15/04/2026
Pernahkah kita terpikir, bagaimana akar yang berada di kegelapan tanah bisa "tahu" ke mana arah air? Atau bagaimana daun yang tipis bisa "memasak" energi untuk seluruh makhluk hidup?
Itulah "Misi Rahasia Tumbuhan". Di balik proses fotosintesis dan pertumbuhan yang kita pelajari di buku sekolah, ada kasih sayang Allah Al-Ghaniy yang luar biasa.
Mengapa Belajar IPAS itu Seru bagi Anak Islam?
Menambah Iman: Setiap bab ilmu pengetahuan adalah bukti keagungan Allah. Semakin berilmu, seharusnya kita semakin tunduk kepada-Nya.
Membangun Syukur: Menyadari bahwa oksigen yang kita hirup dan buah yang kita makan adalah rezeki yang Allah siapkan melalui tumbuhan.
Melatih Akhlak: Memahami harmoni alam membuat kita belajar menjaga bumi sebagai amanah dari Sang Khalik.
Kita merindukan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga:
✅ Bangga dan bersyukur atas nikmat Islam.
✅ Memiliki aqidah yang lurus (shahihah).
✅ Menghiasi diri dengan akhlakul karimah.
"Wahai manusia, kamulah yang sangat membutuhkan (fakir) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fatir: 15)
Semoga dunia pendidikan kita menjadi wasilah lahirnya generasi yang selamat dunia dan akhirat. Semangat belajar, Sholih dan Sholihah!
14/04/2026
Dalam buku Anak Islam Belajar IPAS 3A, ada fakta menarik yang bisa membuat anak penasaran:
Sifat Hewan Bisa "Menular" :
Larangan memakan hewan buas yang bertaring bukan tanpa alasan. Salah satu hikmahnya adalah menjaga fitrah kita sebagai manusia agar tetap lembut dan penuh kasih sayang. Secara filosofis, apa yang kita masukkan ke tubuh memiliki energi yang mempengaruhi kecenderungan sifat kita.
Pentingnya "Masa Pembersihan" (Jallalah)
MasyaAllah! Islam sangat detail soal kebersihan. Hewan yang biasa makan kotoran (Jallalah) pun harus dikarantina dan diberi makanan bersih (seperti rumput atau biji-bijian) sampai tubuhnya kembali sehat sebelum boleh dikonsumsi.
Pelajaran besarnya untuk kita:
Apa yang dikonsumsi hewan akan memengaruhi tubuhnya. Begitu juga manusia; apa yang kita makan akan memengaruhi perilaku dan cara berpikir kita.
Ada yang punya pengalaman unik soal ini untuk diceritakan kepada anak-anak kita? atau malah mncul rasa penasaran anak yang butuh jawaban?
12/04/2026
Bukan hanya soal makanan dan rumah sebagai kebutuhan pokok, tapi jauh lebih dalam dari itu...
Makanan yang baik bukan sekadar halal, tapi juga thayyib, baik zatnya, baik cara mendapatkannya.
Rumah bukan sekadar tempat berteduh, ia adalah tempat berkumpul, saling mencintai, dan beribadah bersama keluarga.
Dan satu hal lagi yang ditanamkan sejak dini: berbagi.
Karena Malaikat Jibril sendiri terus mewasiatkan kepada Nabi ﷺ tentang hak tetangga sampai beliau menyangka tetangga akan mendapat warisan.
MasyaAllah... Serunya anak Islam belajar IPAS, tidak hanya mencerdaskan pikiran, tapi juga menyuburkan iman, bi-idznillah.
Selanjutnya di kelas 2, insyaAllah anak-anak akan belajar tentang denah lingkungan tempat tinggal, naik level dari diri sendiri, keluarga, lalau lingkungan, masya Allah...
11/04/2026
Aktivitas Sederhana.
Tapi di balik kesederhanaannya...
Anak belajar bahwa keluarga adalah identitas.
Bahwa rasa syukur itu diungkapkan, bukan hanya dirasakan.
Bahwa adab kepada orang tua adalah bagian dari siapa mereka, bukan sekadar pelajaran di buku.
Yuk, siapkan kertas karton, pensil warna, dan gunting.
Malam ini, biarkan anak kita mengerjakan tugas itu dengan bahasanya sendiri.
