Sanur Archive

Sanur Archive

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sanur Archive, Educational Research Center, Denpasar.

Photos from Sanur Archive's post 19/04/2026

Upacara Pelebon Br. Taman Sari 1983

Upacara pelebon merupakan ritual pembakaran jenazah tingkat utama dalam tradisi Hindu Bali yang biasanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan, raja, atau tokoh adat maupun religi yang terpandang. Berbeda dengan Ngaben pada umumnya, pelebon dilaksanakan secara lebih megah dengan penggunaan bade (menara) bertingkat dan lembu, serta melibatkan partisipasi masyarakat sekitar.

Karena kemegahan upacara ini, tentunya terdapat berbagai persiapan yang dilakukan sebelum hari pelaksanaan. Seperti yang terlihat pada foto di atas, merupakan potret persiapan upacara pelebon di Banjar Taman Sari, Sanur pada tahun 1983. Terlihat jelas keterlibatan masyarakat dan keluarga yang bersangkutan dalam proses persiapan upacara tersebut.

Pictures Archived by Jacques Chirac

Photos from Sanur Archive's post 12/04/2026

Meprelina Puspa pada tahun 1963 di Sanur merupakan bagian dari rangkaian upacara memukur, ialah tahap lanjutan setelah kremasi (ngaben) yang bertujuan menyempurnakan roh leluhur agar mencapai alam yang lebih tinggi.
Dalam foto ini, masyarakat Sanur menggunakan bahan-bahan alami untuk proses pembakaran yang meliputi kayu, daun kering, dan elemen organik lain yang menyatu dengan lingkungan. Pembakaran menjadi bagian dari ritus sakral, dilakukan dengan makna spiritual serta kesadaran terhadap keseimbangan alam.

Foto ini diambil pada tahun 1963 oleh Jacques Chirac, seorang fotografer asal Prancis.

Photos from Sanur Archive's post 05/04/2026

Purnama kadasa 1994

Upacara Purnama Kedasa di pura kawasan Hotel Tandjung Sari pada tahun 1994 terekam dalam suasana prosesi yang hangat dan penuh kebersamaan, seperti terlihat pada foto ini.

Barisan pemedek berjalan perlahan di jalan setapak berbatu, perempuan mengenakan kebaya warna-warni sambil membawa gebogan buah dan banten yang ditata rapi di atas kepala. Beberapa di antaranya mengangkat kain kuning yang dibentangkan sepanjang rombongan sebagai simbol penghormatan dan kesucian prosesi. Di belakangnya, para laki-laki berpakaian adat putih mengikuti dengan tertib, sebagian membawa tedung upacara yang menambah nuansa sakral.

Menjelang senja, rombongan terdiri dari keluarga pemilik hotel, staf, serta warga sekitar bergerak menuju pelataran pura. Asap d**a perlahan naik, berpadu dengan aroma laut yang khas. Cahaya matahari sore menyentuh tembok bata dan pepohonan, menciptakan suasana tenang yang memperkuat kesakralan momen tersebut.

Momen ini mencerminkan pertemuan antara kehid**an spiritual masyarakat Bali dan suasana intim hotel tradisional. Purnama Kedasa di Tandjung Sari tahun 1994 bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga gambaran harmoni—antara budaya lokal, ruang sakral, dan lingkungan pesisir Sanur yang masih tenang dan otentik.

29/03/2026

“De heer Bresser te midden van bevriende Baliërs te Pabean Sanoer.”
Tuan Bresser di tengah-tengah orang Bali yang bersahabat di Pabean Sanur.

Foto ini memperlihatkan seorang pejabat Belanda bernama Bresser duduk bersama sekelompok masyarakat Bali di Pabean Sanur pada awal abad ke-20. Diambil dalam periode menjelang dan sesaat setelah meningkatnya ketegangan yang berujung pada Dutch intervention in Bali (1906), gambar ini merekam fase awal kontak antara pejabat kolonial dengan masyarakat pesisir di Sanur.
Sebelum peristiwa Puputan Badung terjadi, Belanda terlebih dahulu mengirim ultimatum kepada kerajaan Badung terkait hak intervensi kolonial dan praktik perdagangan laut. Ketegangan meningkat ketika tuntutan tersebut ditolak. Pasukan Belanda kemudian mendarat di wilayah pesisir timur Bali, termasuk kawasan Pabean Sanur, untuk membangun posisi militer sekaligus menjalin hubungan dengan kelompok masyarakat lokal yang dianggap kooperatif. Dalam konteks inilah istilah “bevriende Baliërs” atau “orang Bali yang bersahabat” muncul, sebagai bagian dari strategi kolonial untuk menunjukkan adanya dukungan lokal.
Foto ini memperlihatkan fase transisi yang genting—sebuah momen sebelum konflik terbuka mencapai puncaknya. Beberapa hari setelah pendaratan dan pergerakan pasukan menuju pusat kekuasaan di sekitar Denpasar, keluarga kerajaan Badung bersama pengikutnya melakukan perlawanan total dalam tragedi Puputan Badung. Dokumentasi seperti ini kemudian menjadi bagian dari narasi visual kolonial yang menekankan stabilitas dan “persahabatan,” meskipun latar belakangnya adalah situasi politik yang sangat tegang.

