Tadabbur Al Qur'an

Tadabbur Al Qur'an

Share

Memahami isi kandungan Al Qur'an dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan untuk mendapat ridha-Nya

07/04/2024

ما شاء الله تبارك الرحمن
اللهم زد وبارك اللهم اعز الاسلام
والمسلمين في كل مكان
أمين امين أمين يارب العالمين

11/03/2024

TAFSIR SURAT IBRAHIM (14)

Surat Ibrahim (14), ayat 6-8

{وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (6) وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7) وَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ (8) }

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia menyelamatkan kalian dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kalian dengan siksa yang pedih. Mereka menyembelih anak-anak laki-laki kalian, membiarkan hidup anak-anak perempuan kalian; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhan kalian.” Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Dan Musa berkata, "Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Allah menceritakan tentang Musa ketika ia mengingatkan kaumnya kepada hari-hari Allah yang mereka alami dan nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada mereka. Yaitu ketika Allah menyelamatkan mereka dari cengkeraman Fir'aun dan para pengikutnya, serta dari siksaan dan penghinaan yang mereka alami. Fir'aun menyembelih anak laki-laki mereka yang dijumpainya, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka, lalu Allah menyelamatkan mereka dari semuanya itu. Hal tersebut merupakan nikmat yang paling besar.
Disebutkan oleh firman-Nya:

{وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ}

dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Ibrahim: 6)

Yakni nikmat yang besar dari-Nya kepada kalian dalam hal itu, kalian tidak mampu mensyukurinya.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud dari isim isyarah di sini ditujukan kepada apa yang dilakukan oleh kaum Fir'aun kepada mereka (Bani Israil) berupa berbagai macam siksaan dan penindasan, bahwa hal tersebut merupakan cobaan yang besar bagi mereka.

Dapat p**a ditakwilkan bahwa ayat ini semakna dengan pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik itu dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al-A'raf: 168)

*******************
Adapun firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ}

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan. (Ibrahim: 7)

Yakni mempermaklumatkan dan memberitahukan kepada kalian akan janji-Nya kepada kalian. Dapat p**a diartikan bahwa dan tatkala Tuhan kalian bersumpah dengan menyebut keagungan, kebesaran, dan kemuliaan nama-Nya'. Ayat tersebut sama maknanya dengan firman-Nya:

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ] }

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat. (Al-A'raf: 167)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ}

Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. (Ibrahim: 7)

Sesungguhnya jika kalian mensyukuri nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian, pasti Aku akan menambahkannya bagi kalian.

{وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ}

dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku). (Ibrahim: 7)

Maksudnya, jika kalian mengingkari nikmat-nikmat itu dan kalian menyembunyikannya serta tidak mensyukurinya.

{إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ}

maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Ibrahim: 7)

Yaitu dengan mencabut nikmat-nikmat itu dari mereka, dan Allah menyiksa mereka karena mengingkarinya. Di dalam sebuah hadis disebutkan:

"إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ"

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki(nya) disebabkan dosa yang dikerjakannya.

Di dalam kitab Musnad disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersua dengan seorang peminta-minta. Maka beliau memberinya sebiji buah kurma, tetapi si peminta-minta itu tidak mau menerimanya. Kemudian beliau bersua dengan pengemis lainnya, maka beliau memberikan sebiji kurma itu kepadanya, dan si pengemis itu mau menerimanya seraya berkata, "(Betapa berharganya) sebiji buah kurma dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam" Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar si pengemis itu diberi uang sebanyak empat puluh dirham.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَسْودُ، حَدَّثَنَا عُمَارَةُ الصَّيدلاني، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَائِلٌ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ فَلَمْ يَأْخُذْهَا -أَوْ: وَحِشَّ بِهَا -قَالَ: وَأَتَاهُ آخَرُ فَأَمَرَ لَهُ بِتَمْرَةٍ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! تَمْرَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ لِلْجَارِيَةِ: "اذْهَبِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ، فأعطيه الأربعين درهما التي عِنْدَهَا".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad, telah menceritakan kepada kami Imarah As-Shaidalani, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa seorang pengemis datang meminta-minta kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wssallam. Maka beliau memberinya sebiji buah kurma, tetapi si pengemis itu tidak mau menerimanya. Kemudian datanglah seorang pengemis lainnya, dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar pengemis itu diberi sebiji buah kurma p**a. Maka pengemis itu berkata, "Mahasuci Allah, sebiji buah kurma dari Rasulullah." Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepada pelayan perempuannya, "Pergilah kamu ke rumah Ummu Salamah dan berikanlah kepada pengemis ini empat puluh dirham yang ada padanya."