Dan besok pagi, biarkan mereka menyerahkannya
sambil mencium tangan Abi dan Ummi.
Satu aktivitas kecil.
Tapi mungkin itulah momen yang akan mereka ingat seumur hidup.
11/04/2026
Kira-kira, Artemis memotret kawah Albategnius ngga ya?
Beberapa hari yang lalu (6 April 2026)
Empat astronaut NASA mengelilingi bulan dalam misi bersejarah Artemis II.
Mereka memotret bulan.
Mereka mencatat data orbit.
Mereka melihat kawah-kawah di permukaan bulan dari jarak ribuan mil.
Dan di antara kawah-kawah itu...
ada satu kawah yang namanya harus kita kenal
Namanya... Albategnius.
Itu adalah nama Latin dari seorang ilmuwan Muslim
yang hidup lebih dari 1.100 tahun yang lalu.
Abu Abdillah Muhammad ibn Jabir al-Battani.
Lahir sekitar 858 M di Harran, Turki.
Wafat 929 M di Iraq.
Dikenal dunia sebagai:
Al-Battani.
Apa yang ia lakukan hingga namanya abadi di bulan?
Di sebuah observatorium di tepi Sungai Efrat,
kota Raqqa, Suriah.
Al-Battani mengamati langit selama lebih dari 40 tahun.
Setiap malam.
Menggunakan alat-alat astronomi yang ia warisi dari ayahnya, seorang pembuat instrumen terkenal. Lalu ia sempurnakan.
Al Battani mencatat. Menghitung. Memverifikasi.
Ia menghitung panjang tahun matahari sebesar 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
Hanya meleset 2 menit 22 detik dari nilai yang digunakan ilmu pengetahuan modern hari ini.
Ia membuktikan bahwa jarak bumi ke matahari
berubah-ubah sepanjang tahun, dan dari sanalah ia menyimpulkan bahwa
Gerhana matahari cincin itu mungkin terjadi.
Ia mengganti metode geometri Yunani dengan trigonometri.
Memperkenalkan sinus, kosinus, dan tangen sebagai alat perhitungan astronomi yang menjadi salah satu fondasi
ilmu pengetahuan modern hingga hari ini.
Subhanallah....
Lalu bagaimana ilmunya sampai ke NASA?
Rantainya panjang tapi nyata dan terverifikasi.
Kitabnya (Kitab az-Zij as-Sabi) diterjemahkan ke Latin pada abad ke-12.
Copernicus (yang memicu Revolusi Ilmiah Eropa) menyebut nama Al-Battani 23 kali dalam bukunya yang mengubah dunia,
De Revolutionibus Orbium Coelestium.
Edmond Halley (penemu Komet Halley) menggunakan terjemahan Kitab Al-Battani untuk membuktikan bahwa kecepatan bulan
terus meningkat dari zaman ke zaman.
MasyaAllah... Ilmunya mengalir melalui Copernicus, Kepler, Newton, hingga membentuk perhitungan orbital yang digunakan para ilmuwan modern hari ini.
Dan hingga kini data observasi Al-Battani masih digunakan
oleh para geofisikawan untuk memahami pergerakan bumi dan bulan.
Dan kawah Albategnius di bulan?
Dinamai pada abad ke-17 sebagai penghormatan atas jasanya
tidak hanya pada zamannya, tapi bagi seluruh masa depan
ilmu pengetahuan dan penjelajahan luar angkasa.
11/04/2026
Identitas Diri:
"Siapa kamu?"
Anak-anak menjawab beragam.
"Aku Fatimah!" "Aku tinggi!" "Aku s**a warna merah!"
Semua jawaban itu benar.
Tapi ada satu jawaban yang paling dalam yang mungkin terlupakan.
"Aku seorang Muslim."
Di kelas 1, anak-anak mulai belajar mengenal diri mereka sendiri.
Ciri fisik: tinggi, pendek, berambut lurus atau keriting, berkulit sawo matang atau putih.
Ciri non fisik: s**a bermain, pemalu, pemberani, baik hati.
Semua ini penting untuk dikenal dan disyukuri.
Tapi...
ada satu identitas yang lebih dalam dari semua itu.
Identitas yang tidak berubah meski anak tumbuh tinggi. Identitas yang tidak luntur meski wajah berubah. Identitas yang menjadi cahaya dalam setiap langkah hidupnya.
Agama.
