29/09/2024
*Perjuangan Pasar Digital: Menghadang Dominasi Ekonomi Ribawi dan Meneladani Langkah Nabi*
Sebagai seorang Muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut serta dalam membangun kekuatan umat, baik dari segi iman maupun ekonomi. Perjuangan untuk melawan sistem ribawi yang mendominasi ekonomi dunia bukanlah hal yang mudah. Banyak yang mengatakan bahwa ekonomi global ini begitu kuat, terutama karena dikuasai oleh kekuatan Yahudi. Namun, di sinilah ujian keimanan kita—apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah Maha Kuat dan Maha Besar? Atau, apakah kita sudah tenggelam dalam kekalahan sebelum perjuangan dimulai?
Saya pernah mendirikan Pasar Digital berbasis Waqaf Tunai Bebas Riba pada tahun 2018 dengan tujuan mulia: membangun kekuatan ekonomi umat Islam dan melepaskan ketergantungan dari sistem ribawi. Walaupun saat ini Pasar Digital belum dapat berkembang secara maksimal karena keterbatasan modal, namun sejak awal berdirinya hingga sekarang, Pasar Digital tetap eksis sebagai komunitas. Ini membuktikan konsistensi dan tekad saya untuk terus berjuang, meskipun berat dan dilakukan seorang diri. Pasar ini masih hidup dan berjuang, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit sepenuhnya.
Sama seperti Nabi Muhammad ﷺ yang membangun pasar tandingan di Madinah untuk melawan dominasi pasar Yahudi, saya juga percaya bahwa umat Islam mampu membangun ekonomi yang mandiri dan berlandaskan syariat. Pasar Nabi berhasil mengalahkan pasar Yahudi, bukan karena jumlah pengikut yang besar, tetapi karena keyakinan dan komitmen umat Islam dalam menjalankan prinsip-prinsip ekonomi yang adil dan jauh dari riba.
Namun, perjuangan ini tidak mudah. Cemoohan datang dari berbagai arah, bahkan dari saudara seiman. Orang-orang berkata bahwa saya terlalu berkhayal untuk melawan ekonomi global. Mereka bilang, Yahudi terlalu kuat dan sistem ribawi sudah mengakar. Pernyataan seperti ini membuat saya bertanya-tanya, di manakah iman mereka? Bukankah Allah sendiri yang menyuruh kita untuk tidak takut kepada siapapun selain kepada-Nya?
Allah berfirman:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu; tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? Dan kepada Allah-lah orang-orang mukmin harus bertawakkal.” (QS. Ali-Imran: 160).
Banyak dari mereka yang berharta, termasuk organisasi Islam, yang saya tawarkan Pasar Digital ini, justru menolak dengan alasan yang sama: "Perjuangan ini terlalu berat." Mereka menyerah sebelum berusaha. Padahal, sejarah Islam penuh dengan contoh bagaimana kekuatan iman bisa mengalahkan tantangan yang tampaknya mustahil. Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat bahwa perekonomian dipegang erat oleh kaum Yahudi. Apakah Nabi menyerah? Tidak. Beliau membangun pasar tandingan, menggerakkan umat untuk berbisnis secara jujur, adil, dan bebas dari riba. Hasilnya? Pasar Yahudi akhirnya tumbang.
Allah berfirman:
“Berapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar dari pengikut yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak (p**a) menyerah (kepada musuh).” (QS. Ali-Imran: 146).
Kunci dari keberhasilan umat Islam di zaman Nabi adalah iman yang kuat dan tauhid yang kokoh. Para sahabat seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan tidak pernah berpikir bahwa harta yang mereka miliki adalah milik pribadi yang hanya untuk dinikmati sendiri. Mereka memahami bahwa harta adalah titipan Allah yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Inilah yang menjadi dasar dari ekonomi Islam sejati: bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah amanah, bukan milik kita yang absolut. Allah berfirman:
“Berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan belanjakanlah dari apa yang Allah telah jadikan kalian sebagai pemimpin. Maka orang-orang yang beriman di antara kalian dan menafkahkan (hartanya) di jalan Allah, mereka mendapatkan pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7).
