Kumpulan Cerita Pendek - Cerpen

Kumpulan Cerita Pendek - Cerpen

Share

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif.

Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel.

10/02/2022

Cinta Tak Terbalas
“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila.

“enak d**g, ini kan minuman kes**aanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya.

“Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku.

“ya udah deh, antarin aku p**ang ya Vino!” canda Sheila. “kalau bukan aku yang antar siapa lagi?” jawabku.

Aku mengantar Sheila p**ang ke rumahnya, setelah aku mentraktirnya makan malam nasi goreng. Sesampai di rumah Sheila aku menyempatkan diri untuk mampir dulu, kupikir rumahnya tidak ramai, tapi ternyata ada keponakannya.

“ciee.. mbak Sheila, cowoknya ya?” kata keponakan perempuan Sheila.

“apa sih? dia Cuma temen woy” jawab Sheila santai.

Aku dan Sheila asik bercanda, hingga kira-kira pukul delapan malam, dan aku memutuskan untuk p**ang, sebelum aku p**ang aku memberi dia sebuah boneka yang kubeli sebagai oleh-oleh saat aku pergi ke p**au Bangka “Sheila aku p**ang ya, ini oleh-oleh dariku” kataku sambil menyerahkan boneka yang kubungkus dengan kertas kado bergambar beruang yang lucu.

“iya deh, makasih ya traktirannya” jawab Sheila dengan senyum manisnya. Lalu aku segera menyalakan mesin motorku dan segera p**ang.

Sheila, dia orang yang kukenal semenjak aku masuk satu SD dan satu kelas dengannya, dia memang cewek yang baik, dan juga mempunyai wajah manis, tak jarang saat ini jika siapa saja yang bertemu dengannya akan jatuh hati, bahkan aku juga yang mengenalnya sejak umur enam tahun, tapi baru sekarang jatuh hatinya, tapi sayang dia sudah mempunyai seorang pacar, tentu aku tidak ingin disangka mau merebutnya.

Sampai di rumah, aku membuka laptop dan masuk ke akun Twitterku, sebenarnya hanya iseng, tapi aku lihat Sheila juga sedang online.
“hey tidur sana udah malem” kataku membalas mentionnya.

“lo aja yang tidur” jawabnya. Aku dan Sheila sering bercanda tak hanya di Twitter bahkan tiap kali bertemu kami selalu bercanda. Lama kelamaan, aku jatuh hati, tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu, karena dia sudah punya pacar, jadi aku tetap memendam perasaanku, aku tak tahu kapan akan mengungkapkannya.
Karena sering kami saling balas mention di Twitter, ternyata itu membuat pacar Sheila mungkin terlihat cemburu, dia melarang Sheila agar tidak terlalu sering membalas mentionku itu. ”ayolah, aku tidak akan merebut Sheila, aku yakin dia jodohmu, aku hanya akan terus menjadi temannya” kataku dalam hati.

Sejak itu aku jarang berkomunikasi dengan Sheila, dan aku tak mau memulai, mungkin dia akan mengira aku pengacau. “kapan aku bisa jadi pacar Sheila ya, apa aku hanya akan terus menjadi temannya, bahkan sampai aku mati” kataku dalam hati. Hingga saat ini aku tetap hanya memendam perasaan, sampai saat aku hendak pergi ke Bangka, dimana aku akan melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa. Satu malam sebelum aku pergi, aku memutuskan bertemu Sheila di taman dan ada sesuatu yang akan aku bicarakan.

Saat sampai di taman, aku menemui Sheila yang sudah menunggu dia terlihat begitu manis malam ini. “sudah lama ya?” kataku
“ya gitu deh” candanya. “Sheila besok aku sudah pergi, sebelum aku pergi aku mau ngomong sama kamu”.
“ngomong aja susah amat” candanya lagi.

“heemm.. aku sudah lama mengenalmu, dan sudah mengetahui sifatmu, dan juga kebiasaanmu, tapi aku baru tahu bahwa aku s**a sama kamu” kataku spontan.
“Vino apaan sih, kamu tau kan aku sudah punya cowok, ngapain mau nembak aku, ya pasti aku tolak lah” jawabnya.
“aku tahu, aku bukan mau nembak kamu, aku hanya menyatakan perasaanku, karena aku juga tahu kamu akan menolakku” jawabku.
“jadi buat apa kamu ngomong ini?” tanya Sheila.

“Sejak kita satu kelas di SMA, aku tahu kamu orangnya berbeda, aku tidak tahu tapi setiap kali kita bercanda, aku lebih merasa nyaman, sekalipun kamu tidak, aku hanya ingin kau tahu saja kalau aku s**a kamu” aku menjelaskan.

“maaf Vino tapi aku..” belum selesai Sheila berbicara, aku langsung memotongnya.
“Aku mungkin tidak sempurna dari pacarmu, bahkan tidak ada yang bisa kulakukan untukmu, mungkin aku hanya akan terus menjadi teman dari masa lalumu, dan kau tidak butuh aku, karena suda ada pacarmu. Meski aku akan terus jadi masa lalumu tapi aku akan terus hidup di masa depanmu”
“Vino, aku sudah tahu kamu s**a aku, dari semua caramu terhadapku saat ini, tapi aku memang sudah dapat yang menurutku sempurna, dan saat ini mungkin aku belum butuh bantuanmu” kata Sheila.