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid. Imarah ibnu Zadan (salah seorang perawinya) dinilai siqah oleh Ibnu Hibban, Ahmad, dan Ya'qub ibnu Sufyan.

Ibnu Mu'in mengatakan bahwa dia adalah seorang saleh. Menurut Abu Zar'ah, dia terpakai hadisnya. Abu Hatim mengatakan bahwa hadisnya dapat ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai pegangan karena predikatnya kurang kuat.

Imam Bukhari mengatakan, barangkali Imarah ibnu Zadan ini orangnya mudtarib dalam hadisnya. Telah diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa Imarah meriwayatkan banyak hadis yang berpredikat munkar. Abu Daud mengatakan bahwa dia tidak separah itu. Ia dinilai daif oleh Imam Daruqutni. Ibnu Addi mengatakan bahwa dia tidak mengapa dan termasuk orang (perawi) yang dapat ditulis hadisnya.

*******************
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ}

Dan Musa berkata, "Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Ibrahim: 8)

Allah Mahakaya (tidak memerlukan) ungkapan syukur hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha Terpuji, sekalipun Dia diingkari oleh orang-orang yang mengingkari-Nya. Makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ}

Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian. (Az-Zumar: 7), hingga akhir ayat.

{فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ}

lalu mereka ingkar dan berpaling, dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (At-Taghabun: 6)

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan hadis melalui Abu Zar, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam salah satu hadis qudsinya, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman:

"يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أن أولكم وآخركم، وإنسكم وجنكم، قاموا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، إلا كما ينقُص المخْيَط إذا أدخل في الْبَحْرِ".

Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya memiliki kalbu seperti kalbu seseorang di antara kalian yang paling bertakwa, tiadalah hal tersebut menambahkan sesuatu dalam kerajaan-Ku barang sedikit pun. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya memiliki kalbu seperti kalbu seseorang di antara kalian yang paling durhaka, hal tersebut tidaklah mengurangi sesuatu pun dalam kerajaan-Ku barang sedikit pun. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya berdiri di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang apa yang dimintanya, tiadalah hal itu mengurangi kerajaan-Ku barang sedikit pun, melainkan sebagaimana berkurangnya laut bila dimasukkan sebuah jarum ke dalamnya.
Mahasuci Allah dan Mahatinggi Tuhan Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.

11/03/2024

TAFSIR SURAT IBRAHIM (14)

Surat Ibrahim (14), ayat 5

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (5) }

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Allah menyebutkan dalam firman-Nya, "Sebagaimana Kami mengutus­mu, hai Muhammad, dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an agar kamu mengeluarkan semua manusia dari gelap gulita menuju terang benderang melalui semanmu kepada mereka. Begitu p**a Kami telah mengutus Musa kepada Bani Israil dengan membawa ayat-ayat Kami."

Mujahid mengatakan bahwa semua ayat itu berjumlah sembilan buah.

{أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ }

Keluarkanlah kaummu. (Ibrahim: 5)

Artinya, Kami perintahkan kepada Musa melalui firman Kami kepadanya:

{أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}

Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. (Ibrahim: 5)

Yakni serulah mereka kepada kebaikan agar mereka dapat keluar dari kebodohan dan kesesatan yang selama itu mengungkung mereka dalam kegelapannya, menuju kepada cahaya petunjuk dan keimanan.

{وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ}

dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. (Ibrahim: 5)

Maksudnya, ingatkanlah mereka kepada pertolongan-pertolongan Allah dan nikmat-nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu Allah telah membebaskan mereka dari cengkeraman Fir'aun, perbudakan, kezaliman, dan angkara murkanya; dan Allah telah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, telah membelah laut buat mereka, memberikan naungan awan kepada mereka, menurunkan Manna dan Salwa kepada mereka, serta nikmat-nikmat lainnya.

Demikianlah menurut cerita Mujahid, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Hal yang sama telah disebutkan di dalam sebuah hadis marfu' yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad ibnu Hambal di dalam kitab Musnad ayahnya. Di dalam kitab Musnad itu disebutkan bahwa:

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبَانٍ الْجُعْفِيُّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ [عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ} قَالَ: "بِنِعَمِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى] "

telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abdullah maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aban Al-Ju'fi, dari Abu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka'b, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sehubungan dengan makna firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. (Ibrahim: 5) Bahwa yang dimaksud dengan hari-hari Allah ialah nikmat-nikmat Allah.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Muhammad ibnu Aban dengan sanad yang sama. Hadis ini diriwayatkan p**a oleh anaknya (yaitu Abdullah ibnu Ubay ibnu Ka'b) secara mauquf, dan riwayat inilah yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ}

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim: 5)

Yakni sesungguhnya dalam apa yang telah Kami perbuat kepada kekasih-kekasih Kami —kaum Bani Israil— ketika Kami selamatkan mereka dari cengkeraman Fir'aun dan dari siksaan yang menghinakan yang menindas mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi setiap orang yang penyabar dalam menghadapi kesengsaraan, lagi bersyukur dalam keadaan-keadaan makmur.

Qatadah mengatakan, "Sebaik-baik hamba ialah orang yang apabila mendapat cobaan, bersabar; dan apabila diberi nikmat, bersyukur."

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda:

"إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّه عَجَب، لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكر فَكَانَ خيرا له"

Sesungguhnya perkara orang mukmin mengagumkan seluruhnya, tidak sekali-kali Allah memutuskan ketetapan baginya, melainkan hal itu baik baginya. Jika tertimpa musibah, ia bersabar; dan sabar itu adalah baik baginya. Apabila mendapat kegembiraan, ia bersyukur; dan bersyukur itu adalah baik baginya.

11/03/2024
11/03/2024

Tafsir Surat Ibrahim Alaihis Salam.

Surat ke 14 di dalam Al Qur'an.

Makkiyyah, 52 atau 54 atau 55 ayat kecuali ayat 28 dan 29, Madaniyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

TAFSIR SURAT IBRAHIM (14)

Surat Ibrahim (14), ayat 1-3

{الر كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ (2) الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (3) }

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir mengenai huruf-huruf terpisah yang terdapat dalam permulaan banyak surat.

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ}

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu. (Ibrahim: 1)

Maksudnya, ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, Muhammad. Yang dimaksud ialah Al-Qur'an yang merupakan Kitab yang paling mulia, yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari langit kepada rasul yang paling mulia. Allah telah mengutusnya di bumi ini kepada semua penduduknya, baik yang berbangsa Arab maupun 'Ajam (non-Arab).

{لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}

supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. (Ibrahim: 1)

Dengan kata lain, sesungguhnya Kami mengutusmu —hai Muhammad— dengan membawa Kitab (Al-Qur'an) ini tiada lain untuk mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju jalan petunjuk dan kebenaran, seperti yang diungkapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ}

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). (Al-Baqarah: 257), hingga akhir ayat.