Pictures archive by

22/03/2026

Pantai Sanur 1938

Foto hitam putih ini menangkap suasana Pantai Sanur pada tahun 1938 sebuah masa ketika waktu terasa berjalan lebih lambat, dan kehid**an menyatu dengan alam tanpa hiruk-pikuk modernitas.
Di garis pantai yang landai, dua perempuan berjalan beriringan. Siluet mereka tegas namun lembut, seolah menjadi bagian dari lanskap itu sendiri menyatu dengan laut yang tenang dan langit yang nyaris tanpa batas.
Sanur pada 1938 bukanlah destinasi wisata, melainkan ruang hidup yang otentik. Tidak ada hotel, tidak ada keramaian turis hanya desa pesisir dengan kehid**an yang bergantung pada laut.

Melihatnya hari ini, muncul pertanyaan yang menggantung: akankah ketenangan seperti ini masih bisa ditemukan di Sanur modern, atau hanya tersisa dalam arsip dan ingatan?

Pictures archive by Gotthard Schuh / Fotostiftung Schweiz

15/03/2026

Parade Ogoh-Ogoh Tahun 90-an

Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh setiap satu tahun sekali, biasanya pada bulan Maret dalam kalender Masehi, merupakan perayaan Tahun Baru Caka bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Perayaan ini dijalankan dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yang salah satunya adalah amati lelungan atau tidak bepergian sama sekali. Selama Nyepi, Bali memasuki suasana hening dan refleksi, menjadikannya salah satu tradisi spiritual yang unik.
Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Bali merayakan Hari Pengrupukan, sebuah momen ketika berbagai desa mengadakan pawai Ogoh-Ogoh yang diarak mengelilingi wilayah banjar masing-masing. Parade ini biasanya dimulai pada sore hingga malam hari, dengan iringan gamelan dan semangat kebersamaan masyarakat.
Tradisi mengarak Ogoh-Ogoh pada Hari Pengrupukan mulai berkembang sekitar tahun 1980-an dan sejak saat itu terus tumbuh menjadi bagian penting dari budaya Bali. Hingga kini, pawai Ogoh-Ogoh menjadi simbol kreativitas, gotong royong, sekaligus ekspresi seni para pemuda banjar.
Sanur pun memiliki sejarah perayaan yang tak kalah meriah. Melalui video di atas, kita sejenak kembali ke tahun 1990-an untuk melihat bagaimana rupa Ogoh-Ogoh dari Banjar Blanjong, Banjar Batanpoh, dan Banjar Belong, yang kala itu diarak oleh para pemuda banjar setempat.
Kini, Ogoh-Ogoh tidak hanya diarak saat Hari Pengrupukan, tetapi juga dilombakan dalam berbagai festival di Bali. Salah satu yang akan hadir pada 18 Maret 2026 adalah Mel Festival, yang menampilkan Ogoh-Ogoh dari beberapa banjar di kawasan Mel Sanur.
Berlokasi di Semawang Point, festival ini menjadi kesempatan bagi masyarakat dan pengunjung untuk menyaksikan berbagai karya Ogoh-Ogoh dari banjar-banjar sekitar dalam satu tempat, sekaligus merasakan semangat kebersamaan dan kreativitas budaya yang terus hidup di Sanur.

Video Archive by
I Made Surastha
https://youtube.com/?si=ju7Pmwwwv-4r9dtY

Photos from Sanur Archive's post 08/03/2026

Sanur, 1970

Pantai masih lengang, perahu-perahu nelayan berbaris di pasir, dan angin laut membawa aroma garam yang bercampur dengan kehid**an sederhana masyarakat pesisir. Anak-anak berlari di tepi air, sementara para nelayan menyiapkan jaring mereka sebelum matahari meninggi. Saat itu, Sanur adalah ruang tenang antara laut, budaya, dan waktu yang berjalan perlahan.
Hari ini, banyak yang telah berubah. Hotel, restoran, dan jalan-jalan baru terus bermunculan di sepanjang pantai yang dulu sunyi.
Akankah suasana Sanur yang sederhana dan penuh kenangan ini mampu bertahan di tengah perubahan zaman?

Photos from Sanur Archive's post 01/03/2026

Igor Tamerlan 1954 - 2018

Igor Tamerlan Djoehana Wiradikarta, yang lebih dikenal dengan nama Igor Tamerlan, adalah seorang musisi dan penyanyi Indonesia yang dikenal luas melalui lagunya yang terkenal, "Bali Vanili". Album pop ini menghadirkan lanskap baru bagi musik pop kontemporer di Indonesia dan menjadi inspirasi lahirnya musik alternatif di Tanah Air.