“ya, bahkan yang kamu anggap sempurna sebenarnya juga tidak sempurna, tidak apa aku bisa menerima, aku hanya akan terus jadi temanmu, bahkan mungkin ketika aku sudah tiada, kau baru sadar bahwa aku berarti untukmu, maaf ya oh iya, kalau kamu merasa kangen sama aku, anggap saja boneka yang aku kasih sebagai penggantiku” kataku.

Sesaat kami saling terdiam, aku baru sadar inilah yang dinamakan cinta tak berbalas, aku salah menyukai dia, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan. Malam itu, akhirnya kami lewati. Pagi hari aku siap berangkat, aku megirimkan pesan singkat sebelum aku pergi “Sheila, sampai jumpa aku senang bisa mengungkapkan perasaanku”

Sheila membalasnya” Terima kasih atas pertemanan kita, kamu yang terbaik”

Aku senang mengetahuinya, tapi tetap aku hanya temannya, meski cintaku tak berbalas, aku tau ada kalanya Sheila akan membutuhkanku. Aku mungkin hanya selalu jadi teman masa lalunya, tapi seberapa keras ia coba lupakan aku, aku akan terus hadir di masa depannya meski hanya ingatan. “Aku harap kamu bahagia dengan pacarmu, bagimu aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi aku yakin ada hubungan khusus di antara kita yang melebihi seorang teman, sahabat, bahkan pacar sekalipun aku berharap bisa jadi pacar Sheila tapi aku tau itu tak mungkin. Sampai Jumpa Sheila.”

TAMAT

27/12/2017

REPOST

TAK SEINDAH CERPEN DAN NOVEL
Karya : Puteri Nissa Hira Nazma
**************
Hai...aku Vannisa Putri Nirmala,aku akan menceritakan sebuah kisah singkat tentang cinta pertama ku yang tak berbalaskan.Tentang bagaimana caraku Mencintainya tanpa ia sadari.
Mencintainya dalam diam mungkin adalah pilihan yang tepat.Banyak yang bilang kalau mencintai seseorang dalam diam itu membuat kita akan merasa sangat sakit.Tak apalah jika hatiku sakit karena aku memang tidak punya keberanian yang besar.Nyaliku terlalu kecil bahkan untuk berkenalan dengannya.
Riko namanya Riko namun aku selalu memanggilnya dengan sebutan kakak vampir.Entahlah kenapa sebutan itu yang aku sebut.Tapi yang jelas aku menyukainya.Menyukainya melebihi siapapun.
"Lo beneran s**a sama kak Riko,Nis?" Tanya Ayu,teman sekelaskunyang memang rata rata sudah mengetahui aku s**a padanya.
"Menurut Lo?"jawab ku sekenanya.
"Yakin Lo,dia itu play boy, Ganteng sih,tapi sebulan aja dia bisa ganti 4 sampai 5 kali pacar."jawab Lena,teman ku yang lain.
"Yakin kok,eh,ada orangnya."ujarku pengalih perhatian mereka.
Selama ini aku memang hanya Menyukainya dalam diam.Yang aku tahu darinya hanyalah nama lengkap,tanggal lahir,kelas,jam pelajaran olah raga,akun sosial medianya,dan dia aktif di beberapa ekskul dan organisasi.
Aku pun hanya bisa melihatnya dari jauh,memperhatikannya bahkan saat dia sedang bersama pacarnya.Pernah sesekali aku mencoba untuk mengirim pesan padanya lewat Facebook dan itu hanya dibalas sementara karena mungkin pesanku kalah dengan pesan pacarnya. Maka Ketika ada pemilihan pengurus OSIS maka aku dengan senang hati akan mengikutinya,hanya karena ada dia dalam organisasi tersebut.
Hari ini adalah jadwalku untuk Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa dan How lucky i am! Ternyata kakak vampir yang mengisi materinya.Tak kuhiraukan ia bicara apa karena yang diperhatikannya hanyalah ia seorang.Andai ada kata yang menggambarkan betapa bahagianya aku hari ini.
Akhirnya hari yang tak kurelakan pun datang.Perpisahan kelas XII.hari ini hari terakhir aku melihatnya.Hari ini aku akan mengajaknya berkenalan dan bertukar nomor handphonenya.
Aku kira aku akan sukses dengan misiku namun apalah dayaku ketika melihatnya sedang bersama dengan pacarnya yang lebih dari pada diriku.Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk berkenalan dengannya.
Siang itu ia pergi sebagai alumni namun tanpa disadari ternyata ia telah membawa sebagian hatiku.Dan satu hal yang dipelajari bahwa tidak semua cinta pertama itu indah dan tidak semua cinta pertama itu berbalaskan.
Hari ini Vannisa Putri Nirmala mendapatkan pelajaran berharga bahwa cinta pertama itu tidak selalu seperti dalam cerpen dan novel. Ini kisah ku,kisah tentang cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan.Dan kuharap kalian jangan terlalu berkhayal tentang cinta pertama seperti di novel novel dan cerpen cerpen,Walaupun mungkin ada kisah yang seperti itu .