Dan sejak dini, anak-anak kita perlu tahu:
Agama bukan sekadar nama yang tertulis di kartu keluarga. Agama adalah siapa mereka di hadapan Allah.
Di dunia ini ada banyak agama. Dan Islam mengajarkan kita untuk mengenali keragaman ini.
Sambil meyakini dengan teguh apa yang Allah firmankan:
"Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam." (Arti QS. Ali Imran: 19)
Agar anak kita tumbuh dengan aqidah yang kokoh, bukan identitas yang kabur dan mudah goyah.
Adapun tentang ciri fisik
Ajarkan anak kita untuk bersyukur, bukan membanding-bandingkan.
Rambutnya keriting? Alhamdulillah. Kulitnya gelap? Alhamdulillah. Tubuhnya mungil? Alhamdulillah.
Karena Allah tidak menilai kita dari fisik.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
11/04/2026
Beberapa hari yang lalu (6 April 2026)
Empat astronaut NASA mengelilingi bulan dalam misi bersejarah Artemis II.
Mereka memotret bulan.
Mereka mencatat data orbit.
Mereka melihat kawah-kawah di permukaan bulan dari jarak ribuan mil.
Dan di antara kawah-kawah itu...
ada satu kawah yang namanya harus kita kenal
Namanya... Albategnius.
Itu adalah nama Latin dari seorang ilmuwan Muslim
yang hidup lebih dari 1.100 tahun yang lalu.
Abu Abdillah Muhammad ibn Jabir al-Battani.
Lahir sekitar 858 M di Harran, Turki.
Wafat 929 M di Iraq.
Dikenal dunia sebagai:
Al-Battani.
Apa yang ia lakukan hingga namanya abadi di bulan?
Di sebuah observatorium di tepi Sungai Efrat,
kota Raqqa, Suriah.
Al-Battani mengamati langit selama lebih dari 40 tahun.
Setiap malam.
Menggunakan alat-alat astronomi yang ia warisi dari ayahnya, seorang pembuat instrumen terkenal. Lalu ia sempurnakan.
Al Battani mencatat. Menghitung. Memverifikasi.
Ia menghitung panjang tahun matahari sebesar 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
Hanya meleset 2 menit 22 detik dari nilai yang digunakan ilmu pengetahuan modern hari ini.
Ia membuktikan bahwa jarak bumi ke matahari
berubah-ubah sepanjang tahun, dan dari sanalah ia menyimpulkan bahwa
Gerhana matahari cincin itu mungkin terjadi.
Ia mengganti metode geometri Yunani dengan trigonometri.
Memperkenalkan sinus, kosinus, dan tangen sebagai alat perhitungan astronomi yang menjadi salah satu fondasi
ilmu pengetahuan modern hingga hari ini.
Subhanallah....
Lalu bagaimana ilmunya sampai ke NASA?
Rantainya panjang tapi nyata dan terverifikasi.
Kitabnya (Kitab az-Zij as-Sabi) diterjemahkan ke Latin pada abad ke-12.
Copernicus (yang memicu Revolusi Ilmiah Eropa) menyebut nama Al-Battani 23 kali dalam bukunya yang mengubah dunia,
De Revolutionibus Orbium Coelestium.
Edmond Halley (penemu Komet Halley) menggunakan terjemahan Kitab Al-Battani untuk membuktikan bahwa kecepatan bulan
terus meningkat dari zaman ke zaman.
MasyaAllah... Ilmunya mengalir melalui Copernicus, Kepler, Newton, hingga membentuk perhitungan orbital yang digunakan para ilmuwan modern hari ini.
Dan hingga kini data observasi Al-Battani masih digunakan
oleh para geofisikawan untuk memahami pergerakan bumi dan bulan.
Dan kawah Albategnius di bulan?
Dinamai pada abad ke-17 sebagai penghormatan atas jasanya
tidak hanya pada zamannya, tapi bagi seluruh masa depan
ilmu pengetahuan dan penjelajahan luar angkasa.
10/04/2026
Bayangkan ini:
Tahun 1096 M.
Ribuan tentara salib dari Eropa
tiba di tanah Islam untuk pertama kalinya.
Mereka datang dengan pedang dan salib.
Mereka siap berperang.
Yang tidak mereka siapkan adalah... kekagetan!
