17/08/2022
Dengan agak sedikit tergopoh-gopoh saya menyusul sosok ketua MPU Aceh dari belakang. Bayang tubuhnya yang disinari temaram lampu terlihat menunduk. “Maaf, hari ini saya sudah agak lelah. Dari pagi rapat hingga sore,” kata beliau.
Beberapa agenda rapat pimpinan menguras energinya. Raut wajah ulama bernama lengkap Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA itu terlihat letih. Usianya memang tak lagi muda. Salah satu agenda beliau adalah mengoreksi bahasa di dalam draf fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU).
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi iteraksi terakhir saya dengannya. Prof Muslim menempuh pendidikan sarjana hingga doktor di Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
“Dari mana?” tanya beliau.
“Bireuen, Abu!” Wajah beliau menengadah ke atas saya. Bireuen berjarak sekitar 220 kilometer arah Timur Kota Banda Aceh. Butuh waktu 5 jam perjalanan untuk bisa sampai ke ibukota Provinsi Aceh ini.
Saat masuk kembali ke ruang kerjanya, beliau sibuk merapikan meja dari kertas yang bertumpuk. Mencari celah agar ada ruang untuk menaruh map yang baru saja beliau bawa dari ruang rapat.
“Silahkan duduk!” tuturnya. Saya berusaha meyakinkan diri untuk duduk. Rasanya saya akan menambah keletihan beliau hari ini. Diantara rasa bersalah dan motivasi mengejar sumber. Akhirnya saya duduk juga. Hari itu tanggal 2 Juli 2019.
Saya berusaha mencari pertanyaan ringkas dengan jawaban singkat yang bisa saya prediksi. Tetapi bagi seorang jurnalis seperti saya, legalisasi data dari pejabat yang berwenang lebih penting dari data itu sendiri.
Analogi 'kereta api'
Diskusi kami sore itu mulai merambah isu-isu yang berat. Pendangkalan aqidah dan syariat Islam. Sesekali beliau menjawab dengan kalimat-kalimat analogi. Memberi perumpamaan terhadap dua hal yang berlainan.
Sikap beliau ini membuat saya makin sadar kenapa banyak orang akhirnya mempertahankan beliau tetap berkiprah di MPU Aceh. Logikanya masih sangat jalan saat sedang letih sekalipun.
Paham cara mengistirahatkan pikiran sejenak dengan analogi.
Saya mencoba memberi jeda yang agak lama ketika sadar waktu 30 menit yang kami sepakti telah berakhir. Suasana sejenak menjadi hening. Saya tidak melanjutkan untuk bertanya. Bersiap-siap memutuskan menyudahi diskusi sore itu, atau menunggu reaksi dari ulama yang juga menjadi anggota Majelis Ulama ASEAN ini.
"Yang paling berat dari syariat Islam ini adalah menggerakkan kemitraan. Seperti 'kereta api'." Beliau memutuskan melanjutkan diskusi kami setelah menandatangani beberapa dokumen.
..
Selengkapnya: https://www.dariaceh.com/profil/in-memoriam-prof-muslim-ibrahim-ketua-mpu-aceh/