27/12/2017

Asing

Aku berusaha mencari kunci jawaban untuk memecahkan teka teki pertanyaan ini, tentang mengapa kita sediam ini.
Kita berhadapan, namun mata kita tak saling memandang lagi, mulut kita tak saling bercengkrama lagi, senyum merekah mu tak setulus dulu lagi bahkan takada tawa untukku lagi. Waktu sangat kejam membuat kita seasing ini. Kita yang dulu begitu dekat kini harus terdiam dengan rasa canggung sulit untuk berucap .Aku tak tau mengapa pada akhirnya kita bisa menjadi seasing ini. Sungguh jarak terjauh bukanlah bentangan kilometer, melainkan dekat namun saling diam. Aku rasa kau tak ingin lagi menemuiku bahkan melihat ku lagi. Aku tak paham dengan mu, sedikit demi sedikit kau memaksaku untuk menjauhimu. Tak masalah, aku sudah terbiasa ditinggalkan tanpa alasan oleh orang orang sebelum kamu. Tapi untuk kali ini, aku tak pernah menduga nya sekalipun kau bisa pergi secepat ini. Kamu itu seseorang yang dulu tak pernah ku sangka akan hadir lalu pergi secepat ini.
Karya : Putri Sri ramadhanti

27/12/2017

Hmm. Admin alone nih 😅😅, jadi harap maklum yak kalau baru bisa update lgi.

06/07/2015

KENANGAN PERAHU SENJA
Karya Sinta

Ombak berkejaran meraih pantai nyaris menyentuh pesisir. Tiada lelah tiada kesah. Ribut bergemuruh sepanjang hari tanpa henti. Datang lalu pergi dan begitu seterusnya. Tak berlalu pun tak berganti. Bongkahan kayu menyatu dan terapung berselimutkan langit senja. Senja terindah! Dua onggok kayu beradu dalam air tuk melaju. Menatap fatamorgana nan remang di balik air.
“Tya, kamu beneran mau pindah ke kota?” Tanyaku datar dengan wajah sendu. Rasanya aku tak rela harus kehilangan sahabatku.
“Iya. Besok pagi aku berangkat. Tolong, jangan sedih kayak gitu! Aku kan gak pergi selamanya. Kalo ada waktu luang aku pasti balik karena aku punya sahabat di sini.” Tuturnya sambil tersenyum untuk mencoba menghiburku. Aku melonjak memelukknya dengan erat seakan tidak rela untuk melepaskannya pergi. Itulah pelukan terakhir sebelum akhirnya kita berpisah untuk waktu yang lama. Aku akan sangat merindukannya. Merindukan sahabat yang selama ini selalu bersamaku dalam s**a maupun duka.
*****

Hari silih berganti hinga merangkai bulan yang terus merajut tahun. Tya tak kunjung datang. Entah apa yang ia lakukan sekarang. Apa dia sedang merindukanku? Atau mungkin merencanakan hari untuk menemuiku?
Kini aku berada di tengah-tengah keramaian kota. Tempat yang ramai dan terasa asing. Mengantarkan saudaraku dengan harapan bisa bertemu dengan Tya.
DUUGGGGG!!!! Sebuah benda jatuh mengenai kepalaku yang sedang menunduk ingin mengambil sesuatu. “Aawww....” Pekikku. Ternyata sebuah makanan kaleng yang jatuh.
“Aduuhhh..., maaf, maafin gue! Gue gak sengaja tadi. Beneran deh. Aduuhhhh....” Ucapnya panik.
“Aku yang sakit kok dia yang aduh-aduh sih?” Pikirku. Aku pun berdiri sambil mengelus bagian kepala yang terkena kaleng itu. Untung saja keadaan di swalayan cukup sepi hingga tidak menjadi pusat perhatian.
“Astaga...!” Kaget sungguh kaget ketika aku melihat perempuan itu adalah Tya, sahabatku. “Tya? Kamu Tya kan? Wah, kamu udah berubah. Tambah cantik aja kamu, Tya.” Selorohku histeris melihat perubahannya yang tampak modern.
“I.., iya gue Tya. Loe siapa? Kok kenal gue?” Tanyanya dengan raut kebingungan.
Duuaaarrrrr! Seperti sambaran petir yang tengah menerjang. Tak menyangka, tak percaya, dan tak diduga. Dalam kurun waktu yang singkat dia melupakanku, sahabatnya. Mungkinkah dia hanya berpura-pura?
“Kok diem? Aduh, masih sakit ya? Sorry deh sorry....”
“Kamu? Kamu beneran gak ingat aku? Aku Lina.” Ujarku lesu. Organku terasa membeku, urat nadi erat menyatu, dan hati begitu pilu.
“Lina? Lina..?? Lina siapa ya?” Tanyanya lagi. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia segera membukanya. “Ya udah, gue pergi dulu. Soal tadi, sekali lagi gue minta maaf. Bye...” Pamitnya dan akhirnya beranjak meninggalkanku begitu saja.
Kamu pergi? Pergi gitu aja? Kamu bener-bener berubah. Kamu bukan Tya yang kukenal dulu. Kehidupan di kota merubahmu sedemikian hingga. Merubahmu menjadi diri yang lain. Diri yang tak mengenalku dan kukenal.
*****