Ketika pas**an Salib pertama tiba di Timur Dekat, orang-orang Arab tidak begitu terkesan dengan semangat keagamaan mereka, tapi mereka justru terpukul oleh baunya... ya...
Ini bukan hiperbola.
Para ksatria paling mulia mereka berbangga diri hanya mandi empat kali setahun. Perawatan medis mereka sering kali berupa pengusiran setan atau amputasi anggota tubuh yang sakit.
Sementara itu, di hadapan mata mereka...
Kaum Muslim shalat lima waktu, didahului wudhu.
Kota-kota Islam memiliki hammam (pemandian umum).
Rumah sakit mereka gratis untuk semua orang,
lengkap dengan dokter, apotek, dan perpustakaan.
Para crusader belum pernah melihat semua ini...
Seorang bangsawan dan pejuang Muslim bernama
Usamah ibn Munqidh (1095–1188 M) yang hidup berdampingan dengan para crusader selama puluhan tahun menceritakannya kepada kita.
kadang bertempur melawan mereka,
kadang bersahabat dengan mereka.
Ia mencatat segalanya dalam memoarnya:
Kitab al-I'tibar - "Kitab Renungan" -
Ia menulis tentang para crusader: "Mereka adalah hewan yang memiliki keberanian dan kemampuan bertempur, tapi tidak lebih dari itu."
Namun yang paling mengejutkan bukan kekasarannya, melainkan apa yang ia saksikan terjadi kemudian.
Para crusader yang tinggal lama di tanah Islam perlahan berubah.
Usamah mencatat perbedaan yang jelas antara crusader yang baru tiba dan yang sudah lama tinggal.
Mereka yang sudah lama justru mulai mengadopsi kebiasaan dan adat istiadat masyarakat Islam.
Mereka mulai mandi.
Mereka mulai mengenal tabib Muslim.
Mereka mulai mengagumi arsitektur, makanan, dan ilmu yang ada di sekitar mereka.
Dan ketika mereka p**ang ke Eropa, mereka tidak p**ang dengan tangan kosong.
Perang Salib yang dimaksudkan sebagai penaklukan Islam justru menjadi salah satu pintu masuk terbesar ilmu dan peradaban Islam ke Eropa.
Ironi terbesar dalam sejarah:
Mereka datang untuk menghancurkan.
Mereka p**ang membawa cahaya.
Dan cahaya itu bernama peradaban Islam.
Subahanallah!
10/04/2026
Semua pasti tahu bahwa Oxford adalah universitas bergengsi dan menjadi rujukan saat ini.
Tapi tahukah kamu?
Sebelum abad ke-12, Oxford hanyalah sekolah seminari kecil yang kaku, ilmu pengetahuan dan kurikulumnya masih belum berkembang.
Lalu datang seorang pemuda Inggris bernama Daniel of Morley.
Ia pergi ke Paris mencari ilmu.
Yang ia temukan mengecewakan.
Ia menulis sendiri: "mereka tidak lebih baik dari patung marmer."
Ia tinggalkan Paris. Menuju Toledo, Spanyol Muslim.
Di Toledo, Daniel belajar langsung dari para ilmuwan dan penerjemah Muslim. Ia menyerap astronomi, kosmologi, matematika, dan ilmu alam (ilmu-ilmu yang tidak ada di Paris maupun di Oxford saat itu). Termasuk cara menggunakan astrolabe, alat navigasi bintang ciptaan ilmuwan Muslim yang ketika itu belum dikenal di Inggris.
Dan dalam tulisannya sendiri, Daniel menyebut mereka (para ilmuwan Muslim Toledo itu) sebagai "para filosof paling bijak di dunia."
Bukan basa-basi.
Bukan diplomasi.
Ia p**ang membawa (dalam kata-katanya sendiri): "sekump**an buku yang berharga."
Buku-buku itulah yang menjadi
jantung perpustakaan pertama Oxford.
Dari sanalah Oxford tumbuh menjadi universitas yang mengubah dunia.
Dan ironisnya, Kurang dari dua abad setelah Daniel p**ang dari Toledo, Francesco Petrarca (yang dikenal sebagai Bapak Humanisme Eropa), mulai mempelopori sikap penolakan terhadap ilmu Muslim dan menghapus jejaknya dari sejarah.
Anak Islam Belajar IPAS
Karena anak-anak kita berhak tahu bahwa peradaban yang menerangi dunia itu bernama Islam.