Namun, di zaman sekarang, banyak organisasi Islam yang lebih sibuk membangun nama kelompok dan membuka cabang di mana-mana. Mereka membanggakan pencapaian administratif tanpa memikirkan substansi perjuangan Islam yang sesungguhnya. Di manakah marwah Islam yang mereka klaim perjuangkan? Jika kita hanya sibuk menambah pengikut dan cabang, namun umat Islam tetap lemah secara ekonomi, apa yang sebenarnya kita perjuangkan? Allah mengingatkan kita:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Saff: 2-3).
Inilah bentuk kemunafikan modern: sibuk dengan tampilan luar, namun lemah dalam substansi. Perjuangan ekonomi adalah bagian dari jihad. Nabi ﷺ dan para sahabat memahami bahwa dakwah bukan hanya soal ceramah dan khutbah, tetapi juga soal membangun kekuatan yang bisa menopang umat, baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Ketika kita mengabaikan aspek ekonomi, kita membiarkan umat Islam tetap tergantung pada sistem yang menzalimi mereka.
Pasar Digital berbasis Waqaf Tunai Bebas Riba yang saya rintis adalah salah satu bentuk jihad ekonomi. Meskipun saat ini Pasar Digital tersebut tidak lagi beroperasi karena kekurangan modal, saya tetap yakin bahwa ini adalah perjuangan yang Allah ridhoi. Saya masih berjuang agar Pasar Digital ini bisa kembali eksis, bahkan jika saya harus melakukannya sendiri. Karena saya tahu, jalan atau tidaknya usaha ini bukanlah tergantung pada saya, tetapi pada kehendak Allah. Firman-Nya:
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3).
Saya juga mengambil sistem berbasis digital dalam usaha ini, bukan untuk meniru sistem ribawi, melainkan untuk mengimbangi ekonomi ribawi yang berbasis digital p**a. Ini bukanlah hal yang menyalahi syariat, karena penggunaan sistem digital bersifat mubah (diperbolehkan), selama substansi di dalamnya halal dan sesuai dengan aturan Allah. Justru, dengan sistem ini, kita bisa membangun pasar yang bersih dari riba, lebih transparan, dan bisa menjangkau lebih banyak umat Islam. Di zaman Nabi, teknologi tentu berbeda, tetapi prinsip tauhid dan keadilan tetap sama, dan itulah yang menjadi landasan utama. Firman Allah:
“Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan s**a maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan?” (QS. Ali-Imran: 83).
Perjuangan dakwah yang saya ambil melalui sisi ekonomi ini bukanlah tanpa alasan. Menurut pandangan saya, dakwah memerlukan modal yang kuat. Jika ekonomi umat Islam lemah, bagaimana mungkin kita bisa berdakwah dengan maksimal? Sejarah telah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat tidak hanya fokus pada spiritualitas, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang kokoh. Ketika umat Islam kuat secara ekonomi, dakwah akan lebih efektif dan menyentuh berbagai lini kehidupan.
Dan perlu diingat, berbicara tentang ekonomi bukan hanya soal sedekah. Sedekah adalah amal mulia, namun itu bukan satu-satunya solusi untuk membangun kekuatan ekonomi. Di zaman Nabi, sedekah hanyalah bagian dari strategi ekonomi yang lebih luas, di mana umat Islam membangun pasar, berdagang dengan adil, dan menjauhkan diri dari riba. Sedekah memang baik, tetapi kita memerlukan sistem ekonomi yang lebih besar dan kuat untuk menopang dakwah secara keseluruhan.