Malam tak bertemankan bulan dan bintang. Hanya berselimutkan awan mendung. Gulita mengingatkan waktu silam yang kini kelam. Siapa yang salah? Tak ada yang salah. Tidak aku, tidak dia, dan tidak juga waktu. Keadaan? Tak ada yang bisa menyalahkan. Kini hanya tinggal kenangan.
“Kamu gak tidur, Lina? Besok pagi kan kamu balik ke kampung.” Tanya Rasty, sepupuku yang telah berdiri di sampingku.
“Aku belum ngantuk. Kamu tidur aja.” Pintaku. “Oh iya, apa suatu hari nanti kamu juga akan berubah seiring berjalannya waktu?” Tanyaku tiba-tiba. Rasty pun duduk di sebelahku. “Kamu kenapa, Hen? Ada masalah?” Aku menggeleng. Tapi aku yakin dia dapat membaca raut wajahku. “Pasti terjadi sesuatu. Ayo, cerita!”
Aku menarik nafas panjang lalu menghelanya dengan panjang juga. “Tya. Aku tadi ketemu dia. Hanya saja...”
“Hanya saja?”
“Dia bukan Tya yang kukenal dulu. Dia sudah seperti orang lain.” Aku pun terdiam sesaat. “Ah udah lah, maaf ganggu waktumu yang seharusnya sudah tidur.” Ujarku sambil tersenyum kecil.
Rasty menepuk-nepuk lenganku dengan bermaksud untuk menenangkanku. “Segala sesuatu akan berubah kapan saja tanpa terkendali. Mungkin dia bukan yang kamu kenal dulu. Tapi berbanggalah karena kamu tetap dirimu yang dulu yang selalu merindukannya. Gak masalah dia berubah atau nggak, asal satu hal yang kamu tau yaitu kamu gak pernah lupain dia. Bisa jadi suatu hari nanti dia kembali menjadi Tya yang dulu.” Tuturnya panjang lebar dengan bijaksana.
“Aku mengerti.” Jawabku singkat.
“Malam semakin larut untuk menuju pagi. Waktu gak akan berhenti hanya untuk menunggumu merenungkan perubahan. Tidurlah!” ujarnya lalu beranjak. Aku hanya mengiyakan pintanya sebelum akhirnya ia berjalan jauh menuju kamarnya. Aku hanya belum ngantuk. Aku masih ingin duduk bersama sunyinya malam. Rumah-rumah mewah yang tertutup dan gelap, jalan yang sepi, dan lampu jalan yang remang. Seperti beberapa kalimat dalam sebuah lagi. “Langit selalu gelap. Semua orang akan berpisah. Siapa pun tak akan dapat menemani orang lain selamanya.”
“Ok, gue tunggu besok pagi.” Terdengar perbincangan beberapa gadis di persimpangan.
“Gadis-gadis kota!” Ucapku dalam hati.
“Sip.., bye.” Mobil pun melaju meninggalkan seorang gadis di persimpangan yang jaraknya hanya hitungan meter dari tempatku bersantai. Gadis itu berjalan nyaris melewatiku, sedang aku sendiri hanya menunduk tidak ambil pusing siapa gadis itu. Hingga dia menghentikan langkahnya dan berjalan mendekatiku. “Loe yang tadi siang itu kan? Siapa nama loe? Sorry, gue lupa.” Sapanya. Aku menengadahkan kepala dan akhirnya aku menyadari jika gadis itu adalah Tya.
“Lina. Namaku Lina.” Ucapku dingin sambil berdiri. “Dalam hitungan bulan kamu sudah lupain aku. Dan dalam hitungan jam kamu lupain namaku. Mungkin setelah ini dalam kurun waktu dekat, kamu benar-benar lupa semuanya.” Ucapku semakin dingin.
“Sewot amat loe. Gue baik-baik nyapa malah jawabnya gitu. Tau gini gue kagak nyapa loe.” Ujarnya kesal. “Ya udah lah gue cabut dulu. Gue malas debat apalagi malam-malam gini.” Lanjutnya kemudian beranjak.
“Kamu bener-bener berubah, Tya.” Selorohku setengah menjerit. Dia pun berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapku. “Aku kecewa. Kamu bukan Tya yang dulu. Aku rindu seorang Tya. Di mana Tya yang dulu? Kenapa kamu biarin dia berubah menjadi orang lain?” Ucapku menahan isak tangis. Dia belum menjawab melainkan mendekatiku. “Tya yang dulu? Gue gak tau Tya yang dulu. Mungkin dia udah pergi. Dan gue gak kenal ama loe. Loe salah orang.” Tuturnya.
“Aku gak mungkin salah. Kamu Tya dan kamu sahabatku. Kamu kenapa tega lupain aku? Kenapa kamu lupain janji kamu? Tiap senja kita selalu mendayung perahu dan menikmatinya sambil bercanda. Kenapa kamu buang itu semua dari ingatanmu, Tya? Kenapa?” Ujarku menahan tangis sambil mengguncang lengannya berharap dia hanya pura-pura.
“Lepasin!” Sentaknya menepis tanganku. “Ya, gue emang Tya dan Tya yang dulu udah pergi. Dia udah lupain semua kenangan itu. Hidup ini terlalu indah untuk memandang masa lalu. Gak ada waktu mengingat masa lalu karena kita hidup di masa kini. Paham loe?” Amarahnya membuncah. Aku sadar. Akhirnya aku tau jika dia memang sengaja melupakannya. Dia melupakan semua kenangan yang terajut indah karena hidupnya yang sekarang. Wajar atau kejam kah?
“Anggap kita gak pernah ketemu! Gue udah berubah dan bukan yang dulu loe kenal. Lupain soal kenangan senja atau perahu atau apa pun itu. Selamat malam.” Ujarnya lalu beranjak tanpa ingin mendengar apa yang akan aku katakan. Gak ada waktu mengingat masa lalu karena kita hidup di masa kini? Kalimat yang memilukan. Ibarat dinding-dinding kerinduan yang terkoyak belati berasa perih. Mulut membisu dan air mata yang berbicara.
“Kamu jahat, Tya! Apa salahku sampe kamu kayak gitu?”
*****
Senja baru yang tidak biasa. Kini hanya aku sendiri bersama sejuknya udara tuk hempaskan rindu yang tak perlu. Senja itu, perahu itu, gemericik air itu, dan lampu remang itu hanyalah sisa-sisa kenangan. Yah, hanya sebait kenangan perahu senja. Tak ada yang berarti lagi.
“Hei, kamu!” Panggil seseorang dari belakang yang menghentikan renunganku. Aku menoleh dan kudapati seorang gadis yang belum pernah terlihat di kampung ini sebelumnya. “Ya, kamu! Kamu ngapain ngelamun sendiri?” Ucapnya seraya berjalan menghampiriku.
“Aku? Emm.., emang kenapa? Kamu siapa?” Tanyaku sambil memerhatikannya mengatur posisi duduk di sebelahku.
“Kenalin nama aku, Andin. Nama kamu siapa?” Tanyanya balik sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Lina.” Jawabku sambil menjabat tangannya. “Kamu warga baru? Aku gak pernah liat kamu sebelumnya.”
Dia menghela nafas. “Kalau gak pernah liat sebelumnya ya berarti aku warga baru. Pake tanya segala. Lagian kamu ngapain sore-sore gini nongkrong sendirian di sini? Gak takut apa kalo napa-napa?” Gerutunya seakan-akan sudah kenal dekat. Kuamati dia dari ujung rambut sampai ujung kaki dan aku yakin dia anak kota. Mulai dari model rambutnya, pakaiannya, dan wajahnya. “Kamu.., dari kota kan?” Tebakku.
“Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?” Tanyanya menatapku sambil tersenyum. Aku tidak menjawab. “Mau kota kek, desa kek, kampung kek, pelosok sekalian kek, menurutku sama aja.” Lanjutnya santai. “Eh kayaknya enak kali ya kalau dayung perahu sekarang ini? Pasti tenang dan terasa damai. Gimana menurutmu?” Tanyannya meminta pendapatku sambil tersenyum ceria menatap air pantai menari-nari di bawah senja.
“Kamu mau naik perahu? Aku bisa nemenin kamu. Berada di tengah-tengah sana rasanya indah sekali.” Timpalku lalu menunjuk tengah laut.
“Berdua doang? Kamu berani?” Tanyanya ragu. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. “Wah.., ayo deh kalo gitu. Oh iya, kamu mau gak jadi sahabatku? Aku baru di sini dan kamu orang pertama yang aku kenal.” Ujarnya menawarkan persahabatan padaku.
“Sahabat? Boleh.” Jawabku singkat.
“Ya udah yuuukkk!” Ajaknya tidak sabar seraya menarik tanganku menuju perahu. Mungkin inilah maksud dari ucapan pepatah “Ketika seorang sahabat meninggalkanmu, biarlah karena Tuhan akan memberimu yang lebih baik.” Jika demikian hendaknya, maka inilah awal aku merangkai kisah perahu senja yang baru bersama orang baru dan meninggalkan yang telah lalu bersama kenangan senja itu.