{هُوَ الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. (Al-Hadid: 9)

*******************
Adapun firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}

dengan izin Tuhan mereka. (Ibrahim: 1)

Artinya, Dialah yang memberi petunjuk kepada orang yang telah ditakdirkan-Nya mendapat petunjuk melalui Rasul-Nya yang diutus untuk membawa perintah-Nya. Rasul memberi mereka petunjuk:

{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ}

menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa. (Ibrahim: 1)

Yakni Yang Mahaperkasa, tiada yang dapat menandingi dan tiada yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan Dia Maha Mengalahkan semuanya.

"الْحَمِيدُ"

lagi Maha Terpuji. (Ibrahim: 1)

Allah Maha Terpuji dalam semua perbuatan, perkataan, syariat, perintah, dan larangan-Nya; lagi Mahabenar dalam berita-Nya.

*******************
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ}

Allah Yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. (Ibrahim: 2)

Sebagian ulama tafsir membacanya dengan bacaan rafa' dianggap sebagai kalimat baru, sedangkan ulama lainnya membacanya dengan bacaan jar karena mengikuti sifat Allah, yaitu lafaz Al-Hamid. Perihalnya sama dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ayat lain, yaitu:

{قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ}

Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.” (Al-A'raf: 158), hingga akhir ayat.

Mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ}

Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Ibrahim: 2)

Maksudnya, kecelakaanlah bagi mereka pada hari kiamat nanti sebab mereka menentangmu dan mendustakanmu, hai Muhammad.
Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, yakni mereka mendahulukan kepentingan dunia dan menjadikannya di atas segalanya. Mereka bekerja untuk kehidupan duniawinya dan melupakan akhirat mereka, dan mereka meninggalkan urusan akhiratnya di belakang mereka.

{وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}

dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (Ibrahim: 3).

Yang dimaksud dengan jalan Allah ialah mengikuti rasul-rasul.

{وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا}

dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. (Ibrahim: 3)

Yakni mereka menghendaki agar jalan Allah bengkok, tidak lurus, dan terhambat; padahal jalan Allah itu lurus, tiada membahayakannya sikap orang-orang yang menentangnya, tidak p**a orang-orang yang menghinanya. Mereka yang menginginkan demikian berada dalam kebodohan dan kesesatan yang jauh dari kebenaran. Tiada kebaikan yang diharapkan bagi mereka selama mereka bersikap demikian.


Surat Ibrahim (13), ayat 4

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (4) }

Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Hal ini merupakan salah satu dari kelembutan Allah kepada makhluk-Nya, yaitu Dia mengutus kepada mereka rasul-rasul dari kalangan mereka sendiri yang berbahasa sama dengan mereka, agar mereka dapat memahami para rasul dan memahami risalah yang dibawa oleh para rasul itu.

Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍ قَالَ: قَالَ مُجَاهِدٌ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَمْ يَبْعَثِ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، نَبِيًّا إِلَّا بِلُغَةِ قَوْمِهِ"

telah menceritakan kepada kami Waki', dari Umar ibnu Zar yang mengatakan bahwa Mujahid pernah meriwayatkan dari Abu Zar bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda: Tiadalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengutus seorang nabi melainkan dengan bahasa kaumnya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}

Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 4)

Yakni sesudah adanya penjelasan dan tegaknya hujah (bukti) terhadap mereka. Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dari jalan petunjuk, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang benar.

{وَهُوَ الْعَزِيزُ}

Dan Dialah Tuhan Yang Mahaperkasa. (Ibrahim: 4)

Segala sesuatu yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi.

{الْحَكِيمُ}

lagi Mahabijaksana. (Ibrahim: 4)

Allah Mahabijaksana dalam semua perbuatan-Nya. Maka Dia menyesatkan orang yang berhak disesatkan, dan memberi petunjuk kepada orang yang pantas mendapat petunjuk.