Dan satu hal yang harus kita sadari bersama: Mari kita hidupkan kembali ekonomi Islam yang sudah redup 1400 tahun lamanya. Ekonomi Islam yang sejati adalah sistem yang dibangun di atas keadilan, keberkahan, dan kesejahteraan umat. Ini bukanlah seperti “ekonomi syariah” yang sering kali hanya mengaburkan makna sebenarnya, di mana label “syariah” ditempelkan, namun sistemnya masih berjalan di atas asas ribawi dan tidak mendukung kemaslahatan umat Islam secara menyeluruh.
Inilah waktu bagi umat Islam untuk bangkit. Tidak dengan retorika kosong, tetapi dengan aksi nyata yang dibangun di atas fondasi iman dan ekonomi yang kuat. Dan bagi mereka yang meremehkan perjuangan ini, ingatlah bahwa Allah tidak akan membiarkan kebatilan menang, sebagaimana firman-Nya:
“Dan katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap.’ Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81).
Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua untuk terus berjuang di jalan-Nya, termasuk dalam membangun kekuatan ekonomi umat Islam yang sejati. Tidak ada perjuangan yang mudah, terutama ketika kita melawan sistem yang telah mengakar selama ratusan tahun. Namun, dengan keyakinan kepada Allah, ketekunan, dan usaha yang istiqamah, tidak ada yang mustahil bagi umat Islam.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'" (QS. Fussilat: 30).
Perjuangan ini memang berat, tetapi ingatlah bahwa Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat pun menghadapi tantangan yang jauh lebih besar ketika mereka pertama kali membangun peradaban Islam. Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga mental, sosial, dan ekonomi. Dari dakwah di Makkah yang penuh dengan penolakan, hingga hijrah ke Madinah, semuanya adalah bagian dari strategi besar untuk membangun umat yang kuat. Setelah pilar iman dan ekonomi kokoh, barulah wahyu tentang jihad fisabilillah diturunkan, menandakan kesiapan umat Islam untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
Kita tidak bisa lagi hanya berdakwah dengan kata-kata dan mengandalkan sedekah saja. Kita butuh sistem ekonomi Islam yang nyata, yang bukan sekadar label syariah, tetapi benar-benar sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Dan untuk itu, saya mengajak seluruh umat Islam untuk menghidupkan kembali semangat ekonomi Islam yang sudah redup selama 1400 tahun. Bukan ekonomi syariah yang menyesatkan, tetapi ekonomi Islam yang hakiki, yang mengedepankan keadilan, kesejahteraan, dan bebas dari riba.
Pasar Digital berbasis Waqaf Tunai Bebas Riba yang saya dirikan adalah upaya kecil untuk mewujudkan hal ini. Walaupun saat ini saya berjuang sendiri, saya tetap yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan perjuangan ini sia-sia. Firman Allah:
"Barangsiapa menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya." (QS. Muhammad: 7).
Kita tidak perlu takut menghadapi tantangan dari kekuatan global yang mendominasi. Kita hanya perlu yakin dan bertawakal kepada Allah, serta terus berusaha memperbaiki ekonomi umat. Mari kita bangkit bersama-sama, membangun kembali kejayaan ekonomi Islam yang pernah hilang. Bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk kejayaan umat Islam di seluruh dunia. Dan bagi mereka yang ragu atau menolak, ingatlah bahwa setiap perjuangan butuh pengorbanan, dan Allah hanya akan memberikan kemenangan kepada mereka yang bersungguh-sungguh.
"Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah (p**a) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali-Imran: 139).
Perjuangan ini masih panjang, tetapi inilah jalan yang harus kita tempuh jika kita benar-benar ingin membangkitkan kembali Marwah Islam di tengah tantangan ekonomi global. Allah-lah yang akan memutuskan hasilnya, tetapi kita wajib untuk terus berusaha dan tidak menyerah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Lucky Zamaludin Malik
Pendiri Pasar Digital Berbasis Waqaf Tunai Bebas Riba