06/07/2015

ayo yang mau berbagi cerpennya, inbox aja ke fp ini oke

24/05/2015

Rinduku Pada Senja
Cerpen Karangan: Sarah Febiyanti

Setiap perkenalan pasti ada perpisahan. Itulah yang aku rasakan saat ini. Perpisahan itu sangat menyakitkan, hingga membuatku terpuruk dalam duka yang amat dalam. Aku harus merelakan kepergian seseorang yang amat sangat aku sayangi. Walaupun sejujurnya aku tak rela melepas kepergiannya. Aku takut menghadapi kejamnya dunia ini sendiri. Tuhan, kenapa kau ambil nyawanya? Kenapa? aku tak mampu menghadapi dunia ini tanpanya. Aku sangat menyayanginya Tuhan, tolong kembalikan dia. Aku rindu padanya. Aku ingin melihat senja bersamanya lagi.

Namaku Rizkyara Setiawan, biasa dipanggil Ara. Aku terlahir dalam keluarga yang kaya. Papaku seorang pengusaha sukses yang memiliki perusahaan hampir di seluruh dunia. Papaku bernama Erick Setiawan, dan mamaku bernama Catherin Deline. Mamaku berasal dari Negara Perancis, tepatnya di kota Paris. Sedangkan papaku orang Indonesia, tetapi masih keturunan Prancis. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Namanya Aldy Setiawan dan Andry Setiawan. Aku bersekolah di sekolah yang cukup terkenal di Jakarta. Aku baru pindah ke sekolah ini beberapa hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari pertama aku masuk. Kini aku duduk di kelas 3 SMP.