Demikianlah Sunnatullah pada makhluk-Nya, yakni tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi buat suatu umat melainkan nabi itu berbicara dengan bahasa mereka. Maka setiap nabi khusus menyampaikan risalahnya hanya kepada umatnya saja, bukan umat yang lainnya. Tetapi Nabi Muhammad ibnu Abdullah mempunyai keistimewaan dengan keumuman risalahnya yang mencakup semua manusia. Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda:

"أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعطَهُن أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وطَهُورًا، وأحلَّت لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً"

Aku dianugerahi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi sebelumku, yaitu aku diberi pertolongan melalui rasa gentar yang mencekam (musuh) sejauh perjalanan satu bulan; bumi ini dijadikan bagiku masjid lagi menyucikan; ganimah (rampasan perang) dihalalkan bagiku, padahal ganimah belum pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku; aku dianugerahi syafaat; dan dahulu nabi diutus hanya khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.

Hadis ini mempunyai banyak syawahid yang menguatkannya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman:

{قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا}

Katakanlah.”Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (Al-A'raf: 158)

10/03/2024

TAFSIR SURAT AR-RA'D (13)

Surat Ar-Ra'd (13), ayat 42

{وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ وَسَيَعْلَمُ الْكُفَّارُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ (42) }

Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ}

Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya. (Ar-Ra'd: 42)

Yaitu terhadap rasul-rasul mereka, dan mereka menginginkan agar rasul-rasul itu disingkirkan dari negeri mereka. Maka Allah membalas tipu daya mereka itu dan menjadikan akibat yang terpuji (baik) bagi orang-orang yang bertakwa. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

{وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ}

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-Anfal: 30)

{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا} الْآيَةَ

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (p**a), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka.(An-Naml: 50-52)

*******************
Adapun firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ}

Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri. (Ar-Ra'd: 42)

Artinya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengetahui semua rahasia dan apa yang tersimpan di dalam hati, dan kelak Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.

{وَسَيَعْلَمُ الْكَافِرُ}

dan orang-orang kafir akan mengetahui. (Ar-Ra'd: 42)

Menurut qiraat lain disebutkan al-kuffar dalam bentuk jamak, bukan al-kafir.

{لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ}

untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu. (Ar-Ra'd: 42)

Yakni bagi siapa kemenangan itu, apakah bagi mereka atau bagi pengikut para rasul. Tidak, bahkan kemenangan dan akibat yang terpuji di dunia dan akhirat hanyalah bagi pengikut para rasul. Hanya bagi Allah-lah segala puji.


Surat Ar-Ra'd (13), ayat 43

{وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ (43) }

Berkatalah orang-orang kafir, "Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul.” Katakanlah, "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab."

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan :

Allah berfirman, bahwa orang-orang kafir itu mendustakanmu (Muhammad) dan mereka mengatakan:

{لَسْتَ مُرْسَلا}

Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul. (Ar-Ra'd: 43)

Artinya, Allah tidaklah menjadikanmu sebagai seorang rasul.

{قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ}

Katakanlah, "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian. (Ar-Ra'd: 43)

Yakni cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kalian yang menyaksikan atas diriku terhadap apa yang aku sampaikan dari risalah­Nya; dan menjadi saksi atas kalian, hai orang-orang yang berdusta dalam ucapannya, apa yang kalian buat-buat itu adalah kedustaan belaka.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ}

dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab.” (Ar-Ra'd: 43)

Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam, menurut Mujahid. Tetapi pendapat ini dinilai garib, mengingat ayat ini adalah ayat Makkiyyah, sedangkan Abdullah ibnu Salam hanya baru masuk Islam setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tiba di Madinah.
Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah yang dikemukakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah sebagian dari kalangan pemeluk agama Yahudi dan Nasrani. Qatadah menegaskan bahwa di antara mereka adalah Ibnu Salam, Salman, dan Tamim Ad-Dari.

Dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Disebutkan bahwa Sa'id ibnu Jubair mengingkari bila makna yang dimaksud oleh ayat ini adalah Abdullah ibnu Salam, dengan alasan bahwa ayat ini Makkiyyah. Dan ia membaca ayat ini: dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab. (Ar-Ra'd: 43) Lalu ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ilmu dari sisi Allah. Bacaan yang sama dikemukakan oleh Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Harun Al-A'war, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca ayat ini dengan bacaan: dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab. (Ar-Ra'd: 43)

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa hadis ini tidak ada pokoknya melalui riwayat Az-Zuhri di kalangan para perawi yang siqah.