Igor juga mendirikan Bumi Ayu Sound Studio di Sanur, Bali, tempat ia mulai menekuni karya audio-visual secara serius. Dari studio ini, ia kemudian mendirikan perusahaan audio-visual bernama Indovision Prima Film, yang menandai pergeseran fokusnya dari musik ke karya audio-visual.

Pictures Archives from igor tamerlan facebook

Photos from Sanur Archive's post 22/02/2026

Reede Van Sanoer 1906

“Reede van Sanoer” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Perairan Sanur” atau “Tempat Berlabuh Sanur”. Istilah ini digunakan oleh pihak kolonial Belanda untuk menyebut wilayah pesisir Sanur yang pada awal abad ke-20 menjadi lokasi penting dalam sejarah Bali.

Pada tahun 1906, pantai Sanur menjadi saksi peristiwa besar pendaratan pasukan Belanda dalam ekspedisi militer menuju Denpasar. Dari “Reede van Sanoer” inilah kapal-kapal Belanda menurunkan pasukan dan perlengkapan mereka sebelum bergerak ke daratan. Tujuan mereka adalah menaklukkan Kerajaan Badung, yang saat itu menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.

Pendaratan ini menandai awal dari tragedi Puputan Badung, sebuah perlawanan heroik rakyat dan bangsawan Bali yang memilih gugur dalam kehormatan daripada menyerah. Sanur, dengan perairannya yang tenang, menjadi titik strategis dan bersejarah bukan sekadar tempat berlabuh, tetapi juga gerbang masuk bagi perubahan besar dalam perjalanan sejarah Bali.

Pictures Archive by

Photos from Sanur Archive's post 15/02/2026

Ida Bagus Ketut Beratha (1959–1986)

Tokoh yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Sanur.
Selama hampir tiga dekade kepemimpinannya, dari tahun 1959 hingga 1986, Ida Bagus Ketut Beratha menjadi sosok sentral dalam mengarahkan perubahan besar wilayah Sanur dari desa nelayan sederhana menuju kawasan wisata yang mulai dikenal di dunia.

Di masa beliau memimpin, berbagai infrastruktur dan kegiatan ekonomi mulai tumbuh, membuka babak baru bagi masyarakat Sanur dalam menghadapi arus modernisasi dan pariwisata. Namun, di tengah perubahan itu, beliau tetap menanamkan nilai-nilai adat dan kebersamaan sebagai landasan pembangunan masyarakat.

Dengan latar belakang sebagai anggota Polisi Militer, kepemimpinannya dikenal tegas, disiplin, namun juga bijaksana. Ia dihormati bukan hanya sebagai pejabat, tetapi juga sebagai panutan yang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan tradisi.

Dalam kehid**an pribadinya, Ida Bagus Ketut Beratha menikah dengan Ida Ayu Oka, dan bersama membangun keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat, budaya, serta pengabdian terhadap masyarakat Sanur.

Beliau wafat pada 16 Januari 1986, meninggalkan warisan berupa semangat pengabdian dan fondasi pembangunan yang menjadi bagian penting dari sejarah Sanur modern.

Pictures Archives Leunard Leuras

Photos from Sanur Archive's post 01/02/2026

Valentine Night 1995
Seperti yang kita kenal, Valentine merupakan perayaan tahunan yang juga dikenal sebagai Hari Kasih Sayang dan diperingati setiap tanggal 14 Februari. Perayaan ini identik dengan menghabiskan waktu bersama orang terkasih.
Sebagai malam yang istimewa, Bali Moon Restaurant Sanur turut merayakan Hari Kasih Sayang dengan mengadakan acara spesial Valentine Night yang menampilkan pertunjukan Tari Oleg Tamulilingan di tahun 1995. Tarian tradisional yang menggambarkan kemesraan sepasang kumbang (tamulilingan) sebagai simbol cinta dan keharmonisan.
Melalui foto di atas, kita dapat melihat kembali suasana perayaan Valentine Night di restoran tersebut pada tahun 1995.

Pictures Archive by Mizrahi Haim

Photos from Sanur Archive's post 25/01/2026

Pesisir Sanur, 1995
Sanur, yang selalu identik dengan pantai berpasir putih dan suasana tenang khas pesisir timur Bali, tak pernah lepas dari deretan jukung perahu nelayan tradisional yang tertambat rapi di tepian. Melalui foto tahun 1995 ini, kita seakan diajak kembali ke masa ketika kehid**an pesisir berjalan selaras dengan tradisi. Di antara jukung dan birunya laut, tampak seorang penjual yang menawarkan karya seni berupa topengsimbol kuat yang mencerminkan jiwa dan budaya Bali yang hidup hingga kini.

Pictures Archive by Mizrahi Haim

Want your school to be the top-listed School/college in Denpasar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Denpasar
80228