Hangatnya sinar mentari pagi ini membangunkan Ara dari mimpi indahnya. Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ara bergegas mandi dan mengenakan seragam putih-biru nya. Lalu ia turun dari kamarnya untuk sarapan. “pagi sayang, nih roti sama susunya.” ucap mama Ara.
“iya ma” jawabnya.

Setelah selesai sarapan Ara langsung berpamitan pada mamanya untuk pergi sekolah. “ma, Ara pergi dulu ya. assalamu’alaikum”. katanya sambil mencium tangan mamanya.
“iya, hati-hati di jalan ya sayang.”
“iya ma.” Ara pun langsung masuk ke mobil papanya.

Saat mobil baru berjalan sebentar, papanya berhenti. “loh, kok berhenti pa?” tanya Ara.
“papa mau kasih oleh-oleh buat tetangga baru kita. Kamu tunggu disini dulu ya.”
“iya pa.” ‘memangnya ada tetangga baru ya? kok aku nggak tau? Hmm..’ gumamnya. Setelah papanya kembali, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah Ara.

Sesampainya di sekolah, Ara dan papanya langsung menuju ruang kepala sekolah. “permisi bu.” ucap papa Ara.
“iya, silahkan masuk. Ada keperluan apa ya pak?”
“saya Erick, orangtua dari Rizkyara Setiawan.”
“oh pak Erick.”
Setelah selesai berbincang-bincang dengan kepala sekolah, papa Ara langsung pamit p**ang. “kalau begitu saya pamit dulu ya bu.” ucap papanya Ara.
“iya pak. Silahkan.” jawab ibu kepala sekolah.
“papa ke kantor dulu ya Ra, kamu baik-baik ya di sekolah.”
“iya pa.” jawab Ara seraya mencium tangan papanya.

Lalu Ara pun diantarkan oleh ibu kepala sekolah menuju kelas barunya. Sesampainya di kelas baru. “selamat pagi anak-anak.” ucap Bu kepala sekolah.
“pagi buu” jawab murid-murid serempak.
“hari ini kita kedatangan murid baru. Ara, silahkan perkenalkan diri kamu, asal sekolah, dan alasan kamu pindah kesini.”
“baik bu.” jawab Ara.
“pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Rizkyara Setiawan, saya pindahan dari Paris. Alasan saya pindah kesini karena orangtua saya pindah ke Jakarta.”
“baiklah kalau begitu, sekarang kamu cari tempat duduk yang kosong. Ibu harap kalian mau berteman baik dengan Ara. Ibu permisi dulu. Selamat pagi.”
Ara segera mencari tempat yang kosong.
“bolehkah aku duduk disini?” tanya Ara pada seorang anak laki-laki.
“eh, silahkan saja.” jawab laki-laki itu ramah. Ara pun duduk sebangku dengan anak laki-laki itu.

Bel istirahat pun berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas. Di kelas hanya tinggal Ara dan teman sebangkunya. “hai, kita belum kenalan.” ucap teman Ara.
“eh, iya. Namaku Rizkyara, panggil aja Ara.” ujar Ara sambil mengulurkan tangan.
“namaku Rizal Gunawan, biasa dipanggil Rizal.” jawabnya sambil menyambut uluran tangan Ara.

Saat jam istirahat mereka hanya duduk di dalam kelas sambil bercerita tentang tempat tinggal mereka. Ternyata Rizal adalah tetangganya. Lebih tepatnya tetangga barunya. “oh, jadi kamu yang baru pindah di blok A?” tanya Ara.
“iya. Tadi pagi papamu kan yang memberiku oleh-oleh.” jawab Rizal.
“ooh, iya iya.”

Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Setelah pelajaran usai, Ara dan Rizal p**ang bersama.
“Ra, p**ang bareng yuk.” ajak Rizal.
“hmm, ya udah yuk. Lagi p**a rumah kita kan dekat.” jawab Ara senang.
“baiklah.”

Selama perjalanan p**ang, mereka berdua bercerita dan bercanda. “mau nggak nanti sore kita buat pr bersama?” tanya Rizal.
“mau banget. Habisnya, pr nya susah-susah semua. Kira-kira jam berapa Zal?”
“kalau jam 4 sore bisa?”
“oke. Kalau gitu, aku duluan ya Zal. Aku tunggu kamu nanti jam 4 sore.” jawab Ara sambil melambaikan tangan.

Sesampainya di dalam rumah, Ara langsung menuju kamarnya. Ia tidak sabar untuk bertemu Rizal nanti sore. Setelah shalat zuhur dan makan siang, Ara bergegas mandi dan bersiap-siap menunggu Rizal. Tepat pada pukul 4 sore, Rizal telah sampai di rumah Ara. Ara pun mengajaknya masuk.

Mereka berdua mengerjakan tugas dengan serius. Akhirnya mereka dapat menyelesaikan tugas mereka. “akhirnya siap juga ya Zal. Aku nggak tau deh gimana kalau aku ngerjain sendiri. Mungkin nanti malam baru siap. Makasih ya Zal, udah bantuin dan ngajarin aku.” ucap Ara sambil tersenyum.
“iya, santai aja Ra. Sesama teman kan harus saling tolong menolong. Iya nggak?” jawab Rizal.
“iya Zal.”
“kan tugas kita udah siap, jalan yuk.” ajak Rizal.
“boleh, tapi mau jalan kemana Zal?” tanya Ara.
“ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti s**a dengan tempat itu.” jawab Rizal.
“dimana sih Zal? Jangan buat aku penasaran d**g.” tanya Ara yang masih penasaran.
“udah, ikut aja yuk.” jawab Rizal sambil menarik tangan Ara.