Menurut kami, hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya melalui jalur Harun ibnu Musa melalui Sulaiman ibnu Arqam — sedangkan dia berpredikat daif—, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya secara marfu' p**a, tetapi masih belum kuat.

Pendapat yang benar sehubungan dengan masalah ini ialah yang mengatakan bahwa firman-Nya: dan antara orang yang mempunyai. (Ar-Ra'd: 43)
Lafaz min adalah isim jinis yang pengertiannya mencakup ulama ahli kitab yang menjumpai sifat Nabi Muhammad dan ciri khasnya dalam kitab-kitab mereka yang terdahulu melalui berita-berita gembira yang diwartakan oleh para nabi. Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ} الْآيَةَ

dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Yaitu), orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil. (Al-A'raf: 156-157)

{أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ}

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy-Syu'ara: 197), hingga akhir ayat.

Demikian p**a dalam ayat-ayat lainnya yang semisal yang di dalamnya disebutkan berita tentang ulama Bani Israil, bahwa mereka mengetahui hal tersebut melalui kitab-kitab suci mereka. Telah disebutkan p**a di dalam hadis mengenai para rahib yang diriwayatkan melalui Abdullah ibnu Salam, bahwa ia telah masuk Islam di Mekah sebelum hijrah.

Al-Hafiz Abu Na'im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah (yaitu sebuah kitab yang besar) menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musaffa, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Hamzah ibnu Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu Salam), bahwa ia pernah berkata kepada para rahib Yahudi, "Sesungguhnya aku bermaksud memperbaharui perjanjian di masjid bapak kami, Ibrahim dan Ismail." Maka berangkatlah Ibnu Salam menuju tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang saat itu masih berada di Mekah. Ibnu Salam menjumpai orang-orang baru p**ang dari menunaikan ibadah haji, dan ia menjumpai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Mina. Saat itu beliau sedang dikelilingi oleh banyak orang. Maka ia ikut bergabung bersama orang-orang itu.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihatnya, beliau bertanya, "Apakah kamu yang bernama Abdullah ibnu Salam?" Ia menjawab, "Ya." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Mendekatlah kamu." Ibnu Salam mendekat kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Saya mau ber­tanya kepadamu dengan nama Allah, hai Abdullah ibnu Salam. Bukankah kamu menjumpai di dalam kitab Taurat nama Rasulullah?" Ibnu Salam balik bertanya, "Ceritakanlah tentang Tuhan kita!" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada saat itu juga kedatangan Malaikat Jibril yang langsung berdiri di hadapannya. Lalu Malaikat Jibril menyampaikan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas: 1-2), hingga akhir surat.
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacakan surat Al-Ikhlas itu kepada Abdullah ibnu Salam Setelah itu Ibnu Salam berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah." Setelah peristiwa itu Abdullah ibnu Salam kembali ke Madinah dan menyembunyikan keislamannya.

Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hijrah ke Madinah, Abdullah ibnu Salam sedang berada di atas pohon kurma, memetik buahnya. Maka setelah mendengar berita itu ia menjatuhkan dirinya dari atas pohon kurma.
Ibunya berkata, "Ya Allah, apa yang engkau lakukan ini? Seandainya yang datang itu adalah Musa ibnu Imran, tidaklah layak bagimu menjatuhkan dirimu dari puncak pohon kurma itu." Abdullah ibnu Salam menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya aku lebih gembira dengan kedatangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketimbang Musa ibnu Imran saat dia diutus." Hadis ini berpredikat garib sekali.

======================
Demikianlah akhir dari tafsir surat Ar-Ra'd, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ikuti selanjutnya Tafsir Surat Ibrahim, surat ke 14
======================

Want your school to be the top-listed School/college in Bogor?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address

Bogor