumpul di Pantai Sanur untuk menyeberang. Belum adanya dermaga membuat mereka harus berjalan ke tengah laut sebelum menaiki jukung sederhana milik nelayan. Pakaian adat yang dikenakan kerap basah oleh air laut, namun hal tersebut diterima sebagai bagian dari perjalanan suci menuju pura.

Tradisi ini berubah setelah reklamasi Pulau Serangan pada pertengahan 1990-an dan dibangunnya akses jalan darat. Meski penyeberangan dengan jukung tidak lagi menjadi jalur utama, kenangan akan perjalanan spiritual melintasi laut tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Sanur.

Video archive from Dance of the Warriors Ring of Fire An Indonesian Odyssey

Terima kasih info nya
Thank you support nya

27/06/2026

Pantai Sanur dan Suasana Penyeberangan Menuju Pura Sakenan pada Tahun 1970-an

Pada tahun 1970-an, pesisir Sanur masih menjadi jalur utama penyeberangan menuju Pura Sakenan di Pulau Serangan, yang saat itu masih terpisah dari daratan Bali. Sebelum adanya reklamasi dan akses jalan, masyarakat hanya dapat mencapai pura menggunakan jukung saat air laut pasang atau berjalan melintasi hamparan pasir ketika air surut.

Setiap piodalan yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, ribuan pemedek berkumpul di Pantai Sanur untuk menyeberang. Belum adanya dermaga membuat mereka harus berjalan ke tengah laut sebelum menaiki jukung sederhana milik nelayan. Pakaian adat yang dikenakan kerap basah oleh air laut, namun hal tersebut diterima sebagai bagian dari perjalanan suci menuju pura.

Tradisi ini berubah setelah reklamasi Pulau Serangan pada pertengahan 1990-an dan dibangunnya akses jalan darat. Meski penyeberangan dengan jukung tidak lagi menjadi jalur utama, kenangan akan perjalanan spiritual melintasi laut tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Sanur.

Video Archives from Dance of the Warriors Ring of Fire An Indonesian Odyssey

Terima kasih atas infonya
Support file download from

Mengenang Sanur Tahun 1976: Ketika Laut, Kelapa, dan Nelayan Menjadi Wajah Asli Pesisir BaliSanur tahun 1976 adalah sebu...
14/06/2026

Mengenang Sanur Tahun 1976: Ketika Laut, Kelapa, dan Nelayan Menjadi Wajah Asli Pesisir Bali

Sanur tahun 1976 adalah sebuah bentang pesisir yang sangat berbeda dengan yang kita lihat hari ini. Deretan pohon kelapa tumbuh rapat mengikuti garis pantai, menciptakan siluet khas yang menjadi ikon lanskap tropis Bali. Di sepanjang pesisir, jukung-jukung nelayan berlabuh di atas hamparan pasir, sementara aktivitas masyarakat berlangsung dalam ritme yang mengikuti pasang surut laut dan pergantian musim.

Pada masa itu, kehidupan masyarakat Sanur masih sangat erat dengan laut. Pariwisata memang telah mulai berkembang dengan hadirnya hotel-hotel pionir seperti Tandjung Sari, Bali Hyatt, La Taverna Bali Hotel, dan Bali Beach Hotel. Namun demikian, denyut kehidupan desa nelayan tetap menjadi identitas utama kawasan ini. Kehadiran wisatawan tidak menggeser kehidupan lokal, melainkan berjalan berdampingan dengannya.

Arsitektur tradisional Bali, aktivitas melaut, serta hubungan masyarakat dengan alam menjadi daya tarik yang dicari oleh wisatawan mancanegara pada masa awal perkembangan pariwisata Bali. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pantai, tetapi juga untuk merasakan suasana desa pesisir yang autentik, tenang, dan sarat dengan nilai budaya.

Bagi masyarakat Sanur pada era tersebut, pantai bukan sekadar ruang rekreasi. Pantai adalah ruang spiritual tempat berbagai upacara keagamaan dilaksanakan, ruang ekonomi yang menopang kehidupan keluarga nelayan, sekaligus ruang sosial tempat warga berkumpul dan berinteraksi. Laut menjadi sumber kehidupan, sementara pohon kelapa yang berjajar di sepanjang pesisir berfungsi sebagai peneduh alami sekaligus simbol keharmonisan antara manusia dan alam.

Address

Denpasar
80228

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sanur Archive posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share