Mereka berdua pun pergi ke tempat yang Rizal maksud. Ternyata tempat yang dimaksud Rizal adalah sebuah pantai dengan panorama yang sangat indah. Ara sampai tak mengedipkan mata karena kagum akan keindahan senja di pantai itu. “Zal, indah banget senja di pantai ini. Kamu benar, aku sangat s**a tempat ini.” ucap Ara tanpa melihat kearah Rizal.
“kamu udah pernah kesini sebelumnya?” tanya Rizal.
“belum pernah sama sekali.” jawab Ara.
“aku juga s**a tempat ini. Disini sangat nyaman, damai dan indah.” ucap Rizal.
Ara yang sedari tadi melihat ke arah matahari yang akan terbenam menoleh ke arah Rizal. “iya, aku setuju dengan pendapat kamu.” jawab Ara sambil tersenyum.

Setelah matahari terbenam, mereka pun p**ang ke rumah. “duluan ya Zal, sampai ketemu besok.” ucap Ara.
“iya.” jawab Rizal singkat. Sejak hari itu, mereka berdua sering mengerjakan tugas bersama-sama dan melihat matahari terbenam setiap sorenya. Malam harinya saat Ara akan tidur, ia menyempatkan untuk menceritakan pengalamannya di diary kesayangannya. Setelah itu, barulah ia tidur.

Hari ini Ara melihat perubahan sikap Rizal. Ia jadi pendiam dan hanya melamun sedari tadi. Sampai pelajaran dimulai pun belum ada perubahan pada sikap Rizal. Setelah pelajaran usai, Ara yang khawatir terhadap sikap Rizal memberanikan diri untuk bertanya pada Rizal. “kamu kenapa Zal? Sakit? Dari tadi aku lihat kamu Cuma diam dan melamun.” tanya Ara. Rizal hanya menggelengkan kepala lalu menunduk.
“kita kan sahabat, cerita d**g Zal. Jangan diam aja.” bujuk Ara.
“papa aku Ra,” kata Rizal dengan mata yang berkaca-kaca.
“papa kamu kenapa?” tanya Ara.
“papa aku meninggal Ra.”
“innalillahi wainna ilaihi rojiun, aku turut berduka ya Zal.” jawab Ara.
“iya makasih.”

Saat sorenya mereka melihat matahari terbenam, Rizal masih diam saja. ‘aku nggak bisa lihat Rizal seperti ini’ batin Ara. “udah d**g Zal, kamu jangan sedih terus. Aku tau, mungkin berat buat kamu untuk kehilangan sosok papa dalam hidupmu. Kalau papa kamu lihat kamu seperti ini, dia pasti sedih. sebagai anak yang baik, harusnya kamu do’ain papa kamu supaya tenang disana dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah.” ucap Ara.
Rizal menatap Ara dengan mata berkaca-kaca, lalu menerawang jauh kedepan. “kamu benar Ra. harusnya aku do’ain papa aku, bukannya aku tangisin. Makasih ya Ra. Kamu sahabat aku yang paling baik.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“iya sama-sama.” jawab Ara. Ara senang, karena kini Rizal bisa tersenyum lagi.

Kurang lebih 1 bulan lagi ujian nasional. Ara dan Rizal semakin giat belajar. Bahkan mereka sering belajar bersama. “nggak nyangka ya Zal udah mau UN.” ucap Ara.
“iya Ra, waktu terasa sangat cepat berlalu.” jawab Rizal. Mereka berdua berjanji untuk belajar sangat giat, supaya mereka bisa lulus dengan nilai sempurna.

Selama hampir 3 hari ini, mereka berdua disibukkan dengan UN. Hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional. Sep**ang sekolah, Rizal menghampiri Ara. “Ra, nanti sore aku tunggu kamu di pantai ya. aku mau ngomong penting sama kamu.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“mau ngomong apa Zal? Kenapa nggak sekarang aja?” tanya Ara heran.
“ada deh, pokoknya penting. Kalau gitu aku duluan ya Ra.” ucap Rizal seraya melambaikan tangan pada Ara dan menjauh. Ara masih penasaran dengan perkataan Rizal tadi.

Sesampainya di rumah pun Ara masih memikirkannya. Setelah pukul 4 sore, Ara bergegas menuju ke pantai. Sesampainya disana, ia tak melihat batang hidung sahabatnya. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Rizal datang. “maaf ya Ra, aku telat.” ucap Rizal.
“iya, nggak apa kok. Aku juga baru sampai disini.” jawab Ara sambil tersenyum.
Saat melihat wajah Rizal, Ara terkejut karena wajahnya sangat pucat. Ara pun bertanya kepada Rizal. “kamu kenapa Zal? Sakit?” tanya Ara khawatir. Ara merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rizal. Namun ia tak mau menanyakannya lagi pada Rizal.
“eng..nggak kok, aku nggak kenapa-napa Ra. Kamu nggak usah khawatir. Oh ya, aku ngajak kamu kesini karena aku mau kasih sesuatu buat kamu” ucap Rizal santai.
“apa itu Zal?” tanya Ara heran.
Rizal pun memberikan Ara sebuah cincin yang sangat indah. Di sekeliling cincin itu ada tulisan nama Ara dan Rizal.
“bagus banget cincinnya Zal, aku s**a.” ucap Ara senang.