10/04/2026
Abi-Umi, Ayah-Bunda, dan rekan-rekan semua... pernahkah mendengar kata "alchemy"?
Di Eropa Abad Pertengahan, alchemy adalah dunia yang gelap dan penuh misteri.
Para alchemist Eropa mengejar obsesi yang sama: mengubah logam biasa menjadi emas. Menciptakan ramuan keabadian. Memanggil kekuatan tersembunyi dari alam.
Tulisan-tulisan mereka dipenuhi simbol-simbol rahasia, mantra, dan ritual.
Dan akibatnya, banyak dari mereka dituduh bersekutu dengan setan. Para alchemist dan penyihir sama-sama menggunakan simbol rahasia dan jampi-jampi dalam pekerjaan mereka, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa mereka telah membuat perjanjian dengan iblis.
Pada awal abad ke-14, sihir, alchemi, dan ilmu sihir mulai dikaitkan dengan bid'ah Kristen. Paus John XXII bahkan mengeluarkan dekrit resmi yang melarang praktik alchemi.
Ilmu kimia di Eropa saat itu tersandera antara mistisisme dan ketakutan.
Tapi jauh sebelum Eropa tenggelam dalam kegelapan itu...
Ada seorang ilmuwan Muslim di Kufah, Iraq, yang bekerja sangat berbeda.
Namanya Jabir bin Hayyan. Lahir sekitar 721 M.
Ia tidak mengejar emas gaib. Ia tidak membaca mantra.
Ia membangun laboratorium. Ia merancang alat-alat eksperimen. Ia mencatat setiap percobaan secara sistematis.
Jabir dikreditkan dengan memperkenalkan metodologi eksperimental ke dalam ilmu kimia, menemukan proses-proses yang masih digunakan hingga hari ini: kristalisasi, distilasi, sublimasi, dan sintesis berbagai jenis asam yang baru dikenal Eropa berabad-abad kemudian.
Pada abad ke-12, terjemahan karya-karya ilmuwan Muslim ke dalam bahasa Latin melahirkan tradisi ilmu kimia yang kemudian berkembang di Eropa.
Bahkan Robert Boyle yang disebut "bapak kimia modern" berutang budi pada tradisi ilmiah Muslim yang mendahuluinya. Teori Boyle tentang partikel materi dapat ditelusuri kembali ke tradisi ilmiah yang dirintis Jabir Ibn Hayyan.
Subhanallah... Yuk, ceritakan ini kepada generasi kaum muslimin
10/04/2026
Bismillah,
Apakah kita... dan anak-anak kita kenal dia?
Namanya Ibn al-Haytham.
Ilmuwan Muslim dari Bashrah, Iraq.
Lahir tahun 965 M.
Ia yang pertama kali membuktikan bagaimana mata manusia bekerja.
Ia yang pertama membangun ruang gelap (camera obscura) yang merupakan cikal bakal kamera yang ada di tanganmu hari ini.
Ia p**alah yang meletakkan metode ilmiah (mengamati, mencatat, membuktikan).
Ratusan tahun sebelum nama Galileo dan Newton dikenal dunia.
Tapi namanya nyaris tidak ada di buku pelajaran kita.. dan... anak-anak kita?.
Mata kita tidak bisa melihat tanpa cahaya.
Begitu p**a ilmu pengetahuan, tidak akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa cahaya wahyu yang membimbingnya.
Ibn al-Haytham memahami ini.
Kapan kita mengajarkannya kepada anak-anak kita?
10/04/2026
Bismillahirrahmanirrahim.
Buku-buku "Anak Islam Belajar IPAS" hadir sebagai ikhtiar kami untuk menjawab kebutuhan lembaga pendidikan Islam akan bahan ajar yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menguatkan aqidah, membentuk akhlakul karimah, dan membangun integritas anak sejak dini.
Di setiap halamannya, ilmu pengetahuan dan wahyu berjalan beriringan, karena kami percaya bahwa generasi terbaik adalah mereka yang mencintai ilmu sekaligus mencintai Allah yang mengajarkannya.
Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua.
MasyaAllah, indah dan agung sekali ayat yang pertama kali turun ini:
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan,
yang menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
yang mengajarkan ilmu dengan perantara pena,
yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya."
(Arti QS. Al-'Alaq: 1-5)