28/06/2024
*Refleksi singkat: Manusia dan Alam*
_Oleh: Andisyah_
Pergeseran pemahaman manusia yang terjadi dalam kurun beberapa dekade belakangan ini, banyak melahirkan konsekuensi yang serius, terutama terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.
Sebagaimana fenomena mencairnya gunung es di kutub, pencemaran air laut akibat tumpahan minyak dari kapal-kapal pengangkut, peralihan fungsi hutan sebagai lahan pertanian dan berbagai macam bentuk kerusakan lainya menjadi pemandangan hari hari belakangan.
Jika ditelisik ulang, bahwa kerusakan lingkungan sebagaimana yang di maksud sudah terjadi semenjak beberapa ratus tahun belakangan, semuanya tidak terlepas diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan (konsumsi) demi menjaga keberlangsungan hidupnya.
Namun kerusakan lingkungan yang terjadi beberapa ratus tahun silam jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan babak apa yang disebut sebut sebagai abad modern. Sebagaimana bisa di kroscek melalui informasi (data) yang banyak bertebaran melalui pemberitaan media mainstream dan hasil riset institusi independen yang memberi perhatian lebih atas problem kerusakan lingkungan menunjukkan kerusakan lingkungan hari ini sedemikian parah adanya.
Dari semua problematika tersebut yang menjadi pertanyaan, apakah pergeseran pemikiran pada manusia sehingga melihat alam sebagai objek dan hanya difungsikan sebagai pemenuhan pemenuhan kebutuhan hidup pada dasarnya bersumber dan berkembang dari dalam diri manusia itu sendiri? Ataukah pemikiran tersebut merupakan hasil konstruksi yang berasal dari satu kebudayaan tertentu?
Jika kembali pada corak pemikiran mayoritas manusia kontemporer, kecenderungan konsumeris-hedonis menjadi bagian dari sisi kehidupan masyarakat yang pada dasarnya tidak terlepas dari satu paham yakni materialisme.
Paham ini sendiri pada dasarnya bersumber dari belahan dunia barat. Materialisme mengasumsikan bahwa alam (materi) sebagai sumber konsep pengetahuan manusia. Sebagai asumsi radikal yang berkembang, bahwa materialisme cenderung meninggalkan atau menganggap satu satunya realitas yang pasti adalah materi itu sendiri.
Sehingga akibat yang di timbulkannya bahwa paham ini meyakini diluar daripada materi seperti kepercayaan pada hal hal yang metafisik sama sekali tidak bisa di percaya.
Pada titik ini, ketika materialisme menjadi satu paham yang berkembang pada kebudayaan tertentu dan secara praktis menggeser paham sebelumnya yang sesuai dengan kondisi kultural dan terbentuk dengan waktu yang cukup panjang akan berkonsekuensi serius terhadap hubungan manusia dan alam.
Seperti manusia dipandang sebagai subjek (hidup) yang bebas memperlakukan alam sebagai objek (layaknya benda) yang tidak memiliki kehidupan. Ini adalah keberangkatan pemikiran yang tentu problematik jika di kembalikan, disandingkan dengan kebudayaan ketimuran.
Sebagaimana kepercayaan masyarakat disana masih kuat atas segala sesuatu yang jauh melampaui kehidupan Manusia. Jika dikaitkan dengan alam, bahwa diluar diri manusia juga memiliki jiwa dan keberadaannya wajib diberi penghormatan dengan tidak secara semena mena melakukan eksploitasi secara membabi buta sebagaimana pahaman Materialisme yang banyak menjangkiti masyarakat kontemporer.
Untuk tidak terjebak pada paham yang menihilkan kehidupan diluar diri manusia dan menganggap manusia sebagai pusat semesta, maka perlu mendudukan kembali paham itu sendiri. Karena segala pengetahuan atau berupa paham yang berkembang dari luar dan merupakan hasil konstruksi kebudayaan tertentu atau dalam hal ini materialisme (barat) apabila ketidak bijakan (menyaring) bisa saja manusia terperangkap pada hegemoni pemikiran (materialisme) yang konsekuensinya begitu (destruktif), karena menghantarkan pada laku hidup yang konsumeris-hedonis hingga berakibat pada lingkungan yang sedemikian rusak.
Minggu pagi, 23 Juni 2024.