Setelah matahari sampai di peraduannya, mereka pun p**ang. Rizal pamit p**ang pada Ara. “aku p**ang dulu ya Ra. Sampai jumpa besok.” ucap Rizal sambil melambaikan tangan.
“iya, hati-hati di jalan yaa.” jawab Ara membalas lambaian tangan Rizal.

Saat di dalam kamar, Ara memikirkan keadaan Rizal. ‘sebenarnya apa yang Rizal sembunyikan dari aku?’ batin Ara. Ara tidak mau berfikir macam-macam. Setelah selesai makan malam dan shalat Isya’ Ara memutuskan untuk tidur, karena ia merasa sangat lelah hari ini. Dan Ara pun tertidur sangat p**as.

Esoknya, Ara dibangunkan oleh kakaknya. “Ra, bangun! Hei bangun! Ada berita duka.” ucap kak Aldy.
“apaan sih kak? Liat tu jam berapa. Baru juga jam setengah 4.” jawab Ara yang masih setengah tidak sadar.
“ayo buruan bangun. Kita harus ke rumah sakit sekarang.” ujar kak Aldy.
“emang siapa sih yang sakit?!!” omel Ara.
“Rizal! sekarang dia kritis.” tegas kak Aldy.
“apa?!! Rizal?” tanya Ara.
“iya. udah buruan siap-siap.” ucap kak Aldy.

Setelah siap, Ara dan kak Aldy segera menuju ke rumah sakit tempat Rizal dirawat. Sesampainya disana, Ara melihat sudah ada kedua orangtuanya bersama mama Rizal sedang menunggu di depan ruang ICU. Ara pun segera menghampiri mereka. Tak lama, dokter keluar dari ruang ICU. Mama Rizal segera menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Rizal. “dok, gimana keadaan anak saya?” tanya mama Rizal.
“kami sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak ibu. Ibu do’akan saja yang terbaik untuk anak ibu.” jawab dokter tersebut.

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Rizal siuman. Dokter segera memeriksa keadaan Rizal. Setelah dokter keluar dari ruang ICU, dokter mengatakan bahwa Rizal menyebut-nyebut nama Ara. “apakah ada yang namanya Ara? Dari tadi Rizal terus menyebut nama itu.” tanya dokter.
“saya dok.” jawab Ara.
“kalau begitu kamu silahkan masuk.” ucap dokter.

Setelah masuk ke ruang ICU, Ara bergegas menghampiri Rizal yang masih terbaring lemah. “Rizal, kamu kenapa nggak cerita ke aku kalau kamu punya penyakit?” tanya Ara sam-bil terisak.
“maaf ya Ra aku nggak cerita ke kamu soal penyakit aku. Aku cuma nggak mau kamu terlalu mikirin keadaan aku.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“kamu nggak bisa gitu d**g. Kita kan sahabat, harus saling terbuka.” protes Ara.
“iya iya, aku salah. Maafin aku ya.” ucap Rizal.
“baiklah.” jawab Ara sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Rizal merasakan sakit yang teramat sangat. “Ara, aku pamit ya. Aku mau pergi jauh. Jauuh banget. Maafin aku ya kalau aku ada salah.” ucap Rizal.
“kamu mau kemana Zal? Kamu nggak boleh pergi. Aku mau kamu terus di samping aku, terus jadi tempat sandaran dan tempat aku bertumpu.” ujar Ara sambil menangis.
“nggak bisa Ra, nggak bisa. Aku udah nggak kuat. Kamu pasti bisa nemuin sahabat yang lebih baik dari aku.” jawab Rizal. Lalu Ara merasakan telapak tangan Rizal sangat dingin, dan Rizal pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ara menangis sejadi-jadinya, begitu juga dengan mama Rizal. Ara merasa sangat kehilangan. Ia kehilangan sosok sahabat yang sangat pengertian padanya. Sorenya setelah pemakaman Rizal, Ara melihat senja di pantai tempat biasa ia melihat senja bersama Rizal. ‘senja kali ini adalah senja pertama yang aku nikmati tanpa adanya kehadiranmu Zal. Jujur, aku masih belum sanggup untuk berpisah dengan kamu. Aku sangat menyayangi kamu, seperti saudaraku sendiri. Kamu tempat aku bertumpu dan bersandar. Tapi aku harus bisa hidup tanpa kamu. Aku tau, hidupku akan terus berlanjut. Aku berjanji akan bahagia untukmu. Aku janji. Aku juga nggak akan lupa semua kenangan tentang kita di pantai ini. Kamu akan selalu ada di hati aku.’ lirih Ara. Dan senja hari itu menjadi saksi bisu awal lembaran baru kehidupan Ara. Ara akan terus melanjutkan hidupnya dan meraih cita-citanya demi sahabatnya, Rizal.

Want your school to be the top-listed School/college in Bengkulu?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address

Bengkulu
38229